BEBAS PROMO
Ibuku pernah merusak rumah tangga seseorang dan pergi meninggalkan ayahku, dia lebih memilih melanjutkan hidup bersama selingkuhan nya itu.
Ternyata wanita yang bunuh diri karena ulah ibuku adalah ibu angkat suamiku. Sebelum bunuh diri wanita itu sempat menjadi gila, itulah kenapa presdir ini selalu menyiksaku di dalam istana mewahnya.
Akankah Andin harus menerima siksaan dari suaminya terus menerus? Ataukah takdir berbaik hati menciptakan kebahagiaan setelah ini?
Hanya kisah ciptaan, tak berniat menyinggung atau mencela pihak manapun. Authorinstagram : @sofiatus.gans
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OppaSuga26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan aneh
Pagi hari Andin ikut bersama Bi Darmi ke supermarket untuk membeli bahan dapur, kali ini Hans membiarkan dirinya pergi keluar tetapi dengan syaratan harus dengan minimal 2 pengawal karena Hans takut jika Andin akan melarikan diri. Biasanya Andin tak di perbolehkan untuk keluar, tapi kali ini berbeda.
Jujur hal itu terasa aneh, bahkan dua orang itu ikut masuk ke dalam supermarket dan menjadikan Andin juga Bi Darmi pusat perhatian.
"Bi, kita di liatin orang orang.. Andin risih bi"
"Yah mau gimana lagi, tuan udah putusin buat di kawal yah berarti harus di kawal!"
Saat mengambil saus dari rak nya, tak sengaja Andin kembali bertemu dengan Alvin.
"Andin?"
Gadis itu hanya melihat dan pergi dengan segera.
"Andin tunggu!" Menarik tangan Andin.
"Kenapa kamu lari pas liat aku?"
Andin menggeleng.
"Andin, kak Alvin minta maaf, jangan begini ndin, sebenernya semua pesan kamu kak Alvin baca, cuma kamu mengirim nya di waktu yang salah"
"Kalau cuma itu, Andin juga nggak apa apa kak, udah lalu"
Andin pergi kembali ke Bi Darmi. Saat melakukan pembayaran di kasir, tak sengaja pula bertemu kembali.
"Andin?"
"Kalian berdua saja yang bayar, saya sama Bi Darmi tunggu di mobil" Ujar Andin kepada dua orang yang mengawal dirinya.
"Om alex kemana ndin?? Aku dari rumah kamu kemarin!"
Langkah kakinya terhenti sejenak, pertanyaan itu membuat hatinya kembali bersedih. Tak membalas Alvin, ia pun pergi.
🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵
Tok..tok..tok..
Pintu di ketuk,
"Andin? cepat buka pintu itu"
"Baik tuan,"
Andin bangun dari tempat ia memijat kaki Hans.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?"
Ternyata orang yang ada dari balik pintu adalah Alvin. Lelaki itu langsung saja masuk, dan sengaja menyenggol bahu Andin dengan wajah datar nya.
"Tuan? apa boleh kalau saya meminta Andin ikut dengan saya? saya mohon tuan"
Hans berdiri dari duduk nya dia menghela nafas.
"Bawa saja" Ucap Hans datar.
"Terima kasih tuan" Alvin membungkuk dan pergi dengan menggandeng Andin.
Di dalam mobil sangat sunyi karena tak ada percakapan.
*Kak Alvin mau bawa aku kemana ada apa? sepenting ini kah?
Alvin membawa Andin ke sebuah lapangan besar yang sepi. Ia turun dari mobil dan membukakan Andin pintu juga.
"Turun lah!"
Andin turun "Kak? ada apa??"
"Andin om Alex hilang!! Tadi pagi kamu nggak jawab!! ayo kita cari bersama!"
"Kak..." Matanya berlinang, ia memeluk Alvin erat erat.
"Kak ayah nggak hilang.. hiks hiks hiks Andin juga nggak pernah goda laki-laki manapun! hiks hiks hiks Dia bawa ayah Andin kak! Andin harus gimana?? Huu huu huuu Bahkan.. Bahkan sampai hari ini Andin juga belum ketemu sama Ayah.. Andin berharap banget kakak bisa bantu Andin cari Ayah.. hiks hiks hiks"
Isak tangis Andin membuat Alvin membalas pelukan Andin, ia membelai rambut panjang nya dengan penuh kasih.
"Andin, jangan sedih, pelan pelan kita cari om Alex ya??"
"Iya kak"
Andin masih enggan melepaskan pelukan nya, disana ia menceritakan semua hal yang ia alami. Sementara di belakang mereka ada mobil orang suruhan Hans. Lelaki yang di dalam mobil itu, sedang melakukan panggilan video dengan Hans dan menggunakan kamera belakang guna merekam apa yang Andin dan Alvin lakukan.
