Sejak kecil, Ice Meng selalu menjadi orang yang berkorban untuk keluarganya. Membayar utang judi ayahnya, membantu biaya pernikahan kakaknya, hingga menanggung kuliah adiknya.
Di tengah hidup yang penuh tekanan, ia hanya memiliki sebuah kalung berinisial HW, hadiah dari pria asing yang pernah ia selamatkan beberapa bulan lalu.
Tidak lama kemudian Ice menyadari kalung itu bukan benda biasa.
Orang-orang yang ingin menyakitinya mendadak mundur saat melihatnya.
Dan seorang pria bernama Howard Wang perlahan kembali hadir dalam hidupnya.
Saat Ice mulai jatuh hati, ia menemukan fakta mengejutkan.
Kalung HW yang selama ini ia kenakan ternyata bukan sekadar hadiah ucapan terima kasih, melainkan simbol yang membuat banyak orang ketakutan.
Lalu... siapakah sebenarnya Howard Wang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Ice melangkah cepat meninggalkan bangsal dengan emosi yang masih memenuhi pikirannya.
Tanpa sengaja, ia menabrak seseorang.
Brak!
“Maaf!” ucap Ice sambil menundukkan kepala.
Pria muda di depannya terdiam saat melihat wajah gadis itu.
“Ice?”
Mendengar namanya dipanggil, Ice perlahan mengangkat kepala.
Ia membeku sesaat.
“Calvin?”
“Kenapa kamu ada di rumah sakit?” tanya Calvin heran. “Apakah kamu sakit?”
“Tidak. Aku hanya datang menemui seseorang.”
Ice menghindari tatapan pria itu. “Aku sedang sibuk. Aku pergi dulu.”
Ia langsung melangkah pergi.
“Ice!”
Calvin mengejarnya hingga keluar dari gedung rumah sakit.
Di luar, Ice menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Ada apa?”
Calvin menatapnya beberapa saat.
“Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kalau kita makan bersama?”
Ice terdiam sebentar, lalu tersenyum tipis.
“Tidak perlu.”
Calvin terkejut.
“Aku tidak ingin makan bersama orang dari kalangan atas.”
Setelah berkata demikian, Ice langsung berbalik dan pergi.
Calvin hanya berdiri diam menatap punggung gadis itu yang semakin jauh.
“Dia pasti masih marah kepadaku karena perkataanku waktu itu,” gumam Calvin pelan.
Sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti
“Nona Meng?”
Ice menoleh dan terkejut melihat Danny Lu turun dari mobil.
“Tuan Lu?”
Danny tersenyum.
“Kebetulan saya lewat dan melihat Anda keluar dari rumah sakit. Apakah Anda membutuhkan tumpangan?”
Ice sedikit ragu.
“Tidak perlu, Tuan Lu. Saya bisa pulang sendiri.”
“Tidak masalah. Lagipula saya juga ingin membicarakan beberapa detail mengenai vas yang Anda buat.”
Mendengar itu, Ice akhirnya mengangguk.
“Baiklah, terima kasih, Tuan Lu.”
Ice masuk ke dalam mobil.
Danny kemudian bertanya dengan santai, “Ke mana saya harus mengantar Anda?”
Ice menyebutkan alamat apartemennya.
Danny mengangguk seolah baru mengetahui hal itu.
“Baik.”
Sepanjang perjalanan, Danny hanya membahas desain vas dan beberapa detail pesanannya.
Namun di dalam hatinya, Danny memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu.
“Howard Wang... apakah dia adalah wanita pilihanmu, atau hanya seseorang yang kau gunakan?” batin Danny.
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di depan gedung apartemen.
Danny turun dari mobil dan menatap bangunan mewah itu.
“Apartemen yang luar biasa,” ucapnya sambil memperhatikan gedung tersebut.
Ice turun dari mobil lalu menghampiri pria itu.
“Tuan Lu, terima kasih sudah mengantar saya pulang. Mengenai pesanan vas, saya akan menyiapkannya sesuai waktu yang sudah dijanjikan.”
“Tenang saja. Saya percaya pada kemampuanmu,” jawab Danny.
Ia kembali melihat ke arah gedung apartemen.
“Hanya saja, apartemen ini terlihat sangat nyaman dan memiliki lokasi yang bagus. Saya jadi tertarik untuk membeli salah satu unit di sini.”
Ice mengangguk.
“Lokasi di sini memang aman dan nyaman. Kalau Tuan Lu berminat, Anda bisa menghubungi pihak pengelola apartemen.”
