Jesyca jeje
Bolehkan sekali kita berkhayal?
Seandainya pun boleh, pastikan khayalan tersebut dapat terwujudkan.
Kisah sosok seorang pendamba cinta, setelah sekian lamanya terjebak dalam penyakit yang entah sejak kapan datangnya, dan bertemu dengan wanita yang mampu menimbulkan hasratnya kembali.
Akankah pria itu sembuh, ataukah sebaliknya, apa yang terjadi?
Yuk lanjut aja bacanya, jangan lupa dukung author dengan cara like, komen dan vote ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesyca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps #16
Dasar Adit b******ek. Rencana apa yang kau susun untuk mengerjaiku, dasar bos halu, mesum, bucin. Liat aja apa yang yang akan aku lakuin untuk mu, aku akan membalas perbuatanmu ini. Aku akan balas lebih dari ini. Kau akan menyesali perbuatanmu dan meminta maaf padaku. Amira memaki bos nya itu di dalam hati..
Gadis yang sedang membuka koper tampak kebingungan, karna isi di dalam koper semuanya baju sexi.
Amira bangkit dan mencari handphone nya. Gadis itu mencari kontak nama sahabatnya.
Tut.. Tut.. Tut..
"Hallo, beb. "Suara wanita di sebrang sana.
"Beb, lo bisa kekamar gue sekarang gak? "
"Ada apa beb. "
"Udah, lo buruan kesini, sekarang. "
"Iya..iya. " Anggun mematikan sambungan telfon dan berjalan menuju kamar Amira.
Ceklek..
"Kenapa sih beb? Satu atap pun pake nelfon segala. "Ujar Anggun saat sudah berada di kamar Amira.
"Beb, gue pinjam baju lo ya. "
"Loh.. Buat apa beb, koper lo kan udah gue kasih. "Anggun menjawab sambil berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya di sana.
"Lo liat tu isi koper, baju kekurangan bahan semuanya, g***a tu abang lo, maksud dia apa coba? "
"What. "Anggun membulatkan mata nya saat melihat baju di dalam koper Amira.
"Udah, lo buruan ambil baju lo, gue udah kedinginan ni. "Ujar Amira yang saat itu hanya memakai handuk, dan memang merasa dingin karna udara di puncak saat malam dua kali lipat dinginnya dari siang hari.
"Oke.. Sebentar gue ambilin. "Anggun pun bergegas kembali kekamarnya dan mengambilkan setelan baju tidur lengan panjang untuk Amira.
Setibanya Anggun di kamar sahabatnya, wanita itu pun dengan cepat memakai baju yang di beri Anggun. Baju tidur yang sedikit kebesaran di tubuh Amira. Ya, tubuh Anggun memang lebih gemuk dari Amira, tapi Amira lebih nyaman memakai baju itu dari pada baju yang di siapkan oleh Adit.
"Hahaha.. Kebesaran beb di badan lo. "
"Nggak papa lah, dari pada baju di koper itu, ini jauh lebih pantas di pakai. "
"Yaudah kita turun yuk, pasti yang lain udah nunggu. "
Amira mengangguk dan menggandeng tangan Anggun, mereka berjalan beriringan.
"Sayang.. Ada apa dengan baju mu? "Tanya Mia karna melihat baju Amira yang kebesaran.
"Emm.. Anu.. Emm.. Itu tan, Mira lupa bawa baju tidur, jadi Mira pinjam baju anggun. Iya kan gun. "Amira menyenggol Anggun.
"Ehh.. Iya Mi. "Gadis itu cengengesan.
"Ohh.. Ayuk kita makan malam bersama. "
Kini Anggun dan Amira duduk bersebelahan. Adit yang sedari tadi melihat penampilan Amira hanya bisa menyimpan tawanya.
"Silahkan makan Tuan, Nyonya, dan lainnya. "Ujar Bik Janah.
"Terimakasih, Bik. "Ucap Anggun bersemangat.
"Bik, Mamang mana? "Tanya Edo.
"Di belakang tuan. "
"Panggil kemari, kita makan bersama-sama. "
"Ehh, tidak Tuan, kami makan di belakang saja. "Janah menolak, karna dia tidak enak makan satu meja dengan majikannya.
"Udah nggak papa Bik, makin rame kan lebih bagus. "Mia menimpali
"Emm.. Baiklah, Nyonya, saya kebelakang dulu, memanggil suami saya. "
Ya. Begitulah keluarga Mahendra, mereka tidak pernah melihat seseorang dari Ras maupun Kasta. Mereka menganggap diri mereka sama seperti manusia lainnya.
