Adnan dan Adara. Dua sahabat yang terpisah karena bencana yang melanda dan konflik antar aliansi negara di Bumi. Sedang Cosmo yang merupakan torus perdamaian, kini tidak bisa mencegah perang yang akan terjadi.
Bagaimana nasib mereka? Berhasilkah Adnan menyelamatkan sosok yang penting baginya?
Sebuah kisah bagaimana dua sahabat memperjuangkan cinta dengan berbagai konflik yang terjadi di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni_Hana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PHASE 16 . MEMORI LAMA
Pagi-pagi sekali, Adara keluar kamar dan berkeliling spot. Dia sengaja meninggalkan Jun yang masih terlelap karena tidak ingin membangunkan gadis kecil itu. Area luas itu sudah seperti rumah baginya setelah tinggal di sana beberapa hari.
Pandangannya menyapu keseluruhan sisi spot. Ada banyak orang tengah sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Sementara itu, sebagian yang lain sibuk mengerjakan sesuatu yang menarik perhatiannya. Seorang pemuda yang dikenalnya bahkan menarik langkahnya menuju ke sebuah bangunan besar.
Matanya yang cerah itu memandang dengan saksama bangunan yang tampak tidak asing baginya. Sosok seseorang sempat terbesit dalam ingatan. Dia mendesah, sebelum melangkah memasuki bangunan besar tersebut.
“Jo?” Adara mendekati seseorang yang tengah bercengkerama dengan seorang teknisi di bangunan itu.
“Kau ... teman Jo? Yang diselamatkan oleh Letnan Jason?” tanya pria teknisi yang tadinya mengobrol bersama Jo. Pemuda di dekatnya turut melayangkan pandangan ke arah gadis yang baru saja datang itu.
“Masih pagi dan kau sudah bangun?” tanya Jo.
Adara tersenyum kuda. “Apa aku terlalu pagi menyergap pekerjaan kalian?” tanyanya balik.
“Tidak juga,” jawab sang teknisi seraya mengulurkan satu tangannya pada Adara. “Aku Sam, Ketua teknisi di spot ini,” katanya mengenalkan diri.
Gadis yang rambutnya dikuncir dan sedikit berantakanitu membalas jabat tangan Sam. “Aku Adara,” ucapnya.
Sam bergeming sejenak, memandang lekat gadis di hadapannya itu. “Ah, aku seperti mengingat seseorang saat melihat wajahmu,” katanya kemudian.
Alis Adara naik sebelah, dengan mimik wajahnya yang sedikit penasaran itu.
“Maafkan aku,” ucap Sam.
Adara mengangguk menimpali, sementara matanya kembali memandang beberapa benda raksasa tengah berjejer rapi di dalam bangunan besar yang dimasukinyabeberapa detik yang lalu. Robot raksasa berwarna abu-abu itu tampak kokoh berdiri dengan rupa yang benar-benar menarik perhatian setiap mata yang melihatnya.
“Clibanarii,” gumam Adara.
“Kau ... sudah tahu robot ini?” tanya Jo dan Sam bersamaan.
Gadis itu menatap kedua pria di depannya dan mengangguk. “Aku pernah mempelajari teknik kontrolnya. Hanya sebentar sih, karena aku tak terlalu tertarik dengan mereka,” ulasnya. “Aku tidak percaya ada Clibanarii disimpan di spot ini.”
“Tapi, apa kau bisa mengontrolnya?” tanya Jo penasaran.
“Hm?” Adara mengernyit ke arah Jo. “Memangnya kau tak bisa?”
Pemuda itu menggeleng. “Aku hanya bersekolah di sekolah umum saja,” jawabnya.
Gadis itu mengangguk mafhum. “Lalu, kenapa kau di sini? Kau ingin belajar mengontrolnya?” tanyanya.
Jo turut mengangguk mantap. “Sam yang akan mengajariku,” katanya. “Kupikir ini lebih baik daripada aku harus menunggu di kamar atau berkeliling spot dengan tujuan yang tidak jelas.”
“Kupikir, kau belajar mengontrol Clibanarii hanya karena ingin mengontrol Paladin, ‘kan?” selisik Sam setengah bercanda sembari memicingkan mata pada Jo.
Sementara itu, Adara lantas terdiam kala mendengar sebuah nama yang baru saja disebutkan pria itu. Ingatannya
melanglang buana pada sosok di masa lalunya. “Paladin,” lirihnya.
