NovelToon NovelToon
Seducing My CEO

Seducing My CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:96.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yuna.L

Berlatar belakang Korea!

Cerita ini sangat berbelit-belit dan bertele-tele. Jadi, yang ga sabaran mohon jangan membaca cerita ini!

Tidak semua novel sesuai dengan kriteriamu. Jadi harap bijak dalam menyikapi! Sebaiknya kalau merasa tidak cocok langsung pindah saja ke novel lain. Jangan membaca kalau hanya ingin menghujat!!

Terima kasih.


Menceritakan kisah Sena yang merayu CEO selama 90 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuna.L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Pukul sembilan lebih sepuluh malam. Sena dan Hyemi menyandarkan tubuhnya di sofa apartemennya. Hyemi masih terkejut dengan adegan ciuman yang dilakukan Doyun bersama wanita lain di bar.

Sena menepuk punggung Hyemi pelan. "Jangan terlalu serius berpikir nanti kau sakit."

Hyemi hanya diam, tersirat tatapan kecewa, marah, sedih bercampur aduk di sana.

"Aku sangat kecewa padanya. Dia mengatakan padaku kalau dia tidak punya pacar. Dia juga mengatakan padaku kalau hari ini dia sibuk tidak bisa hadir di acara ulang tahunku. Tapi ternyata? Dia bersama dengan seorang wanita," ucap Hyemi jengkel.

"Mungkin Doyun punya alasan sendiri melakukan itu. Coba tanyakan padanya besok." Sena bingung apa yang harus dia lakukan untuk menghibur teman baiknya itu.

"Tidak. Aku tidak akan bertanya apa pun padanya. Sudah cukup. Dari awal saja dia sudah membohongiku. Aku tidak mau mendekatinya lagi. Aku benar-benar sakit hati." Hyemi benar-benar marah dan kecewa.

"Kau yakin akan menjauhi Doyun tanpa meminta penjelasan dulu darinya?"

"Iya, aku yakin. Awalnya saja dia sudah tidak mau jujur. Jika memang dia sudah punya pacar, kenapa dia tidak terus terang saja? Aku juga tahu diri kok. Tidak mungkin aku menyukai laki-laki yang sudah punya pacar. Aku sekarang mau tidur. Mendinginkan otak!" Hyemi berjalan menuju kamarnya dengan perasaan kalut.

...*****...

...The next day...

"Sena, tak terasa kau bekerja di sini sudah satu bulan. Aku suka dengan pekerjaanmu selama ini. Tapi keputusan terakhir tentang kontrak kerjamu diperpanjang atau tidak, itu semua Juhan yang menentukan, tepat disaat 3 bulan terakhir kau bekerja. Apa kau sudah siap dengan keputusan yang Juhan berikan padamu nanti?" tanya Jinsu dengan penjelasannya yang panjang.

Hati Sena seketika berdenyut saat mengingat kata-kata Juhan yang waktu itu ingin memecatnya dan tidak memperpanjang kontrak. Jujur, ada rasa takut dalam dirinya.

"Aku akan menerima semua keputusan dari CEO Park Juhan." Sena menjawab dengan menampilkan senyuman.

"Bagus. Namun aku berharap Juhan akan memperpanjang kontrakmu. Ohya, aku lupa memberitahumu. Mulai besok perusahaan libur musim panas selama 4 hari. Sekarang hari senin, jadi kita bertemu lagi di hari Jumat," ujar Jinsu, dibalas anggukan kecil oleh Sena.

"Omong-omong, hari ini produk baru akan dikirim keluar negeri. Aku menyuruhmu untuk mengecek di gudang. Kau pastikan sekali lagi apakah barang yang diproduksi sesuai dengan desain awal atau tidak," sambung Jinsu.

"Baik. Aku akan langsung mengeceknya sekarang," jawab Sena seraya bangkit dari kursinya.

...***...

Hyemi berjalan melewati koridor sembari memeluk setumpuk dokumen di dadanya. Dan dari arah berlawanan, Doyun tengah berjalan ke arahnya sehingga mereka berdua berpapasan di tengah jalan.

"Selamat pagi, Hyemi." Doyun memberhentikan langkahnya dan menyapa Hyemi.

