Ini adalah kelanjutan kisah dari novel Author yang sebelumnya.
----- ----- «» ----- -----
“Om, papa tidak merestui kita, ayo bawa aku pergi,” isak Ayara, sebelum kemudian ia terkejut melihat wajah pria yang di cintainya itu seperti habis kena pukul.
Ya, siapa lagi yang melakukannya, jika bukan Bara, ia memukuli sahabatnya itu tanpa ampun, karena telah mencintai putrinya.
“Apa sakit?”
“Sedikit, tapi tidak apa-apa.” Adit merasakan tangan halus Aya mengusap wajahnya yang habis kena bogem mentah dari Bara.
Ia sangat mencintai gadis kecil itu, tapi keadaan membuat ia harus menjauh!
Novel ini hanyalah hasil dari kegabutan Author!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ny.Jutex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Kopi?
Selama beberapa hari, Ayara hanya menghubungi Adit saat malam setelah belajar. Sebelum tidur ia mengirimkan pesan lalu setelah ity ia menyimpan kembali HP nya. Saat bangun pagi ia melihat balasan dari Adit dan melihat waktu pesan yang masuk.
Hari ini adalah hari terakhir ujian. Saat bangun pagi, ia lebih dulu memeriksa handphonenya setelah mematikan nada alarm. Tidak ada balasan. Mungkin sedang sibuk, pikirnya.
Tinggal sehari lagi, setelah ini ia akan lebih banyak memiliki waktu.
Ujian pun selesai, Ayara berhasil menjawab semua soal dengan baik.
Selama menunggu hasil ujian, seminggu kedepan, sekolah akan mengadakan berbagai macam lomba untuk para murid.
Sejak hari terakhir ujian kemarin, Ayara berusaha menghubungi Adit, baik melalui pesan maupun panggilan, tapi tak pernah ada jawaban. Pesan yang di kirim pun hingga kini belum di baca, padahal ia tau kalau Adit sempat online beberapa kali.
“Apa Om Adit sangat sibuk, atau mungkin sedang sakit?” Ada banyak lagi dugaan-dugaan yang ada di kepalanya.
“Ehm! Lagi ngelamunin apaan nih?”
“Eh, Ar, kamu,” sahut Ayara seraya merapikan anak rambutnya.
“Tumben sendiri?” tanya Arie, karena biasanya ia melihat Ayara selalu bersama Diva.
“Tumben gimana? Mungkin kamunya aja yang ga pernah liat aku lagi sendiri,” senyum Ayara.
“Berarti hari ini tepat dong momennya, aku liat kamu lagi sendiri,” ujar Arie, dan ia sudah duduk di sebelah Ayara. Sudah lama ia menaruh hati pada teman sekolahnya itu, namun ia tidak pernah punya kesempatan untuk mendekatinya. Ntah kenapa ia selalu kehilangan cara setiap akan memulai pendekatannya. Ia ingin jadi laki-laki pertama yang bisa dekat dengan Ayara.
Sejak malam itu, Adit kehilangan ketenangannya. Ia sadar betul apa yang tengah ia rasakan. Sebelum rasa itu benar-benar tumbuh, ia sengaja memberi jarak dengan mengabaikan pesan maupun panggilan yang masuk. Sebisa mungkin ia menyibukan diri, agar pikirannya tidak selalu tertuju pada gadis yang kini tengah menunggu kabar darinya.
Setelah pulang sekolah, Ayara sengaja memesan taksi online untuk mendatangi Adit ke apartemennya. Setelah sampai dan membayar ongkos taksi, ia bertanya pada petugas yang berjaga. Setelah mendapatkan nomer unit yang di tempati Adit, ia langsung menuju lift untuk sampai di lantai tiga gedung apartemen itu.
Pintu lift terbuka. Setelah keluar dari lift, Ayara langsung mencari nomer unit dan menemukannya, dan kini ia sudah berada di depan pintu. Saat ia baru hendak mengetuk pintu tersebut, ia di kejutkan oleh suara seseorang yang memanggilnya.
“Kak Aya?” ucap Elang, menyapa Ayara yang sedang berdiri depan pintu.
“Eh, kamu, Lang,” gugup Ayara.
“Ada apa? Apa ada barang yang ketinggalan lagi?” tanya Elang, dan pertanyaan itu berhasil membuat Ayara merasa di kuliti, ia merasa gugup setengah mati. Padahal Elang benar-benar hanya menanyakan maksud kedatangannya.
“Bukan. Kakak hanya ingin menjenguk om, apa dia sakit?”
“Om Adit kayaknya sehat-sehat aja, buktinya dia udah berangkat kerja pagi-pagi,” sahut Elang.
“Oh, begitu ya. Mungkin aku yang salah dengar,” kilah Ayara. “Kapan dia pulang?”
