NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Nadira tidak terbiasa dipermalukan.

Sepanjang hidupnya, jika ia menangis, orang lain meminta maaf. Jika ia diam, orang lain menebak keinginannya. Jika ia marah, orang-orang di rumah menyingkir agar ia tidak merasa terganggu.

Tapi Kirana tidak menyingkir.

Raka juga tidak.

Malam setelah kejadian di Hotel Wijaya, Nadira pulang dengan wajah tenang yang dipaksakan. Begitu masuk kamar, ia melempar tas ke sofa dan melepas anting sampai salah satunya jatuh ke lantai.

Bu Ratna masuk beberapa menit kemudian.

"Kamu membuat keributan lagi?"

"Mama dapat laporan dari siapa?"

"Temanmu mengirim pesan. Katanya kamu hampir menampar Kirana di hotel."

Nadira tertawa tajam. "Hampir. Tidak jadi. Karena Raka muncul seperti pahlawan."

Bu Ratna menghela napas. "Kamu harus berhenti bergerak sendiri."

"Lalu diam melihat Kirana mengambil semuanya?"

"Belum ada yang dia ambil."

"Dia mengambil perhatian Raka. Perhatian Bima. Sekarang orang-orang memuji masakannya. Apa lagi yang Mama tunggu?"

Bu Ratna menutup pintu kamar.

"Kita cari asal gelang itu dulu."

Nadira membeku.

"Bagaimana?"

"Bu Farida."

Nama itu membuat Nadira sedikit tenang. Bu Farida masih mudah diarahkan. Ia membesarkan Kirana dengan kebencian yang dipupuk bertahun-tahun. Jika ada orang yang tahu barang lama Kirana, perempuan itu salah satunya.

Pagi berikutnya, Bu Farida datang ke rumah Hendra dengan wajah gugup sekaligus senang. Ia selalu senang dipanggil ke rumah besar, meski hanya untuk diperintah. Baginya, itu tanda ia masih dianggap.

Bu Ratna menemuinya di ruang samping.

"Farida, kamu ingat gelang lama yang dulu ada pada barang Kirana?"

Wajah Bu Farida berubah sedikit. "Gelang yang dipakai Mbak Nadira sekarang?"

"Iya."

"Itu... dulu memang ada di barang anak itu."

Nadira yang duduk di samping ibunya langsung menegang.

Bu Ratna berkata, "Kamu yakin?"

"Saya yang menyerahkannya pada Nyonya. Waktu itu Kirana masih kecil. Ada kain bayi, beberapa foto, dan gelang itu. Saya pikir barang tidak penting."

"Ada foto?"

Bu Farida mengerutkan kening. "Dulu ada. Tapi saya tidak tahu sekarang di mana. Mungkin sudah dibuang."

"Cari."

"Cari?"

Bu Ratna menatapnya tajam. "Pergi ke rumahmu. Cari semua barang lama Kirana. Jangan sampai ada yang tersisa."

Bu Farida mulai memahami ada sesuatu yang berharga.

"Nyonya, sebenarnya gelang itu..."

"Bukan urusanmu."

Nadira menambahkan, "Kalau kamu menemukan foto atau barang lain, bawa padaku. Jangan beri tahu Kirana."

Bu Farida mengangguk cepat. "Tentu, Mbak Nadira."

Saat Bu Farida pergi, Nadira menggenggam gelang di pergelangan tangannya.

Selama gelang ini ada padanya, cerita masih bisa disusun.

Di Hotel Wijaya, Kirana tidak tahu bahwa barang masa kecilnya sedang diburu.

Ia sibuk menghadapi hari percobaan pertama menu wellness untuk tamu spa. Tiga puluh porsi kecil harus keluar tepat waktu. Chef Arman memberi kepercayaan padanya, tapi juga menempatkan satu sous chef untuk memastikan standar hotel terpenuhi.

Bowo tidak masuk dapur utama hari itu. Ia dipindahkan sementara ke banquet besar. Tidak ada hukuman resmi, tapi semua orang tahu Chef Arman sedang menjauhkan sumber masalah.

Untuk pertama kalinya, Kirana bekerja tanpa komentar sinis di telinga.

Ia baru sadar selama ini sebagian tenaganya habis bukan untuk memasak, melainkan untuk menahan diri. Tanpa suara Bowo yang terus merendahkan, pikirannya lebih jernih, tangannya lebih ringan, dan dapur tidak lagi terasa seperti ruang sidang kecil.

Hasilnya lebih baik.

Tamu spa menyukai minuman kunyit asam sparkling. Beberapa meminta resep, tentu saja tidak diberikan. Pak Dimas datang dengan wajah cerah.

"Kirana, ini bisa jadi signature menu."

Kirana tersenyum kecil. "Masih perlu banyak penyesuaian, Pak."

"Bagus. Jangan cepat puas."

Lala memeluknya saat tidak ada manager. "Mbak, kamu keren banget."

"Lepas, nanti Chef lihat."

"Biar. Aku bangga."

Kirana tertawa. Tawa singkat, tapi tulus.

Hari itu seharusnya menjadi hari baik.

Namun menjelang malam, saat Kirana hendak pulang, ia melihat Bu Farida berdiri di area belakang hotel.

Kirana berhenti.

Bu Farida memakai kerudung cokelat tua dan membawa tas kain besar. Wajahnya tidak ramah seperti biasa, tetapi kali ini ada sesuatu yang lain. Kegugupan.

"Bu?"

Bu Farida menoleh. "Akhirnya keluar juga."

"Ibu cari aku?"

