Karena menghindari sebuah kejaran kelompok preman, Bulan bersembunyi di kamar milik Awan. Sahabat yang baik dan lembut kepadanya. Namun, Awan berubah begitu memasuki pintu suite room itu, menjadi Awan yang buas, kasar, bahkan merenggut kegadisan Bulan. Hingga Gadis malang itu menjadi tawanan dalam pelukan sang iblis...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Sudah satu Minggu lebih sejak bulan tau jika Awan yang sekarang dan awan yang dia kenal adalah dua Awan yang berbeda. Sejak malam itu, mereka tak pernah bertemu. Bulan sibuk dengan butik nya dan Awan sibuk dengan pekerjaannya.
Malam ini, bulan mengunjungi Angkasa di ruangan khusus. Di sana masih ada Gisel dan beberapa orang perawat.
"Bolehkah aku menjaganya malam ini?" Tanya bulan mendekat dan menatap Angkasa.
"Silahkan." Jawab Gisel."Jika terjadi sesuatu atau kamu butuh aku, tekan saja tobol berwarna merah di sana." Menunjuk pada tombol di samping nakas.
"Oke."
Bulan duduk di kursi samping ranjang menggengam tangan Angkasa dan menatap wajahnya.
"Mereka memang benar-benar mirip. Tak ada yang berbeda. Hanya perangainya..." Gumam Bulan menatap wajah dengan banyaknya selang di tubuh Ang.
"Awan..." Bulan lalu tersenyum kecil. "Rasanya aku seperti memanggil kakakmu saja. Sepertinya harus ada perbedaan dalam memanggil kalian."
Bulan terdiam dan berpikir. "Mungkin sebaiknya aku memanggilmu seperti mereka. Angkasa. Boleh aku memanggilmu Angkasa?"
Bulan terus berbicara pada Ang. Menceritakan banyak hal dalam hidupnya. Dan hari-hari ia lalui dengan bercerita pada Ang salama ia tak bertemu dengan Awan. Hingga ia tertidur dengan tangan yang masih menggenggam tangan Ang.
Awan memasuki ruangan perawatan Ang. Melihat wanita yang di cintai nya kini sedang duduk tertidur berbantalkan tangan dan menggenggam tangan Ang.
"Sudah tiga hari dia di sini setiap malam." Ucap Gisel.
"Bagaimana perkembangan Ang?"
"Masih seperti biasa."
Awan mendakat dan mengangkat tubuh Bulan hingga gengaman tangan Ang terlepas.
"Aku akan membawa nya kembali ke kamar. Tolong jaga Ang." Melangkah keluar ruang perawatan.
"Okey "
Awan membaringkan tubuh Bulan di ranjang kamar miliknya. Menatap wajah yang dia rindui selama ini. Hampir 10hari lamanya ia tak melihat bulan.
Setiap kali ia kembali dan hendak memasuki kamar wanita nya, Awan urung lakukan. Karena tak ingin mengganggu istirahat Bulan.
Hingga akhirnya malam ini, ia malah mendapati Bulan tertidur di ruang perawatan Ang.
Keesokan paginya, bulan membuka mata. Merasa hangat yang tak biasa. Bulan melihat dada bidang di depan wajahnya. Lalu ia mendongak melihat awan yang tertidur dan memeluk tubuh nya.
"Aku ingat semalam tidur di ruangan Ang. Kenapa aku malah terbangun di sini?" Gumam Bulan,
Bulan mengulas senyumnya, mendekatkan jari pada bulu mata Awan yang sedikit bergerak.
"Kamu nggak pandai bersandiwara." Ucap Bulan memainkan bulu mata Awan dengan jarinya.
Awan membuka mata, karena sudah ketahuan jika ia sedang berpura-pura tidur.
"Kenapa kamu nggak pura-pura tertipu saja dan menciumku?"
"Kenapa aku harus menciummu?"
"Kenapa? Karena kau sangat merindukanku hingga memilih mendatangi Ang. Karena kami mirip kamu membayangkan dia sebagai aku."
Bulan tertawa. "Kamu pede sekali."
"Apa aku salah?" Mengeratkan pelukannya.
Bulan terdiam sesaat. "Tidak." Bulan tak bisa bohong jika dia memang merindukan Awan.
Awan mengulas senyum. Lalu menautkan bibirnya.
Serasa sangat lama tak mendapat ciuman lembut dari Awan. Bulan sangat menikmati kecupan dari Awan. Bahkan saat Awan terus menurunkan bibir nya ke leher dan menggulum buah dadanya.
