[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [15]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Apa yang dikatakan orang tentang benci jadi cinta itu adalah nyata, dan aku adalah bukti dari kata itu....
...-Iris Anastashia-...
Hari sudah semakin larut, namun Zhein masih belum kembali ke ruangan Haiden setelah kejadian tadi pegi yang menimpa Iris.
Saat ini Iris sedang berada di ruangan Haiden bersama dengan Sherin, Celine, Kenneth dan kedua orang tua Haiden yang terlihat bahagia setelah melihat Haiden membuka matanya. Sedangkan Iris masih saja menghawatirkan keadaan Zhein.
Zhein lo dimana sih? tanya Iris dalam hati.
Iris tidak memperdulikan Sherin yang terlihat begitu bahagia saat kedua orang tua Haiden memberinya restu untuk berpacaran bahkan memberi restu untuk berhubungan lebih serius dari pacaran.
"Iris." panggil Haiden.
"Eh, iya kenapa?" tanya Iris yang menutupi rasa khawatirnya.
"Lo gak apa-apa kan?" tanya Haiden.
Gue gak kenapa-kenapa kalau Zhein datang kesini. ucap Iris dalam hati.
"Gue gak apa-apa." jawab Iris sambil tersenyum manis.
"Yakin gak apa-apa? Dari tadi tante liat kamu kayak yang khawatir." tanya Rushella mamanya Haiden.
"Serius Iris gak apa-apa kok tan." jawab Iris sambil tersenyum.
"Iris boleh permisi keluar sebentar?" tanya Iris.
"Mau kemana? Ini udah malem." tanya Haiden.
Semua orang yang berada di ruangan tersebut menatap ke arah Haiden yang begitu mengkhawatirkan Iris. Sedangkan Haiden yang merasakan tatapan semua orang itu langsung mengalihkan pembicaraannya.
"Lo itu cewek, ini udah malem." ucap Haiden.
"Cuman mau beli cemilan aja kedepan, gak bakalan sampai pulang sendirian." ujar Iris.
"Oh, ya udah." ucap Haiden terlihat tidak peduli.
Iris berlalu pergi dari ruangan Haiden dan melangkahkan kakinya untuk mencari Zhein. Siapa tau dia menemukan Zhein di sekitar rumah sakit.
Iris sudah menelpon Zhein beberapa kali namun Zhein tidak mengangkat telponnya.
Zhein, lo dimana sih? tanya Iris khawatir sambil melihat sekeliling.
Apa gara-gara gue ngomong itu ke Zhein? tanya Iris dalam hati.
Dia langsung menghela nafasnya pasrah, jika itu penyebabnya makan dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Iris juga sudah siap untuk kehilangan Zhein.
Iris melangkahkan kakinya ke taman rumah sakit dan mendudukkan tubuhnya di kursi taman di temani malam yang gelap gulita, tanpa bulan dan bintang, bagaikan kekosongan hatinya saat ini.
"Gue udah siap buat kehilangan lo Zhein." ucap Iris sambil menatap langit yang gelap gulita.
"Semoga aja Tuhan beri gue kekuatan lagi buat kembali mengikhlaskan." sambung Iris.
"Ternyata bener ya kata orang-orang dari benci jadi cinta itu emang nyata dan kata-kata Celine soal semua itu benar adanya." ujar Iris.
"Dulu gue emang suka sama Haiden tapi semenjak Zhein hadir, gue jadi gak mau kehilangan Zhein. Mungkin Tuhan berkata lain, kita emang tidak di takdirkan untuk bersama." ucap Iris sambil meneteskan air matanya dan menatap ke arah langit yang tidak bertuan.
"Lo gak perlu mengikhlaskan lagi, lo gak perlu susah-susah buat cari seorang Zhein, lo juga gak perlu nangis karena seorang Zhein." ucap seseorang yang berada di belakang Iris.
Iris yang mendengar ada orang di belakangnya itu langsung menghapus air matanya sambil melihat ke belakang tubuhnya.
Zhein. ucap Iris dalam hati sambil menatap ke arah wajah Zhein yang terlihat sedikit memar.
"Lo gak apa-apa?" tanya Iris khawatir sambil berdiri dari duduknya dan memegang wajah Zhein yang memar.
"Lo juga gak perlu se khawatir ini karena seorang Zhein." ucap Zhein sambil menatap mata Iris yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Lo bisa gak jangan ngomong dulu?" tanya Iris kesal. Zhein langsung menutup mulutnya rapat-rapat tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Iris langsung menggenggam tangan Zhein dan membawanya ke sebuah warung kecil di sekitar rumah sakit.
"Permisi bu, ada air panasnya?" tanya Iris saat sudah sampai di warung kecil itu, mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia. Di ikuti dengan Zhein di sebelahnya.
"Ada neng. Buat apa?" tanya penjual warung tersebut.
"Buat ngompres bu." jawab Iris.
"Tunggu sebentar ya neng." ucap penjaga warung tersebut.
Sedangkan Zhein hanya menatap Iris yang terlihat mengkhawatirkan nya, padahal bagi Zhein luka yang ada di wajahnya tidak se sakit yang Iris pikirkan. Dia sudah terbiasa dengan luka-luka ini.
"Ini neng." ucap penjual warung tersebut sambil memberikan air panas dan kain untuk mengompres.
"Makasih bu." ujar Iris sambil tersenyum, sedangkan penjual warung tersebut menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil berlalu pergi masuk kedalam warung.
Iris mengompres wajah Zhein yang terlihat memar dengan telaten dan hati-hati. Sedangkan Zhein hanya menatap cantiknya wajah Iris, rambutnya berterbangan bebas saat di terpa angin malam.
Zhein yang melihat Iris terganggu dengan rambutnya itu langsung menyelipkan rambut Iris kebelakang telinganya. Iris yang mendapat perlakuan seperti itu langsung terdiam sambil menatap mata Zhein yang terlihat bersinar.
Gue sadar, rasa ini bukan sebagai rasa suka tapi sudah lebih dalam menjadi rasa tidak ingin kehilangan. ucap Iris dalam hati.
"Aww." ringgis Zhein pura-pura.
"Sakit ya? Mana yang sakit?" tanya Iris sambil mengelus lembut luka memar yang ada di wajah Zhein.
"Ini." jawab Zhein sambil memegang tangan Iris dan mengarahkan tangan Iris ke arah jantungnya yang berdetak tak beraturan.
Iris merasakan jantung Zhein yang sama dengan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat dari biasanya.
"Udah malem, gue harus pulang." ucap Iris sambil menarik tangannya dari genggaman Zhein.
"Lain kali, gak perlu cari gue kalau udah malem, gue gak bakalan kenapa-kenapa, gue juga bakalan selalu pulang ke rumah ternyaman gue." ujar Zhein.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