"Pagi," jawab Hyemi dengan muka masam.

"Hyemi, tunggu!" seru Doyun, membuat Hyemi menghentikan langkahnya.

"Kenapa kau hari terlihat berbeda? Apa kau marah padaku?" tanya Doyun.

"Tidak. Aku sibuk mau segera bekerja. Permisi," jawab Hyemi sembari melanjutkan langkahnya pergi.

Doyun hanya diam menatap punggung Hyemi yang perlahan menjauhinya. Lelaki itu merasa ada sesuatu yang aneh dengan Hyemi hari ini.

...***...

Saat ini Sena berada di gudang mengecek barang sesuai perintah dari Jinsu. Sudah 1 jam dia berada di sana. Tiba-tiba saja ia ingin buang air kecil, lalu Sena bergegas pergi menuju toilet wanita. Sesampainya di depan pintu toilet, rupanya ada tulisan menunjukkan bahwa toilet wanita sedang dalam perbaikan.

Tak ada pilihan lain, Sena harus menemukan toilet lain karena dia sudah tidak dapat menahannya lagi. Sena memutar otaknya. Diam-diam, ia melangkahkan kakinya menuju toilet pria. Ia berjalan dengan sangat hati-hati karena toilet itu terletak di dekat ruangan CEO. Sena masuk ke dalam toilet pria yang memiliki 2 bilik toilet yang ternyata saat itu kosong tidak ada orang.

Tanpa pikir panjang, Sena segera memasuki toilet. Dia merasa lega setelah menuangkan kegundahannya di toilet itu. Begitu Sena mau keluar dari toilet, tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Dengan cepat, Sena langsung kembali masuk ke dalam toilet itu lalu menutup pintu.

Seorang laki-laki masuk ke dalam bilik sebelahnya dan tak lama kemudian laki-laki itu keluar dari bilik.

"Apa di sebelah sini ada orang? Dari tadi aku tidak mendengar suara," tanya seorang laki-laki yang mungkin suaranya sudah sangat Sena kenali, yaitu Juhan.

Mati aku. Apa yang harus aku lakukan?Andai saja aku punya kekuatan menghilang, aku ingin menghilang sekarang juga, batin Sena panik.

Juhan kembali bicara. "Kenapa tidak ada jawaban? Apakah ada orang?" Juhan mulai menggedor bilik tempat Sena sembunyi.

Tok Tok Tok !

"Apakah yang di dalam tidak apa-apa?" tanyanya lagi. Terlihat dari nadanya Juhan mulai khawatir dan berpikir macam-macam.

"Mungkinkah ada yang pingsan di dalam? Aku akan memanggil bantuan," ucap Juhan, membuat Sena membulatkan mata.

Mau tidak mau, Sena harus keluar dari persembunyiannya kalau dia tak ingin jadi tontonan orang. Di detik selanjutnya, Sena membuka pintu lalu menampakkan dirinya.

"CEO Park." Sena tersenyum kaku. Ia tahu sebentar lagi pasti Juhan akan mengeluarkan ocehannya.

Mata Juhan melebar terkejut. Dia tidak menyangka orang yang di dalam bilik toilet itu adalah Sena.

"Sena, apa yang kau lakukan di dalam toilet pria?" tanya Juhan heran.

"Maaf. Toilet wanita sedang diperbaiki maka dari itu aku ke sini."

"Toilet wanita hanya diperbaiki selama 30 menit, tidak lama. Kenapa kau langsung ke sini? Tidak bisakah kau menunggu sebentar. Ini bukan tempat untuk wanita! Kau mengerti itu?" ucap Juhan tegas.

"CEO Park, mana toleransimu sebagai manusia? Ini bukanlah sesuatu yang bisa ditunda. Kau juga tahu itu, kan?" tanya Sena kesal. Ia menatap Juhan tajam.

"Oh, jadi kau masih ingin melawanku? Kau sungguh tidak berubah dan tidak bisa diatur. Apa kau ingat perjanjian kita? Waktumu sisa 2 bulan lagi di Lacoza. Jika sampai hari itu kau tidak merubah sifat burukmu itu maka kau harus siap-siap pergi dari sini," ucap Juhan, membuat badan Sena bergetar karena kaget dengan ucapannya.