Danny tersenyum tipis.
“Apakah saya bisa melihat bagian dalamnya? Saya ingin melihat detail ruangan sebelum membuat keputusan.”
Ice terdiam sejenak.
"Dia adalah pelanggan. Tidak baik jika aku langsung menolaknya," batinnya.
“Baiklah, Tuan Lu. Silakan."
Ice kemudian membawa Danny menuju apartemen.
Sementara itu, di dalam unit apartemen lain, Howard sedang fokus melihat layar laptopnya.
Mark yang berdiri di dekat jendela tiba-tiba melihat ke arah bawah.
“Bos.”
Howard tidak menjawab.
Mark menoleh ke arahnya.
“Ada seorang pria yang mengantar Nona Meng pulang. Sepertinya dia akan masuk ke apartemen.”
Jari Howard yang sedang mengetik langsung berhenti.
Tatapannya berubah dingin.
“Cari tahu siapa dia.”
“Baik, Bos.”
***
Danny masuk ke dalam apartemen dan langsung memperhatikan interiornya.
Ruangan itu luas dengan desain modern yang elegan. Perabotan berkualitas tinggi, pencahayaan hangat, serta dekorasi mewah menunjukkan bahwa apartemen ini berada di kelas atas.
“Tidak buruk,” ucap Danny sambil mengamati sekeliling.
Ice tersenyum kecil.
“Saya hanya tinggal di sini untuk sementara, jadi saya tidak mengubah apa pun.”
Danny menatapnya sekilas.
"Dia bahkan tidak tahu nilai tempat yang dia tinggali," batinnya.
Tatapannya kemudian tertuju pada beberapa vas keramik buatan Ice yang diletakkan sebagai hiasan.
“Karya Anda?” tanyanya.
Ice mengangguk.
“Ya. Saya membuatnya sendiri.”
Danny mengambil salah satu vas dan memperhatikan detail ukirannya.
“Indah."
"Keramik bukan hanya tentang bentuk, tetapi juga perasaan dan ketelitian pembuatnya,” jawab Ice.
Tok! Tok!
Ice yang sedang berbicara dengan Danny langsung menoleh ke arah pintu.
“Siapa siang-siang begini?” gumamnya.
Ia berjalan membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, sosok Howard Wang berdiri di sana.
Howard mengenakan pakaian hitam rapi seperti biasanya. Tatapannya langsung tertuju ke dalam ruangan, lalu berhenti pada Danny Lu.
Howard melangkah masuk dengan tenang.
“Ice, ada tamu?”
“Tuan Lu adalah pelanggan dari toko keramik. Beliau ingin melihat apartemen ini karena tertarik membeli unit di sini,” jawab Ice.
Howard tidak menjawab, hanya menatap Danny dengan tatapan dingin.
“Tuan Lu, Tuan Howard adalah tetangga saya,” ujar Ice memperkenalkan.
Danny tersenyum paksa.
“Senang bertemu dengan Anda.”
Ia mengulurkan tangannya kepada Howard.
Namun Howard tidak langsung menyambut tangan itu.
Tatapannya tetap dingin.
Alih-alih berjabat tangan, Howard justru mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
Ice terkejut saat melihat benda itu.
“Ice, aku sudah mendapatkannya kembali. Ini milikmu,” ucap Howard.
Ia membuka kotak tersebut dan mengambil kalung HW, lalu memasangkannya kembali ke leher Ice.
Ice terdiam.
Kalung yang sempat direbut keluarganya kini kembali berada di tangannya.
“Terima kasih, Tuan Howard.”
Howard hanya mengangguk.
Namun di dalam hati Ice muncul sebuah dugaan.
"Jangan-jangan... orang yang menghukum keluargaku adalah anak buah Tuan Howard?"
Ia menatap pria di depannya dengan perasaan yang rumit.
Sementara itu, Danny Lu yang berdiri di samping mereka membulatkan matanya.
Tatapannya tertuju pada kalung dengan logo HW yang kini kembali dikenakan Ice.
Kalung itu bukan sekadar perhiasan.
Itu adalah simbol yang hanya dimiliki oleh orang tertentu.
Dan sekarang, benda yang seharusnya berada di tangan Howard Wang... justru dikenakan oleh Ice Meng.
“Kalung itu adalah miliknya, benda paling penting dan tak ternilai. Harga pasar bisa menebus 50 juta yuan. Ini membuktikan gadis ini adalah kesayangan-nya,” batin Danny.
dan kenapa ice yg jadi tulang punggung. apa ice bukan anak kandung nya