Sam memalingkan tatapannya pada Adara. “Ada apa? Kau pernah mendengarnya, ‘kan? Di materi sekolahmu pasti ada, ‘kan?” tanyanya.
“Ah, itu ....” Adara menggaruk kepala, berusaha untuk menutupi rahasia dalam dirinya. “Iya,” jawabnya ragu. “Paladin, Clibanarii yang telah menyelamatkan aliansi timur dari kehancuran, ‘kan?”
Sam menggangguk dalam senyuman. Tangannya menepuk puncak kepala Jo seketika. “Bocah ini ingin mengontrolnya!” ledeknya hingga membuat pemuda di dekatnya itu merengut.
“Aku bukan bocah, Sam!” ketusnya sembari menghempaskan tangan Sam yang mendarat di puncak kepalanya itu.
Sam terkikik. “Yah, setidaknya kau mau belajar mengontrol Clibanarii biasa, Jo,” ucapnya. “Kau bisa membantu Paladin jika kau hanya bisa mengontrol Clibanarii ini.”
Jo menatap pria itu dengan cermat. Sementara itu, Adara melihat tingkah kedua pria di depannya itu dengan tatapan penuh arti. Selang beberapa saat kemudian, dia memilih untuk keluar dari bangunan besar itu demi mencari udara segar. Namun, seseorang menghentikan langkahnya.
“Kau sudah melihat Clibanarii?” tanya pria itu.Dengan rambut hitamnya yang masih berantakan seolah tak pernah disisir itu membuatnya tampak mencolok di sana.
“Letnan Jason.” Adara melirih.
“Sudah kubilang, ‘kan, panggil aku Jason saja,” ucap Jason kesal. “Kau dan Jo sama saja!”
“Maaf,” lirih gadis itu lagi.
“Bagaimana? Aku yakin di sekolahmu pasti diajarkan cara mengontrol Clibanarii. Kau sudah mencobanya?” tanya Jason kemudian.
“Aku ... tak bisa,” jawab Adara melirih.
Jason menelan liur, sejenak membasahi kerongkongannya yang tercekat. “Karena ayahmu?” tanyanya asal. Dia
tahu benar perasaan gadis itu kini.
Adara bergeming.
“Sudah kuduga,” ucap pria itu seraya mendesah. “Lalu, bagaimana dengan Paladin nantinya?” tanyanya. “Pusat
pasti sudah menentukan pengontrol yang selanjutnya. Apa kau bersedia mengontrolnya dengan keadaan begini?”
Adara mendesah kasar, lalu memandang lurus ke arah pria di hadapannya. “Apa aku terlalu pengecut untuk menjadi pengontrolnya?” Dia balik bertanya. “Kehilangan Nancy dan terjebak di sekolah selama beberapa waktu pun aku tak menangis. Apa aku masih dianggap pengecut? Dan juga, kenapa harus aku kalau orang lain pun bisa
mengontrol Paladin!”
Jason terdiam dan berpikir. Dia menggaruk dagunya dengan santai. “Kau masih labil,” jawabnya enteng. “Lagipula,
kita juga belum tahu, ‘kan, untuk siapa Paladin akan dikontrol? Jadi, menurutku kau bisa menenangkan diri di sini. Masih banyak waktu untuk kita menyusun strategi sampai pusat mengonfirmasi pesanku.”
“Strategi?” Adara memicing pada Jason.
Pria itu mengangguk. “Beberapa waktu lalu aku melihat tiga pesawat milik pusat bermanuver sangat rendah. Aku tidak tahu untuk apa mereka terbang. Tapi yang jelas, dengan dioperasikannya pesawat itu, maka bisa disimpulkan kalau ... kita akan benar-benar bertarung dengan aliansi busuk itu nantinya,” tuturnya.
Adara bergeming, mengunci mulut selama beberapa detik. “Dengan aliansi barat, ya?” gumamnya.
“Kita tak punya waktu untuk berpikir, Adara,” balas Jason seraya berbalik. “Biarkan Jo mempelajari Clibanarii itu, sementara kita menyusun strategi.”
“Tunggu!” seru gadis itu. “Kau akan mengirim Jo jika waktunya telah tiba?” tanyanya ragu.
Jason beralih memandang Adara sejenak. “Semua orang akan bertarung jika waktunya telah tiba, Adara,” katanya menimpali. “Dan juga ... aku bahagia bisa bertemu dengan putri rekanku di tempat ini,” desis pria itu seraya berlalu meninggalkan Adara seorang diri.