Juhan berbalik badan hendak pergi meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba ia mendengar suara Jinsu sedang berbincang dengan seseorang di depan toilet. Sepertinya, pria itu akan masuk ke dalam toilet.

Juhan kembali berbalik dan menarik pergelangan tangan Sena. Keduanya masuk ke dalam bilik toilet bersama, lalu menutup pintu.

Setelah selesai berbincang, Jinsu langsung memasuki toilet pria dan masuk ke dalam bilik kosong yang berada di sebelah Juhan dan Sena bersembunyi.

"Ssstt..." Juhan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Memberi isyarat pada Sena untuk diam supaya Jinsu tidak berpikir macam-macam. Tapi tiba-tiba Sena merasakan seperti ada yang menggelitik hidungnya dan ingin bersin. Saat itu juga Juhan buru-buru menutup mulut Sena menggunakan telapak tangannya.

"Hacing!" Suara bersin lirih yang dikeluarin Sena berhasil mengundang perhatian Jinsu yang berada di bilik sebelahnya.

"Seperti ada suara wanita," Jinsu menggumam pelan.

Akhirnya Jinsu membuka mulutnya untuk bertanya. "Ada orang di sebelah?" tanya Jinsu curiga.

"Ini aku," sahut Juhan supaya Jinsu tidak menaruh curiga.

"Oh, Juhan? Aku pikir siapa. Tadi aku mendengar seperti ada suara wanita," ucap Jinsu, membuat Juhan membelalakkan mata.

"Tidak ada. Hanya ada aku di sini," jawab Juhan meyakinkan.

"Ya, sudah. Mungkin aku tadi salah dengar," ujar Jinsu lalu keluar dari bilik.

Ketika pria itu sedang mencuci tangan di wastafel, Sena kembali membuat suara.

"Mngh !"

Jinsu kembali menoleh ke arah bilik mereka. "Juhan? Apa kau masih lama di dalam?"

"O-oh, sebentar lagi aku akan selesai. Kau duluan saja," jawab Juhan panik. Ia langsung menatap Sena dengan tatapan tajam seolah-olah ia kesal dengan tingkah Sena yang tidak bisa diam.

Sena gugup. Ia sendiri tak menyangka kalau Juhan bakal menutup mulutnya terlalu lama.

Selepas Jinsu pergi, Juhan melepaskan tangannya dari mulut Sena. Wanita itu tampak bernapas dengan tersenggal-senggal.

"CEO Park, kau tahu? Kau terlalu lama menutup mulutku," desis Sena kesal.

Juhan marah. Matanya menatap tajam manik coklat milik Sena. "Kau tidak sadar, ya? Tingkahmu yang bodoh itu selalu membuatku susah! Aku sudah berkali-kali sial karenamu."

"Kau pikir hanya aku saja yang berbuat konyol? Kau sungguh egois!" ucap Sena menekankan. Setelah itu, ia berlari keluar dari toilet.

Lalu, Juhan kembali menuju ruangannya. Setelah sampai di depan ruangan CEO, Juhan melihat Jinsu tengah berdiri bersedekap seraya menyandarkan punggungnya di dinding.

Jinsu berdeham sembari tersenyum. "Ehem. Juhan, kau ketahuan."

"Apa maksudmu?"

"Hayo, ngaku saja kalau kau tadi sedang bersama wanita di dalam toilet. Aku tahu ada wanita di sana," goda Jinsu yang berhasil membuat Juhan terdiam kaku. Jinsu yakin dengan apa yang ia dengar. Bagaimanapun juga Jinsu tidak bodoh. Dia dapat membedakan suara laki-laki dan wanita.

Teguran Jinsu membuat Juhan gelagapan.

"I-itu.. aku.." Juhan terbata gugup. Wajahnya merah padam.

"Hahaha. Kalau boleh aku tebak, apakah wanita itu Sena? Ngaku saja tidak apa-apa. Lagi pula, ini juga bukan pertama kalinya aku melihatmu berduaan bersama Sena." Jinsu terkekeh.

"Jinsu, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Tadi hanyalah kebetulan," jelas Juhan.

