menceritakan kisah seorang gadis cantik yang sholeha menjalani hidup dengan iklhas berharap menemukan pasangan yang tepat yang dipilihkan Allah untuk dirinya dan akhirnya dia menemukannya seorang pria tampan yang sangat mencintainya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
***** Di kantor.
Di ruang kerja Rey, hanya ada Rey dan Zahra, mereka berdua masih membahas pekerjaan. Zahra terus sibuk di depan laptopnya sementara Rey mengecek beberapa berkas sambil berulang kali melihat Zahra.
drrtt......drrtt..... drrtt....
Ponsel Zahra bergetar, Ia melihat panggilan dari abangnya Arga.
" Assalamu'alaikum bang, "
" Wa"alaikumsalam, Ra mama udah sadar, Zahra bisa kemari kan sekarang?? " terdengar suara bang Arga yang sangat bersemangat.
" Alhamdulillah, iya bang! Zahra kesana sekarang. Assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikumsalam." Panggilan berakhir.
Zahra membereskan berkas2 dan menutup laptopnya, sementara Rey memperhatikan Zahra.
" Pak saya izin pulangya, mama saya sudah sadar dan saya harus kesana sekarang. "
" Kamu pikir ini perusahaanmu yang bisa datang dan pulang seenaknya? "
" Tapi pak ma.........
" Zahra, Kamu masih punya tanggung jawab di perusahaan ini. Seharusnya kamu bisa memisahkan mana urusan kerjaan dan mana urusan pribadi, jangan kamu campur adukkan sesukamu." Rey memotong perkataan Zahra.
" Saya tahu tanggung jawab saya pak, makanya saya minta izin ke bapak untuk pulang lebih awal hari ini dan tidak pulang begitu saja pak."
" Tapi saya tidak mengizinkan dan kamu tetap pulang seperti biasa, jam 4 sore." Rey mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding yang jarum jamnya menunjuk ke angka 2.
" Maaf pak,kali ini, walau bapak tidak mengizinkannya, saya akan tetap pulang, permisi." Zahra membalikkan badannya menuju pintu ruangan rey.
" Zahra Asyila Sarfaraz, Jika kau tetap keras kepala untuk pulang maka besok serahkan surat pengunduran diri mu." Ancam Rey.
Zahra kembali menoleh ke arah Rey.
" Jangankan hanya surat pengunduran diri, andaikan ada yang meminta nyawaku sekalipun demi kebahagiaan mama, pasti akan ku berikan pak. Besok pagi akan ku kirimkan surat resignnya pak. Tapi bapak jangan lupa, walaupun saya sudah tidak bekerja di kantor ini, bapak harus tetap membayar hutang janji bapak untuk mentraktir semua karyawan kantor tanpa terkecuali. Assalamu"alaikum." Zahra keluar meninggalkan Rey, sedangkan Rey kini terduduk di kursi kerjanya, dia tak menyangka dengan apa yang di katakan Zahra.
" Mengapa aku ini? padahal aku masih sangat ingin bersamanya hari ini, aku hanya berusaha mencegahnya agar tidak pergi tetapi mulut ini malah mengatakan sesuatu yang akan membuatnya resign dari kantor. dasar bodoh. " Rey menepuk jidatnya sendiri.
" Sudahlah mungkin dia sedang marah, besok juga dia akan kembali bekerja seperti biasa." Rey kembali menghibur dirinya sebenarnya dia sangat menyesal dengan perkataannya sendiri.
#######
" Ya Allah terimakasih karena telah mengabulkan doa ku." Zahra berlari dari area parkir Rumah Sakit menuju ruangan ibu Neha. Sepanjang perjalanan mulutnya tak putus bersyukur memuji Sang Pencipta.
" Mama....... Zahra kangen mama, mama jangan sakit lagi Zahra takut hiks.... hiks... hiks..... " Setibanya di ruangan mama, Zahra berlari memeluk mama, dia masih terlalu manja jika berada di tengah-tengah keluarganya.
