Dia terlihat piawai bermain dengan ekspresi dan gesture tubuhnya. Bergaya dengan busana elegant dan mewah. Ketampanannya adalah anugerah dan ekspresi adalah bahasa jiwa. Membuat semua wanita dan rekan bisnisnya berdecak kagum.
Namun siapa sangka, di balik kegemilangan kariernya, ia menyimpan sisi gelap yang hidup di alam bawah sadarnya. Latar belakangnya Kesepian dan kepedihan hidupnya ia sembunyikan dengan sekeras-kerasnya hingga nyaris tidak memiliki kehidupan pribadi. Bahkan ia tidak mengerti apa itu cinta. Yang ia pahami hanya rasa sakit dan tersisih.
Dalam perjalanan alam bawah sadar ia menciptakan pribadi lain di saat ada guncangan emosional datang. Entah saat sedih atau gembira, bahkan saat bercinta,
ia menjelma menjadi pribadi lain yang bernama Rava Alexi Ortama, dengan sifat yang sangat cerdas, licik, dingin, psikopatik dan sangat bengis.
Saat menjadi Rava, yang ia pikirkan adalah mencari teman untuk dirinya di masa lalu. Semua orang harus mengalami rasa sakit, penderitaan, kesepian, ketakutan, sama seperti yang dirasakannya selama ini.
Penasaran dengan kisahnya, yuk simak jangan lupa tinggalkan jejak.
Cover by pinteres.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suka kamu Dokter!
Di rumah sakit.
Aditya Pratama tengah memeriksa seorang pasien wanita yang koma sudah hampir tiga tahun. Awalnya pihak rumah sakit sudah menyerah dan memutuskan untuk melepaskan semua alat medis di tubuh wanita itu. Namun Aditya coba untuk mempertahankan wanita itu, karena ia yakin, kalau wanita tersebut masih memiliki harapan untuk tetap hidup. Meski tidak di ketahui siapa keluarganya dan tidak ada yang bertanggung jawab mengenai biayanya. Namun Aditya mau menanggung semuanya demi rasa kemanusiaan, terlebih rumah sakit itu milik dia sendiri.
Sementara di luar ruangan. Beby sudah menunggu untuk berkonsultasi tentang penyakit ibunya. Hari demi hari, Beby dan Aditya semakin dekat dan akrab. Mereka sama sama saling menyukai satu sama lain, namun belum ada keberanian untuk menyatakannya.
Beby menyukai Dokter Aditya karena sikapnya yang baik dan lembut, terlebih Aditya memiliki jiwa sosial yang tinggi, tidak sombong meski anak seorang kaya raya dan terkenal.
Berbeda dengan Rava. Gadis itu sama sekali tidak menyukai dengan sikap Rava yang berbeda jauh dengan Aditya. Tiap kali ia mengingat Rava hanya rasa kesal dan benci. Berbeda saat ia mengingat Dokter Aditya, gadis itu tersenyum, angannya melambung jauh.
Suara pintu di buka dari dalam ruangan, membuyarkan lamunan Beby. Ia beranjak dari tempat duduknya menghampiri Aditya.
"Sudah selesai Dok?" tanya Beby melirik sesaat ke arah ruangan sebelum pintunya di tutup oleh Aditya.
"Sudah." Jawab Aditya.
"Sudah berapa lama wanita itu koma?" tanya Beby.
"Menurut tim Dokter, sekitar 3 tahun. Tapi sampai saat ini, tidak di ketahui siapa keluarganya." Kata Aditya.
"Kasihan sekali, dalam keadaan koma tidak memiliki keluarga." Timpal Beby.
"Sudahlah, jangan kau pikirkan. Ayo kita ke ruanganku." Potong Aditya.
Beby menganggukkan kepalanya, lalu mereka melangkah bersama menuju ruangan Aditya. Masuk ke dalam lift, dan kembali mereka berbincang.
"Bagaimana dengan atasanmu? apakah masih tetap mengganggumu?" tanya Aditya.
"Sudah dua hari, dia tidak ada ke kantor. Jadi, aku lebih tenang, tidak mendengarkan caci makinya." Sahut Beby dengan nada kesal.
"Jangan terlalu membenci, nanti kau suka." Timpal Aditya.
"Suka? Rava? hiyy amit amit kalau sampai punya kekasih seperti dia, kau tidak tahu Rava itu seperti apa, mengerikan!" sahut Beby.
