Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak, bukan keputusan tepat
Aku update di jam 00.40 WIB.
Kalo kalian bacanya jam berapa?
Selamat membaca ya gengss, semoga suka dengan ceritanya. Perihal paragraf maaf kalo ada typo atau kaku. Soalnya masih pemula hehe.
Jangan lupa tekan👍 dan ramaikan kolom komentar, boleh aku minta kalian spam ❤️
Terimakasih,
Lopyuu ah❤️
...****************...
Aurelia tidak langsung menjawab, ia lebih memilih mengambil jus jeruk yang ada di hadapannya dan meminumnya secara perlahan. Baik Sarah maupun Nathaniel memperhatikan gerakan Aurelia yang mulai meletakkan kembali gelas itu hingga menimbulkan bunyi samar.
Tatapan Aurelia jatuh kembali pada Sarah yang masih menunggu jawaban. Ia menyilangkan kedua kakinya dengan tangan yang saling bertautan di atas paha.
"Dia belum tahu." Ucap Aurelia dengan nada rendah. Wanita itu tidak ingin berbohong. Selama ini, ia tidak terbiasa melakukannya. Senyuman tipis terukir di wajahnya, rambutnya yang tergerai bergerak perlahan tertiup angin. Aurelia melepaskan tautan jemarinya dan beralih merapihkan rambut.
"Aku tahu alasan kenapa dia tidak di beri tahu." Sarah langsung merespon dengan cepat, ia menggeserkan kursinya ke depan.
"Itu sudah menandakan bahwa kekasihmu tidak pernah memberi kamu ruang untuk menjadi diri sendiri." Senyum Sarah perlahan menghilang. Ia tidak lagi terlihat sedang menggoda. Tatapannya berubah serius ketika mengarah pada Aurelia.
"Dia membatasi setiap pertemuan kamu dengan orang lain, sekalipun itu klien bisnis mu."
Terdengar helaan napas berat dari Sarah sebelum ia kembali melanjutkan kalimat yang belum selesai beserta emosi yang ingin ia luapkan.
"Kamu tidak boleh melakukan ini,"
"Kamu tidak boleh melakukan itu,"
"Sedangkan dia?" Sarah mengunci tatapan Aurelia.
"Dia bergerak bebas semaunya."
Aurelia meneguk salivanya dalam-dalam dengan jemari yang mulai ia remas secara perlahan. Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya turun pada permukaan meja. Dalam kepalanya, wajah Adriant kembali muncul—bersama semua pertengkaran, keraguan, dan janji yang belum pernah benar-benar menjadi kepastian.
"Dia terlalu kasar. Dan aku yakin..." Sarah mencondongkan tubuhnya ke arah Aurelia.
"..... Masih banyak lagi keburukan Adriant yang belum aku tahu, bukan?"
Pikiran Aurelia langsung jatuh pada setiap kejadian di mana Adriant selalu selingkuh secara terang-terangan di hadapannya. Pria itu bahkan selalu menjadikannya alasan karena Aurelia tidak mau melakukan apapun selama mereka menjalin hubungan.
Nathaniel memperhatikan perubahan ekspresi Aurelia tanpa mengatakan apa pun. Untuk pertama kalinya, ia melihat wanita yang selama ini dikenalnya sebagai sosok tenang dan profesional itu kehilangan kata-kata.
"Berhenti, kak." Nathaniel menegakkan tubuh dan menatap Sarah dengan serius.
"Jangan bahas tentang hubungan nona Aurelia dan kekasihnya. Itu adalah privasi mereka."
Sarah langsung melotot tajam.
"Kenapa?" Ia mengangkat dagu seolah menantang adiknya sendiri.
"Dia sahabatku. Aku berhak memberinya nasehat yang baik."
Nathaniel menghela napas sebentar. Pria itu sesekali melirik pada Aurelia yang masih tetap diam tanpa suara.
"Tidak di hadapanku, kak. Aku ini orang lain. Bukan seseorang yang berhak untuk mengetahuinya."
"Orang lain katamu?" Nada bicara Sarah naik dua oktaf. Sekarang tidak ada lagi raut bahagia, ceria atau menggoda di wajahnya.
"Kamu ini calon suaminya."
Nathaniel membeku sesaat lalu menatap Aurelia yang juga menatapnya. Ia yakin Aurelia merasa tidak nyaman dengan pembahasan ini.
"Berhenti memaksakan kehendak, kakak."
Sarah melebarkan pupilnya. "Pertemuan ini di buat untuk perkenalan. Bukan sebuah kepastian yang langsung menciptakan sebuah hubungan."
Aurelia melihat percakapan antara kakak beradik itu, ia menghela napas sejenak lalu beralih menatap ke arah Tyana yang masih memperhatikannya.
Disana, Tyana di buat bingung dengan pertemuan Aurelia kali ini. Ia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya karena kehadiran Nathaniel dan seorang wanita yang Tyana kenal sebagai sahabat Aurelia. Ia melihat Nathaniel yang tidak bersikap dingin ketika berbicara dengan Sarah. Justru Sarah terlihat lebih dominan dan tidak segan membantah Nathaniel.
Melihat wajah Aurelia yang sendu, tangan Tyana bergerak mengambil ponsel di atas meja dan mengetikkan pesan untuk Aurelia.
Aurelia masih menatap Tyana. Bunyi notifikasi ponselnya seketika mengalihkan perhatian Aurelia. Ia meraih ponsel dan membacanya, Ia langsung tahu pesan itu berasal dari Tyana.
