Apakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidaApakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidak akan ada ucapan sakinah mawadah warahmah, dalam pernikahan.
Bertahan dalam pernikahan yang memberi tangis kesedihan bukan hanya bentuk kebodohan, tetapi bentuk dari perjuangan dalam mencapai pernikahan yang bahagia. Karena tidak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Begitu juga pernikahan antara Zaara dan suaminya–Arjuna.
Malam pertama pernikahan yang harusnya memberikan Zara kebahagiaan, justru memberikan luka yang begitu menyakitkan untuk Zara, saat Zara mengetahui jika suaminya mencintai wanita lain.
Apakah Zara memilih menyerah? Tidak. Karena Zara mencoba bertahan dan berjuang untuk pernikahannya.
Apakah perjuangan Zara akan berbuah manis? Entahlah.
Ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Zara tersenyum sendu setelah mencicipi kopi buatan Zara. Baru satu hari mereka bersama dan Juna dapat merasa nyaman dengan begitu cepat hidup bersama orang asing seperti Zara. Tidak seperti biasanya dimana Juna sulit mencocokan diri dengan orang baru di sekitarnya.
Ponsel Juna berdering, Juna yang mendengar itu dengan cepat melirik ke arah ponselnya yang berada di atas meja. Juna melirik nama Haikal yang memanggilnya, dan tanpa menunda Juna segera menjawabnya.
"Halo."
"Hei pengantin baru. Bagaimana rasanya?" suara tawa Haikal terdengar jelas meledek Juna.
"Buruk," jawab Juna singkat.
"Apa? Apanya yang buruk? Katakan dengan jelas! Jangan katakan gadis seperti Zara tidak...."
"Bukan seperti itu," ucap Juna cepat sebelum Haikal selesai berbicara.
"Lalu?" tanya Haikal bingung.
"Aku tidur bersamanya? Di ranjang yang sama sampai pagi tanpa merasa risih sedikit pun," ungkap Juna membuat Haikal jelas terkejut mendengarnya.
Haikal dan Juna sudah bersahabat sejak usia mereka lima belas tahun. Keduanya saling mengerti satu sama lain. Haikal sangat tahu fobia Juna yang tidak bisa tidur bersama siapapun sekalipun Juna dapat berbagi ranjang saat melakukan hal intim.
"Tidur? Tidur seperti orang normal lainnya?" tanya Haikal tak percaya.
"Ya. Kemarin aku pergi menemui Laura. Aku pulang larut malam dan tidur di samping Zara sampai pagi. Aku bahkan dengan sadar memeluknya," ujar Juna menjelaskan.
"Luar biasa. Kamu pria pertama yang meninggalkan istri di malam pertama. Apa kamu tidak merasa kasihan pada Zara? Apa yang akan terjadi jika Zavier dan Zayan tahu apa yang telah kamu lakukan di belakang Zara?" ucap Haikal merasa iba pada Zara dan geram pada Juna.
"Aku mencintai Laura. Aku tidak ingin dia berpikir macam-macam jika aku tetap bersama Zara di malam pernikahan. Aku sudah cukup menyakitinya, kamu tidak tahu bagaimana kondisinya. Dia sangat sedih melihatku menikahi wanita lain," jawab Juna terdengar ragu saat dia sendiri merasa salah dengan ucapannya.
"Bagaimana dengan perasaan Zara? Apa kamu tidak dapat merasakan apa yang dia rasakan?" ucap Haikal membuat Juna terdiam.
"Kamu harus memilih, Juna. Lepaskan Laura karena sekarang Zara adalah istrimu," saran Haikal pada Juna yang tetap saja terdiam mendengarnya.
"Aku tidak bisa, kamu tahu aku sangat mencintai Laura. Aku akui aku salah, tapi Laura sama sekali tidak bersalah. Aku akan memperjuangkan cinta kami, " ucap Juna beberapa saat kemudian.
