Tujuh tahun menikah dan belum di karuniai seorang anak tak membuat cinta Yudistira pada Kamelia meluntur. cinta tanpa syarat dari Yudistira, telah melambungkan Kamelia ke atas awan hingga permintaan sang ibu mertua Kamelia, berhasil menjatuhkannya ke dasar lautan.
Bagaimana tidak, ibu mertuanya, meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kabulkan. seorang anak yang tidak mungkin bisa hadir di dalam rahimnya. namun ibu mertuanya, meminta hal itu dari wanita lain.
Dan yang ia juga tidak pernah tahu Yudistira memiliki rahasia besar di belakangnya.
akankah ia sanggup menerima rahasia terbesar Yudistira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inggrid kamu dimana?
Dari toko aku melajukan mobil menuju sekolah Alfin, untuk menjemputnya. sampai di depan gerbang sekolah, aku melihat Alfin, berlari kearah ku dengan membawa selembar kertas bergambar. aku merentangkan kedua tangan bersiap untuk memeluknya. dia menunjukkan kertas yang dia bawa padaku. walau gambarnya lebih mirip dengan orang orangan sawah, aku terharu melihat nya. aku tersenyum dengan mata memanas, dia tak melupakan aku tetap menganggap aku ibunya. kemudian aku menggendong Alfin, masuk kedalam mobil lalu melajukan mobil untuk pulang kerumah.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah Alfin, bercerita tentang yang dia lakukan selama di sekolah. tapi tiba-tiba saja dia terdiam dan menunduk.
"Alfin, ada apa?" aku menoleh sebentar untuk melihatnya lalu kembali fokus pada jalan
"kemana bunda Inggrid, lama sekali pulangnya,"
mata Alfin berkaca kaca, dia terlihat menahan tangisnya. sedekat apapun Alfin, denganku tetap dia akan merindukan ibu kandungnya.
"Alfin, kangen sama bunda Inggrid?,"
dia mengangguk dengan masih menunduk.
"bunda kan, lagi jagain eyang yang sakit. nanti kalau eyang sudah sembuh, bunda pasti pulang,"
akhir akhir ini Inggrid semakin jarang pulang, entahlah apa yang dia lakukan di luar sana. dia akan pulang larut malam dan kembali pergi pagi pagi sekali.
dia hanya akan meninggalkan jejak jika pulang ke rumah. seperti menyiapkan baju ganti untuk Alfin atau membelikan makanan kesukaan kami.
anehnya lagi mas Yudis, memberi tahu jika Inggrid, juga mengundurkan diri dari kantor. mas Yudis, pun tidak tahu alasan Inggrid, mengundurkan diri. surat pengunduran diri dia kirim melalui jasa pengiriman.
aku dan mas Yudis, makin curiga dengan kelakuan aneh Inggrid. nomor handphone nya pun tidak mudah untuk di hubungi. pesan yang kami kirimkan padanya pun hanya di baca saja oleh Inggrid.
beberapa malam terakhir ini kami sering begadang karena Alfin, mengigau dengan memanggil manggil nama Inggrid, sebelum akhirnya menangis histeris. kami berdua di buat kelimpungan dan kurang tidur karena itu.
pagi harinya dengan mata yang masih terasa berat untuk terbuka, aku berjalan menuruni tangga untuk mengambil air minum di dapur. namun, langkah ku terhenti saat melewati meja makan. lagi lagi ada beberapa bungkusan keresek di atas meja, itu pasti Inggrid, yang bawa. jadi apa semalam Inggrid, pulang?
aku mendekati meja makan kemudian membuka salah satu bungkusan keresek dengan tulisan berwarna pink yang sangat familiar. benar saja isinya adalah kue donat kesukaan Alfin, dan kresek satunya lagi adalah martabak manis kesukaan ku dan mas Yudis. aku menutup kembali kresek itu dan meletakkan di tengah meja. tubuhku sudah berbalik membelakangi meja, tapi urung karena sudut mataku menangkap bayangan selembar kertas yang berada di bawah kresek donat. aku mengambil kertas itu lalu membacanya.
mbak Milea, mas Yudis, maaf kan aku. bukanya aku lupa rumah tapi aku masih ada urusan yang sangat penting yang harus segera ku selesaikan.
mbak Milea, maaf aku merepotkan mu untuk menjaga Alfin. aku berjanji akan segera kembali jika urusanku benar benar sudah selesai.
untuk saat ini jangan bertanya aku dimana, jangan khawatir aku baik baik saja.
