Petik pelajaran dari setiap isi cerita
...
1. Kamu hanya mencintai seragamku dan bukan diriku. Dua tahun pernikahan dengan istriku hanya penuh pertikaian, hingga karenanya kamu memintaku memiliki anak dengan dengan seorang gadis anak almarhumah mantan pengasuhmu sejak kecil.
Dengan kacaunya aku menuruti keinginanmu karena aku sayang kamu Bianca. Namun semakin lama, sebagai seorang suami, aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu
Tahukah kamu.. keegoisanmu ini membuat cerita baru dalam rumah tangga kita Bianca.
...
Kamu sungguh menghancurkan isi hatiku Bianca.. Pecah dan hancur sampai ke akarnya tapi aku masih mencintaimu hingga kesalahan fatal itu terjadi memporak porandakan rumah tangga kita.
Dan akhirnya aku berkali-kali merasakan kenangan pahit karenamu Bianca hingga sosok itu datang didalam hatiku tanpa sengaja. Dia......... ( by Ghara )
#
2. Dan disisi lain kamu berbeda dengan dia. Dirimu sudah membalikan seluruh duniaku.
Awalnya aku hanya bermain-main, tapi semakin kusadari.. ada rasa berbeda dalam hatiku. Perasaanku pun bukan sekedar permainan.
Nindy bayangan terindah masa laluku. Jujur memang caraku mendapatkan mu adalah sesuatu yang salah. Hanya aku yang tau itu semua di sengaja atau tidak. Hanya kamu.. hanya kamu saja di hati ini. Diajeng Amarilys Sahna . Kamu hidup matiku, sehidup sesurga ku. ( by Bayu )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Bahagiakan Nada.
"Kamu ini mabuk udara. Kalau naik boat terus mabuk laut bagaimana?" tanya Bang Ghara.
"Nggak boleh ya?" tanya Nada berkedip tanpa dosa membuat Bang Ghara seperti terhipnotis seketika.
"Ya sudah boleh" Bang Ghara menyetujui permintaan Nada.
"Tisa juga mau di lamar di atas boat" pekik Tisa dengan yakin.
"Oke.. takut siapa??? Maju terus pantang merem" jawab Frans.
***
Pagi sekali mereka berangkat ke daerah Surabaya karena disana pasti ada tempat persewaan boat.
Papa Arben dan Mama Dira akhirnya ikut juga karena paksaan dari Tisa.
"Kapan lagi kita mesra-mesraan gini ma. Papa sibuk terus" bisik Papa Arben dengan romantis.
"Papa. Malu di lihat anak-anak" kata Mama Dira.
"Mereka nggak akan iri. Ghara sudah punya istri, Tisa juga mau di lamar. Apa salahnya kita sedikit dekat" Papa Arben merangkul bahu Mama Dira.
"Nada sama Tisa duduk berdua. Abang foto..!!" kata Bang Frans mengarahkan kedua gadis.
Bang Ghara menghentikan boatnya di tengah lautan untuk menikmati pemandangan laut lalu segera naik ke atas ke bagian atas menemui Nada.
Nada beralih pindah ke tempat Tisa tapi langkahnya terhuyung karena ia mulai merasakan mabuk laut. Karena langkahnya terhuyung, tak sengaja kaki Nada menyenggol plat besi pegangan cadangan minyak di boat. Nada terjungkal dan terbanting jatuh ke laut.
"Nadaaaa..!!!!!" Bang Ghara segera meletakan peralatan pentingnya dan segera melompat terjun ke laut mencari Nada.
Papa dan Mama kaget sampai berlari naik ke tempat anak-anak.
"Papaaa.. Nada pa..!!" pekik Mama Dira ketakutan.
"Tenang ma. Ghara pasti bisa cari Nada." kata Papa Arben meskipun ia sanksi Nada bisa berenang atau tidak.
Frans dengan gaya coolnya ingin mencoba menolong Nada dan Ghara tapi naas baju luarnya tersangkut tiang palang layar dan ia hanya bisa bergelantungan tanpa arah terombang-ambing terdorong angin.
"Toloooong" teriak Frans yang akhirnya terdengar oleh Papa Arben.
"Woalah Frans.. kamu ini ada saja tingkahnya" gumam Papa Arben sambil menolong Frans di bantu Mama Dira dan Tisa.
"Saya mau pamer keren sama Tisa Dan. Malah apes tersangkut begini" celoteh Frans.
"Makanya jadi orang jangan suka pamer" gerutu Tisa.
Di dalam lautan sana Ghara mencari Nada dan akhirnya menemukan istrinya.
...
Nada memuntahkan air setelah Ghara menekan dada istrinya itu dua kali. Nada cukup pintar mengendalikan diri jadi ia masih bisa cepat mendapatkan pertolongan.
"Uhuukk.. Abaang.. Nada takut" ucapnya masih lemas. Mama Dira segera memberi handuk pada menantunya.
"Abang disini. Lihat Abang dek..!!" Bang Ghara panik mengarahkan Nada agar menatap wajahnya.
"Abaang" Nada menangis saat pertama membuka mata yang di lihatnya adalah Bang Ghara.
"Inilah sebabnya Abang berat mengabulkan permintaanmu. Melangkah di air satu jengkal saja kamu terpeleset, apalagi masuk ke dalam laut" Bang Ghara mengusap wajahnya dengan gusar. Secepatnya Bang Ghara memeluk Nada yang masih nampak syok. Di usapnya punggung Nada dengan sayang.
"Bini lu nggak apa-apa?" tanya Frans pada Ghara.