"Anda baik-baik saja?"
"Apa saya perlu kesana?"
Aurelia tidak berniat membalas pesan, ia memilih untuk kembali menatap Tyana dan menggelengkan kepalanya. Tyana membalas dengan anggukan kecil seolah tahu dengan instruksi atasannya.
"Sekarang bagaimana menurut kamu tentang pertemuan ini, Aurel?"
Aurelia langsung menoleh pada Sarah. Ia mendengar pertanyaan itu dengan bibir yang langsung bergerak ragu untuk mengeluarkan suara. Ia menghela napas perlahan lalu menatap Sarah dengan serius.
"Aku hanya mengikuti saran darimu, Sarah." Aurelia meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Kamu bilang akan mengenalkan ku pada seseorang. Jika aku cocok, maka pertemuan ini akan berlanjut. Dan jika tidak... Kamu juga bilang tinggal lupakan pertemuan ini." Raut Aurelia terlihat kembali tenang.
Kedua tangan Sarah menepuk meja dengan suara pelan.
"Itu benar." Ia semakin menggeser kursinya mendekati Aurelia lalu mulai melanjutkan ucapannya.
"Tapi menolak bukan keputusan yang tepat."
Hening sesaat.
"Sarah."
"Kakak."
Ucap Aurelia dan Nathaniel secara bersamaan seolah ingin menyerang Sarah yang bertindak semaunya.
Sarah berdecak beberapa kali lalu memutar bola matanya.
"Aku bicara jujur. Kenapa tidak kalian coba untuk mengenal lebih dekat?"
Nathaniel menghela napas pelan. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan kakaknya. Sejak kecil, Sarah memang selalu merasa dirinya paling benar dan tidak mau ucapannya di bantah oleh siapapun. Detik berikutnya, tatapan teduh Nathaniel jatuh pada Sarah.
"Kakak."
Aurelia terpaku sesaat. Untuk pertama kalinya, ia mendengar suara lembut seorang Nathaniel Alister yang hanya ia kenal sebagai sosok yang kaku dan dingin. Aurelia melihat bagaimana tatapan hangat Nathaniel untuk Sarah.
"Keputusan ada di tangan aku dan nona Aurelia." Nathaniel melirik sekilas ke arah Aurelia lalu kembali menatap Sarah.
"Kakak tidak bisa memutuskan sendiri tentang kehidupan kita." lanjut Nathaniel dengan tenang.
Sarah memajukan bibirnya, wanita itu menurunkan pundak seolah tubuhnya terlihat lemas seketika.
"Iya.... Aku tidak akan memaksa, tapi kalau pertemuan ini berlanjut tanpa ada dalih perjodohan bagaimana?" Sarah menatap Nathaniel dan Aurelia secara bergantian.
"Maksudku, kalian lanjut bertemu dan berbincang. Biarkan Tuhan yang menentukan kelanjutan hubungan kalian nantinya."
Suasana hening.
Nathaniel mengembuskan napas pelan. Jemarinya mengetuk permukaan meja sekali sebelum berhenti. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan kakaknya.
"Permasalahannya, aku sudah memiliki kekasih, Sarah." Aurelia lebih dulu menjawab. Ia menghentikan Nathaniel yang akan mengeluarkan suara dan ia menyadari itu. Tapi membiarkan ini lebih jauh tidaklah baik untuknya maupun untuk Nathaniel. Aurelia merasa tidak mungkin Nathaniel benar-benar tertarik padanya. Pria itu mungkin menginginkan wanita yang jauh lebih baik darinya.
"Jika aku dan tuan Nathaniel melanjutkan ini."
Aurelia menghentikan kalimatnya sejenak, ia menghela napas sebelum kembali melanjutkannya.
"Bisa dibilang hubungan ini adalah sebuah perselingkuhan, bukan?"
Nathaniel tidak berniat membalas. Pria itu lebih memilih diam dan kembali menatap ekspresi Sarah yang terlihat bingung dengan tangan yang bergerak mengetuk meja pelan.
Mereka lebih memilih diam setelah mendengar ucapan Aurelia baru saja. Sarah tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil pisau dan garpu, mengiris daging di piringnya sebelum memasukkan sepotong kecil ke dalam mulut.
Alunan musik masih terdengar mengalun merdu. Beberapa pengunjung sudah meninggalkan cafe dan tidak sedikit pula yang baru masuk dan duduk di meja sekitar mereka.
Terlihat beberapa pelayan yang sedang membereskan meja-meja kosong dan berlalu lalang membawa nampan berisi pesanan.
Selang beberapa detik, suara ponsel mengalihkan perhatian mereka. Nathaniel melirik sekilas lalu Sarah yang terang-terangan memajukan kepalanya untuk melihat nama si penelpon.
Adriant.
Nama itu memenuhi layar ponsel milik Aurelia.
Aurelia menatap Sarah dan Nathaniel sekilas sebelum tangannya beralih mengambil ponsel dan mengangkat panggilan dari Adriant.
"Hallo."
Aurelia menyapa terlebih dahulu sesaat setelah benda pipih itu ia tempelkan di telinga.
"Kamu lagi dimana, sayang?"
Napas Aurelia berhenti sesaat. Ia tidak akan menduga Adriant akan menelpon di waktu yang tidak tepat.
"Maaf atas sikap kasar aku kemarin malam. Aku ingin bertemu sama kamu sekarang, bisa sayang?"
Aurelia terdiam.