maaf, untuk sementara karya ini tidak di lanjutkan dulu dikarenakan authornya sedang sibuk, insyaallah, nanti akan saya lanjutkan kembali🙏🙏
apakah sebuah hubungan rumah tangga akan sakinah mawadah warahmah, jika suami dengan tega mengkhianati istri..??
.
kisah kehidupan yang menguras emosi dan air mata..🥀
Dinda harus menerima kenyataan kalau suaminya harus menikah lagi dengan sahabatnya sendiri karena hubungan terlarang yang mereka lakukan.
Dinda harus menjalani hari harinya dengan penuh kesedihan, ambisi Dewi untuk memiliki kekayaan suaminya membuat Dinda selalu disalahkan, Dewi melakukan segala cara untuk menyingkirkan Dinda dari rumah dia sendiri.
bagaimana ceritanya..?
baca yuk..!!
jngn lupa like, comen n votenya
rate ⭐⭐⭐⭐⭐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawar berduri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masuk penjara
esok pagi tepatnya pukul 04.00 Bu Laras terbangun dari tidurnya. tenggorokan yang kering membuat dia haus lalu bangkit dari tidurnya berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
ketika membuka pintu kamar, Bu Laras terfokus dengan pemandangan yang membuat hatinya sedih. dia melihat Hendra dan Dinda tertidur di sofa, tangan Dinda yang menggenggam tangan Hendra seakan membuat hati Bu Laras teriris.
tak terbayang oleh nya jika suatu saat anak semata wayangnya harus berpisah dengan orang yang dia sayangi.
Bu Laras melangkahkan kakinya berjalan menghampiri Dinda yang sedang tertidur nyenyak di tangan suaminya.
''bangun nak, sudah masuk waktu subuh'' ujar Bu Laras menepuk pundak Dinda mencoba membangunkannya
''ibu, iya Bu'' ujar Dinda membuka matanya
''kamu ko tidur disini nak? tanya Bu Laras
''kenapa tidak tidur di kamar'' Bu Laras sangat khawatir dengan kesehatan anaknya. apalagi ketika melihat mata Dinda yang terlihat bengkak akibat menangis semalaman
''semalam Dinda habis ngobrol sama mas Hendra Bu, Dinda jadi ketiduran di sini'' ujar Dinda tersenyum menguatkan hatinya yang sedang dilanda kebingungan
''oh ya sudah, kamu bersih bersih dulu gyh, habis itu kita sholat subuh berjamaah. ibu jg mau ngambil air minum dulu'' ujar Bu Laras.
dindapun berjalan menuju ruang atas, sedangkan Bu Laras melanjutkan langkahnya ke dapur untuk mengambil air minum, tampak bi Ijah sedang sibuk membereskan cucian piring sedangkan bi Minah mencuci pakaian di belakang.
Bu Laras meminum segelas air putih lalu pergi ke kamar nya untuk mandi.
Hendra yang pada saat itu masih tertidur di sofa diapun terbangun karena mendengar suara langkah kaki Bu laras yang masuk ke kamarnya. Hendra baru sadar kalau dirinya tertidur di sofa.
Hendra kaget karena waktu sudah menunjukkan pukul 05.00, Hendra langsung bangkit dari tidurnya berjalan menuju ruang atas lalu melaksanakan shalat subuh.
...💞💞💞💞💞...
terdengar suara bell berbunyi ketika semua orang sedang sarapan di meja makan. BI Minah langsung berlari menuju depan untuk membukakan pintu.
''siapa?'' tanya bi Minah sembari membuka pintu
''selamat pagi Bu. saya dari pihak kepolisian membawa surat penangkapan untuk saudara Hendra, apa saudara Hendra berada dirumah?'' tanya balik 2 orang polisi yang berdiri di hadapan bi minah
''aaa ada pak?'' jawab bi Minah dengan suara ketakutan. BI Minah diam tak bisa berkata apa-apa, bibirnya seketika terkunci ketika melihat ke 2 polisi yang gagah menakutkan
''siapa bi?'' tanya Hendra berjalan menghampiri bi Minah
''pak Hendra, anda saya tangkap atas laporan pelecehan seksual. ayo bapak ikut kami ke kantor'' ujar ke 2 polisi itu menarik tangan Hendra
''ada apa ini?'' tanya Dinda panik. dindapun berlari menghampiri ke 2 polisi itu. di susul Bu Laras dan BI Ijah
''maaf Bu. suami ibu kami tangkap atas laporan pelecehan seksual. suami ibu harus di tahan'' ujar ke 2 polisi itu membawa Hendra masuk ke dalam mobil mereka
''tapi pak, suami saya tidak mungkin melakukan perbuatan seperti itu'' ujar Dinda menghentikan langkah ke 2 polisi itu. Dinda tidak terima kalau suaminya di bawa ke kantor polisi
''maaf Bu, untuk penjelasan nya nanti bisa ngobrol lagi di kantor'' ujar polisi itu membawa Hendra ke kantor polisi
''ya allah'' teriak dinda. tubuhnya lemas jatuh ke tanah melihat suaminya di bawa oleh ke 2 orang polisi itu, air matanya mengalir tiada henti menangisi kepergian suami tercinta. dia tidak terima kalau suaminya harus di tahan
''ibuuuuu'' teriak Dinda memeluk ibunya menangis sejadi jadinya
''yang sabar ya nak, kamu harus kuat'' ujar Bu Laras mengelus pundak Dinda. Bu Laras tak bisa menahan tangis melihat anaknya harus menderita seperti ini
''mas Hendra Bu'' ujar Dinda yang terus menyebut nama Hendra
''ya sudah nak, ayo kita susul Hendra ke kantor polisi'' ujar Bu Laras mengajak Dinda pergi
Dinda berjalan dengan tubuh yang lemas masuk ke dalam mobilnya. tangannya yang gemetar mencoba menghidupkan mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Dinda tidak tau harus berbuat apa, hatinya hancur ketika dia mengetahui sahabatnya hamil karena suaminya, dan sekarang dia harus menerima kenyataan kalau suaminya harus meringkuk di penjara. sakit sungguh sakit, hatinya hancur berkeping keping.