"Mengerikan? bukankah dia tampan, kaya, pengusaha sukses di usia muda." Kata Aditya.
"Tidak! aku tidak mau, aku maunya...-?" Beby tidak melanjutkan ucapannya.
"Mau? apa? siapa?" tanya Aditya
Beby tersenyum, tersipu malu. "Tidak apa apa, lupakan."
Kemudian Lift terbuka, mereka kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan sambil terus berbincang, dari soal tantangan Beby ke Rava hingga soal kesehatan Ibunya.
***
Sementara di tempat lain.
Enzi Alexi Ortama, hari ini mengadakan pertemuan penting dengan Pemimpin agensi terbesar di kota itu. Dan tamu undangan istimewa itu tak lain adalah Rava Alexi Ortama.
Awalnya Enzi tidak tahu, kalau pemilik perusahaan agensi itu memiliki nama belakang yang sama. Yang ia tahu, kalau pemilik Agensi itu seorang pengusaha muda paling kaya bernama Rava saja.
Enzi Alexi Ortama berdiri, menyambut kedatangan Rava. Tangannya terulur, menjabat tangan Rava.
"Selamat datang dan selamat bergabung." Kata Enzi menyapa.
"Terima kasih!" sahut Rava tenang.
Kemudian Enzi mempersilahkan Rava untuk duduk. Berbincang bincang memperkenalkan perusahaannya yang di wakili oleh sekretaris Enzi. Namun baik Enzi atau Rava, tidak mendengarkan yang di ucapkan sekretaris itu. Mereka saling pandang cukup lama, ada kebisuan, ada sesuatu yang tak biasa, itu yang di rasakan Enzi. Namun tidak bagi Rava, ia tidak memiliki perasaan apapun selain sikap dingin yang tak mungkin cair begitu saja.
Enzi seperti tidak asing melihat wajah Rava. Bahkan mengingatkannya pada sosok anak kecil yang selalu datang dalam mimpinya meminta pertanggung jawaban.
"Bagaimana Pak?" tanya Sekretarisnya pada Enzi.
Enzi mengerjapkan mata, ia sama sekali tidak tahu apa yang di pertanyakan sekretarisnya. Kemudian Enzi memintanya untuk mengulangi, namun sudah yang kedua kali sekretaris itu memberikan keterangan, Enzi tetap tidak fokus. Akhirnya ia meminta sekretarisnya untuk berhenti dulu dan menyuruhnya keluar dari ruangan.
Kini tinggal Rava dan Enzi dalam ruangan itu, saling tatap tajam. Namun berbeda dari pancaran matanya. Mata Rava memancarkan sorot mata tajam namun tetap dingin. Berbeda dengan Enzi, menatap Rava dengan kebingungan dan rasa ingin tahu yang besar mengenai Rava.
"Kau baik baik saja?" tanya Rava.
"Aku baik baik saja..maaf." Jawab Enzi menundukkan kepalanya sesaat.
"Lalu? kenapa anda meminta sekretaris berhenti?" tanya Rava lagi dengan tatapan dingin sedingin es.
"Aku..aku seperti sudah familiar melihatmu." Ungkap Enzi.
"Oya? di mana? bukankah ini pertama kali kita bertemu?" tanya Rava tersenyum penuh arti.
"Di dalam mimpiku." Kata Enzi.
"Mimpi? hahahaha! anda terlalu mengada ada Tuan Enzi Alexi Ortama yang terhormat. Apakah anda masih mempercayai mimpi yang hanya bunga tidur?" sindir Rava.
"Tapi mimpiku berbeda, apakah sebumnya kita pernah saling mengenal?" tanya Enzi semakin penasaran.
Rava terdiam sesaat, lalu berdiri dan mendekati Enzi. Badannya membungkuk dan berbisik di telinga Enzi.
"Mungkin anda lelah, sebaiknya beristirahat. Lain kali kita bisa bertemu lagi, atau bisa jadi kita bakalan sering bertemu." Setelah bicara seperti itu, Rava berlalu begitu saja dari hadapan Enzi.
"Apa maksud anak itu?" ucapnya pelan. "Ini aneh, sangat aneh. Kenapa dia memakai nama belakangku? sementara putraku sama sekali tidak mau menggunakan nama belakangku."