"Memangnya aku tidak boleh?"

Kirana menahan napas. "Ada apa?"

Bu Farida melihat sekeliling, lalu menarik Kirana ke sudut yang lebih sepi.

"Kamu masih simpan barang-barang lama waktu kecil?"

Pertanyaan itu datang seperti batu kecil yang dilempar ke air tenang.

"Kenapa?"

"Jawab saja."

"Barang apa?"

"Foto, kain, apa pun dari ibumu."

Kirana menatapnya tajam. "Ibu tiba-tiba peduli pada ibuku?"

Bu Farida mendengus. "Jangan kurang ajar. Aku cuma tanya."

"Disuruh siapa?"

"Tidak ada."

"Bu Ratna?"

Wajah Bu Farida berubah setengah detik.

Cukup.

Kirana mendekat. "Apa yang mereka cari?"

"Aku tidak tahu."

"Gelang itu?"

Bu Farida memalingkan wajah.

Dada Kirana berdebar.

"Jadi gelang Nadira memang dari barangku."

"Kamu jangan mengarang."

"Ibu yang baru saja menjawab."

Bu Farida panik. "Dengar, Kirana. Barang-barang itu dulu bukan milikmu. Semua diserahkan ke keluarga Hendra. Kamu tidak punya hak menuntut."

"Aku bahkan belum menuntut. Kenapa Ibu takut?"

Bu Farida menggenggam tasnya. "Karena kamu selalu membawa masalah."

Kalimat itu dulu bisa membuat Kirana terdiam.

Sekarang tidak.

"Tidak. Masalahnya kalian menyembunyikan sesuatu."

Bu Farida menunjuk wajahnya. "Jangan sok pintar. Kamu ini dibesarkan dari belas kasihku. Kalau bukan aku..."

"Kalau bukan Ibu, mungkin aku tidak tumbuh dengan hinaan setiap hari."

Bu Farida terkejut.

Kirana melanjutkan dengan suara pelan, "Aku berterima kasih karena diberi makan. Tapi aku tidak akan terus membayar makanan itu dengan hidupku."

Bu Farida mengangkat tangan, tapi berhenti saat melihat seseorang mendekat.

Raka.

Ia datang dari arah parkiran belakang. Wajahnya langsung dingin melihat posisi Bu Farida dan Kirana.

"Ada masalah?"

Bu Farida menurunkan tangan. "Tidak. Saya hanya bicara dengan anak asuh saya."

Raka berdiri di samping Kirana. "Bicara tidak perlu mengangkat tangan."

Bu Farida menatapnya dari atas ke bawah. "Kamu jangan ikut campur urusan keluarga."

"Kirana keluarga saya."

Kirana menoleh.

Kalimat itu keluar begitu saja dari Raka, tapi efeknya tidak kecil.

Bu Farida mencibir. "Keluarga? Kalian bahkan belum menikah resmi. Jangan bicara besar."

Raka tidak terpancing. "Kalau Bu Farida datang untuk mengambil barang lama Kirana, datanglah dengan izin Kirana. Kalau datang karena disuruh Bu Ratna, sampaikan padanya bahwa permainan lama tidak akan selalu berhasil."

Wajah Bu Farida pucat. "Kamu..."

"Silakan pulang."

Bu Farida memandang mereka berdua dengan mata marah, lalu pergi.

Kirana masih diam.

Raka menatapnya. "Kamu baik-baik saja?"

"Dia mencari barang lamaku."

"Tentang gelang?"

"Sepertinya."

Raka mengangguk pelan, pikirannya langsung bergerak.

"Kamu masih punya barang masa kecil?"

"Sedikit. Di rumah Bu Farida mungkin ada. Dulu aku tidak boleh menyimpan banyak."

"Kita harus ambil sebelum mereka menghilangkannya."

"Mereka pasti sudah mencarinya."

"Kalau begitu kita lebih cepat."

Kirana menatapnya. "Kamu terdengar seperti punya rencana."

"Saya selalu punya rencana."

"Itu juga mencurigakan."

"Nanti kamu marah lagi."

"Aku memang sedang marah."

"Pada saya?"

Kirana menatap parkiran. "Pada semua orang."

Raka tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sampingnya sampai napas Kirana lebih stabil.

Malam itu mereka tidak langsung pulang ke kontrakan. Raka membawa Kirana ke rumah kecil Bu Farida dan Bowo di pinggiran Jakarta. Lampunya masih menyala. Dari luar terdengar suara televisi.

Kirana berdiri di depan pagar dengan tangan dingin.

"Kalau mereka tidak mengizinkan?"

"Kita minta baik-baik."

"Kalau tidak bisa?"

Raka menatap rumah itu. "Kita cari cara lain."

Kirana menoleh. "Cara legal, kan?"

Raka tersenyum tipis. "Kamu semakin mengenal saya."

"Itu bukan jawaban."

Sebelum mereka mengetuk, pintu rumah terbuka. Bowo keluar dengan wajah terkejut melihat Kirana dan Raka.

"Ngapain kalian ke sini?"

Kirana menatap laki-laki yang bertahun-tahun ia panggil Pak.

"Aku mau mengambil barang-barang lama milikku."

Wajah Bowo langsung berubah.

Di belakangnya, Bu Farida muncul dengan mata panik.

"Barang apa?"

Kirana mengangkat dagu.

"Barang yang kalian sembunyikan dari aku."

Hening jatuh di teras kecil itu.

Dan Kirana tahu, untuk pertama kalinya, bukan dia yang takut.

Mereka yang takut.

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!