Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Jam menunjukkan pukul 12 siang. Gerald, Ardi, dan Doni baru sampai di tempat makan kuliner, sehabis lelah menguras tenaga, berwisata dan menjajal beberapa wahana bermain. Mereka bertiga lalu memesan minuman lebih dulu sembari menunggui Rafael serta teman lainnya tiba di Restoran.
Semalam saat berkunjung ke Villa, tak lupa Gerald juga membuat janji temu siang esok ditempat makan yang kemaren. Dan tanpa bantahan Rafael pun menyetujuinya. Disetujui Angga pula yang juga akan membicarakan hal penting dengan ketua OSIS dari SMA HARAPAN BANGSA itu.
Dari sudut meja di samping kanan, Vira dan temannya itu, duduk diam tak jauh dari meja Gerald berada, ketiga gadis itu menguping lekat obrolan tiga lelaki beranjak dewasa yang terkenal dengan julukan Most wanted di SMA, mereka.
Vira dengan tampang seriusnya tengah memfokuskan pendengarannya tajam, mencerna tiap obrolan yang terlontar dari tiga pria itu. Seli dan Fika pun turut ikut memperhatikan lekat gerak-gerik Gerald.
"Sel.., Seli! Gue kebelet, temenin ke wc dong," sikut Seli tiba-tiba pada Fika. Sudah lebih dari setengah jam mereka duduk di Restoran, dan sudah menghabiskan dua cangkir minum juga makanan ringan, demi menunggui dan memantau pergerakan Gerald dan temannya itu.
"Apa sih. Lo aja sendiri, gue males," sahut Fika cepat.
Seli langsung mengedarkan netra nya ke kursi yang ada depannya. "Vira! Temenin gue dong, please! Kebelet banget nih, entar gue kencing disini lagi," ucap Seli mengajak Vira. Kakinya dirapatkan erat demi menghalau keinginan buang air kecil yang menjadi.
Vira menoleh, wajahnya terlihat malas karena fokusnya buyar dengan ajakan temannya itu. "Heh, ribet banget lo Sel, kalau mau ke wc, pergi gih sendiri. Gue lagi sibuk nih merhatiin Gerald, entar kaya semalam lagi kehilangan jejak," tolak Vira. Alisnya terangkat saking terganggunya dengan Seli.
"Dih, gue cuma minta ditemani doang elah. Oke gue pergi sendiri deh." Seli pun segera berdiri dan mencari toilet terdekat secepat mungkin.
***
"Udahan mainnya, Dek. Kita cari makan dulu, udah lewat zuhur nih," ajak Angga setelah selesai berkeliling dan bermain di beberapa wahana yang ada di taman Wisata Matahari.
"Iya, Abang. Arra juga laper!" ucap Arra mengelus perutnya.
"Ya sudah, ayo kita cari makan. Kita mampir ke restoran yang kemaren gue sama arra datangi aja. Sekalian ketemuan lagi sama Gerald. Kayaknya meraka juga udah nungguin kita lama!" seru Rafael menarik Arra mendekat.
"Oke," sahut Angga. Tita dan yang lainnya pun segera mengikuti Rafael, masuk ke mobil masing-masing dan melaju menuju tempat makan yang menjadi tempat janji temu dengan Gerald tersebut.
***
Rafael masuk melewati pintu kaca transparan besar yang tembus pandang. Tangannya menggenggam erat tangan kecil Arra dan menggiringnya masuk dengan beriringan. Angga, dan lainnya pun mengekori dibelakang, dua pasangan beda umur itu.
"Rald...," panggil Rafael melambaikan tangannya. Gerald langsung berdiri dan mengkode agar mereka segera mendekat ke meja mereka.
"Udah lama lo disini. Maaf gue tadi keasikan main sampai lupa belum makan siang dan ada janji juga," ucap Rafael melirik beberapa cangkir minum yang isinya sudah berkurang setengah.
"Lumayan lama sih. Tapi gak apa kok. Ayo langsung dipesan aja, gue juga kelaparan nih, baru minum doang belum makannya," ucap Gerald terkekeh, mencairkan suasana.
Dua meja berbetuk kotak berukuran sedang itu dirapatkan agar muat di isi dengan mereka semua. Beberapa hidangan pun sudah tersaji setelah menunggu lumayan lama makanan yang dipesan itu jadi.
Arra makan disuapi Tita. Gadis kecil itu malas makan dengan tangannya sendiri. Lebih baik ia merepotkan Tita, kakak perempuan yang sudah mengenal ia sedari kecil, meskipun Arra hanya bisa mengingat kedekatan mereka disaat ia berumur 5 tahun dan saat ia bersekolah TK.
Vira makan dengan tergesa. Rasa kepo dari kemaren semakin menjadi saat melihat Gerald, lelaki dengan gadis kecil, Tita dan sekarang ditambah tiga lelaki lainnya?
Seli dan Fika turut memandang kagum. Dari sederet lelaki yang mereka pantau, semuanya memilki garis wajah yang sangat nyaman sekali untuk dipandangi berlama-lama. Tampan dan sangat maskulin untuk ukuran remaja beranjak dewasa itu.
"Enak banget jadi Tita sama tuh adik kecil yang dipepet cowok-cowok ganteng. Pengen juga deh gua gabung, mau kenalan kalau bisa sih, nyalon jadi pacar juga," ucap Fika berandai senang.
"Nah bener banget Fik, gua juga mau toh cowok satu. Lumayan lah buat jadi pengganti si Dion," sahut Seli setuju.
"Hustt... Apaan sih. Ngaca dong muka kalian itu gak ada yang menariknya mana mungkin mereka suka," timpal Vira malas dan melanjutkan menyantap makanannya.
"Tapi setidaknya masih bisa usaha Vira!" balas Fika, disetujui Seli yang langsung menyenggol Vira dan membuat saos yang ada di mangkok kecil itu tumpah ke bajunya. "Owh sorry, gue gak sengaja." Seli lalu segera membersihkan baju Vira yang terkena saos dengan tisu. Dan itu malah membuat kotorannya semakin banyak karena terus di sapu.
"Fika, lo gimana sih. Kotor kan baju gue," dengus Vira kesal. Segera ia berlari menuju toilet, diekori kedua temannya itu yang ikut menyusul.