Amira yang menyaksikan kebaikan keluarga Mahendra merasa kagum. Sebagian orang kaya menyombongkan harta dan kedudukannya, menganggap orang Miskin tidak pantas berada di dekat mereka, apalagi berada di satu meja makan yang sama. Berbeda dengan Keluarga Mahendra, mereka sangat bermurah hati, dan baik kepada sesama.
Saat ini Mamang dan janah sudah duduk bersama. Mereka semua menikmati makan malam dengan sesekali bergurau.
Ting.. Tong..
Suara Bel..
"Sapa yang bertamu malam-malam gini. Ini kan villa pribadi. "Ujar Edo
"Mas Ronal mungkin Pi, soalnya tadi Mas Ronal sms Faya, kemungkinan malam baru tiba di sini. "
"Mamang akan membukakan pintu. "Pria paru baya itu bangkit dari duduk nya.
"Enggak usah Mang, biar Faya aja yang bukakan pintu. "Faya pun berlalu.
Mereka semua kembali menikmati makan malam yang sempat tertunda.
"Assalammualaikum, semua nya. "Ucap pria berbadan tegap dan tetap tamvan meski sudah memiliki istri dan anak.
"Waalaikumsalam, nak. "Ucap mereka bersamaan.
Berbeda dengan Amira, gadis itu membulatkan matanya, ia tidak percaya apa yang saat ini ia lihat.
Uhuk.. Uhuk..
Amira tersedak makanan nya.
"Kamu nggak papa Mir, ini minum dulu. "Adit dengan sigap memberi segelar air untuk Amira.
"Enggak papa kok, maaf. "Ucap Amira sambil menunduk.
Ronal yang memlihat Amira di hadapannya ikut terkejut, pria itu berulang kali memerjapkan mata nya, ia ingin memastikan jika yang ia lihat salah. Tapi hasil tetap sama, gadis yang sudah bertahun-tahun tidak di lihat kini duduk di depannya.
"Mas, kenapa? "Faya membuyarkan lamunan Suaminya.
"Eng.. Enggak papa sayang. "
"Ayo, duduk. Kita makan malam bersama. "Faya menuntun suaminya untuk duduk.
"Papa.. Kenapa papa lama sekali, Jovan sudah kangen. "Rengek Jovan duduk di pangkuan Ronal sambil memeluk.
"Maafkan papa, jagoan kecilku, ini papa belikan hadiah untuk mu. "Ronal memberikan paperbag coklat.
"Sayang.. Kembali duduk di kursi mu, dan habiskan makanannya, papa masih capek, hadiahnya nanti kita buka bersama di kamar ya. "Ucap Faya.
"Iya, Ma. "Jovan pun duduk di kursinya dan kembali melahap makanan yang ada di piringnya. .
Semua orang yang berada di sana mengukir senyum.
Berbeda dengan Amira, ia yang menyaksikan kehangatan keluarga kecil yang penuh kebahagiaan itu, entah kenapa hati nya merasa hancur, tangis yang dari tadi di tahan ingin rasanya ia meluapkannya.
"Maaf semuanya, aku udah selesai, aku ke kamar duluan. "Amira langsung berlarian kecil menuju kamarnya.
Ada apa dengan sikap Amira, aneh sekali, apa dia cemburu dengan Kak Faya dan keluarganya? apa dia ingin memiliki seorang anak? Ah.. Benar, dia begitu karna ingin memiliki seorang anak, aduh Adit, kenapa lo jadi cowok kurang peka sih! Sikap Amira seperti itu, dia memberi kode, agar aku segera melamarnya dan menikahinya. Berlibur ke tempat romantis dan memberinya seorang anak. Amira.. Amira, kau terlalu naif, kau tidak ingin menjadi pacarku karna ingin aku langsung menikahimu. Begitulah gumam Adit di dalam hati, sambil tersenyum-senyum membayangkannya.
"Lo kenapa senyum-senyum sendiri. "Key membuyarkan lamunan Adit.
"ahh... Adit berjinggkat karna kaget. Napa sih lo ngagetin gue aja. "Maki Adit kepada Key karna Key membuyarkan lamunannya.
"Yee.. Elo nya senyum-senyum sendiri, macem ke sambet nenek gombel. "
"Elo kakek gombel nya. "
"Mi, Pi, Adit kekamar duluan, karna ada berkas-berkas yang belum Adit selesaikan. "Ia bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju kamar.
"Iya nak, jangan terlalu malam tidur nya, kesehatanmu lebih penting. "Ucap Mia.
Adit mengabaikan ucapan Maminya. Ia memasuki kamar nya dan ingin melanjutkan lamunan yang tadi sempat di ganggu oleh Key.
