NovelToon NovelToon
Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Tamat
Popularitas:147k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ratih mirna sari

Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.

Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.

Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.

Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terpesona

Sheerin memperhatikan setiap sudut tempat yang mereka sebut dengan basecamp itu, sebuah bangunan yang terbengkalai dalam pengerjaannya. Sepertinya si pemilik bangunan ini tadinya akan membangun sebuah konveksi atau aula, atau gedung serbaguna? Entahlah, Sheerin sendiripun merasa bingung, dan entah dari mana dia bisa menyimpulkan demikian, atau mungkin karena bangunan yang luasnya sekitar 30 meter X 20 meter itu dibangun tanpa memiliki sekat, hanya ruangan yang membentang luas. Dan sepertinya bangunan ini sudah lama dibiarkan oleh pemiliknya, terlihat dari tembok yang mulai mengelupas, langit-langit yang bolong dan pintunya pun sudah rusak sehingga siapapun bisa bebas keluar masuk kedalam bangunan ini.

Tapi geng amburadul ini sudah menyatakan kepemilikan akan bangunan itu, sehingga warga sekitar tidak berani mengusik lagi tempat itu, karena ada manfaatnya juga bagi warga. Sebelum dijadikan basecamp oleh geng amburadul, tempat itu selalu terlihat seram bahkan di siang hari sekalipun. Sarang laba-laba bertebaran dimana-mana, rumput liar tumbuh merambat dihalaman bangunan itu.

Tapi setelah dikuasai oleh geng amburadul, tempat itu selalu terdengar bising dan berisik, apalagi kalau mereka sudah memainkan alat tempur mereka (alat music), dengan penuh kepercayaan diri Revi sebagai ketua bernyanyi dengan suara pas-pasanya, tanpa memikirkan berapa banyak pasang telinga yang merasa tersakiti oleh kelakuan bar-bar mereka.

Sheerin merasa bingung harus bersikap seperti apa dihadapan sahabat-sahabatnya Nindi, pasalnya mereka bicara dengan bahasa cablak dan blak-blakkan, intonasinya kasar tapi terdengar lucu ditelinga Sheerin. Sheerin tidak bisa menyamai mereka, karakter mereka yang bak preman sangat bertolak belakang dengan dirinya yang lemah lembut, sehingga Sheerin hanya banyak diam dan menyimak apa yang mereka bicarakan, sesekali dia mengulum senyum saat Tari mendapat jitakkan dari Revi akibat kelemotan nya.

"Ehh Nindi, Vena, harusnya kalian banyak belajar, sebentar lagi kan ujian nasional dimulai. Terutama loe Nin, gue mau liat loe lulus taun ini, jangan malu-maluin gue sebagai bos loe." Ucap Revi mengalihkan pembicaraan.

Sheerin terlonjak kaget, dia baru saja mengetahui fakta yang sebenarnya tentang Nindi, Nindi sendiri tidak mengatakan tentang hal ini, atau mungkin perempuan yang mirip dengannya itu merasa Sheerin tidak perlu tau tentang aib memalukannya.

'Jadi tahun lalu dia nggak lulus, begitu?' Ingin sekali Sheerin bertanya seperti itu, tapi itu tidak mungkin dia lakukan atau mereka akan curiga nantinya.

"Bukannya tadi loe yang nyuruh kita kesini kan ya?" Balas Vena.

"Iya, karena gue gabut dirumah. Mak gue ngomel terus, katanya gue anak nggak berguna lah, anak cuma numpang tidur sama makan doang lah." Ucap Revi menggebu-gebu, membayangkan ekspresi ibunya ketika memarahi dirinya sambil bertolak pinggang dengan mata yang hampir keluar dari tempat asalnya.

"Ya iyalah, memang sebagai anak yang udah gede harusnya loe bisa balas jasa ibu loe. Harusnya loe itu cari kerja yang bener, cari uang yang banyak. Gue jamin deh ibu loe bakalan sayang sama loe. Dan gue jamin loe bakal jadi anak kebanggaannya, haha." Roni, akhirnya buka mulut, sebenarnya dia juga gatal melihat sahabat seperjuangannya itu hanya nganggur-nganggur cantik saja, sedangkan kebutuhan hidup semakin banyak.

"Iya, udah hampir setahun kita nganggur setelah lulus sekolah, tapi nggak dapat-dapat kerjaan." Tari menghembuskan nafas berat.

"Memangnya udah coba nyari kerjaan dimana aja loe?" Sheerin bertanya.