"Kebetulan? Hm. Juhan, kau boleh pacaran tapi jangan di toilet. Cari tempat lain yang nyaman. Atau, jangan-jangan kalian berdua di sana tadi sedang...??"

"Aku tidak melakukan apa-apa dengan Sena. Jinsu, sudah! Jika tidak ada hal penting lain, aku mau lanjut bekerja." Juhan merasa kesal karena terus digoda oleh Jinsu.

Di sisi lain, Sena kembali ke gudang dengan perasaan kesal pada Juhan yang bertindak semena-mena.

"Awas ya. Aku akan membalasmu." Sena menggerutu kesal.

Tiba-tiba ponsel Sena berdering. Ia melihat layar ponselnya.

Yun is calling...

Dengan cepat, Sena menjawab telepon ibunya.

"Halo, ibu."

"Sena, ayah dan ibu ada rencana ingin mengunjungimu di Seoul. Kapan kau ada di rumah?"

"Kebetulan aku besok libur 4 hari. Selama itu ibu bisa datang berkunjung ke tempatku."

"Oh, iya. Nanti ibu akan bilang ke ayahmu untuk bersiap-siap pergi ke Seoul. Sena, kau di sana baik-baik saja, kan?"

"Iya, aku baik-baik saja. Ibu jangan terlalu khawatir."

"Ya, sudah. Ibu lega mendengarnya. Jaga dirimu baik-baik, ya." Yun mematikan sambungan telepon.

...***...

Sudah hampir 1 jam Sena merebahkan dirinya di kasur. Ia masih memikirkan Juhan yang sedari tadi membuatnya kesal.

"Park Juhan, lihat saja pembalasanku," gumamnya.

Penasaran, Sena mengambil ponselnya dan membuka akun instagram, mengetik nama Park Juhan di sana. Dan ternyata ia berhasil menemukannya. Instagram dengan username juhan_park dan foto asli dari Juhan.

Ada 10 postingan, dengan 108K followers. Sepuluh postingan isinya foto ayam goreng semua, tidak ada foto Juhan sendiri. Sena menggulir layar untuk melihat koleksi foto milik Juhan.

"Cuma foto ayam goreng saja kenapa yang memberi tanda love banyak sekali? Dan yang memberi komentar rata-rata wanita semua. Sudah seperti idol saja. Park Juhan, kali ini aku akan membalasmu. Lihat saja, aku akan menulis di postingannya dan membuat namanya jelek," gumamnya dengan penuh kekesalan.

Sena menulis komentar di postingan Juhan.

Park Juhan Badboy

Park Juhan Badboy

Park Juhan Badboy

Park Juhan Badboy

Park Juhan Badboy

Sena menulis komentar sangat banyak di setiap postingan Juhan. Dan itu membuatnya tersenyum puas.

Selang 15 menit kemudian, notifikasi pesan di ponsel Sena berbunyi.

Ting !

Sena segera menekan pesan masuk tersebut.

Juhan :

Kenapa kau spam di foto ayam gorengku?

Reaksi Sena menjadi berbanding terbalik dengan ekspresinya barusan. Sena gugup, ia tidak menyangka kalau Juhan akan menghubunginya secepat ini.

Sena :

Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti.

Juhan :

Jangan berpura-pura. Aku tahu itu semua pasti ulahmu.

Sena melebarkan matanya. Bagaimana Juhan bisa tahu? Padahal akun Sena tidak ada foto asli dan tidak memakai nama Sena. Tentu saja dia tahu karena selama ini tidak ada yang berani melawan Juhan, kecuali Sena.

Sena :

Hanya komentar di postingan ayam goreng saja kenapa marah?

Tidak ada balasan pesan dari Juhan. Namun tiba-tiba panggilan masuk berbunyi di ponsel Sena.

Juhan is calling...

Sena membulatkan matanya. "Hah? Mati aku. Dia pasti sangat marah sekali sehingga langsung telepon," gumamnya panik.

Sena mondar mandir ke sana kemari sembari menggenggam ponselnya. Ia bingung diantara angkat atau tidak. Tetapi, lelaki itu kembali mengiriminya pesan.

Juhan :

Jangan sembunyi. Angkat teleponnya !

