NovelToon NovelToon
Bulan Di Langit

Bulan Di Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikahmuda / Duda
Popularitas:210.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Heni Heni

Menjadi kaya sejak lahir, tak lantas membuat hidup seorang Langit Biru begitu sempurna. Nyatanya di usia yang ketiga puluh lima tahun, pria itu sudah harus merasakan menjadi orangtua tunggal bagi putrinya.

Apapun akan Langit lakukan demi kebahagiaan juga keselamatan sang putri. Termasuk di dalamnya ketika Langit harus memaksa seorang gadis ambisius juga keras kepala agar mau menjadi istrinya. Siapa lagi jika bukan Bulan Purnama. Wanita yang memang memiliki ambisi demi kemajuan bisnisnya.

Sebuah kisah kehebatan seorang Ayah tunggal yang mencintai putrinya dengan cara yang luar biasa.

Juga bagaimana seorang wanita tangguh dan mandiri yang harus terpaksa hidup bersama seorang duda dengan putrinya.

Ikuti kisah selengkapnya hanya di story Bulan di Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heni Heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam Belas

"Tolong kamu urus semua keperluanku untuk pergi ke Jakarta. Termasuk tiket dan juga penginapan." Bulan memerintahkan bawahannya melalui sambungan interkom yang berada di dalam ruang kerjanya. Bulan sudah cukup geram dengan semua penolakan yang Langit berikan.

Bahkan Bulan sudah melakukan survei pada lokasi di mana lahan tersebut hanya dibiarkan terbengkalai begitu saja. Padahal lokasinya sangat strategis. Kenapa juga Langit tidak mau menjual saja sehingga pria itu akan mendapat keuntungan.

Saking penasarannya, Bulan sudah mantap dan memutuskan untuk dia pergi menemui langsung lelaki itu. Sedikit hal tentang Langit juga sudah didapat Bulan dari Jupiter. Termasuk di dalamnya adalah alamat serta lokasi di mana perusahaan milik Langit berada. Tidak susah bagi Bulan dapat menemukan tempat itu. Karena Ibukota sudah sering menjadi jujugannya.

Bulan mendesah kasar. Memijit pelipis yang akhir-akhir ini sering dirasakannya nyeri dan pusing kepala.

"Kamu kenapa, Bulan? Sedang sakit?"

Karena tidak fokus dan konsentrasi yang ambyar, sampai Bulan tidak mengetahui kedatangan Daddy Bumi. Pintu yang terbuka pun tidak terdengar olehnya.

Melihat kedatangan Daddy Bumi, Bulan merasakan kelegaan yang luar biasa. Hanya pada Daddy-nya Bulan biasa bersandar.

Bumi sendiri yang melihat putrinya tampak pucat juga tak bersemangat ikut dibuat penasaran. Berjalan mendekat sampai lelaki yang usianya hampir mendekati kepala tujuh itu pun berdiri di samping Bulan Purnama. Mengusap punggung Bulan dengan lembut. "Ada apa, hem?"

Tak segan Bulan bermanja pada Daddy-nya sekalipun mereka tengah berada di tempat kerja. "Daddy." Kedua lengan Bulan sudah melingkari pinggang Daddy Bumi. Menyandarkan kepala di sana.

"Daddy ... ijinkan aku pergi ke Jakarta, ya?"

Bumi terkejut mendengarnya. "Ke Jakarta? Mau ngapain di sana. Bukankah kamu juga baru saja pulang dari Surabaya. Apakah liburannya belum cukup?"

"Kali ini bukan untuk liburan, Daddy."

"Lalu?"

"Aku ingin mengunjungi salah satu perusahaan properti di sana. Namanya Mars Property."

"Apakah ada proyek baru yang sedang kamu peroleh. Kenapa Daddy tidak tahu?"

Ya, meskipun Bumi memberikan sepenuhnya kepengurusan perusahaan sekaligus hotel yang dia miliki pada anak-anaknya, akan tetapi di balik layar lelaki itu masih ikut memantau. Bulan dan juga Danu pun selalu mendiskusikan padanya terkait apapun pekerjaan yang sedang mereka kerjakan.

