NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Di sisi lain rumah, Pak Jasman baru saja tiba dari kebun nilamnya sore itu. Dahinya mengernyit heran begitu mendapati suasana rumahnya yang tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Samar-samar, dia bisa mendengar suara tawa girang Jayan, cucu kesayangannya.

​Saat motor bebeknya memasuki halaman samping dan mesinnya dimatikan, sayup-sayup telinganya menangkap suara berat seorang pria asing dari dalam rumah. Merasa ada yang tidak biasa, Pak Jasman segera memutar arah, memilih masuk melewati pintu dapur.

​Tok, tok, tok.

​Beliau mengetuk pintu kayu dapur. Tak lama kemudian, pintu terbuka menampakkan sosok istrinya.

​"Selesai panen hari ini?" tanya Mamanya Yasita ramah.

​Pak Jasman hanya menggeleng lemah. Netranya menatap sang istri dengan penuh tanya. "Siapa yang datang di depan? Kenapa ramai sekali?"

​"Sini kau, duduk dulu..." Mamanya Yasita langsung menarik lengan suaminya, menuntunnya untuk duduk di kursi dapur, lalu berbisik pelan tepat di telinganya. "Suaminya Yasita datang!"

​Pengakuan itu seketika membuat Pak Jasman terkejut bukan main. Matanya membelalak. "Kapan dia datang?"

​"Tadi siang! Banyak sekali barang bawaan yang dia bawa untuk kita. Dan kau tahu? Rupanya mukanya tidak kelihatan seperti orang tua sama sekali, masih ganteng sekali!" puji Mama berapi-api.

​Pak Jasman hanya bisa mengangguk-angguk, berusaha mencerna kejutan besar ini. Beliau lalu meminta istrinya mengambilkan handuk karena ingin membersihkan badan terlebih dahulu sebelum menemui sang tamu. Mamanya Yasita pun bergegas masuk ke dalam untuk mengambilkan keperluan suaminya.

​Sementara itu di dalam kamar, aku sedang asyik membalurkan lulur tradisional ke seluruh permukaan kulit tubuhku. Ya, ini memang sudah menjadi ritual rutinku sebelum mandi sore, sekitar dua sampai tiga kali dalam seminggu. Saat melakukan aktivitas itu, aku hanya mengenakan daster rumahan bertali satu yang pendeknya sebatas lutut.

​Tiba-tiba, suara ketukan halus di pintu menyadarkanku. "Masuk saja, tidak saya kunci ji pintunya," sahutku pelan tanpa curiga, mengira itu adalah Mama.

​Namun, begitu daun pintu bergerak terbuka dan aku menoleh, jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Rupanya itu Jalal. Pria matang itu melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekat dan duduk tepat di depanku.

​Keduanya netranya menatapku lekat. "Sedang apa?" tanyanya dengan suara rendah yang serak.

​"Pak? Bapak tidak merem, kan, waktu bertanya? Masa iya tidak lihat saya sedang luluran begini," ketusku kesal, mencoba menutupi rasa gugup karena penampilanku yang cukup terbuka di depannya.

​"Boleh saya bantu?" tanyanya lagi, mengabaikan ketusanku. Tatapannya mendadak berubah begitu dalam dan intens.

​Aku terdiam sesaat, menimbang tawarannya sebelum akhirnya mengangguk pelan secara pasrah. "Tolong pakaikan di punggungku, Pak..." ucapku lirih.

​Jalal mengangguk. Dia menggeser posisi duduknya ke belakang tubuhku. Jemari tangannya yang besar dan hangat mulai menyentuh kulit punggungku, membalurkan krim lulur dengan gerakan memijat yang teramat lembut.

​Awalnya, semuanya berjalan normal. Namun, lambat laun atmosfer di dalam kamar mendadak berubah drastis. Sentuhan demi sentuhan tangan kekar Jalal di kulit telanjang punggungku membuat sekujur tubuhku meremang hebat. Udara di sekitar kami mendadak terasa begitu panas dan pekat. Gejolak asing yang telah lama padam tiba-tiba membumbung naik, membakar akal sehatku.

​Jalal pun merasakan hal yang sama. Hawa gairah yang pekat mulai menguasai tubuh bugar pria paruh baya itu, menciptakan debaran yang menyiksa di dadanya. Dia menelan ludah dengan susah payah, menahan gejolak mendesak yang kian tak terbendung.

​Menyadari napasku yang mulai memburu, Jalal mencondongkan tubuhnya ke depan. Dia berbisik dengan suara parau yang sarat akan damba tepat di ceruk leherku. "Yas... saya merindukanmu."

​Aku membalikkan badanku perlahan, menatapnya dengan pandangan mata yang sayu dan pasrah. Jalal seakan kehilangan seluruh pertahanannya begitu melihat binar mataku. Dengan gerakan lembut namun pasti, dia meraih tengkukku, mendekatkan wajahnya, lalu melumat bibirku dengan begitu dalam penuh kerinduan yang membuncah.

​Aku tidak menolak. Kutangkupkan tanganku di bahu tegapnya, membalas lumatan hangat itu dengan perasaan campur aduk yang kini telah dilebur oleh gairah yang membara. Kami berdua seolah telah dibutakan oleh rasa rindu yang terpendam selama tiga tahun lamanya.

​"Yas... kalau kejadian malam itu terulang lagi di sini, apa kamu ikhlas? Kamu tidak marah lagi?" bisik Jalal parau di sela pagutan kami, menatap lekat ke dalam manik mataku untuk mencari kepastian.

​Aku menatap balik sepasang netra biru lautnya yang meneduhkan. "Pak... Bapak menganggap saya ini istri Bapak yang sesungguhnya, kan?" tanyaku menuntut janji hatinya.

​Jalal mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun, lalu mengecup keningku dengan teramat takzim. "Kamu istriku, Yasita. Satu-satunya wanita di hatiku saat ini. Apa boleh saya memintanya kembali siang ini?"

​Aku menganggukkan kepala perlahan sebagai tanda persetujuan yang tulus.

​Mendapat lampu hijau, Jalal dengan begitu mudahnya mengangkat tubuhku, membawaku ke dalam pangkuannya. Kami kembali bertukar kehangatan yang intim di atas kasur, tenggelam dalam desahan lembut yang memenuhi keheningan kamar.

​Namun, seluruh kenikmatan surga dunia itu seketika buyar berantakan dalam sedetik!

​GEBRAK! Tok, tok, tok!

​"Mama! Bapak...! Kenapa pintunya dikunci? Aku mau masuk!" Teriakkan melengking Jayan dari balik pintu luar disertai gedoran keras seketika memecah atmosfer panas di dalam kamar.

​Kesadaranku langsung tersambar kembali ke bumi. Dengan panik dan salah tingkah, aku mencoba bangkit berdiri dari pangkuan Jalal untuk merapikan dasterku. Namun, Jalal menahan pinggangku sebentar, lalu mendaratkan satu kecupan singkat namun dalam di bibirku.

​"Saya mencintaimu, Yas," ucapnya dengan suara rendah yang tulus.

​Aku hanya bisa mengangguk cepat tanpa sempat membalas ucapannya karena ketukan Jayan semakin tidak sabaran. "Iye, sabar, Sayang...! Mama tadi habis luluran sebentar!" seruku setengah gugup.

​Dengan gerakan secepat kilat, aku memutar kunci dan membuka pintu kamar. Di depan ambang pintu, aku melihat putra kecilku sudah duduk jongkok dengan wajah cemberut, menungguku dengan tidak sabaran.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!