" Anak mama yang cantik, jangan menangis lagi nanti jelek loh, ya kan bang? " Mama tersenyum melihat ke arah Arga dan Arya, lalu tangannya menghapus air mata putri kesayangan nya itu.
" Bener tu kata mama, loh itu kalau nangis jelek banget loh Ra, mata kita juga ikutan sakit lihatnya." Arga mencubit pipi Zahra, gemes lihat adiknya yang lagi mewek.
" Aba.....................ng, bisa gak sih gak ganggu Zahra satu hari aja? "
" Sayangnya gak bisa." Arga malah mencubit pipi Zahra yang satunya lagi.
" Abaa.............ng, lihat ni ma bang Arga!. "
" Arga udah, jangan jahili adik mu terus." mama kembali memeluk Zahra dan tersenyum, mereka semua ikut tersenyum bahagia. Akhirnya keluarga Sarfaraz menjadi lengkap kembali setelah ibu Neha sadar, biar bagaimana pun tidak bisa di pungkiri bahwa seorang ibu adalah jantungnya keluarga.
#######
Keesokan harinya Ibu Neha masih belum diizinkan pulang, dokter menyarankan supaya ibu Neha menunggu beberapa hari lagi sampai bener-bener pulih.
" Zahra sayang bangun nak sudah jam 5, papa kamu sudah ke mesjid tu, ayo sayang bangun!! " mama menggoyang-goyangkan badan Zahra yang tidur di sampingnya sambil memeluknya erat, Ia sangat merindukan mama Neha.
" Ehgmmmmmm, " Zahra mengucek-ngucek mata dan membuka sedikit, dengan rasa kantuk membuatnya malas untuk bangkit tetapi ia tetap berusaha melawan kantuknya berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu' dan melaksanakan shalat subuh.
Setelah papa kembali dari Masjid, papa menyuruh Zahra pulang, papa masih mengira anaknya harus pulang pagi karna akan berangkat ke kantor. Zahra memilih untuk tidak memberitahukan keluarga nya bahwa mulai hari ini Ia sudah berhenti bekerja.
Sesampainya di rumah, Zahra mandi membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menemui mang Ujang penjaga pesantren.
Zahra keluar rumah dan menemui mang Ujang.
" Mang Ujang, Zahra minta tolong bisa? " tanya Zahra.
" Minta tolong apa neng? jawab mang Ujang.
Zahra memberikan amplop coklat kepada mang Ujang.
" Mang, tolong ke kantor Zahra ya! dan berikan ini ke satpam agar disampaikan ke pimpinan perusahaan."
" Baik neng, " mang Ujang mengambil amplop yang diberikan Zahra kemudian pergi menggunakan sepeda motor.
*******
Di kantor
" Sudah hampir jam 10 kok Zahra belum datang ya? gak biasanya dia gak datang tanpa kabar." Adi berbicara pada Rey dan Very mereka bertiga menunggu Zahra dari jam 8.
" Coba dihubungi Di? " ucap Very yang duduk di sofa samping Rey.
" Sudah tapi gak aktif." jawab Adi.
Rey hanya diam saja, di dalam hati ada ke khawatiran kalau Zahra akan benar-benar resign dari kantor, Ia semakin gelisah terlihat dari posisi duduknya yang selalu berganti ganti.
tok.... tok.... tok......
terdengar suara pintu diketuk dari luar.
" Ya masuk " ucap Adi
" Pagi pak, ini ada titipan dari non Zahra. " pak Udin memberikan amplop coklat kepada Adi.
" Pak Udin, apa tadi Zahra kemari? tanya Adi.
" Tidak pak, tadi diantar oleh bapak penjaga pesantren milik keluarga non zahra, katanya titipan untuk bapak. "
" Oh ya sudah, pak Udin bisa kembali ke pos lagi.
" Iya pak, permisi." Udin keluar dari ruangan.
Adi membuka amplop dari Zahra dan membaca nya. " Surat pengunduran diri," Adi terkejut,hinga kata itu yang keluar dari mulutnya.
