Asih, bunga desa itu berlari diantara pekatnya malam. Dari kejauhan terdengar teriakan orang-orang yang mengejarnya dengan marah.Suara riuh membuat Asih semakin ketakutan dan melayang menuju kompleks pekuburan di desa itu yang masih terbuka liang lahatnya. Perempuan itu masuk ke liang lahat dan tanah kuburanpun tertutup disertai suara gemuruh dan getaran hebat seperti gempa. "Semua mundur. Biar aku yang akan mengunci perempuan itu didalam kuburnya!!” teriak Ahmad
Asih bunga desa yang terlibat cinta terlarang dengan pak Lurah yang tampan dan tajir dinikahi secara siri oleh pak Lurah.Namun untuk menutupi pernikahan siri mereka, Asih kemudian dinikahkan dengan Ibrahim tanpa diceraikan terlebih dahulu oleh pak Lurah. Asih yang sombong karena kecantikannya kembali berselingkuh dan dinikahi seorang konglomerat yang akan membangun Mall di desanya.
Bagaimanakah nasib Asih selanjutnya ? Akankah Asih memilih salah satu diantara ketiga suaminya itu ? Ikuti dan dapatkan jawabannya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhaken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16, Perubahan Sikap Bapak
Sepulang dari surau Bapak langsung masuk ke kamarnya, menggantung kopiah dan sarung yang dipakainya ke gantungan baju dibalik pintu kamar itu...kemudian keluar dan duduk di bale bambu tempat orang tua itu biasa ngopi tiap pagi.
Melihat Bapak keluar dari kamar, dengan sigap Mak membawa dua gelas kopi pahit kesukaan Bapak yang telah disiapkan Mak sejak Ibrahim dan Bapak pulang dari surau tadi.
Tak lupa sepiring pisang goreng hangat ikut ditaruh Mak, menemani kopi pahit Bapak diatas meja.
"Kopinya pak," ucap Mak mempersilahkan Suaminya.
Bapak mengangguk tanpa bicara. Tidak seperti biasanya, Bapak tidak memuji kopi buatan Mak.
Padahal Bapak kalau di sodorin kopi pahit dan pisang goreng atau singkong rebus, pasti langsung dilahap Bapak hingga tandas tak bersisa sembari memuji kopi buatan istrinya.
"Ibrahim, ini kopi buat kamu!" seru Mak sambil meletakkan segelas lagi kopi hitam buatku diatas meja dihadapan Bapak.
"Iya Mak, terima kasih," ucap Ibrahim sambil sudut matanya melirik ke arah Bapak.
Bapak masih diam. Sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar putrinya.
Ibrahim berdiri dan mendekati bale bambu, tempat Bapak duduk. Situasi saat itu sangat tidak mengenakan bagi Ibrahim.
Ibrahim duduk dihadapan Bapak dan memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada apa Pak?. Kenapa sejak ke surau tadi Subuh Bapak lebih banyak diam ?" tanya Ibrahim hati-hati, takut pertanyaannya akan menyinggung Bapak mertuanya.
Mak yang sejak tadi sibuk di dapur, menoleh sesaat kemudian kembali fokus ke wajan yang berisi pisang kepok goreng berbalut adonan terigu buatannya.
Bapak hanya diam, tak menanggapi pertanyaan Ibrahim.
Ibrahim semakin penasaran, namun dia memutuskan untuk diam dan menunggu, tak berani memaksa Bapak untuk bicara.
Sesaat kemudian Bapak meraih segelas kopi dimeja, menyeruput perlahan kopi yang sudah mulai hangat dengan mata sedikit terpejam seolah sedang menikmati sensasi nikmat kopi buatan Mak.
Ibrahim hanya menunggu. Mak juga. Tapi Bapak masih saja diam.
"Kenapa sih Pak, diam aja dari tadi?" tanya Mak, mengejutkan Ibrahim dan Bapak yang sedang bergelut dengan pikiran masing-masing.
Bapak hanya menatap Mak sesaat, kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke pintu kamar Asih.
"Bangunkan Asih. Bapak ingin bicara!" ucap Bapak tiba-tiba membuat Ibrahim tersentak.
Jantungnya berdegub kencang. Apakah Bapak tau soal semalam ?' batin Ibrahim Gusar.
"Tumben jam segini istrimu belum bangun?" tanya Mak, menyadari ketidak hadiran Asih diruangan itu.
Sorot matanya kini mengarah ke Ibrahim yang tak bersuara setelah diperintah Bapak untuk membangunkan Asih, istrinya
"Ibrahim !?" seru Bapak, kali ini dengan penekanan pada nada suaranya.
"Ba..baik pak..," jawab Ibrahim terbata-bata
Dengan ragu-ragu Ibrahim berdiri dan melangkah ke arah kamar Asih.
Laki-laki itu masih mengira-ngira soal apa yang akan dibicarakan Bapak Mertuanya. Semakin dekat dengan kamar Asih, jantung Ibrahim semakin berdegub kencang.
Terbayang kembali adegan syur Asih dan Prabowo semalam. Akh,..keluh Ibrahim memegang dadanya yang semakin sakit.
Perlahan Ibrahim mengetuk pintu kamar begitu dirinya tiba di depan kamar Asih.
"Asih...!" panggil Ibrahim.
Hening.....tak terdengar jawaban Asih dari dalam kamarnya.
Ibrahim menghela napas panjang. Seolah ada batu besar yang menindih tubuhnya membuat Ibrahim terpaku di depan kamar Asih.
Sementara itu, Bapak menatap tajam ke arah Ibrahim, memberi isyarat lewat sorot matanya agar Ibrahim segera membangunkan Asih.
Laki-laki itu gelagapan dan kembali mencoba membangunkan Asih.
"As...!" suara Ibrahim terputus saat tiba-tiba pintu kamar dibuka Asih.
Asih menatap Ibrahim acuh tak acuh.
"Ada apa sih?" tanya Asih terlihat tak suka tidurnya diganggu Ibrahim. Rambut Asih acak-acakan. Raut wajahnya terlihat lelah.
"Bapak manggil kamu," jawab Ibrahim sembari memberi isyarat dengan ekor matanya kearah Bapak yang sedang memperhatikan mereka berdua.
Asih menoleh dan didapatinya tatapan tak biasa dimata Bapak.
kaget... buru-buru Asih mengalihkan perhatiannya ke Ibrahim yang masih berdiri di depan kamarnya.
"Pergi temani Bapak. Aku akan menyusul," ucap Asih ketus sambil masuk kembali ke kamarnya dan menutup pintu.
Ibrahim masih berdiri didepan kamar Asih, menunggu.... Tapi perempuan itu tak kunjung keluar dari dalam kamarnya.
"Ibrahim...!!" suara Bapak membuyarkan lamunan Ibrahim "Kesini..!"perintah Bapak.
\=\=\=\=Dh\=\=\=\=\=