Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Janji yang Sebenarnya
Malam semakin larut, kediaman Adhyaksa kembali sunyi dan tenang, jauh dari keramaian dan sorotan kamera yang menyelimuti mereka seharian tadi. Argan duduk di teras lantai atas yang menghadap ke taman, diiringi cahaya remang lampu taman dan suara jangkrik yang terdengar samar. Ia menatap ke arah langit yang bertabur bintang, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada sosok yang baru saja mendekat dan berdiri di samping kursi rodanya.
Aruna meletakkan selimut tipis perlahan di bahu Argan, lalu duduk di kursi rotan di sebelahnya. “Angin malam mulai terasa dingin. Seharian sibuk, tubuh Anda pasti lelah.”
Argan menoleh, menatapnya lekat di bawah cahaya remang-remang. “Lelah memang. Tapi hatiku terasa begitu ringan, Aruna. Seperti beban berat yang kubawa bertahun-tahun perlahan terangkat. Semua karena kau.”
“Kami melakukannya bersama,” jawab Aruna pelan, tersenyum lembut. “Anda yang berani berdiri dan berbicara jujur di hadapan mereka. Saya hanya ada di samping Anda.”
“Bukan hanya di samping,” potong Argan lembut, lalu meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat di antara kedua tangannya yang sedikit dingin. “Kau datang saat pintu hatiku sudah tertutup rapat. Kau tidak memaksa masuk, kau hanya duduk di luar dan menunggu sampai aku sendiri yang membukanya. Kau mengajarkan aku bahwa dicintai bukan berarti harus sempurna, dan bahwa berdiri tegak bukan berarti harus sendirian.”
Aruna menunduk, pipinya merona samar. Detak jantungnya berpacu perlahan namun penuh kehangatan yang merambat ke seluruh tubuhnya. “Saya hanya melakukan apa yang saya yakini benar, Argan. Dan hati saya memilih Anda, tanpa perlu disuruh atau dipaksa.”
Argan menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dirinya. Tatapannya begitu tulus, dalam, dan penuh keteguhan yang belum pernah ditunjukkannya kepada siapa pun sebelumnya.
“Dulu di hari pernikahan kita,” suaranya terdengar rendah namun begitu jelas, “janji yang terucap hanyalah sebuah kewajiban, sebuah kepura-puraan demi menyelamatkan muka kedua keluarga. Saat itu aku berpikir ini semua hanya persinggahan sementara yang kelalu akan berakhir menyakitkan. Tapi malam ini... di sini, hanya ada kita berdua...”
Ia berhenti sejenak, menelan ludah, lalu melanjutkan dengan mata yang berkaca namun berbinar penuh keyakinan:
“Aku ingin mengucapkan janji yang sebenarnya. Bukan di hadapan penghulu atau ratusan tamu. Tapi di hadapan langit dan bintang ini, dan di hadapan hatiku sendiri.”
Argan menatap lurus ke dalam manik mata Aruna, seolah ingin menembus sampai ke dasar jiwanya.
“Aku berjanji padamu, Aruna. Bukan untuk selalu bisa berjalan di sampingmu—karena aku belum tahu apakah kaki ini akan pulih sepenuhnya. Tapi aku berjanji akan selalu berusaha menjadi pria yang pantas berdiri di sampingmu. Aku akan mendengarkanmu, menghargaimu, dan tidak pernah membuatmu merasa tidak berharga seperti yang pernah dilakukan orang lain padaku. Aku akan menopangmu saat kau lelah, dan kau boleh bersandar padaku sekuat tenagamu saat dunia terasa berat.”
Ia meremas sedikit tangan Aruna, seolah memastikan gadis itu mengerti betapa seriusnya setiap kata yang diucapkannya.
“Dan yang paling penting... aku berjanji tidak akan pernah melepaskanmu. Karena kau bukan lagi sekadar pengganti atau perjanjian. Kau adalah rumah tempat hatiku pulang. Kau adalah alasan aku ingin bangkit setiap pagi.”
Air mata bahagia menetes perlahan di pipi Aruna, namun ia tersenyum begitu lebar dan tulus hingga membuat wajahnya bersinar. Ia mendekatkan wajahnya sedikit, lalu meletakkan tangannya di atas punggung tangan Argan.
“Kalau begitu saya juga ingin berjanji,” suaranya bergetar namun mantap. “Saya berjanji akan tetap di sini, apa pun yang terjadi. Saat Anda sedih, saat Anda lelah, bahkan saat Anda ragu pada diri sendiri... saya akan selalu mengingatkan siapa Anda sebenarnya. Saya tidak akan pergi saat badai datang, dan saya tidak akan bosan menunggu sampai Anda siap melangkah sejauh apa pun. Saya memilih Anda, Argan. Bukan karena keadaan, bukan karena kewajiban. Tapi karena hati saya menemukan ketenangan hanya di dekat Anda.”
Di bawah langit malam yang damai itu, tanpa saksi lain selain cahaya bulan dan suara angin yang berdesir di antara pepohonan, mereka saling mengucapkan janji yang sebenarnya—janji yang tidak tertulis di atas kertas pernikahan, namun terukir jauh lebih dalam di dalam hati.
Argan mendekatkan wajahnya perlahan, mencium pelan punggung tangan Aruna dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang yang mulai tumbuh kuat. “Terima kasih telah memilihku, Aruna. Terima kasih tidak pergi.”
“Selamanya saya di sini,” bisik Aruna lembut. “Kita bersama. Selamanya.”
Malam itu menutup babak yang penuh makna. Awal yang dipaksakan ternyata membawa mereka pada akhir yang penuh harapan. Janji yang terucap di hari pernikahan dulu hanyalah kata-kata. Namun janji malam ini adalah awal dari perjalanan yang sesungguhnya—dengan dua hati yang saling memilih, saling menjaga, dan saling melengkapi, tanpa lagi ada kepura-puraan di antara mereka.
Lanjut ke Bab 16?