NovelToon NovelToon
Bucinnya Si Pria Dingin

Bucinnya Si Pria Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adrina

Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.

Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenyataan Pahit.

Halloo semuaa. Semoga kalian suka ya membaca novel ku. Ini novel aku yang pertama, mungkin kalian merasa alurnya lambat, aku sengaja buat seperti itu agar lebih jelas di awal. Dan yang pasti bakal ada konflik yang menguras air mata dan juga tawa. Jangan lupa pencet like dan ❤ ya semuanya. Biar aku makin semangat nulisnya.

Terima kasih.

Rania bingung harus menjawab apa. Karena dia sama sekali tidak tahu kalau bundanya sedang sakit. Tiba tiba dia teringat dengan banyak nya obat yang berserakan di kamar bunda.

"Pas dugaan saya. Saya sudah duga pasti bu Maya tidak teratur minum obatnya atau mungkin malah tidak di minum sama sekali. Berarti kamu juga tidak tahu kalau ibu kamu sedang sakit keras sekarang?" dokter mencoba memastikan kalau Rania memang tidak tahu tentang penyakit ibunya melihat dari reaksi terkejutnya Rania.

Bagaikan dihantam bongkahan batu yang besar, Rania merasakan sesak di dadanya. Rania menggeleng menjawab pertanyaan dokter sambil menghapus air matanya.

"Saya gak tau dok. Sama sekali saya gak tau kalo bunda lagi sakit hiks. Memang beberapa hari ini saya melihat wajah bunda sangat pucat. Awalnya saya gak curiga, saya pikir mungkin karena bunda kurang istirahat..hiks hiks. Sampai tadi pagi saya liat mukanya malah semakin pucat dari kemarin hiks hiks. Tapi pas saya tanya bunda cuma bilang kalo dia hiks..hiks kalo dia cuma masuk angin biasa dok" jelas Rania sambil menangis sesenggukan.

"Haah. Padahal saya sudah menyuruh ibu Maya untuk berterus terang tentang penyakitnya. Tapi sepertinya beliau  memang tidak mau memberitahukan kepada kamu. Mungkin dia tidak mau membuat kamu kepikiran." jawab dokter. "Tapi demi kebaikan ibu Maya dengan terpaksa saya harus memberitahu kepada kamu tentang penyakitnya." dokter memasang wajah yang sangat serius saat mengucapkan itu.

Sebelum menjelaskan tentang penyakit ibu Maya, dokter menghela nafas pelan dan mengambil beberapa berkas yang berisi tentang penjelasan penyakit bu Maya. Melihat wajah dokter yang berubah serius, perasaan Rania semakin tidak menentu.

"Ibu Maya saat ini sedang menderita penyakit leukemia. Dan sekarang sudah stadium akhir. Pada awal pemeriksaan sebenarnya masih stadium 2 dan peluang untuk sembuh masih sangat besar. Tapi seiring berjalannya waktu, penyakitnya pasti akan semakin bertambah parah kalau tidak segera ditangani. Sedangkan ibu Maya sangat jarang sekali datang ke rumah sakit untuk kontrol dan ditambah lagi obatnya tidak teratur diminum. Padahal obat itu bisa menghambat pertumbuhan sel kanker itu sendiri. Dan saya juga sudah menyarankan untuk kemo tapi beliau menolak dengan alasan takut kalau dampak kemo yang pasti akan terlihat jelas pada tubuhnya" jelas dokter panjang lebar dengan perlahan sambil sesekali memperhatikan perubahan pada wajah Rania saat mendengar penjelasannya.

Rania sangat syok mendengar penjelasan yang dikatakan oleh dokter. Ingin rasanya dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan dokter. Rania hanya bisa menangis. Menangisi ketidak tahuannya akan penyakit sang bunda. Seharusnya kemarin dia memaksa sang bunda ke rumah sakit untuk diperiksa.

"Sampai kapan dok?" dengan suara lirih Rania menanyakan pada dokter sampai kapan ibu nya masih bisa bertahan. Sementara bulir air mata terus membasahi wajahnya. Sesekali ia menyeka air matanya.

"Semua itu tergantung kemauan ibu Maya untuk sembuh. Selama ini saya sudah memberikan resep obat untuk menghambat pertumbuhan kankernya. Dan juga obat untuk mengurangi rasa sakit bila tiba tiba rasa sakit menyerang ibu Maya. Saya tidak bisa langsung memberikan kepastian sampai kapan beliau bisa bertahan, karena semua itu kehendak Allah. Tapi kalo menurut apa yang saya lihat, kemungkinan sekitar 2 bulan lagi atau malah bisa kurang dari itu." dengan sangat berat hati dokter harus mengatakan hal itu pada Rania.

Dokter berharap dengan tahunya Rania mengenai penyakit ibu nya dan berapa lama lagi waktu yang dimiliki oleh ibunya, Rania bisa memberikan semangat pada sang bunda untuk sembuh. Walaupun hanya kecil kemungkinannya.

Rania seolah merasakan dadanya seperti ditikam dengan pisau. Sakit sekali. Ingin sekali rasanya dia menggantikan posisi sang bunda.

