PROLOG
Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.
Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.
Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.
Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Festival Tari Daerah
"Ada kebahagiaan yang datang tanpa direncanakan. Terkadang, kebahagiaan itu berawal dari sebuah pengumuman sederhana yang mampu membuat hati dipenuhi harapan."
Hari demi hari kegiatan belajar di sekolah terus berjalan. Tanpa terasa, aku mulai terbiasa dengan kehidupan baruku sebagai siswi SMP. Rasa canggung yang dulu selalu menyertaiku perlahan menghilang, berganti dengan kenyamanan yang tumbuh sedikit demi sedikit. Aku sudah mengenal lingkungan sekolah, mulai memahami kebiasaan para guru, dan memiliki beberapa teman yang selalu menemaniku selama berada di kelas. Sekolah yang awalnya terasa begitu asing kini mulai menjadi tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan hari-hariku.
Pagi itu kegiatan belajar berlangsung seperti biasa. Setelah pelajaran pertama berakhir, suara bel istirahat menggema ke seluruh penjuru sekolah. Suasana kelas yang sejak tadi dipenuhi keseriusan mendadak berubah ramai. Sebagian siswa bergegas menuju kantin, sementara yang lain tetap berada di dalam kelas sambil mengobrol dan bercanda bersama teman-temannya.
Aku masih duduk di bangku ketika Vita menghampiriku dengan wajah yang tampak begitu bersemangat. Ia menarik kursi di sampingku, lalu duduk sambil tersenyum lebar seolah tidak sabar ingin menyampaikan sesuatu.
"Hitas, aku dengar sekolah kita akan ikut Festival Tari Daerah tahun ini. Katanya kalau siswa kelas tujuh diikutkan, kamu mau ikut nggak?"
Aku menoleh sambil tersenyum kecil.
"Boleh saja. Kalau memang diikutkan, aku mau ikut. Waktu masih SD aku juga pernah ikut menari."
"Oh, iya?" tanya Vita dengan mata berbinar.
Aku mengangguk pelan.
Di Kabupaten Laruna, tempat aku tumbuh sejak kecil, festival tari daerah merupakan salah satu tradisi budaya yang selalu dinantikan setiap tahunnya. Ribuan pelajar dari berbagai sekolah akan berkumpul di sebuah lapangan luas untuk menampilkan tarian secara bersama-sama. Mulai dari siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas ikut ambil bagian dalam perayaan itu.
Meskipun setiap jenjang menampilkan tarian yang berbeda, semangat yang mereka bawa selalu sama, yaitu melestarikan budaya daerah yang diwariskan turun-temurun. Bagiku, festival itu bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah kebanggaan karena bisa menjadi bagian dari tradisi yang begitu besar.
Percakapan kami terhenti ketika bel masuk kembali berbunyi. Kami segera kembali mengikuti pelajaran hingga jam terakhir berakhir. Menjelang pulang sekolah, terdengar suara pengumuman yang meminta seluruh siswa kelas tujuh, delapan, dan sembilan berkumpul di lapangan.
Vita langsung berdiri sambil menoleh ke arahku.
"Hitas, ayo! Sepertinya ini tentang Festival Tari Daerah yang tadi kita bicarakan."
"Iya... ayo."
Aku mengikuti langkahnya menuju lapangan. Terik matahari siang itu terasa begitu menyengat hingga membuat tubuhku mulai kelelahan, tetapi rasa penasaran membuatku tetap bersemangat mengikuti pengumuman tersebut.
Setelah seluruh siswa berkumpul, salah seorang ibu guru berdiri di depan barisan sambil memegang mikrofon.
"Baik, anak-anak. Tahun ini sekolah kita kembali dipercaya untuk mengikuti Festival Tari Daerah.
Seluruh siswa kelas tujuh, delapan, dan sembilan diperbolehkan ikut berpartisipasi. Namun, bagi yang kondisi kesehatannya kurang baik, tidak diwajibkan mengikuti kegiatan ini."
Belum sempat ibu guru melanjutkan penjelasannya, Vita sudah lebih dulu menepuk lenganku dengan wajah yang dipenuhi kegembiraan.
"Yeay... Hitas, kita boleh ikut!"
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
Ibu guru kembali berbicara setelah suasana mulai tenang.
"Karena tarian ini akan dibawakan secara berpasangan, mulai besok setiap siswa diharapkan sudah memiliki pasangan masing-masing. Latihan akan dimulai besok sore setelah jam pelajaran selesai.