"Nggak ada, ijazah gue aja belum ditebus." Ucap Tari dengan polosnya, tanpa merasa bersalah dengan ucapannya.

GUBRAG !

Keempat orang lainnya dengan kompak menepuk jidat masing-masing. Kemudian Revi yang memang sudah sangat gemas dengan kelakuan Tari sontak melayangkan kepalan tangannya dikepala Tari.

"Aww." Tari merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya yang dijitak Revi.

Roni dengan spontan ikut memegang kepala Tari.

"Ehh, sakit ya? Loe kasar banget sih Rev!" Ucap Roni tanpa menoleh kearah Revi, matanya hanya sibuk mengelus kepala Tari.

Sedangkan Tari terlihat kaget dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar lebih cepat saat melihat Roni dari jarak yang sangat dekat.

Revi dan Vena tidak menduga dengan gerakan reflek yang ditunjukkan Roni, mereka saling melirik untuk memastikan apa yang di lihatnya itu benar atau tidak. Bertanya-tanya didalam hati, tapi kedunya tidak memiliki jawaban dari pertanyaan mereka itu.

Sedangkan Sheerin yang tidak tau apa-apa mengira kalau memang ada sesuatu diantara mereka.

"Ehem." Deheman Sheerin kembali mencairkan suasana yang menegang.

"Ehh, sory." Roni terlihat gelagapan, dengan malu-malu dia mencari topik pembahasan yang lain agar sahabat-sahabatnya tidak mengintrogasi.

Akhirnya mereka kembali hanyut kedalam obrolan-obrolan receh malam itu. Sheerin mencoba masuk kedalam pembicaraan mereka, meskipun sesekali geng amburadul merasa aneh dengan kata-kata Sheerin yang jauh lebih bijak dan dewasa, berbanding terbalik dengan Nindi yang mereka kenal.

***

Sementara itu, jauh dari tempat geng amburadul berada, Nindi tersenyum-senyum sendiri membayangkan dirinya nanti akan seperti apa ketika berhadapan dengan laki-laki itu, dia yakin jika laki-laki itu akan lari terbirit-birit dan membatalkan acara pernikahan ini.

Mama Anya yang sedang fokus menyetir sedikit menoleh kerah Nindi dengan dahi yang mengerut. Baru kali ini dia melihat Sheerin seceria itu, biasanya mimik wajah anak itu selalu menunjukkan kesedihan yang minta dikasihani.

"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" Pertanyaan mama Anya menyadarkan Nindi dari lamunan konyolnya.

"Nggak apa-apa ma, hehe." Begitu yang diajarkan Sheerin, Nindi harus hemat bicara ketika berhadapan dengan mama Anya, itu akan mempermudah pekerjaannya.

Mama Anya memutar bola matanya dengan sebal melihat senyum Nindi yang dipaksakan. Mobil berbelok, lalu berhenti setelah mama Anya memarkirkannya dengan benar.

"Sudah sampai, ayo turun!" Ucap mama Anya, dia membuka sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.

Nindi jadi merasa gugup mendekati detik-detik pertunjukannya, tapi bukan Nindi namanya jika tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dia membuang jauh-jauh rasa gugupnya, yang menjadi motivasinya saat ini adalah uang. Demi uang dia pasti bisa melakukan tugas remeh dari Sheerin. Nindi meremehkan pekerjaannya, meskipun dia belum tentu akan berhasil melakukan tugas itu, dia tidak tau siapa yang sedang berhadapan dengan dirinya saat ini, Mama Anya, orang yang bisa melakukan apa saja demi memuluskan rencananya. Bahkan nyawa seseorangpun bisa dia hilangkan.

Kedua perempuan berbeda generasi itu keluar dari dalam mobil, Nindi berjalan mengekor dibelakang mama Anya.

Belum kaki mereka menginjak teras restoran, tiba-tiba...

"Emm, ma tiba-tiba kok perut aku mules, ya?" Nindi berakting seolah-olah perutnya sedang sakit, dia meremas perut dengan kedua tangannya kuat-kuat, agar lebih terlihat natural begitu aktingnya, pikir Nindi. Wajahnya dibuat semelas mungkin agar mama Anya percaya.

Sontak mama Anya menoleh kebelakang, kearah Nindi.

"Mereka sudah menunggu didalam." Ucap mama Anya sedikit geram.