" Apa?? Zahra mengudurkan diri? bagai mana bisa? Rey kemarin dia bersamamu kan? apa yang terjadi?? mengapa tiba tiba dia berhenti." tanya Very dengan tatapan sinis, dia curiga pasti ada sesuatu sehingga Zahra berhenti.
" sial, Dia tidak main-main dengan ucapannya dasar gadis keras kepala " batin Rey.
" Rey, kamu denger aku kan? " Very kembali bertanya karena Rey diam saja tak menjawab.
" Iya Rey sebenarnya semalam ada apa? " Adi juga ikut penasaran mengapa Zahra berhenti tiba-tiba.
" Semalam setelah kembali ke kantor kami masih merincikan material bangunan, sekitar jam dua Zahra ditelepon keluarganya mengabari kalau mamanya sudah sadar. Terus seenaknya saja ia mau izin pulang ya aku gak izinkan lah, dia harus bertanggung jawab, kerjaan belum selesai udah main tinggal aja, anak itu sangat keras kepala, jadinya aku kasih pilihan jika dia tetap ingin pulang dia harus mengyiapkan surat pengunduran dirinya." jiwa egois Rey kembali dia tak mau disalahkan kedua temannya itu.
" Zahra kan udah izin, mamanya itu sangat penting bagi nya Rey. " ucap adi.
" Tetap saja dia gak bisa seenaknya keluar masuk perusahaan ini, kamu di sini aku perintahkan untuk mengelola perusahaan seharusnya kamu teliti pada karyawan, jangan terlalu di manjai bisa ngelunjak lama-lama seperti si Zahra. " Rey mulai meninggikan nada bicaranya.
" Tapi Rey, Zahra itu berpotensi kita akan rugi jika kehilangan karyawan seperti dia, gimana kalau kamu telpon dia aja Di! suruh dia kembali bekerja." pinta Very pada Adi.
" Aku gak yakin kalau Zahra mau kembali, dia itu gadis yang punya prinsip Ver. "
" Setidaknya kita coba dulu kan di, ayolah! " Very berusaha meyakinkan Adi agar menelpon Zahra.
Sementara Rey masih diam, dia juga ingin Zahra tetap bekerja tetapi ego nya terlalu besar sehingga dia tak pernah mau kalah jika berbicara dengan orang lain.
Adi menghubungi Zahra dan kali ini berhasil tersambung.
" Assalamu'alaikum," jawab Zahra.
" Wa'alaikumsalam,
" Iya pak ada apa? "
" Zahra, mengapa kamu tiba-tiba mengundurkan diri? kalau karena kejadian semalam dengan Rey kita bisa bicarakan baik-baik, saya masih berharap kamu kembali bekerja Zahra, "
" Maaf pak Adi, sebenarnya bukan karena itu kok pak, mama saya masih harus dalam perawatan jadi seperti nya saya harus berhenti bekerja untuk menjaga mama, lagian tidak enak juga kan pak kalau saya terlalu sering izin cuti. "
" Tapi zahra, setidaknya kamu bisa kan ke kantor kalau tidak hari ini besok juga gak apa, kamu ambil gaji kamu di bulan ini, kamu masih punya hak zahra, karena beberapa hari lagi kan jadwal gajian. " Adi berusaha membujuk Zahra agar datang ke kantor, sebenarnya dengan tujuan ingin membujuk Zahra langsung agar tetap bekerja.
" Jika memang bapak mau memberikannya gaji saya bulan ini tolong berikan saja pada buk Sutini pak, tukang sapu pekarangan kantor, titip untuk tambahan biaya perobatan anak nya, bisa kan pak?
" Baikkah jika itu yang kamu inginkan, hari ini juga akan saya berikan pada buk Sutini."
" Terimakasih pak, saya mohon maaf jika selama bekerja mungkin saya mengecewakan pak Adi,
" Sama-sama saya juga minta maaf ya Zahra!."
" Iya pak, sampaikan juga salam maaf saya pada pak Very maupun pak Rey ya pak!
" Iya, nanti saya sampaikan."
" Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumsalam." panggilan berakhir.