"Baiklah. Perjuangkan cintamu. Sepertinya kamu tidak mempercayai ungkapan jodoh di tangan Tuhan. Sekarang lepaskan Zara kalau begitu. Kembalikan Zara pada keluarganya," ucap Haikal lagi mengakhiri sepihak panggilan telepon saat Haikal merasa kesal berbicara pada Juna.
Juna terdiam mencerna semua yang Haikal katakan. Juna sadar jika sikapnya jelas salah, tetapi Juna tidak tahu harus melakukan apa. Di satu sisi Juna mencintai Laura, di sisi lainnya Juna tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.
***
Zara kembali ke kamar setelah membuatkan kopi untuk Juna. Zara teringat akan kedua kakak nya yang tadi malam menghubunginya. Zara yang tidak ingin Zavier dan Zayan mencemaskannya, dengan cepat menelpon salah satu dari saudaranya itu.
"Assalamualaikum...."
"Waalaikumsalam.... Za, kamu baik-baik saja?" pertanyaan yang terlontar dari Zavier membuat Zara kembali merasa sesak. Zara berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis, meskipun pada kenyataannya Zara ingin sekali menangis mengadu pada Zavier seperti yang biasa Zara lakukan jika tengah bersedih.
Zara hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Zavier dan itu membuat Zavier yang berada di seberang telepon menjadi khawatir. "Za, kamu baik-baik saja? Apa sesuatu terjadi? Apa dia menyakitimu?" tanya Zavier lagi.
'Sakit, Kak. Sangat sakit. Dia menyakitiku begitu dalam. Apa yang harus aku lakukan, Kak? Ini sangat-sangat menyakitkan.' Batin Zara menjawab.
"Zara!" panggil Zavier sedikit meninggikan nada bicaranya.
Zara mengeluarkan suara tawanya dan mulai bersandiwara. "Aku baik-baik saja, Kak. Aku hanya ingin melihat respon Kakak apakah masih mengkhawatirkan aku atau tidak setelah aku menikah," ucap Zara terkekeh mengatakannya, tetapi mata cantik itu tidak dapat berbohong saat air matanya terus menetes mengatakan semua itu.
"Za. Jangan bercanda! Kamu adikku satu-satunya. Kamu kesayangan keluarga kita. Sampai kapan pun aku dan Zayan akan selalu menyayangimu. Kami tidak akan pernah membiarkan siapapun melukaimu, tidak sedikitpun. Jangan pernah berpikir seperti itu," ucap Zavier membuat air mata Zara semakin deras mengalir.
"Aku juga sangat menyayangi kalian, Kak." Zara menyadari jika suaranya terdengar serak, untuk itu Zara dengan cepat mengakhiri panggilan telepon sebelum Zavier menyadari hal itu.
"Kak, mas Juna memanggilku. Aku tutup dulu ya! Nanti kita bicara lagi. Assalamualaikum...."
Tangis Zara pecah bersamaan dengan berakhirnya panggilan telepon. Zara yang takut Juna menangkap basah dia sedang menangis dengan cepat berlari ke kamar mandi dan menyalakan kran air agar suara tangisnya tersamarkan oleh suara air.
Zara melepaskan semua tangisnya. Kesedihan yang Zara rasakan seakan meluap setelah mendengar ucapan Zavier. Apa yang Zavier katakan benar adanya. Tidak pernah sekalipun Zara merasa tersakiti, kasih sayang yang begitu besar selalu Zara dapatkan dari keluarganya. Namun, sekarang Zara yang tidak terbiasa akan rasa sakit, harus membiasakan dirinya tersakiti oleh orang terdekatnya, siapa lagi jika bukan suaminya sendiri.
"Jika saja aku dapat memutar waktu, aku ingin kembali bersama kalian, Kak. Aku tidak ingin berada di posisi ini. Ini semua sangat menyakitkan," ucap Zara di sela isak tangisnya.
Perfect deh.....
ada season kedua kah???
ternyata selama itu kamu pergi , gimana keadaan papa Emir juga Juna sekarang....