"Tapi perut aku sakit ma, gimana kalau aku pup dicelana? Mama juga nanti yang akan malu." Ucap Nindi meyakinkan.

Mama Anya melirik ponselnya, membaca pesan dari Luis kalau dia sudah tiba dan menunggunya dimeja nomor 13. Mama Anya menimang-nimang, takut kalau Sheerin akan kabur. Tapi tidak, Sheerin tidak akan kabur, kalaupun dia berniat untuk kabur, pasti dia akan kabur sedari kemarin-kemarin.

"Aduuuh duh, tuh kan ma, dia mau keluar." Nindi semakin kalang kabut. Mama Anya mulai kahawatir melihat ekspresi wajah Nindi.

"Ya sudah, jangan lama-lama. Mama tunggu di meja nomor 13, awas kalau sampai kabur." Ucap mama Anya penuh peringatan.

Tanpa bicara sepatah kata lagi, Nindi langsung ngacir mencari toilet umum, sengaja dia mencari diluar restoran. Sedangkan mama Anya berjalan memasuki restoran itu sendiri tanpa mencum bau-bau kebusukan.

***

"Hai, Luis, apa kabar?"

Luis berdiri dari duduknya menyambut kedatangan mama Anya, kemudian mereka bercipika-cipiki tanpa merasa canggung dihadapan Bima.

"Baik Anya, dimana anak itu?" Tanya Luis, kemudian Luis kembali duduk, mama Anya mengikutinya, menarik sebuah kursi dan duduk di atasnya.

"Dia sedang kekamar kecil, sebenar lagi juga datang." Jawab mama Anya.

Bima memperhatikan wanita paruh baya yang baru saja datang dan menyapa ayahnya, tapi sama sekali tidak menyapa dirinya. Tapi, kenapa Bima merasa tidak asing dengan sosok itu, Bima pernah melihatnya, tapi dimana? Pemikiran itu hanya menari-nari di kepalanya, tanpa berniat untuk di pertanyakan kepada yang bersangkutan.

Bima terus memandangi mama Anya yang bercakap-cakap dengan ayahnya, semakin dilihat-lihat, semakin Bima tidak bisa mengingat dimana dia pernah bertemu dengan mama Anya. Bima menyerah, dia menyandarkan punggungnya disandaran kursi sambil menarik nafas dalam-dalam.

"Hai semuaa." Suara yang dibuat semanja mungkin itu menyapa Luis, Bima dan mama Anya. Ketiga manusia yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing itu sontak menoleh kearah sumber suara.

Astaga !

Terlihat Nindi yang sudah merubah penampilannya habis-habisan sedang melambai-lambaikan tangannya kearah mereka. Mata mama Anya membuat, sedangkan Bima dan Luis menatapnya dengan dahi yang mengerut.

Baju yang Nindi kenakan memang masih sama dengan sebelumnya dia gunakan, hanya saja dia mengepang rambutnya menjadi dua, memakai kacamata yang melorot sampai kehidung, dipipi kirinya sengaja dia pasangi tompel, dan yang lebih parahnya lagi, dia memakai gigi palsu sehingga giginya terlihat tonggos. Membuat siapapun yang melihatnya merasa ilfeel, apalagi dengan sikapnya yang dibuat semanja mungkin.

"Siapa kamu?" Mama Anya berdiri dari duduknya dan menatap Nindi dengan tatapan pemburu.

Bima menatap Nindi, entah apa yang dia pikirkan tentang Sheerin, yang jelas, mau bagaimanapun wujud Sheerin, mau tidak mau, siap tidak siap, dia harus tetap menikahi perempuan itu, karena apa yang sudah diperintahkan oleh sang ayah adalah suatu kewajiban untuk dirinya.

Hanya saja, Bima merasa ditipu oleh sang ayah. Waktu itu ayahnya bilang kalau perempuan itu tumbuh menjadi perempuan cantik dan lemah lembut. Tapi kenyataannya sangat berbanding terbalik.

'Ayah benar-benar telah membodohiku.'

"Aku Sheerin, anak mama. Oh ya, ini pasti calon suami aku ya? Waah, ternyataaa..."

Deg!

Nindi beralih menatap laki-laki muda yang duduk dengan gaya coolnya, senyum menggoda yang ditunjukkannya tadi seketika memudar saat melihat sosok itu. Mulutnya seolah dibuat bungkam oleh sikap diamnya laki-laki itu.