*Tidak, dadaku sesak, ada apa ini?? begitu sakit dan membuatku geram. Mungkinkah ini cemburu seperti di film film?.. Tidak Hans, tidak! ini karena oksigen di ruang kerja mu sedikit! kau harus keluar!
"Baik, terus dengarkan dengan baik apa yang mereka bicarakan aku akan akhiri ini, pulanglah lebih awal sebelum mereka melihatmu!"
Hans pergi keluar dari ruang kerja nya, dia menatap langit indah malam hari yang terhiasi bintang dari balik jendela lebar di kamarnya. Perasaan nya gundah tak menentu, ada apa ini?? pria kaya itu bingung sendiri dengan mood nya.
*Tidak, masih terasa sama, perasaan ini sangat aneh. Hans jangan bengong sendiri! kemana mood mu pergi??
🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵
"Kak Alvin, Andin mau ketemu lagi sama kakak, tapi Hans jahat itu nggak akan biarin Andin keluar,.. kak Alvin besok jemput Andin yah?"
"Iya, Tapi kita mau kemana??"
"Umm... ke warung bang mamat? gimana? udah lama kita nggak kesana bareng,,"
"Oke, jam berapa?"
"Kak Alvin kalau ada waktu kendur, langsung aja telfon ke Andin.. ehh jangan ah kak, nanti Andin pikirin kapan kita ke bang mamat oke..?"
Menyerahkan ponsel nya dengan penuh semangat yang terukir di senyumnya. "Ini kak!"
"Wwuihh, handphone bagus nii" Goda Alvin.
"Apa sih kak!, Di handphone ini cuma ada nomor Hans jahat itu! dia nggak bolehin aku nyimpen nomer selain dia.." Ujar Andin dengan wajah cemberut imut nya.
"Oke.. oke.. jangan cemberut lagi" Mencubit pipi Andin dengan satu tangannya. Alvin mengambil ponsel Andin dan mengutak atik ponsel nya setelah itu, lalu mengembalikan nya kepada Andin.
*Lah katanya mau masukin nomernya ke ponsel aku??
Kkkriingg... ponsel Andin berdering, ada nomor telepon tak di kenal menelepon dirinya, ia menjawab dan...
"Halo?? ini siapa??"
Suaranya juga terdengar dari ponsel milik Alvin.
"Kak? eh, ya ampun, kak Alvin.." Andin tersenyum menunjukkan giginya.
"Jangan di simpan yah, nanti suami kamu marah lagi.."
Lelaki yang ada di dalam mobil kembali menelepon Hans.
"Tuan, mereka berdua berencana akan pergi ke warung bang mamat dan-"
Tak sempat pria itu mengatakan secara utuh, Hans segera menutup telfon nya.
"Warung bang mamat?? Nama apa itu?? Aku belum pernah datang kesana.. sebentar, cari lokasi nya di gugel dulu.."
Hans membuka laptop nya dan mencari itu, sayang sekali ia tak mendapatkan apapun disana.
"Namanya saja tidak ada disini.. warung apa itu??"
Hans terdiam, ia menggerut kan dahi nya berpikir keras.
"Apa yang akan mereka lakukan di warung itu?? kalau dilihat lihat.. mereka sangat akrab.. tunggu tunggu!, ada apa ini kenapa masih terpikirkan mereka?? Issshh"
Hans mengacak acak rambutnya kesal dengan dirinya sendiri, dia membanting tubuh nya di ranjang. Ia kembali terdiam cukup lama, lalu memukul mukul ranjang di sebelah nya dengan tangan mengepal seperti orang gila.
"Andinnnnnn! cepatlah pulang!!!" Teriak Hans yang terlentang dia atas ranjang nya.
"Hhuh.. aku sepertinya lapar.. aku akan turun dan mengambil makan sendiri, tak ada Andin, aku tak bisa mempersulit dia.. (Menghela nafas kesal)"
Presdir tampan itu mengambil nasi dari rice cooker dengan wajah tak semangat
"Tuan? Anda mengambil makan sendiri??" Andin tiba-tiba sudah datang.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Hans datar dengan wajahnya yang cemberut kesal.
"Tuan, biar saya saja yang ambil makanan untuk tuan.."
Bbrruk Hans menutup kasar rice cooker dan melirik Andin tajam.
"Sudah terlambat! nasi sudah di piring! kamu menjauhlah dari pandangan ku!"
*Ada apa dengan nya?? kenapa melihatku seperti itu? apa yang aku lakukan sehingga membuat dirinya marah? bukankah dia sendiri yang memperbolehkan aku ikut bersama kak Alvin..? Anehh
-------------------------
BERSAMBUNG...