Dendam memang bisa membuat siapapun terlihat tak memiliki hati, seperti seorang pria muda dengan kesuksesan dan harta yang berlimpah. Karena rasa dendam di masa lalu ia menculik seorang gadis tak bersalah di hari pernikahannya.
"Kau hanya akan mendapatkan siksaan seumur hidupmu, mulai hari ini." Tekan seorang pria dengan setelan jas dan kemeja putih yang terlihat sempurna di tubuhnya.
Akankah sang gadis tahan dengan siksaan yang pria itu berikan padanya?
Gak update setiap hari, tapi diusahakan ✨
Follow Instagram aku
@Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan??
Diandra membuka matanya perlahan, kepalanya terasa sangat sakit begitupun dengan pergelangan tangannya. Meringis sambil memegangi kepalanya, Diandra mencoba untuk beranjak dari tempatnya namun ketika berdiri ia hampir saja jatuh jika Aryan tidak menangkapnya.
"Lepaskan," ucap Diandra lemah seraya mendorong tubuh Aryan menjauh.
Aryan melepaskan rangkulannya dan menjauh dari Diandra, ia menyodorkan sebuah amplop cokelat pada Diandra membuat wanita itu mengerutkan keningnya heran.
"Kau mau bekerja di kantor ku kan?" tanya Aryan masih dengan menyodorkan amplop cokelat itu pada Diandra.
"Kenapa kau tiba tiba bertanya begitu? kau takut aku bunuh diri?" tanya Diandra menajamkan penglihatannya.
"Tidak, hanya saja kebetulan ada posisi kosong disana. Dibagian marketing manager," jawab Aryan seketika membuat Diandra menatapnya.
"Marketing manager? bukankah posisi itu di tempati oleh Andi?" tanya Diandra seketika membuat senyum Aryan terlihat menyeramkan.
"Kau sangat tahu soal pekerjaan mantan calon suamimu itu rupanya," gumam Aryan menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau memecatnya?" tanya Diandra membuat Aryan tertawa lagi, entahlah mengapa Aryan sering sekali tertawa hanya mendengar pertanyaan dari Diandra yang menurutnya pantas di tertawakan.
"Tentu saja, kau berambisi untuk bisa bekerja disana bukan? maka aku kabulkan," jawab Aryan kemudian pergi namun Diandra mengeluarkan suara yang menghentikan langkahnya.
"Aku tidak mau bekerja lagi di kantormu," ucap Diandra seraya mencoba berjalan ke kamar mandi.
"Jadi kau bekerja hanya untuk bisa bertemu mantan mu itu?" tanya Aryan berat, tangannya sudah mengepal di samping tubuhnya dan jangan lupa rahangnya yang sudah mengeras.
"Iya," jawab Diandra enteng tanpa menatap pria di belakangnya itu.
Diandra terkejut ketika tubuhnya di dorong ke dalam kamar mandi, hangatnya air mulai bisa ia rasakan di atas kepalanya sampai ke seluruh tubuhnya. Sementara di depannya terlihat pria tampan dengan sejuta kemarahan di matanya.
"Kau sudah menikah, dan masih mau menemui mantanmu ha?" tanya Aryan membentak sampai membuat Diandra memejamkan matanya.
"Iya," jawab Diandra lemas.
Karena geram Aryan mengganti air hangat menjadi air dingin sehingga membuat tubuh Diandra tersentak karena itu. Tentu saja tersentak, ketika sedang disiramkan air hangat tiba tiba disiram air dingin.
"Aryan, dingin," lirih Diandra memegang kedua bahunya sesekali menggosoknya.
"Kau akan semalaman disini!" seru Aryan kemudian pergi dan tak lupa mengunci pintu kamar mandi itu meninggalkan wanita yang masih lemah itu di dalam kamar mandi.
Aryan mengalihkan semua amarahnya kepada pekerjaan, entah mengapa ia tidak suka saat Diandra mengakui jika dirinya ingin bekerja hanya demi bisa bertemu dengan mantan calon suaminya.
"Aghhhhhh.....," erang Aryan frustrasi sampai mengacak apapun yang ada di meja kerjanya.
Sementara Diandra, tubuh wanita itu terlihat sudah menggigil. Wanita itu beranjak dari bawah kucuran air untuk mengeringkan tubuhnya yang terasa sangat dingin. Diandra melepas semua pakaiannya kemudian menggantinya dengan handuk kimono yang melilit di tubuhnya.
Diandra berdiri di depan cermin, melihat dirinya yang terlihat sangat menyedihkan. Mata sembab dengan hidung merah dan juga bibir yang masih terlihat bengkak akibat ciuman kasar dari Aryan.
"Haha, Diandra lihatlah dirimu sekarang. Dulu kau adalah wanita biasa yang begitu di cintai pria baik tapi sekarang? jangankan di cintai, kau tidak akan bisa merasa dihargai selamanya," gumam Diandra dengan mata yang kembali'mengeluarkan air mata namun bibirnya masih terus tersenyum.
Perlahan tubuhnya yang terbalut handuk merosot ke lantai dengan kaki yang ia tekuk dan berusaha memeluknya, mencoba mencari kehangatan yang tidak akan mungkin didapatkan di dalam kamar mandi seperti ini.
"Entahlah bagaimana kehidupanku kedepannya, tapi aku mohon Tuhan berikan aku kesempatan untuk bahagia meski hanya 1 hari. Aku ingin di cintai oleh seseorang dengan begitu besar," lirih Diandra dengan suara yang kurang jelas karena tertutup oleh lututnya.
"Saat kecil aku ingin sekali cepat besar, bisa merasakan yang namanya kebahagiaan dalam pernikahan, tapi sekarang rasanya aku ingin kembali ke masa kecil. Tidak pernah memikirkan bagaimana ke depannya, apa konsekuensinya. Yang aku pedulikan hanya mainan dan juga permen. Hiks aku ingin kembali ke masa kecilku," lirih Diandra bercerita pada benda-benda mati yang ada di dalam kamar mandi itu.
Tanpa di ketahui Diandra, di dekat pintu kamar mandi ada yang mendengarkan setiap ucapan dan rintihan yang ia keluarkan. Setiap kalimat keluhan yang terasa begitu menyedihkan, apakah seburuk itu kehidupannya dahulu?
"Apa aku terlalu jahat padanya?" gumam Aryan setalah mendengarkan keluh kesah yang Diandra lontarkan.
Setelah cukup lama terdiam di depan kamar mandi, Aryan tidak mendengar lagu suara wanita itu. Pelan pelan ia membuka pintu kamar mandi dan melihat Diandra terbaring di lantai dengan posisi meringkuk.
Aryan mendekat ia segera mengendong Diandra dan membawanya ke kamar, menyelimuti tubuh wanita itu sampai ke lehernya bahkan tanpa sadar pria itu mencium kening Diandra dalam.
ARYAN LABIL IH😐
BERSAMBUNG........