Sakuel Cinta dan Masa lalu.
Ingin lebih dapat feelnya? Silahkan baca novel sebelumnya😊
Salsa Natasya Anajani tidak pernah menyangka akan mendapat kejutan yang luar biasa di hari ulang tahun putra kecilnya. Suami yang telah lama tiada kini kembali lagi dengan versi yang berbeda, mungkin fisik dan ketampanan masih sama, tapi tidak dengan sikap dan cinta untuknya.
Azka Afrizal Wijaya pulang dengan ingatan yang hilang sepenuhnya, bahkan dengan tega mempertanyakan status Salsa istrinya.
"Apa benar dia anakku dan kau istriku? Apa kau punya bukti tentang itu?"
Mampukah Salsa membuktikan statusnya pada Azka? Atau ia harus menjadi asing di mata suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16 - Kembalinya Suamiku
Salsa tersentak ketika tiba-tiba Azka menyelipkan tangan di antara lehernya.
"A-Azka," gugup Salsa.
"Gini kan? Atau Azkanya kamu punya posisi lain sebelum tidur?"
Sulit di pungkiri, senyum Salsa kembali merekah, walau sedikit gugup, wanita itu mengelengkan kepalanya.
"Bukan gitu sayang, tapi gini." Salsa semakin merapatkan tubuhnya pada Azka. Menyentuhkan hidungnya di ceruk leher Azka.
"Jangan pernah bosan ingatkan aku hal-hal kecil lainnya," gumam Azka mengelus rambut Salsa.
"Aku senang kamu mau nerima aku lagi Ka. Awalnya aku takut kamu bakal ninggalin aku sama Kara karena nggak kenal. Aku nggak keberatan kamu lupa kenangan kita asal mau nerima aku lagi. Kita mulai dari awal juga nggak papa."
"Baiklah, kita mulai dari awal kalau gitu," ucap Azka.
Dengan ragu, laki-laki itu menundukkan kepalanya untuk mengecup kening Salsa. "Semoga keputusan aku nggak salah," bisiknya.
Lagi, Salsa kembali menangis dalam pelukan Azka. "Hiks ... akhirnya aku bisa rasain pelukan hangat kamu lagi Ka."
"Mama!" Panggil Angkara di ambang pintu dengan setelan piyama tidur.
Salsa langsung berbalik. "Anak Mama kenapa bangun?" heran Salsa. Padahal ia sudah memastikan Angkara terlelap sebelum ke kamar.
"Pengen tidul baleng papa," jawab Angkara langsung merangkak naik ke tempat tidur, kemudian membaringkan tubuhnya di tengah-tengah antara Salsa dan Azka.
"Kirain anak Mama mimpi buruk lagi." Salsa mengecup pipi Angkara.
"Mama jangan keselingan cium pipi Kala. Kala malu."
"Kok malu?" Kali ini Azka ikut menimpali, ingin lebih dekat dengan mahkluk kecil yang katanya darah dagingnya.
"Kala udah besal Papa, malu sama teman-teman di katain anak Mama. Kala kan mau kayak om El, cool gitu."
"Eh, jangan kayak om El sayang, kasian pacar kamu, nanti makan hati tiap hari."
"Emang kenapa Mama?" Mata Angkara mengerjap lucu, menatap wajah cantik Salsa.
"Perempuan butuh perhatian dan kasih sayang, dan om El itu dingin dan cuek sama pasangannya."
"Oh gitu, yaudah kalau besal, Kala mau kayak Papa aja."
Salsa semakin tertawa dan itu berhasil mengambil perhatian Azka.
"Kenapa tertawa?"
"Sama aja."
"Aku kayak Samuel? Dingin dan nggak perhatian sama Kamu?"
"Iya dulu pas awal-awal kita pacaran, kamu susah banget senyum ke aku. Tapi pas nikah nggak lagi, kamu manja banget, aku suka."
"Ih Papa senyum-senyum, bapel ya sama Mama?" ledek Angkara.
"Hust, yang ngajarin siapa, hm?" tanya Azka menutupi rasa salah tingkahnya.
"Ayah Layhan."
Senyuman Azka memudar, ia melirik Salsa sekilas. "Angkara, Ayah, Papa, Papi, Daddy kamu, itu cuma satu yaitu Papa. Jangan manggil mereka lagi seperti itu, apa udah balik," larang Azka.
"Tapi dali kecil Ayah Keen sama Ayah Layhan selalu ada buat Kala, Papa mana pelnah," jawab Angkara sedikit tidak suka.
Kasih sayangnya pada Keenan dan Rayhan jauh lebih besar dari Azka. Apa lagi ketika setiap malam Angkara melihat Mamanya menangis di dalam kamar sebelum kembalinya Azka.
"Papa itu jahat sama Mama. Papa pelgi dan balu balik lagi. Papa jahat kalena buat Mama nangis tiap malam sebelum tidul!"
Angkara langsung merubah posisi tidurnya menghadap Salsa, memeluk wanita itu erat.
"Kala benci sama Papa!"
Salsa mengelus rambut Angkara seraya menatap Azka penuh rasa bersalah. Ia merasa gagal mendidik Angkara.
Selama ini ia selalu mengajarkan pada Angkara yang baik-baik. Selalu menceritakan tentang Azka, kebaikan Azka dan bertapa hebatnya laki-laki itu.
Sayangnya ia tidak tahu bahwa Angkara diam-diam selalu menyaksikannya menangis tengah malam.
"Maaf," lirih Salsa.
"Nggak papa, namanya juga anak-anak." Azka langsung beranjak dari tempat tidur, berjalan keluar kamar.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiah🥰💃💃💃💃💃💃🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