Laki-laki itu terlalu tampan, bahkan Nindi seperti tersihir oleh ketampanannya. Segala sikap untuk membuat laki-laki itu membatalkan pernikahan mereka seketika berlarian dari kepala Nindi, pikirannya tiba-tiba blank, hanya menyisakan sosok laki-laki cool itu saja dalam otaknya.

Nindi menelan salivanya dengan susah payah, tanpa sadar hatinya sudah jatuh terhadap sosok cool itu, Bima bagaikan pangeran yang diimpi-impikan oleh Nindi selama ini, dan sekarang Nindi masih tidak percaya kalau pangerannya benar-benar nyata ada di hadapannya.

Lalu bagaimana dengan Bima? Apa laki-laki itu sudah terlanjur ilfeel dengan penampilan Nindi dan akan membatalkan pernikahannya? Apa tidak ada kesempatan untuk meluruskan kesalah pahaman ini? Nindi ingin meralat apa yang sudah terjadi, dia ingin meninggalkan kesan pertama yang bagus dimata Bima. Ingin rasanya Nindi berterik, kalau dirinya tidak sejelek itu.

Nindi masih menganga, diam mematung sambil memperhatikan Bima dengan mata berbinar-binar. Yang ditatap malah tidak memberikan reaksi apa-apa, Bima selalu bersikap seperti biasanya, hanya diam tanpa bersuara. Tanpa ingin tau kalau jantung anak orang hampir saja melompat dari tempat asalnya karena terpesona akan dirinya.

"Hey! Apa yang kamu pakai ini?" Mama Anya berjalan memutari meja itu dan mendekati Nindi, dia menepuk pundak Nindi cukup kencang sehingga Nindi terlonjak kaget dari lamunan tak berakhlaknya itu.

"Ahh." Nindi memegangi bahunya.

"Apa yang kamu lakukan, apa ini? Lepas!" Mama Anya terlihat murka, dia merangkum mulut Nindi agar gigi tonggosnya terlepas.

"Aww, sakit ma, aku bisa lepasin sendiri." Nindi akhirnya membuka gigi palsu itu.

"Ini juga apa?" Mama Anya menarik paksa karet yang mengikat rambut Nindi kasar.

"Aww, sakit ma." Nindi memegangi kulit kepalanya yang terasa nyeri.

"Ini?" Mama Anya melepas lakban hitam yang menempel dipipi Nindi, lagi-lagi Nindi merasakan sakit karena lakban itu mengangkat bulu-bulu halus di pipinya.

"APA YANG KAMU LAKUKAN? KAMU SENGAJA, YA MAU MEMBUAT MAMA MALU?"

_________________

Jejaknya ya guys, berupa like, komen, vote atau hadiahnya 😄

1
🌷💚SITI.R💚🌷
sprtiy di bunuh luis sm anya ini
🌷💚SITI.R💚🌷
lanjuuut
🌷💚SITI.R💚🌷
lama² mereka jatuh cinta de..skrng ribut trs tr sdh berpisah br rindu de
🌷💚SITI.R💚🌷
urakan tp kamu suka kan....🤣🤣
🌷💚SITI.R💚🌷
nyimak dl..lanjuut
Asrinda 24
Aku mampir
Imelda Nurrahmah
next
TiiehAtieh: udah habis kak, lanjut baca THE SECRET yuk, masih on going, banyak misterinya disana 🙏
total 1 replies
Imelda Nurrahmah
kejrm banget si bima
Imelda Nurrahmah
keren
anthy haryanti
kasihan banget sih loe levin,,,hampir nggak jadi nikah,,,hehehehe
anthy haryanti
wahhh nindi udah hamidun nih
abimasta
akhirnya nindi punya anak,happy ending selamat ya thor sudah memberikan bacaan yg menarik
anthy haryanti
rumah kosong itu bener2 bakal jadi angker,,,
TiiehAtieh: baca juga ekstra partnya ya kak 😊
total 1 replies
anthy haryanti
waduhhh siapa lagi tuh yg kena
anthy haryanti
siapa tuh yg kena
anthy haryanti
waduhhhh
anthy haryanti
kok aku yg deg degan yah
anthy haryanti
makin seru nihhh
abimasta
aku sudah selesai bacanya..makasih ya thor meskipun saya telat mampir disini
abimasta: menurut ku ceritanya bagus,cm kasian nindi blm punya momongan
total 3 replies
anthy haryanti
wahh kebiasaan si nindi,,kasihankan si tengil,,,hehehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!