Setelah mendengarkan penjelasan dari dokter, Rania memutuskan untuk keluar dan segera menemui bundanya. Ternyata Bunda sudah dipindahkan ke ruangan sendiri.

Sebelum masuk ke dalam, Rania menarik nafas dalam dan mencoba untuk tersenyum di depan sang bunda nanti. Dia menghapus jejak air mata di wajahnya. Rania tidak mau bunda melihatnya dalam keadaan seperti itu. Karena itu akan membuat bundanya sedih dan merasa bersalah.

Ceklek

Suara pintu terbuka. Hardin yang berada di dalam langsung menoleh untuk melihat siapa yang masuk. Aku mencoba tersenyum dan menyapa Hardin.

"Bunda aku belum sadar ya kak?" tanya ku sambil melihat ke arah sang bunda.

"Belum, kata perawat mungkin sebentar lagi bunda kamu akan sadar. Apa tadi kata dokter?" Hardin bertanya dengan suara yang sangat lembut. Sama lembutnya seperti dia berbicara pada mama nya.

"Dokter bilang bunda cuma kecapekan aja dan terlalu banyak pikiran. Mungkin karena bunda masih belum bisa nerima kalau papa sudah meninggal." Rania menyembunyikan tentang penyakit bunda yang tadi diberi tahu oleh dokter.

"Jadi papa kamu baru meninggal?" Hardin kaget mendengarnya. Karena dia tidak tahu kalau Rania ternyata sudah tidak punya papa sama seperti dirinya.

"Iya kak. Papa meninggal karena kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Tepatnya pas di hari ulang tahun aku." ucap Rania dengan tersenyum miris mengingat kembali kejadian menyakitkan itu.

"Kamu yang sabar ya. Kamu juga harus kuat untuk bunda kamu. Pasti saat ini dia sedang terpuruk. Hanya kamu yang dia punya, dan hanya kamu yang bisa menenangkannya." Hardin mencoba memberi semangat pada Rania. Karena dia juga mengalami hal yang sama seperti Rania.

Iya kak...kakak benar. Cuma aku yang bisa menyemangati bunda untuk sembuh. Karena cuma bunda yang aku punya sekarang. Tapi gimana aku bisa menyemangati bunda, sedangkan aku gak tau kalo bunda sedang sakit parah.

Rania berucap di dalam hatinya. Matanya kembali berkaca kaca mengingat itu semua. Kenapa bunda sampai menyembunyikan tentang penyakitnya dari diri nya.

Air matanya kembali menggenang. Ditariknya nafas lebih dalam untuk mengurangi rasa sedihnya.

"Iyaa kak. Makasi ya kakak udah mau bantu aku buat bawa bunda ke rumah sakit." Rania tersenyum mengatakannya sambil menatap ke arah Hardin meskipun air mata sudah penuh di pelupuk matanya.

"Iya.. sama sama." Hardin mengalihkan pandangannya karena tidak sanggup melihat keadaan Rania yang seperti itu.

"Oh ya, untuk masalah kerja sama kita, kamu tenang aja. Kamu gak usah pikirin dulu masalah itu. Kamu fokus aja dulu jaga bunda sampai benar benar pulih kondisinya, itu yang terpenting." sambung Hardin.

Terima kasih ya kawan kawan sudah mau mampir dan membaca novel ku. Jangan lupa di favorit kan ya. Dan jangan lupa tinggalkan pesan yang positif ya.

Terima kasih.

1
Bintang Timur
secara suaminya itu bnyk duit ceo,istrinya ko ngadon kue Mulu asa ga seimbang kasih bnyk krywan dong..Rani tinggal mantau
Blemood Jobol
ga ad lnjutnnya lagi niih
Blemood Jobol
kasih visualnya dunk
Ranny
yg benar yg mana ya...papanya meninggal di usianya yg ke 17 atau 18 soalnya kecelakaan saat ultah ke 17 dan langsung meninggal di tempat tapi kok kehilangan nya baru 1 thn kemudian saat usianya 18 thn 🙄
Teresya Bundax RachelElin
kehilangan papanya di umur 18 tahun, papanya mengalami kecelakaan saat akan memberikan kejutan ulang tahun nya yg ke 17 tahun,,,, sempat saya berpikir mungkin papanya bertahan 1 tahun baru meninggal, tapi ternyata masih ada lanjutannya "papanya meninggal di tempat",...
Eka
ayooo lanjut thor makin seru thorr
Putri Bungsu
lanjut kk
Meywar
Hadir Thor, tetap semangat ✊️
Feeza_MCI
jodoh Miskah Asisten Harry, sama-sama somplak tuh mereka berdua 🤣🤣
Feeza_MCI
makanya Hardin jangan mengedepankan emosi,
Feeza_MCI
jangan-jangan Hardin yang nabrak papanya Rania??
ANtHo BAna
hahahaha
ANtHo BAna
hhhhhh mati u andin
ANtHo BAna
semangat kk
ANtHo BAna
lnjut..
ANtHo BAna
suka ceritanya
ANtHo BAna
yg semangat ka hardi
Cawica
mampir nih Thor...jika berkenan mampir juga ya ke novelku..."kisah rumit Tamara sang wanita malam..."..
Manggu Manggu
👍👍👍
Manggu Manggu
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!