Dengan cepat, Sena langsung membalas pesannya.

Sena :

CEO Park, aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.

Juhan :

Minta maaf? Apa kau tidak punya kalimat lain selain maaf? Aku ingatkan sekali lagi, waktumu di Lacoza tersisa 2 bulan. Manfaatkan itu baik-baik !

Sena mengambil napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan.

"Park Juhan.. kau selalu berhasil mengalahkanku," ucapnya kesal.

Beberapa menit kemudian, Sena mulai memejamkam matanya, membungkus tubuhnya dengan selimut hangat. Ia harap hari besok lebih indah daripada hari ini.

...***...

...Hari pertama Sena libur...

Sena berencana ingin bergabung ke dalam grup relawan di Seoul. Sena membaca brosur yang ia tempel di dindingnya sekali lagi.

"Grup relawan Seoul. Menjadi relawan adalah keikhlasan, bukan paksaan. Mari saling membantu sesama. Peduli terhadap orang tua maupun anak-anak yang membutuhkan. Jika anda berminat bergabung dalam grup ini, silakan hubungi kami."

Tanpa ragu-ragu, Sena mengambil ponselnya lalu menggeser tombol hijau di layar untuk menghubungi nomor itu.

"Halo." terdengar suara wanita dari sana.

"Halo, apakah benar ini grup relawan Seoul? Saya ingin bergabung ke dalam grup relawan."

"Iya, benar. Jika anda ingin bergabung silakan datang langsung ke kantor kami."

"Baik. Nanti siang saya akan pergi ke sana. Terima kasih."

Setelah mematikan sambungan telepon, Sena kini membongkar paket apel yang dikirim oleh ibunya kemarin. Ia membagi apel itu ke dalam kantong plastik, lalu memasukkannya ke dalam tas ransel besar miliknya.

"Sena, kau mau pergi?" tanya Hyemi yang sudah rapi dengan setelan celana jeans dan tas di bahunya.

Sena mengangguk. "Iya. Nanti aku mau pergi ke kantor relawan. Hyemi, kau juga mau pergi hari ini?"

"Aku mau pergi ke rumah temanku di kota Hanam. Aku akan menghabiskan liburan di sana. Jujur saja, aku masih merasa sedih jika mengingat Doyun," jawabnya.

Sena mengangguk mengerti. "Aku harap liburanmu di sana menyenangkan. Kapan kau akan kembali ke Seoul?"

"Mungkin besok lusa atau hari terakhir liburan. Nanti aku kabari, oke? Aku sekarang pergi dulu. Sena, hati-hati di rumah ya," ucap Hyemi seraya memeluk Sena sejenak, lalu melenggang pergi.

...***...

Pukul 12.30 siang. Dengan menggendong tas ransel besar, Sena menginjakkan kakinya di kantor relawan yang terletak di pusat kota. Ia melihat seorang wanita tengah berdiri di lobby kantor itu. Begitu pula dengan wanita itu, dia langsung menatap Sena lalu menghampirinya.

"Apakah kau ingin bergabung menjadi relawan?" tanya Wanita tersebut, dan dibalas anggukan oleh Sena.

"Silakan duduk." Wanita itu mempersilakan Sena duduk di sebuah kursi. "Apa kau tahu tugas relawan di sini?"

"Sedikitnya aku tahu," jawab Sena.

Setelah cukup lama berbincang, Sena kini resmi menjadi anggota grup relawan dan ikut pergi bersama anggota grup yang lain.

...***...

...Asan Hospital...

Pukul 02.05 siang. Dengan membawa sekantong plastik permen dan juga balon pemberian dari kantor, Sena memasuki ruangan anak di sebuah rumah sakit terbesar di Seoul. Beberapa anak kecil yang tengah berbaring di ranjang menoleh ke arahnya. Sena tersenyum kecil, merasa semangat.

"Adik, adik. Kakak punya balon dan permen," ucap Sena membuat anak-anak itu tersenyum senang. Sena menghampiri mereka lalu membagikannya satu per satu.

"Adik, adik semuanya harus semangat ya, meskipun sakit tidak boleh menyerah. Kakak akan sering datang ke sini untuk menjenguk kalian," ujar Sena memberi semangat.