" Kalian dengar sendiri kan tadi " tanya Adi. Saat Adi menelpon Zahra, dia sengaja mengaktifkan loadspeker, agar Very dan Rey mendengar juga. " Dinda tolong kamu panggilkan buk Sutini kemari sekarang!!." Adi menelpon Dinda.
" Baik pak. "
Adi memasukkan uang gaji Zahra kedalam amplop.tak lama kemudian buk Sutini sudah berada di ruangan itu.
" Bapak memanggil saya? ada apa ya pak? " tanya buk Sutini pada Adi.
" Ini uang untuk ibuk! " Adi memberikan uang dalam amplop pada buk Sutini.
" Saya salah apa pak? tolong jangan pecat saya. " mata buk Sutini sudah berkaca kaca.
" Bukan, bukan buk, ini gaji Zahra, dia udah tidak bekerja disini lagi dan dia titip uang gajinya untuk ibuk katanya untuk tambahan biaya perobatan anak ibuk.
" Ya Allah, mbak Zahra baik sekali, dia manusia yang berhati malaikat. " Ucap buk Sutini menangis.
" Emangnya kenapa ibuk sampai bilang seperti itu" tanya Very.
" Seminggu yang lalu anak saya kecelakaan pak jadi saat bekerja saya sering melamun, mbak Zahra melihat saya dan bertanya mengapa saya terlihat sedih. Saya menceritakan pada mbak Zahra kalau saya gak punya biaya untuk perobatan anak saya, mbak zahra memberikan uang satu juta tapi saya tolak dia sudah terlalu sering menolong saya, tetapi dia memaksa akhirnya saya ambil juga. Dia berkata saya harus kuat demi anak saya InsyaAllah pasti diberi jalan kemudahan bagi saya, dan sekarang Allah memberikan kemudahan itu lewat tangan mbak Zahra. air mata buk Sutini mengalir deras, ia terharu mengingat kebaikan Zahra padanya.
mendengar cerita buk Sutini hati Rey terasa teriris, kecewa pada dirinya sendiri kenapa dia terlalu kasar pada gadis sebaik Zahra, kenapa dia tak bisa berkata manis seperti Very bila bertemu dengan Zahra.
" Yang sabar ya buk semoga anak ibuk cepat sembuh, sekarang ibuk bisa kembali bekerja." ucap adi
" Baik pak terima kasih. buk Sutini pun pergi.
sekarang kau dengar kan rey, kau memang terlalu egois dan gak pernah berubah gara gara keegoisan dan kesombongan mu kita kehilangan orang sebaik zahra. dia sama sekali tak keras kepala tapi kamulah yang terlalu sombong. dan teryata Zahra lah yang bisa membuat kesombongan mu itu tak pantas sehingga kamu tak terima ya kan?? " Very sangat kesal dan marah pada Rey, ia pun keluar meninggalkan Rey dan Adi.
Kini Rey sendiri dalam ruangannya setelah Very pergi, Adi juga kembali keruang kerjanya.
" Zahra, mengapa kamu berhenti, tadinya aku hanya ingin mencegah mu pergi agar aku bisa bersamamu lebih lama, tapi sudahlah, mungkin ini lebih baik jika kita tak bertemu lagi. aku akan lebih mudah melupakan mu." Rey memandangi foto Zahra di layar ponsel nya, foto Zahra tersenyum yang diambilnya tanpa sepengetahuan Zahra, Rey sudah merasakan benih-benih cinta masuk kedalam hatinya tetapi dia terus saja berusaha untuk menolak itu semua.
💟💟💟💟💟💟💟
**Maaf ya Readers, Author baru update nih ntah apa yang merasukinya sehingga semangat Author menulis jadi kendor. 🙏🙏
Tapi kali ini Author kasih durasi yang lebih panjang 😄 Jangan lupa kasih like, komen dan vote nya ya biar Author semangat lagi menghalunya.😅😅
jika kalian suka atau ada kritik dan saran. Author tunggu di kolom komentar ya, semoha kalian suka sama karya Author ☺☺☺**
mampir ya thor
up lg,...
kog lm bgt sih,..
ada lanjutannya g sih,....