Bersambung..
Ada apa dengan sikap Amira saat melihat Ronal? Ada kisah apa tentang mereka? dan apa alasan Davit memutuskan hubungannya dengan Anggun. Mesteri apa di balik 10 tahun dan Asal mula penyakit Adit..
Yang penasaran sama ceritanya, yuk lanjut. Jadikan novel favoritmu dan jangan lupa vote ya..
Happy reading all😘😘
Gadis yang sedang membuka koper tampak kebingungan, karna isi di dalam koper semuanya baju sexi.
Amira bangkit dan mencari handphone nya. Gadis itu mencari kontak nama sahabatnya.
Tut.. Tut.. Tut..
"Hallo, beb. "Suara wanita di sebrang sana.
"Beb, lo bisa kekamar gue sekarang gak? "
"Ada apa beb. "
"Udah, lo buruan kesini, sekarang. "
"Iya..iya. " Anggun mematikan sambungan telfon dan berjalan menuju kamar Amira.
Ceklek..
"Kenapa sih beb? Satu atap pun pake nelfon segala. "Ujar Anggun saat sudah berada di kamar Amira.
"Beb, gue pinjam baju lo ya. "
"Loh.. Buat apa beb, koper lo kan udah gue kasih. "Anggun menjawab sambil berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya di sana.
"Lo liat tu isi koper, baju kekurangan bahan semuanya, g***a tu abang lo, maksud dia apa coba? "
"What. "Anggun membulatkan mata nya saat melihat baju di dalam koper Amira.
"Udah, lo buruan ambil baju lo, gue udah kedinginan ni. "Ujar Amira yang saat itu hanya memakai handuk, dan memang merasa dingin karna udara di puncak saat malam dua kali lipat dinginnya dari siang hari.
"Oke.. Sebentar gue ambilin. "Anggun pun bergegas kembali kekamarnya dan mengambilkan setelan baju tidur lengan panjang untuk Amira.
Setibanya Anggun di kamar sahabatnya, wanita itu pun dengan cepat memakai baju yang di beri Anggun. Baju tidur yang sedikit kebesaran di tubuh Amira. Ya, tubuh Anggun memang lebih gemuk dari Amira, tapi Amira lebih nyaman memakai baju itu dari pada baju yang di siapkan oleh Adit.
"Hahaha.. Kebesaran beb di badan lo. "
"Nggak papa lah, dari pada baju di koper itu, ini jauh lebih pantas di pakai. "
"Yaudah kita turun yuk, pasti yang lain udah nunggu. "
Amira mengangguk dan menggandeng tangan Anggun, mereka berjalan beriringan.
"Sayang.. Ada apa dengan baju mu? "Tanya Mia karna melihat baju Amira yang kebesaran.
"Emm.. Anu.. Emm.. Itu tan, Mira lupa bawa baju tidur, jadi Mira pinjam baju anggun. Iya kan gun. "Amira menyenggol Anggun.
"Ehh.. Iya Mi. "Gadis itu cengengesan.
"Ohh.. Ayuk kita makan malam bersama. "
Kini Anggun dan Amira duduk bersebelahan. Adit yang sedari tadi melihat penampilan Amira hanya bisa menyimpan tawanya.
"Silahkan makan Tuan, Nyonya, dan lainnya. "Ujar Bik Janah.
"Terimakasih, Bik. "Ucap Anggun bersemangat.
"Bik, Mamang mana? "Tanya Edo.
"Di belakang tuan. "
"Panggil kemari, kita makan bersama-sama. "
"Ehh, tidak Tuan, kami makan di belakang saja. "Janah menolak, karna dia tidak enak makan satu meja dengan majikannya.
"Udah nggak papa Bik, makin rame kan lebih bagus. "Mia menimpali
"Emm.. Baiklah, Nyonya, saya kebelakang dulu, memanggil suami saya. "
Ya. Begitulah keluarga Mahendra, mereka tidak pernah melihat seseorang dari Ras maupun Kasta. Mereka menganggap diri mereka sama seperti manusia lainnya.
Amira yang menyaksikan kebaikan keluarga Mahendra merasa kagum. Sebagian orang kaya menyombongkan harta dan kedudukannya, menganggap orang Miskin tidak pantas berada di dekat mereka, apalagi berada di satu meja makan yang sama. Berbeda dengan Keluarga Mahendra, mereka sangat bermurah hati, dan baik kepada sesama.
Saat ini Mamang dan janah sudah duduk bersama. Mereka semua menikmati makan malam dengan sesekali bergurau.
Ting.. Tong..