Inggrid
aku menghela nafas kemudian melipat kertas itu kembali dan memasukkan kedalam kantong bajuku.
seperti malam malam sebelumnya aku dan mas Yudis, di buat bingung dengan dengan Alfin, yang tiba-tiba menangis saat bermain dengan kami.
kami sudah menenangkannya dengan berbagai caranya. membujuknya agar dia mau diam, tapi usaha kami tidak berhasil. hingga akhirnya Alfin, tertidur di gendongan mas Yudis karena lelah menangis. kemudian mas Yudis, menidurkan Alfin, dengan pelan agar dia tidak terbangun.
"apa gak perlu kita cari tahu tentang Inggrid mas. makin hari Inggrid makin aneh saja,"
aku berbicara pelan, saat mas Yudis, sudah berhasil membaringkan Alfin.
"iya, kamu benar. aku juga merasa aneh sama sikap Inggrid,"
aku mengangguk setuju, kemudian kami keluar dari kamar Alfin dengan pelan.
...****************...
Dengan rasa penasaran yang tinggi atas perubahan sikap Inggrid, aku dan mas Yudis, mencari tahu dengan bertanya pada teman teman Inggrid, yang kami kenal. namun, tidak ada satupun dari teman teman Inggrid yang mengetahui keberadaannya saat ini. bahkan dia tak lagi aktif di media sosial, terakhir dia aktif pada hari pernikahannya dengan mas Yudis.
kami benar-benar tidak tahu lagi harus menghubungi siapa untuk mencari tahu keberadaan Inggrid. seolah-olah Inggrid, telah menjauhi kami. walaupun dia akan pulang kerumah saat kami terlelap. sikapnya terkesan menjaga jarak dengan kami.
aku memutar mutar handphone ku di atas meja menyangga dagu dengan sebelah tangan.
"belum ada kabar tentang Inggrid?"
tanya Jaswin, pada ku sambil memasukkan roti dalam oven. aku menggeleng lalu menghembuskan nafas dan menatap layar handphone ku.
aku membuka aplikasi chat berwarna hijau dan tak sengaja menekan nomor kontak Inggrid. aku melihat tulisan online di bawah nama kontak Inggrid.
tak membuang waktu aku langsung menghubunginya, nada panggilan masih terdengar di telingaku. kemudian tersenyum saat nada sambung berganti dengan suara seorang wanita.
"halo Ingrid, kamu dimana?"
"maaf ini siapa,"
tapi aku haruskecewa karena itu bukan suara milik Inggrid.
"ini nomor Inggrid kan?" tanyaku ragu.
" iya benar, ini nomor Inggrid. ini siapa ya?
"maaf Inggrid, dimana? saya mau bicara sama Inggrid,"
aku tak menjawab pertanyaan orang itu, tanpa basa-basi menanyakan apa yang ingin aku tanyakan.
"Inggrid, sedang keluar. mungkin sebentar lagi kembali,"
"baiklah kalau begitu, katakan pada Inggrid, Milea menelponnya,"
aku menutup sambungan telepon dengan rasa kecewa.
"gimana, Inggrid dimana sekarang?"
tanya Jaswin, kemudian duduk di hadapanku. aku menatapnya lalu menggeleng.
hingga aku pulang kerumah belum ada kabar dari Inggrid. aku membuka pintu kamar Alfin, dengan pelan agar tidak membangunkannya. setelah mengecup keningnya dan membetulkan letak Selimut Alfin, aku keluar dari kamar Alfin. sebelumnya berhenti sebentar di depan pintu kamar Inggrid. aku menghela nafas kemudian berjalan menuju kamar ku.
ketika akan masuk ke kamar mandi, handphone ku berdering. aku segera berlari mengambil handphone yang masih di dalam tas.
mataku berbinar melihat nama Inggrid, yang ada pada layar handphone ku.
"Inggrid, kamu dimana? kamu baik baik saja kan? cepatlah pulang, Alfin cari kamu terus,"
aku memberondong Inggrid dengan pertanyaan.
"aku baik-baik saja mbak, jangan khawatir. keadaan ibuku kembali drop dan harus segera di bawa keluar negeri,"
"kamu dimana sekarang, biar kita susul kamu,"
"jangan! maksudku, mbak di sana saja jaga Alfin untukku. aku akan segera kembali. maafkan aku karena membebankan Alfin, padamu,"
"apa yang kamu katakan, Alfin sama sekali bukan beban untukku. katakan kamu dimana aku dan mas Yudis, akan segera ke sana,"
namun saat itu juga Inggrid, telah mematikan sambungan teleponnya. aku kembali menghubungi nomor nya tapi nomor Inggrid sudah tidak aktif lagi.
Inggrid, kamu dimana? apa yang terjadi padamu?