Sebagai seorang senior, Bumi sudah sangat berkompeten dalam dunia bisnis hingga Bulan yang masih dalam tahap belajar harus banyak-banyak mencari ilmu dari Daddy-nya.

"Aku belum mendapatkan proyek baru itu, Daddy. Tujuanku ke Jakarta karena ingin menemui CEO Mars Property yang juga sebagai pemilik lahan yang sedang aku incar selama ini."

Kening Bumi mengerut mendengar penuturan putrinya. "Jadi, sampai sekarang kamu masih mengincar lahan itu? Setahu Daddy, dari cerita terakhir yang kamu bagi jika ada beberapa kali proposal yang kamu kirimkan ditolak. Lantas, kamu masih nekat mau menemui langsung pemiliknya."

"Iya, Daddy. Aku terlanjur jatuh cinta pada tempat itu. Lagipula aku heran dengan si Langit. Kenapa juga membiarkan lahannya terbengkalai begitu. Padahal nilai penawaran yang aku berikan sangat tinggi."

"Bulan ... Bulan. Jika sudah memiliki keinginan kamu ini selalu berambisi untuk mendapatkan."

"Karena aku penasaran saja dengan alasan penolakannya."

"Memangnya kamu sudah kenal dengan pemilik lahan itu?"

Kepala Bulan mengangguk. "Iya. Tanpa sengaja kenal pada saat aku di rumah Uncle. Dia adalah rekan bisnis Uncle Dirga."

"Jika begitu ... kenapa kamu tidak meminta bantuan saja pada Uncle-mu?"

"Selagi aku masih bisa berusaha sendiri ... aku tidak akan meminta tolong Uncle. Nanti saja jika lelaki itu susah diajak negosiasi, maka membawa Uncle adalah solusi."

"Terserah kamu saja Bulan. Daddy hanya bisa mendukungmu."

"Terima kasih, Daddy. Jadi, Daddy mengijinkanku untuk pergi ke Jakarta?"

"Memangnya kapan kamu perginya?"

"Besok."

"Apa? Kenapa harus mendadak sekali."

"Maafkan aku Daddy. Bukankah lebih cepat, lebih baik agar semua urusan cepat kelar."

"Kamu ini memang sangat menggambarkan bagaimana Daddy ketika muda dulu. Sangat berambisi jika itu soalan bisnis."

"Ya, kan aku turunan Daddy."

Keduanya tertawa bersama.

"Jangan lupa pamit sama Mommy."

"Iya. Itu sudah pasti. Aku jadi kasihan sama Mommy. Pasti Mom akan memikirkanku nanti."

"Namanya juga anak gadis. Pergi jauh dari keluarga tentulah membuat Mommy khawatir."

"Urusan Mommy aku serahkan pada Daddy. Pasti Daddy paling pandai jika menyangkut rayu merayu."

"Kenapa jadi Daddy yang kamu berikan tugas itu."

Lagi-lagi mereka berdua tertawa.

"Ayo kita makan. Sudah lewat tengah hari."

"Siap, Daddy. Habis itu aku mau langsung pulang. Belum packing juga."

Bulan beranjak dari duduknya. Tak lupa meraih tas yang tadi dia letakkan pada laci meja kerja. Bergelayut manja pada lengan Daddy-nya melangkah keluar meninggalkan ruang kerjanya.

••••

Esok harinya.

Gadis berponi itu dengan riang memasuki gedung perkantoran Mars Property. Tidak sendiri, melainkan tangan mungil itu bergandengan dengan sebuah tangan putih mulus milik sang mama. Siapa lagi jika bukan Cahaya dengan Vivian. Keduanya berniat menemui Langit Biru. Tentunya atas hasutan Vivian lah yang telah memaksa Cahaya untuk dapat menerima kehadirannya kembali dalam kehidupan sang putri bersama mantan suaminya.

"Papa!" Suara nyaring itu terdengar di telinga Langit ketika pintu ruang kerjanya terbuka.

Langit tersenyum mendapati sang putri yang datang tanpa memberitahu sebelumnya. Namun, senyum Langit mendadak sirna ketika di balik tubuh Cahaya, muncul seorang wanita yang sangat ingin dihindari oleh Langit.

"Hai, Mas!"