perjalanan dari rumah menuju kantor polisi cukuplah jauh, memerlukan waktu yang lama untuk nya sampai di tujuan..
...🌺di kantor polisi 🌺...
Hendra sudah masuk di sel tahanan. dewi yang melihat Hendra duduk di balik jeruji, dia merasa sedih, Dewi tidak pernah mengharapkan Hendra masuk ke dalam jeruji yang penuh dengan derita. dia terpaksa melaporkan Hendra karena itu satu satunya jln agar dia bisa memiliki Hendra seutuhnya.
Dewi terpaksa melaporkan Hendra karena dia tau Hendra tidak akan kuat hidup di tahanan, suatu saat Hendra akan menyerah lalu bersedia menikah dengan nya. pikir Dewi
''mas.'' ujar Dewi memanggil Hendra yang sedang duduk bersandar di tembok, bersama 3 tahanan lainnya
''mau apa kamu kesini?'' tanya Hendra memalingkan wajahnya
''maafin aku mas, kalo saja mas mau tanggung jawab dengan janin yang ada dalam rahimku, mas tidak akan berada disini'' jawab Dewi, air matanya jatuh membasahi pipinya
Hendra berdecih'' ciihh, lebih baik aku hidup di penjara dari pada aku harus hidup dengan perempuan seperti kamu. pergi kamu dari sini'' ujar Hendra geram
''tapi mas'' perkataan dewi terhenti
''pergi kamu'' ujar Hendra mengusir dewi dari hadapannya
''berisik.'' ujar 3 penghuni jeruji yang tinggal bersama Hendra di tahanan
karena takut dengan tahanan yang lain, Dewi akhirnya pergi meninggalkan Hendra yang sedang terpuruk di balik jeruji.
ketika Dewi keluar dari kantor polisi, Dinda masuk bersama ibunya berlari menuju tahanan.
''mas'' Dinda memanggil suaminya dengan air mata yang terus mengalir
''iya sayang'' ujar hendra bangkit dari duduknya. hendra langsung mendekati Dinda menggenggam tangan Dinda dengan erat
''mas, aku gak mau mas berada di sini, ayo kita pulang mas'' ujar Dinda menangis sejadi jadinya. Dinda seakan tidak mau jauh dari Hendra
''engga sayang, mas tidak pp, jaga diri kamu baik baik ya'' ujar Hendra mengusap air mata Dinda
''engga mas, mas harus ikut pulang, aku gak mau mas berada disini, mas sayang kan sama aku?'' tanya Dinda memegang tangan Hendra dengan erat
''iya iya, mas sayang sekali sama kamu, jaga diri baik baik ya, tunggu sampai mas pulang'' ujar Hendra melepaskan tangan Dinda, Hendra mengecup kening istrinya lalu duduk kembali bersandar di dinding
Dinda terus menangis memegang jeruji besi yang terpasang kuat, dia seakan tau mau pergi dari tahanan itu. Hendra memalingkan wajahnya karena tak kuat melihat Dinda yang terus menangis, sekuat apapun Hendra menahan kesedihannya, air mata tetap jatuh membasahi pipinya.
''ayo nak, kita pulang ya'' ajak Bu Laras kepada Dinda, sebagai ibu hatinya teriris melihat anaknya yang terus menangis
Bu Laras memapah tubuh Dinda yang terlihat lemas. Dinda terus memperhatikan Hendra yang memalingkan wajahnya seakan tidak mau memandang wajahnya.
" tega kamu mas" batin dinda merintih
Bu Laras akhirnya berhasil membawa Dinda keluar dari kantor polisi meskipun tubuhnya terasa berat seakan tidak mau melangkahkan kakinya.
"istighfar nak, kamu harus kuat nak, kamu harus buktikan kepada perempuan murahan itu kalo kamu kuat, kamu bisa melewati ini semua" ujar Bu Laras mencoba menguatkan Dinda
Dinda terdiam, melamun seperti memikirkan sesuatu, tangannya yang mulus nan putih itu menghapus air matanya yang sejak tadi jatuh tak tertahankan.
Dinda mencoba menguatkan hatinya, pergi dari kantor polisi itu melanjukan mobilnya menuju rumah.
...bersambung...
🌾🌾jangan lupa like, comen n votenya ya..🙏
....itu pembantunya hendra...suruh peka dikit lah.....jgn oon2 amat....
yg ambilnperhiasan Dinda blum tau emg rumah org kaya gk da cctv