Ibu berharap kalian semua dapat berpartisipasi dengan baik."
Mendengar kalimat terakhir itu, senyumku perlahan memudar.
"Berpasangan?" batinku.
Aku sama sekali belum terpikir harus menari dengan siapa. Hampir semua siswa tampak mulai berbicara dengan teman-temannya untuk mencari pasangan, sedangkan aku hanya berdiri diam memandangi kerumunan di depanku.
Vita yang menyadari perubahan raut wajahku segera bertanya.
"Kamu kenapa, Hitas? Kok malah diam?"
Aku menggeleng pelan sambil memaksakan sebuah senyum.
"Nggak apa-apa. Ayo pulang."
Aku memilih menyimpan kebingungan itu sendiri.
Sepanjang perjalanan pulang pikiranku terus dipenuhi satu pertanyaan yang sama. Siapa yang akan menjadi pasangan menariku nanti? Aku begitu larut dalam pikiran hingga tidak menyadari Kak Ucaluna dan sahabatnya, Nadia, sudah berjalan mendekat dari arah berlawanan.
"Hitas," panggil Kak Ucaluna.
Aku segera menghampiri mereka.
"Tadi guru bilang sekolah ikut Festival Tari Daerah, ya?"
"Iya. Tapi aku masih bingung karena tariannya harus berpasangan. Aku belum tahu harus berpasangan dengan siapa."
Kak Ucaluna tersenyum kecil, lalu berkata pelan,
"Kakak juga sebenarnya ingin ikut. Tapi... Mama mengizinkan nggak, ya?"
Aku langsung menatapnya dengan yakin.
"Coba saja kita minta izin. Nanti biar Hitas yang bicara sama Mama."
Sesampainya di rumah, aroma masakan yang memenuhi ruangan langsung menyambut kedatangan kami. Mama sedang duduk di meja makan sambil menyiapkan makanan untuk kami.
"Sudah pulang? Ayo, cuci tangan dulu. Panggil Kak Ucaluna, kita makan."
Aku dan Kak Ucaluna saling berpandangan sejenak. Rasanya inilah waktu yang paling tepat untuk menyampaikan keinginan kami.
"Ma..." panggilku pelan.
Mama menoleh sambil tersenyum.
"Iya, Nak. Ada apa?"
Aku menarik napas dalam sebelum akhirnya memberanikan diri.
"Ma, sekolah mengadakan Festival Tari Daerah. Hitas mau minta izin ikut... sekalian sama Kak Ucaluna."
Mama terdiam beberapa saat. Pandangannya kemudian beralih kepada Kak Ucaluna.
"Kalau Hitas tidak apa-apa. Tapi Mama khawatir Ucaluna. Latihannya di luar ruangan, cuacanya panas. Mama takut nanti kamu sakit."
Belum sempat aku berbicara lagi, Kak Ucaluna sudah lebih dulu mendekat sambil memohon dengan suara lembut.
"Ma, boleh ya. Ucaluna janji akan jaga kesehatan. Dari SD Ucaluna belum pernah ikut kegiatan seperti ini. Sekali saja, Ma. Ucaluna benar-benar ingin ikut."
Mama mengembuskan napas pelan. Wajahnya masih menyimpan keraguan, tetapi setelah beberapa saat beliau akhirnya tersenyum tipis.
"Baiklah. Mama izinkan. Tapi ingat, jangan memaksakan diri. Mama tidak mau melihat kalian pulang dalam keadaan sakit."
Wajah Kak Ucaluna langsung berbinar.
"Jadi... boleh, Ma?"
"Iya, boleh."
"Terima kasih, Ma."
Mama hanya tersenyum melihat kami yang begitu bahagia.
"Sudah, sekarang makan dulu. Jangan sampai perut kalian yang protes karena terlalu sibuk memikirkan latihan."
Kami pun duduk mengelilingi meja makan. Sepanjang makan siang itu, aku dan Kak Ucaluna berkali-kali saling memandang sambil tersenyum dan tertawa kecil. Rasa bahagia yang kami rasakan sulit disembunyikan. Dalam bayangan kami, latihan yang akan dimulai keesokan hari pasti akan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan.
Namun, saat itu aku sama sekali belum mengetahui bahwa keputusan untuk mengikuti festival tersebut bukan hanya akan memberiku pengalaman baru. Dari latihan itulah, perlahan akan dimulai sebuah kisah yang tanpa kusadari kelak menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam perjalanan masa remajaku.
...***...