"Kakak, apa kau punya makanan yang lain?" tanya seorang anak perempuan dengan rambut dikucir.

"Um, tunggu sebentar." Sena membuka tas ranselnya, lalu mengeluarkan beberapa apel.

"Apel mau?" tanya Sena, dan anak itu mengangguk.

"Apel kakak banyak sekali. Bolehkah aku minta satu lagi? Aku ingin memberikannya kepada nenekku," ucap anak itu lagi.

"Boleh. Omong-omong, nenekmu ada di mana?" tanya Sena penasaran.

"Nenekku juga dirawat di rumah sakit ini. Aku akan memberikan apel ini pada nenek," ucap anak itu seraya turun dari ranjang.

"Adik kecil, tunggu. Kakak akan mengantarmu pergi." Sena menggandeng tangan anak itu lalu keduanya berjalan bersama melewati koridor bersama.

"Nenek...." teriak anak itu setelah membuka kamar inap yang tak jauh dari kamarnya.

Seorang nenek tua tengah berbaring mendadak tersenyum melihat anak kecil itu datang.

"Arum, kenapa kau datang ke sini? Kau tidak boleh nakal keluyuran. Kau harus nurut omongan dokter," ucap nenek itu memberi wejangan.

"Aku ke sini hanya ingin memberikan apel untuk nenek. Kakak ini punya apel banyaaak sekali," ucap anak itu seraya menunjuk ke arah Sena.

"Iya. Saya kemari hanya ingin memberikan apel." Sena menaruh 5 apel di atas nakas.

"Terima kasih, Nona. Apakah kau adalah seorang relawan?" tanya nenek itu dan langsung dibalas anggukan oleh Sena.

"Kalau begitu berikan apel juga kepada wanita itu. Dia akhir-akhir ini tidak mau makan." Nenek itu menunjuk wanita yang berada di ranjang sebelahnya.

Sena melangkah maju mendekati wanita itu dan membaca papan nama yang terletak di sana.

"Park Misun, 55 tahun."

1
Dyass Stia Clalu
👍👍👍
Sindy Bandari
lanjut🤭🥰🤗
Nurkhakimah
ceritanya bertelele banget sih....sena terlalu bar bar dan ceroboh
WILANA
semoga sena tidak apa² dan bisa bersatu lagi dgn juhan.
WILANA
lanjut thor terima kasih
WILANA
aduh thor buat patah semangat...udah lama di tunggu² kok sedikit kali.please up lagi dong thor.sena bertahanlah juhan kekasihku akan datang menyelamatkan mu.semoga sena tidak apa² y .
WILANA
please thor cepat dong up nya.,.terima kasih
WILANA
hhmm...nunggu lagi.,I miss you..😔
WILANA
please lanjut lah thor,..
WILANA
kok belum up juga thor...berharap juh an dn sena bersatu lagi...pasti so sweet deh membayangkannya.,😍
Diana Ana
ceritanya berbelat belit 😂🤣😂🤣😂
WILANA
lanjut thor...
WILANA
mudah²an juhan gak jadi tunangan..dn dewi keberuntungan berpihak sm sena...sabar sena,jodoh gak kan kemana💕
WILANA
I love sena and juh an .,..💕
WILANA
lanjut thor...semangat,semoga cepat up nya..💪
WILANA
jgn lama² y thor..perpisahan sena dn hujan..baru lagi jadian udh berpisah...💔😭
WILANA
aduh thor...deq² kan membacanya...dan tak sabar membacanya lagi...lanjut thor.,cepat up nya y....😊
RisaRis27670746
juhan kok gsk jelas gitu sih...kan ikut esmosi
WILANA
maaf y thor ...mo nanya,apa udh gak up lagi...
Yuna.L: Up kak tapi slow ya. Karena saya sudah kembali sibuk pindahan keluar negeri. Saya membuat novel ini hanya untuk mengisi waktu kosong saja selama di rumah. Semoga saya bisa menyelesaikan cerita ini dengan lebih cepat ya. Terima kasih sudah mau mampir di novel aku.
total 1 replies
RisaRis27670746
mestinya juhan cerita lah masalahnya biar tdk salah paham lagi dg sena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!