“Biasanya om pulang agak sorean, atau paling telat malam, tapi kadang pulang cepat juga sih,” ucap Elang, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena memang om nya itu tidak tentu jam pulangnya.
“Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu,” pamit Ayara.
“Iya, Kak, hati-hati!” pesan Elang.
“Nanti aku sampein kalau Kak Aya kesini!” ucap Elang, dan Ayara menjawab dengan tersenyum.
“Terimakasih,” ucapnya.
Setelah Ayara menghilang di balik pintu lift, Elang pun masuk ke dalam.
“Apa om Adit lagi ngaku sakit? Buat apa coba? Biar di jengukin gitu? Ada-ada aja,” batin Elang.
Pukul 8 malam Adit pulang ke apartemen, ia membawa beberapa box makanan yang ia beli dari luar saat menuju pulang tadi.
Saat ia membuka pintu, sudah ada Elang yang sedang duduk di sofa sambil nonton televisi.
Adit meletakkan bungkusan berisi box itu di atas meja, lalu ia menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Bagaimana sekolah kamu hari ini?” tanya Adit.
“Alhamdulillah, baik, Om.”
“Ya sudah, kalau begitu Om mau mandi dulu, setelah itu kita makan,” ucap Adit, hendak bangkit dari duduknya.
“Om, tadi siang ada kak Aya kesini,” beritahu Elang.
“Lalu, dia bilang apa?”
“Dia bilang mau jenguk Om. Kak Aya mengira Om sedang sakit.” Tanpa membalas ucapan Elang, Adit langsung melanjutkan niatnya masuk ke kamar.
Walau masih menjadi misteri di kepalanya, tapi Elang tak mau ambil pusing. Ia langsung pergi ke dapur membawa bungkusan berisi box tadi, lalu menyiapkannya di atas meja.
Mengetahui kedatangan Ayara ke apartemennya, membuat hati Adit kembali terusik. Padahal dengan susah payah ia menekan perasaan itu, mengalihkan dengan segala kesibukan. Walau usahanya terbilang tidak berpengaruh samasekali, setidaknya ia sudah berusaha menangkis perasaan yang mulai tumbuh di hatinya.
Sebagai pria dewasa, Adit jelas faham apa yang di alaminya. Ia tentu dapat membedakan mana perasaan sayang sebagai keluarga, mana perasaan sayang terhadap lawan jenis.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian rumahnya, Adit pergi ke meja makan, dimana Elang sudah menunggunya disana.
Elang menghidangkan secangkir kopi untuk Adit, baru kemudian ia ikut duduk untuk makan malam.
“Lang, ini kopi ga pake gula?” tanya Adit, setelah meminum kopi buatan Elang.
“Udah, om. Ada apa, apa kurang manis?” tanya Elang, sambil mengingat saat ia membuatkan kopi tadi, dan ia tidak lupa menambahkan gula. Takaran pun sama seperti biasanya.
Selain kurang manis, Adit juga merasa bahwa kopi itu terasa berbeda dari biasanya. “Kopi merk apa ini?”
Elang kembali menatap om nya, padahal ia sudah tidak sabar mencicipi makan malam yang ada di hadapannya itu.
“Itu kopi yang biasa Om minum, tapi Elang ga tau merknya apaan,” jawab Elang, kemudian ia pun beranjak dan mengambil kopi tersebut. Ia memeriksa tanggal kadaluarsa dan menyebutkan merk kopi itu.
“Tolong kamu tambah gula aja lagi,” titah Adit. Elang pun mengambil gula dan sengaja menuangkannya tepat di hadapan Adit, agar om nya itu melihat sendiri bahwa ia sudah benar menambahkan gula.
“Udah, cukup,” ucap Adit. Elang pun menutup toples gula lalu menyimpannya kembali ke tempat semula, barulah setelah itu ia kembali ke tempat duduknya.
“Mari kita makan dulu, Om,” ucap Elang. “Bismillah....”
“Uhuk, uhukk!
Elang yang sedang mengunyah makanannya itu pun, reflek melihat ke arah om nya yang tengah tersedak. Ia bangkit dan mengambilkan air putih untuk Adit.
“Minum dulu, Om,” ucap Elang, seraya memberikan gelas berisi air putih. Adit menerima gelas itu dan meminumnya.
“Kopinya terlalu manis, kamu aja yang minum,” titah Adit seraya menjauhkan cangkir kopi dari hadapannya.
“Tadi kurang gula, sehingga kopi di anggap pahit, setelah di tambah gula, tetap kopi yang di salahkan, karena di anggap terlalu manis,” omel Elang di dalam hati.
-
-
-
Kenapa sampai saat ini tidak ada yang pernah menyalahkan gula? Kenapa pabrik gula tidak pernah di demo untuk segera di tutup?
Karena... Jika pabrik gula di tutup, bisa² Author makin laris, karena sama manisnya seperti gula🙏🤣😌
#Hiburan
semangat up ya Thor 😘