Beberapa kali bulan mengerang dan menjerit setelah hampir 10hari lamanya tak merasakan sentuhan Awan sangat di Rindui nya. Permainan Awan kin bahkan lebih baik dari yang sebelumnya. Sampai Bulan mencapai nikmat tertingginya dan awan beberapa saat setelahnya.
Hingga pagi itu, mereka kembali terlelap. Bulan bangun lebih dulu hendak menyingkirkan tangan Awan yang memeluknya. Namun tangan itu justru memeluk semakin erat.
"Ini sudah siang. Aku harus bekerja."
"Liburlah untuk hari ini." Awan mengeratkan lagi pelukannya." Aku ingin menghabiskan hari ini bersama."
Hari itu Awan dan Bulan hanya menghabiskan waktu berdua, berpiknik kesebuah taman bermain dan pantai. Dan terakhir, Awan membawa bulan ke sebuah restoran.
Restoran itu sangat sepi pengunjung. Namun interior nya sangat mewah dan membuat setiap orang berdecak kagum.
Awan menarik kursi untuk bulan lalu mereka mulai makan malam.
Di tengah mereka yang sedang menikmati makan malam. Alunan musik orkestra terdengar indah. Bulan menatap para pemusik yang sedang memamerkan kepiawaian nya di atas panggung tepat di sisi kanan meja Bulan.
Bulan tersenyum menikmati alunan musik yang di sajikan.
"Tempat ini, padahal sangat bagus dan makanannya enak. Kenapa sepi?"
Awan hanya tersenyum tipis.
"Mereka bahkan memberi pertunjukan yang sangat bagus ini." Lanjut Bulan memuji.
"Benar." Awan menatap lekat Bulan yang terlihat sangat bingung.
Lalu Awan berdiri dari duduknya, dan bersimping di depan Bulan. Mengeluarkan cincin yang dia simpan di saku jasnya.
Mata bulan membola, menutup mulutnya yang terbuka.
"Menikahlah dengan ku."
Bulan masih sangat terkejut... Ia tak menyangka akan di lamar oleh awan. Apalagi pria itu hanya memperlakukan sebagai teman ranjangnya saja.
"Aku... Ingin memiliki anak dengan mu. Menikahlah dengan ku. Dan membuat sebuah keluarga. Aku tau ini tak akan mudah. Tapi, maukah kamu?"
Bulan menyadari jika dia sudah jatuh terjerat oleh Awan tanpa dia sadari. Semua perlakukan kurang ajar Awan ia menyukainya. Bulan mengangguk dengan rasa bahagia. Lalu mengulurkan tangannya.
Awan menyelipkan cincin itu di jari manis Bulan. Lalu mencium tangannya.
"Aku mencintaimu, bulan."
Awan berdiri dan memeluk tubuh Bulan.
"Apa ini artinya surat perjanjian itu tidak berlaku lagi?"
"Tentu saja itu masih berlaku." Tukas Awan.
"Apa?" Bulan melepas pelukan. "Tapi kau sudah melamar ku."
"Benar! Dan hutang mu belum lunas. Jadi kamu masih harus melayaniku dan patuh padaku."
Bulan mendecih kesal. Awan tertawa kecil menarik tangan Bulan dan meraih tengkuk nya. Menyatukan bibir mereka. Kedua lidah saling membelai satu sama lain.
Hingga dering telpon Awan menjerit memaksa Awan mengakhiri ciuman panas mereka. Lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Ada apa Gisel?"
("Dia kembali. Ang sudah kembali. Angkasa sudah sadar kembali.")
Mata Awan melebar dan berubah semakin tajam. Lalu menatap Bulan yang juga menatapnya. Bibir gadis itu sudah membengkak oleh ulahnya.
"Baiklah, aku mengerti."
Awan menutup sambungan telponnya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" Tanya Bulan penasaran.
"Ang sudah sadar. Ayo pulang."
Bersambung....
tpi untuk yg lnjut d lnjut dan lnjut.keren keren💪💪💪💪
like
komen
give
sub
star
tersemat k D, thx nt ke-8 mu, ini yg bikin u. tidak menyia yiakan hidup
thx k D, nt ke-8 mu yg q baca inilah.. yg bikin hati nyesek sekalipun indah walupun tak seperti yg kt mau i.. thx alot sak kebun bunga🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌹🌹🌷🌹🌹🌹🌷🌹🌹🌷🌹🌷🌷🌷🌹🌷🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌹🌷🌹🌹🌹🌹🌷
samudra mendengar..
jk q diposisi sam.. q akn spt dia, menyalahkannya ats kematian saudara kembar, tp q sakit hati dia bercumbu dg mu.
semangat Thor
kutunggu episode selanjutnya😘😘😘😁😁