"Nggak apa-apa pala lu. Sudah kubilang fokus lihat satu tempat saja jangan pindah-pindah kenapa malah lu suruh foto segala" tegur Bang Ghara kesal pada Frans.
"Mana gue tau bini lu punya riwayat teler. Jangankan pindah tempat. Lihat tentara gantengnya sundhul langit macam gue aja bini lu teler" kata Frans.
"Jangan berdebat sama gue ya Frans.....!!!"
"Sudah.. itu urus Nada dulu Ghar..!!" kata Papa Arben mengingatkan.
Arben segera mengangkat Nada masuk ke ruang istirahat kecil di dalam boat.
...
"Masih sesak nggak dek?" tanya Bang Ghara masih cemas.
"Masih mau muntah Bang.. Asin..!!" rengek Nada.
"Kalau manis ya sirup dek" jawab Bang Ghara.
"Iihh Abaang.. Sebel aahh"
Ghara mengusap perut Nada. Ia tak bisa membayangkan jika tadi perut Nada terhantam pagar pengaman boat.
"Lain kali hati-hati dek. Jantung Abang ini bisa off kaget mikir kamu. Sudah ya main di boat nya. Kita ke hotel saja malam ini" ajak Bang Ghara.
Nada mengangguk tak ingin berdebat dengan Bang Ghara.
...
"Maaf.. Abang nggak bisa melamarmu" ucap Bang Frans serius.
"Kenapa?" tanya Tisa.
"Cincinnya hilang nggak tau dimana?" sesal Bang Frans di hadapan Tisa.
"Abang serius nggak sama Tisa??" tanya Tisa lagi.
"Kapan Abang main-main? Semua serius"
"Ya sudah kalau begitu sekarang Tisa tunangan Abang" jawab Tisa.
"Apaa???"
"Abang pakaikan ini..!!" kata Tisa menyerahkan sebuah cincin yang ia temukan tadi di samping tiang palang layar.
"Haaahh.."
"Cepat Abaang.. jangan cuma 'Haahh'.. 'Apaa' " kata Tisa.
"Sini mana cincinnya.!!" Bang Frans langsung mengambil cincin itu dari tangan Tisa.
"Yeess.. gue jadi punya anak" teriak Bang Frans dengan mantap.
"Frans.. sebelum janur kuning melengkung. Kamu dilarang nyenggol Tisa" tegur Papa Arben.
"Siap Komandan. Saya nggak paham" jawab Bang Frans.
Seketika Papa Arben langsung melepas sandalnya dan bersiap melempar ke wajah Frans.
"Iya Papa mertua. Saya paham" kata Frans sambil menutupi wajahnya.
***
"Besok pagi kita pulang ya..!! Abang ajak jalan-jalan. Kita datang ke reuni SMA Abang" ajak Bang Ghara.
"Nada malu Bang"
"Kenapa harus malu. Kamu khan istri Abang" kata Bang Ghara.
"Ya sudah Nada mau ikut" jawab Nada ragu.
"Nanti sama Abang terus. Nggak akan Abang tinggal" janji Bang Ghara.
***
Setelah sarapan pagi di hotel Ghara beserta keluarga kembali ke kota Malang. Nada terlihat sekali tidak nafsu makan tapi ia hanya diam. Begitulah sifat istri Ghara yang berbeda tiga ratus enam puluh derajat di bandingkan dengan Bianca.
"Abang suapin ya dek..!!" kata Bang Ghara.
Nada menggeleng pelan.
"Makannya nggak enak ndhuk?" tanya Mama Dira saat melihat Nada hanya mengaduk makanannya.
"Enak kok ma" jawab Nada lalu memakan sesendok nasinya akan tetapi perutnya tidak mau bekerja sama.
"Maaf.. Nada mau ke toilet sebentar..!!" pamit Nada pada keluarganya.
Ghara pun mengikuti Nada.
#
"Mau makan apa biar Abang belikan?" tanya Bang Ghara.
"Nggak Bang. Ini khan biasa saat kehamilan. Nada kuat kok" jawab Nara berusaha keras untuk kuat.
Bang Ghara mengusap puncak kepala Nada.
-_-_-_-
Dalam perjalanan Nada terus melirik banyaknya makanan di pinggir jalan. Tapi mata Bang Ghara peka saat Nada melirik lontong balap dan Rawon Surabaya.
"Frans.. menepi sebentar. Aku pengen makan lontong balap nih" ucap Bang Ghara.
Nada langsung menoleh saat mendengar Bang Ghara meminta makanan itu. Papa dan Mama yang cepat peka langsung menyahut.
"Papa pengen lontong Kupang" kata Papa Arben.
"Mama mau Rawon pa"
Ucap mereka serempak padahal semuanya baru saja makan. Demi menantu mereka yang pemalu. Papa Mama berubah menjadi sosok mertua yang heboh apalagi kalau bukan demi cucu pertama mereka.
...
Di rumah makan itu Bang Ghara menyuapi Nada makan. Dari mangkok keluarga satu persatu Nada coba kecuali Frans karena pria itu sudah terlalu kenyang makan di hotel dan hanya memesan es kelapa saja.
"Mbak Nada coba deh sate kerang ini. Rasanya enak..!!" Tisa menyuapi kakak iparnya itu.
Nada mengunyah dan menelan makanan itu dengan berat kemudian ia menangis memeluk Bang Ghara.
"Kamu kasih apa mbak mu dek??" tegur Bang Ghara.
"Nggak Bang, cuma sate kerang" jawab jujur Tisa.
"Nada hanya sedih Bang. Selama ini Nada nggak pernah di beri perhatian seperti ini" ucapnya lirih dalam pelukan Bang Ghara namun masih terdengar jelas di telinga semuanya.
.
.
.