Suara Bel..
"Sapa yang bertamu malam-malam gini. Ini kan villa pribadi. "Ujar Edo
"Mas Ronal mungkin Pi, soalnya tadi Mas Ronal sms Faya, kemungkinan malam baru tiba di sini. "
"Mamang akan membukakan pintu. "Pria paru baya itu bangkit dari duduk nya.
"Enggak usah Mang, biar Faya aja yang bukakan pintu. "Faya pun berlalu.
Mereka semua kembali menikmati makan malam yang sempat tertunda.
"Assalammualaikum, semua nya. "Ucap pria berbadan tegap dan tetap tamvan meski sudah memiliki istri dan anak.
"Waalaikumsalam, nak. "Ucap mereka bersamaan.
Berbeda dengan Amira, gadis itu membulatkan matanya, ia tidak percaya apa yang saat ini ia lihat.
Uhuk.. Uhuk..
Amira tersedak makanan nya.
"Kamu nggak papa Mir, ini minum dulu. "Adit dengan sigap memberi segelar air untuk Amira.
"Enggak papa kok, maaf. "Ucap Amira sambil menunduk.
Ronal yang memlihat Amira di hadapannya ikut terkejut, pria itu berulang kali memerjapkan mata nya, ia ingin memastikan jika yang ia lihat salah. Tapi hasil tetap sama, gadis yang sudah bertahun-tahun tidak di lihat kini duduk di depannya.
"Mas, kenapa? "Faya membuyarkan lamunan Suaminya.
"Eng.. Enggak papa sayang. "
"Ayo, duduk. Kita makan malam bersama. "Faya menuntun suaminya untuk duduk.
"Papa.. Kenapa papa lama sekali, Jovan sudah kangen. "Rengek Jovan duduk di pangkuan Ronal sambil memeluk.
"Maafkan papa, jagoan kecilku, ini papa belikan hadiah untuk mu. "Ronal memberikan paperbag coklat.
"Sayang.. Kembali duduk di kursi mu, dan habiskan makanannya, papa masih capek, hadiahnya nanti kita buka bersama di kamar ya. "Ucap Faya.
"Iya, Ma. "Jovan pun duduk di kursinya dan kembali melahap makanan yang ada di piringnya. .
Semua orang yang berada di sana mengukir senyum.
Berbeda dengan Amira, ia yang menyaksikan kehangatan keluarga kecil yang penuh kebahagiaan itu, entah kenapa hati nya merasa hancur, tangis yang dari tadi di tahan ingin rasanya ia meluapkannya.
"Maaf semuanya, aku udah selesai, aku ke kamar duluan. "Amira langsung berlarian kecil menuju kamarnya.
Ada apa dengan sikap Amira, aneh sekali, apa dia cemburu dengan Kak Faya dan keluarganya? apa dia ingin memiliki seorang anak? Ah.. Benar, dia begitu karna ingin memiliki seorang anak, aduh Adit, kenapa lo jadi cowok kurang peka sih! Sikap Amira seperti itu, dia memberi kode, agar aku segera melamarnya dan menikahinya. Berlibur ke tempat romantis dan memberinya seorang anak. Amira.. Amira, kau terlalu naif, kau tidak ingin menjadi pacarku karna ingin aku langsung menikahimu. Begitulah gumam Adit di dalam hati, sambil tersenyum-senyum membayangkannya.
"Lo kenapa senyum-senyum sendiri. "Key membuyarkan lamunan Adit.
"ahh... Adit berjinggkat karna kaget. Napa sih lo ngagetin gue aja. "Maki Adit kepada Key karna Key membuyarkan lamunannya.
"Yee.. Elo nya senyum-senyum sendiri, macem ke sambet nenek gombel. "
"Elo kakek gombel nya. "
"Mi, Pi, Adit kekamar duluan, karna ada berkas-berkas yang belum Adit selesaikan. "Ia bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju kamar.
"Iya nak, jangan terlalu malam tidur nya, kesehatanmu lebih penting. "Ucap Mia.
Adit mengabaikan ucapan Maminya. Ia memasuki kamar nya dan ingin melanjutkan lamunan yang tadi sempat di ganggu oleh Key.
Bersambung..
Ada apa dengan sikap Amira saat melihat Ronal? Ada kisah apa tentang mereka? dan apa alasan Davit memutuskan hubungannya dengan Anggun. Mesteri apa di balik 10 tahun dan Asal mula penyakit Adit..
Yang penasaran sama ceritanya, yuk lanjut. Jadikan novel favoritmu dan jangan lupa vote ya..
Happy reading all😘😘
..adit good joob