rima yang baru saja patah hati tiba tiba saja harus menikah dengan calon kakak iparnya..
semua itu demi menyelamatkan nama baik keluarga..
akankah rumah tangga mereka berakhir bahagia..?
selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketakutan
"Plakkkk!!!!" tamparan keras mendarat di pipi Rafa,
semua orang menatap laki laki berumur 26 tahun itu kesal bercampur iba,
Rafa bersimpuh di kaki ayahnya namun ayahnya berkali kali menendangnya,
" terakhir kali sudah ayah bilang, jangan perlihatkan dirimu lagi di depan ayah! anak brengsekk!!" tendang ayah rafa berkali kali,
" mas sudah mas?!" ayah Rima menarik ayah Rafa,
anak itu sudah kenyang tendangan dan tamparan ayahnya.
" Ampun yahh.. Rafa rindu ayah dan ibu, jangan buang Rafa yahh.. ampuni Rafa yah.." Rafa bersimpuh menangis sejadi jadinya,wajahnya sudah bengkak semua.
" Bukan berarti kakakmu tidak tega memukul mu lalu aku tidak tega juga?!, kakakmu harus menanggung apa yang sudah kau lakukan dan sekarang kamu muncul mengganggu Rima yang sudah menjadi istri kakakmu?! anak tidak tau diri!!" Rafa terkena tendangan lagi sampai ia terjerembab ke belakang.
" Yah sudahh yah, dia anakmu..??" ibu Rafa menangis memeluk anaknya.
" Iya mas sudah mas, masalah kemarin sudah berlalu saya yakin Rafa sudah menyadari kesalahannya.. saya dengar juga mereka tidak sengaja bertemu di seminar.." ayah Rima menenangkan,
sebenarnya ia juga kesal pada Rafa,tapi sekarang ia sudah mendapatkan Rendra sebagai menantunya,
itu sudah yang terbaik menurut ayah Rima.
" Mungkin Rafa hanya ingin meminta maaf mas.. dan Rima kaget.." imbuh ayah Rima menenangkan,
karna kalau di biarkan bisa habis Rafa hari ini juga,
" sudah! bawa anakmu sana!"
tegas ayah Rafa kepada istrinya agar membawa Rafa pergi dari hadapannya.
Setelah semua mulai tenang dan Rafa sudah diantar pulang oleh sepupunya,
mertua dan besan berkumpul untuk membicarakan bagaimana baiknya hubungan anak anak mereka.
" Biar saya yang telfon Rendra jika mas tidak berani.." kata ayah Rima,
" bukan tidak berani dek, kasian.. kasian anak itu, kalau sampai dia dengar istrinya bertemu lagi dengan adiknya dan sampai sakit seperti ini, bagaimana perasaannya, mas tidak tega dek.." penjelasan ayah Rendra pada ayah Rafa.
" Rendra itu anak yang pengertian mas.. tidak mungkin dia berfikir tidak tidak.. "
balas ayah Rima,
" harus ku apakan Rafa itu.. sudah buntu pikiranku ini,bikin malu saja.." tegas ayahnya frustasi.
Syifa mengoleskan obat di wajah suaminya,
sedih sekali rasanya melihat kondisi Rafa seperti ini.
" ambil cuti.. jangan bekerja dengan wajah babak belur begini.." saran Syifa,
" maafkan aku.. aku benar benar laki laki yang buruk.." ucap Rafa tertunduk lemah.
" Rasanya aku ingin mati saja.." imbuh Rafa semakin dalam dengan kesedihannya.
" Aku susah payah membesarkan anakmu dalam perutku dan dengan mudahnya kamu membicarakan mati.." Syifa berdecak kesal.
"Kakakku pasti akan datang.. aku membuat Rima sakit.. mungkin dia akan menghajarku seperti ayah.. mungkin kakiku akan di patahkan.. ".
" Sudahlah.. jangan memikirkan sesuatu terlalu berlebihan.. " hibur Syifa sedikit,
" lucu ya.. baru kali ini aku lihat mukamu tidak tampan.." Syifa malah tertawa,
" apa ini termasuk hiburan bagimu??" Rafa kesal.
"Jangan beritau mas Rendra bu.. jangan.." pinta Rima pada ibunya, wajahnya begitu pucat
" mertuamu sudah telfon.. tapi suamimu tidak bilang bisa pulang kapan, dia langsung mematikan telfonnya..."beritahu ibunya,
mendengar itu Rima takut,
entah kenapa hatinya semakin tak tenang jika Rendra pulang, ia takut.. entah kenapa yang jelas takut..
" sudah.. istrihat nduk.. sudah malam, sebelum suamimu pulang ayah dan ibu akan tidur disini.." ibunya itu mengelus rambut anaknya..
" bu.. apa mas Rendra akan marah??"tanya Rima takut,
" marah kenapa?kamu tidak berbuat sesuatu yang salah nduk.."
" tapi Rafa buk.. dia akan marah kalau tau aku bertemu dengan Rafa.. ".
" Tapi kamu nggak sengaja nduk.. ,sudah.. Rendra itu anak yang dewasa, dia tidak akan marah tanpa berfikir mana yang benar dan tidak benar.. tenang nduk..." jawab ibunya menenangkan.
Sementara di tempat lain, ada Rendra yang berjalan tenang untuk boarding pass, ia hanya memakai celana pendek dan kaos berwarna hitam,
raut wajahnya terlihat tenang,
namun hatinya tidak setenang itu, kalau bisa berlari maka ia akan berlari,
berkali kali ia menatap jam tangannya..
keberangkatan masih 1 jam lagi.
" Hallo" ia mengangkat handphonenya yang berkali kali berdering,
" kalian kerjakan saja pesanan dari pak Thomas, jika pesanan pak Thomas belum selesai jangan terima dari pihak lain.. hemm ya sudah.." Rendra memasukkan handphonenya ke dalam saku kembali.
Ia memijat mijat kepalanya yang tidak sakit.. sebenarnya ia capek sekali,
tapi mendengar istrinya jatuh pingsan gara gara adiknya sepertinya tidak ada waktu untuk beristirahat.
" Apalagi ini..." keluhnya dalam hati..
kenapa Rafa datang dan membuat keributan, apa ia ingin mengambil kembali Rima? bagaimana kalau iya.. bagaimana kalau Rima mau kembali kepadanya..
apa yang harus ku lakukan,aku hanya seorang suami pengganti..
yang ada di hati Rima buka aku.. tapi Rafa..
keluh Rendra dalam hati,
berbagai pikiran jelek berputar putar di kepalanya,bagaimana kalau Rima begini dan Rima begitu..
ada rasa takut kehilangan yang tidak bisa ia jelaskan.
tdk ulang2
Semangat & lanjut berkarya thor...