***
“Lagi-lagi kau membuatnya bergeming, Jason,” ucap seorang pria yang telah menunggu Jason di ruang kerjanya. “Iya, ‘kan?”
“Dokter Kei, aku butuh obat.” Jason berjalan mendekati pria berpakaian dokter itu, lalu duduk di ranjang di dekatnya.
“Obat lagi?!” tanya Kei sedikit kesal. “Perang hampir berkecamuk dan kau malah memintaku untuk memberimu obat terus-menerus! Apa kau mau jadi zombie, huh?”
Jason bergeming. Sorot matanya yang kosong memandang lurus ke arah Kei.
“Kenapa?” selisik dokter muda itu.
“Yusagi Richard membuatku harus bertanggung jawab kali ini,” kata Jason setengah menunduk.
Kei mengerutkan kening, memandang serius pada pria di depannyaitu.
“Yusagi Adara ... adalah putrinya,” ucap Jason lagi.
“Gadis yang kau temukan beberapa waktu lalu?” tanya Kei menelisik.
Jason mengangguk. “Richard benar-benar membuatku harus mengulang tragedi lama,” katanya. Dia semakin tertunduk, dengan salah satu tangan memegangi kepala. “Aku tidak ingin perang ini terjadi sampai harus menerjunkan Paladin kembali ....”
Kei memandangi pria itu seraya berpikir. “Ketakutan atas dasar trauma masa lalu masih saja menguasai dirimu, Jason,” katanya. “Tapi perang tetap akan terjadi karena aliansi barat telah memutuskannya beberapa waktu lalu. Cosmo yang menjadi torus perdamaian pun tak bisa mengelak. Terlebih lagi, kesempatan kita untuk pergi dari spot ini menuju pusat beresiko sangat besar karena seluruh wilayah kemungkinan telah dikuasai oleh aliansi barat.”
“Jika kita menerjunkan Clibanarii untuk mengungsi ke pusat, rasanya tidak mungkin,” ucap Jason melirih.
“Kita harus bisa meminimalisir penggunaan Clibanarii, Jason,” timpal Kei. “Clibanarii hanya digunakan jika perang benar-benar sudah berkecamuk—”
“Apa menurutmu sekarang bukan perang, huh?!” sergah Jason, hampir berjingkat dari ranjang yang didudukinya.
Dokter muda itu tersentak.
“Aliansi barat semakin memperburuk keadaan setelah bencana besar itu terjadi. Mereka menyerang seluruh spot lemah dan membunuh seluruh penduduk. Apa kau pikir ini masih belum perang?!” Jason kembali menyergah, sejenak sebelum kembali tertunduk memegangi tulang tengkoraknya. “Saat itu pun aku dan yang lain mencoba menghalau mereka. Tapi, hanya akulah yang tersisa. Padahal aku berlari untuk menyerang balik ke arah mereka. Akhirnya mereka malah menyerang kubu bertahan dan menghancurkannya. Dan aku kembali ke spot ini seorang diri, sementara rekan-rekanku telah hancur lebur. Kau bilang ini belum perang, huh?!”
“Operasi militer lima tahun lalu pun sama saja. Semua hancur lebur. Tak ada yang diselamatkan, tak ada yang berhasil dikuasai. Hanya aku pula yang selamat. Semua prajurit mati sia-sia. Clibanarii ... dan juga Paladin, semuanya hancur dalam sekali ledakan. Rekan-rekanku semua mati. Bahkan Richard pun ... mati ....” Jason tertunduk, merintih dalam kekalutannya sampai tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
“Semuanya mati. Hanya aku ... hanya aku yang tersisa.”
Kei menelan liur sejenak, membasahi kerongkongannya yang mengering.
“Jika kau tak ingin semuanya terulang, kali ini buatlah sesuatu yang berbeda,” ucap Kei seraya bangkit dari kursinya dan kembali memandang Jason. “Seseorang bisa saja mengulangi kesalahan yang sama, Jason. Aku tak bisa sepenuhnya mengatakan jika kematian mereka karena kesalahanmu. Tidak. Namun, jika memang semua benar
kesalahanmu, kau bisa mengubah keadaan dengan mengubah kesalahanmu menjadi sebuah pelajaran. Kesalahan adalah pemantik dari sebuah proses menuju ke arah yang lebih baik. Aku yakin, kau bisa melalui semua ini.”
Kei menepuk mantap pundak Jason, mengalirkan sugesti positif pada pria tersebut. Sementara, Jason kini mengangkat pandangan. Lurus. Dia mencoba merangkul kesadarannya kembali.
“Aku ....”
***