Jika menyambut Cahaya dengan senyuman, lain halnya jika harus berhadapan dengan Vivian. Selain malas pria itu juga enggan berhubungan lagi dalam segala hal dengan sang mantan istri.

"Aya, kenapa bisa bersama Mama?"

"Tadi Mama menjemput Aya di sekolah."

Langit hanya melirik melalui ekor mata pada Vivian yang duduk di sofa. Lalu Cahaya pun ikut duduk bersama mamanya.

"Mas ... ayo kita pergi makan siang? Pasti kamu belum makan, kan?"

"Aku sedang banyak pekerjaan."

"Papa ... Ayolah! Padahal kita ke sini karena ingin menjemput Papa. Masak Papa ngga mau pergi?" Gadis kecil itu memberenggut dengan bibir mengerucut merayu papanya agar mau ikut bersama mereka.

Bisakah Langit menolak keinginan putri tercintanya. Langit mendesah merasa berat jika harus pergi bersama Vivian juga. Namun, Langit juga tidak ingin membuat Cahaya kecewa.

"Baiklah. Kita pergi. Papa ingin membereskan ini dulu."

"Yeay!" Cahaya bersorak kegirangan. Setidaknya dia bisa kembali menikmati hidup bersama kedua orangtuanya. Dengan pergi jalan-jalan atau makan bersama. Tak Cahaya pungkiri jika dia merindukan keluarga lengkap yang harmonis. Namun, Cahaya juga tidak mungkin menyalahkan papanya yang telah memutuskan berpisah dari sang mama. Semua pasti ada sebab akibatnya. Dan Cahaya, meski dia masih kecil, tapi cukup paham akan apa yang terjadi pada rumah tangga kedua orang tuanya.

1
Trisni Trisni
suka bangat
Kh2103💙
Lanjut lg dong thor...🙏🙏
penasaran sm kehidupan rumah tangga bulan langit...
Kh2103💙
Ya ampun...aku baru baca lg, setelah sekian lama menunggu, sampe bolak-Balik ngintipin udah ada lanjutannya apa blm... akhirnya nongol jg.....
terimaksih kak, lanjut terus donk....🙏🙏
Nunung Sutiah
Thor, are you ok?
RAGIL RUKIATI
thor jangan lama2 dong up datex
Leeonyy Dewa
iseng2 buka ini kok ya d up akhirnya... semoga bisa benar2 tamat ya kak😍
Sumi Nar
Alhamdulillah Stlh sekian abad hehehe akhirnya up juga ... Terimakasih otor ku yg baik.semoga ada up slnjtnya ya
Sri Komalasari
Y ampun author kemana aja, aq sampe bulak balik liat lapak ini karna ingin trus baca lanjutan kisahnya, ka author semangat nulos trjs y ka, jangan PHP lagi soalnya serrruuuuu 🥰🥰sehat trus k author
Siti Rahmadhani
lanjut
Heni Heni
dilanjut sampai tamat setelah Bertahun-tahun bertapa cari inspirasi. do'akan ya saya betah balik ke sini. Terima kasih yang sudah setia menunggu kelanjutan cerita ini
Yayoek Rahayu: harus tetap semangat...
total 3 replies
Reni Otta
ya ampun Thor,setelah sekian purnama diriku menanti dirimu baru muncul lagi.
petaba dimana thor?😁✌️
terima kasih ya Thor🙏
Anindita Azzahra
setelah skian lma crita ini gantung,,skrng ada notif..smngat kak lnjtkn critanya smpai slsai
Nunung Sutiah
Stlh vacum bbrp thn, akhirnya muncul lg.
Kirain g d lanjut...
ikeds
oh MG apakah aq mimpi,,, bulan kau kembali 😍😍
ikeds
berharap banget bulan ini up lagi,,, masih blm move on. author semoga semangat lagi nerusin bulan-nya,,😍
Reni Otta
aku sampe sekarang masih nunggu thor,up lagi donk 🙏
Reni Otta
kenapa nggak update lagi ce thor
Nurul Qomariyah
lho.....kok brenti ....tanggung lah....
Hanny Ticaya
ceritanya gimana nie,,,lanjut dong thour,
Sumar Sutinah
duh kasian ucle jupi, kalah cepat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!