NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Sandiwara di Kantor

Keesokan harinya, matahari bersinar terik menyinari gedung pencakar langit pusat kota. Di ruangan kerja yang luas dan mewah milik Viona, suasana terasa agak berat. Viona duduk di kursi kerjanya, wajahnya sengaja dibuat lemas dan cemas, persis seperti petunjuk Faris kemarin. Tangan kanannya memegang kening seolah sedang pusing berat, sementara berkas-berkas di meja dibiarkan berantakan.

Tak lama kemudian, pintu ketuk pelan. Masuklah seorang pria tua berbadan gemuk, berpakaian rapi, senyumnya ramah tapi matanya menyimpan sesuatu yang lain. Itu Pak Hendro, pemegang saham terbesar kedua.

"Selamat pagi, Nona Viona. Kok kelihatannya kurang enak badan? Masih kepikiran soal kejadian di pabrik kemarin ya?" tanya Pak Hendro sambil duduk di hadapan Viona, suaranya penuh kepedulian palsu.

Viona menghela napas panjang, menundukkan wajahnya. "Ah... Pak Hendro. Iya, benar Bapak. Saya bingung banget. Kejadian demi kejadian terus aja datang. Barang hilang, laporan kacau, terus kemarin ada keributan parah di pabrik. Saya jadi takut, Pak... kalau ini makin parah, perusahaan bisa hancur."

Pak Hendro tersenyum tipis, tangannya mengusap dagu. "Nah, itu yang saya khawatirkan dari dulu, Nona. Dunia bisnis itu keras sekali. Bapakmu dulu hebat, tapi keadaan sekarang sudah berubah. Kamu masih muda, belum punya banyak pengalaman menghadapi orang-orang jahat di luar sana. Saya sebagai teman lama ayahmu, tentu saja nggak tega lihat kamu susah begini."

Dia maju sedikit, suaranya merendah seolah memberi solusi terbaik.

"Masih ingat tawaran saya kemarin? Daripada kamu pusing sendirian, ngeluarin biaya banyak buat perbaiki ini-itu tapi rugi terus, mending kamu serahkan saja sebagian sahammu ke saya. Saya yang akan urus semuanya. Kamu tinggal terima uangnya, aman, tenang, nggak perlu pusing mikirin ancaman preman atau masalah keuangan. Bagaimana? Ini kesempatan terakhir lho, sebelum perusahaan makin turun nilainya."

Di sudut ruangan, di balik jendela kaca besar yang memantulkan bayangan ruangan, Faris berdiri diam. Dia berpura-pura memandang keluar, tangan di saku celana, seolah cuma penjaga biasa. Tapi telinganya menangkap setiap kata, matanya mengamati setiap gerak-gerik Pak Hendro dengan tajam. Di mulutnya terselip sebatang rokok yang belum dinyalakan, mainan jari-jarinya pelan... cek... cek....

Viona mengangkat wajah, menatap Pak Hendro dengan ragu-ragu, persis seperti yang diajarkan Faris. "Benar juga sih kata Bapak... saya sudah capek sekali. Tapi... saya masih sayang sama peninggalan Bapak. Saya takut dikira nggak becus jaga amanah."

Pak Hendro tertawa kecil, tangannya menepuk pelan meja. "Waduh, Nona. Jaga amanah itu bukan berarti harus ngorbanin diri sampai hancur lho. Kalau sampai bangunan ini rubuh karena salah urus, itu baru namanya gagal amanah. Saya ini kan keluarga sendiri, saya pastikan nama besar Adhitama tetap terjaga. Kamu pikir dulu saja, nggak apa-apa. Tapi ingat, masalah kemarin itu baru permulaan. Besok atau lusa, bisa jadi lebih parah lagi."

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada halus tapi penuh ancaman terselubung. Pak Hendro berdiri, berpamitan dengan senyum puas. Dia merasa sandiwaranya berhasil. Viona sudah mulai luluh, takut, dan sebentar lagi akan jatuh ke dalam jebakan yang sudah lama dia siapkan.

Setelah pintu tertutup, Viona langsung menoleh cepat ke arah Faris. "Gimana Faris? Saya sudah lakuin sesuai kata kamu. Dia kelihatan banget banget senengnya."

Faris berbalik badan, nyalain rokoknya pelan cesss, menghirup dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya pelan ke atas. Senyum sengkleknya mengembang lebar.

"Sempurna Bu. Dia kepancing habis. Kata-kata terakhir dia tadi... itu bukti paling kuat. Dia ngancem Ibu dengan masalah yang dia sendiri yang bikin. Sekarang biarkan dia senang dulu. Makin dia senang, makin dia lengah. Dan pas dia merasa menang mutlak... di situlah kita putar papan catur ini."

Faris jalan mendekat, matanya berkilat penuh rencana.

"Sekarang giliran saya kerja. Saya bakal ikutin dia diam-diam. Kalau dia mulai gerak, kalau dia ketemuan sama orang-orangnya, saya bakal rekam semuanya. Ibu tunggu aja kabar dari saya. Malam ini, permainan sesungguhnya baru mulai."

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!