NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Nama yang Dimanfaatkan

Taksi yang Thalia tumpangi berhenti di depan rumah Ratih-ibunya saat hari menjelang siang.

Thalia menatap rumah ibunya dari balik kaca mobil selama beberapa detik sebelum turun. Rumah itu tidak besar, sedikit lebih senyi sejak ayahnya tiada, tetapi selalu terasa lebih jujur daripada rumah megah yang ia tempati bersama Rendra.

Thalia menekan bel pintu, beberapa saat kemudian pintu terbuka diikuti sosok wanita paruh baya seusia ibunya yang menjadi asisten rumah tangga di rumah sang ibu yang biasa ia panggil dengan sebutan Bu Sri.

“Nyonya Thalia," sapa Bu Sri ramah

Thalia tersenyum. “Mama ada?”

“Ada di ruang tengah, Nyonya.” jawabnya segera menggeser tubuhnya, memberikan Thalia ruang untuk masuk. "Silakan masuk, Nyonya."

Thalia masuk. Netranya segera menemukan sang ibu sedang duduk di sofa dengan buku di pangkuan. Wajah wanita paruh baya itu terangkat, tersenyum, tapi kemudian kerutan tipis terbentuk di dahi wanita paruh baya itu.

“Kamu menangis?”

Thalia berhenti melangkah. Ia kira wajahnya sudah cukup rapi. Ternyata ia salah, riasan di wajahnya ternyata tidak cukup untuk menutupi kebenaran yang ada dari ibunya.

“Mama selalu tahu.” gumam Thalia pelan, dan kembali melanjutkan langkahnya.

Ratih menutup buku, lalu menepuk sofa di sampingnya. “Kemarilah.”

Thalia menurut. Untuk beberapa detik, ia hanya duduk diam. Aroma teh melati yang tersuguh di depan ibunya menguar di udara, suara jam dinding, dan cahaya siang yang masuk dari jendela membuat hatinya sedikit lebih tenang.

Ratih meraih tangan putrinya, lalu menggenggamnya lembut. “Ada apa?”

Thalia menunduk. Banyak sekali yang ingin ia katakan. Tentang Rendra yang memperlakukannya seperti bagian dari rencana bisnis, investor wanita yang menanyakan pekerjaannya, dan tentang Arkana.

Namun tidak semua bisa keluar.

“Aku ingin kerja lagi, Ma,” ucap Thalia akhirnya.

Ratih diam, menunggu kelanjutan kalimat yang akan putrinya katakan.

“Kerja seperti dulu?” tanya Ratih setelah menunggu tapi putrinya tidak berbicara lagi.

Thalia mengangguk. “Konsultan bisnis. Atau apa pun yang bisa kumulai dari awal. Freelance dulu mungkin.”

Ratih menatap putrinya lama. “Kamu sudah bilang ke Rendra?”

“Sudah.”

“Dia tidak setuju?” tebak Ratih.

Thalia tertawa pendek. “Dia tidak pernah benar-benar setuju soal apa pun yang membuatku punya ruang sendiri.”

Ratih menghela napas pelan. Sejujurnya ia tahu putrinya menyembunyikan sesuatu, hanya ia tidak ingin mendesak putrinya untuk mengatakan semuanya. Ia bisa melihat perubahan sikap menantunya, namun memilih diam sampai putrinya sendiri yang mengatakannya. Sejak suaminya yang menjadi figur ayah bagi sang putri tiada, putrinya selalu menyelesaikan masalah yang dia hadapi sendiri.

Thalia menatap ibunya. “Ma, dulu aku berhenti bekerja karena aku pikir itu keputusan bersama. Aku pikir aku sedang memilih rumah tangga. Tapi lama-lama… aku merasa seperti menghilang pelan-pelan.”

Ratih menggenggam tangannya lebih erat. “Mama tahu.”

Netra Thalia berkaca. “Mama tahu?”

Ratih tersenyum sedih. “Seorang ibu tahu saat anaknya semakin jarang menyebut dirinya sendiri.”

Kalimat itu membuat pertahanan Thalia runtuh. Air matanya jatuh.

“Aku lupa, Ma. Aku benar-benar lupa rasanya punya keinginan sendiri tanpa merasa harus minta izin.”

Ratih mengusap punggung tangan Thalia. “Kalau begitu mulai ingat lagi.”

Thalia menatap ibunya. “Sesederhana itu?”

“Tidak sederhana.” Ratih tersenyum lembut. “Tapi harus dimulai.”

Thalia menarik napas berat. “Aku takut Rendra marah.”

“Mungkin dia marah,” sahut Ratih

“Aku takut dia merasa aku berubah,” ucap Thalia.

“Biarkan,” jawab Ratih.

Thalia terdiam sesaat. "Apakah aku gagal dalam pernikahan ini, Ma?"

Ratih menatap putrinya lembut. “Thalia, seorang suami yang baik tidak seharusnya takut istrinya memiliki suara. Kalau Rendra merasa terancam hanya karena kamu ingin kembali bekerja, maka masalahnya bukan pada pekerjaanmu.”

Thalia menunduk, lalu perlahan mengusap air matanya. “Aku sudah mencari beberapa peluang.”

Ratih tersenyum kecil. “Bagus.”

“Tapi aku belum tahu apakah aku bisa atau tidak,” ucap Thalia.

“Tidak apa-apa.”

“Aku mungkin gagal,” ucap Thalia lagi.

“Gagal juga tidak apa-apa.”

Thalia tertawa lirih di sela air mata. “Mama terlalu mudah mengizinkan.”

“Karena hidupmu terlalu lama penuh larangan halus,” jawab Ratih.

Thalia memeluk ibunya erat. Untuk pertama kalinya sejak malam gaun merah itu, ia merasa napasnya benar-benar kembali.

.

.

.

Di gedung Dirgantara Group, Saka meletakkan hasil pemeriksaan awal di meja Arkana.

“Pak, saya sudah memeriksa ulang proyek yang sedang ditangani Rendra,” ucap Saka.

Arkana tidak langsung menjawab. Ia berdiri di dekat jendela ruang kerjanya, menatap kota dengan wajah dingin.

“Lanjutkan.”

Saka membuka map di tangannya.

“Proyek ekspansi yang diajukan Pak Rendra memang terlihat rapi di permukaan. Tapi ada beberapa lampiran yang perlu diperhatikan.”

Arkana berbalik. “Lampiran apa?”

“Ada simulasi dukungan aset keluarga Amradita.”

Nama itu membuat tatapan Arkana berubah. “Amradita?”

“Benar, Pak. Di dokumen internal, aset keluarga Thalia Amradita dimasukkan sebagai salah satu kemungkinan pendukung kelayakan proyek. Belum menjadi jaminan resmi, tetapi nilainya sudah dipakai dalam perhitungan awal.”

Saka menjeda sejenak sebelum melanjutkan.

"Dan setelah saya telusuri lebih jauh, keluarga Amradita memiliki aset properti dan jaringan bisnis lama. Nilainya cukup besar untuk memperkuat simulasi kelayakan proyek."

Arkana berjalan mendekat dan mengambil map itu dari tangan Saka. Ia membaca beberapa halaman dengan wajah tanpa ekspresi. Namun semakin lama, udara di ruangan itu terasa semakin dingin.

“Apakah ada persetujuan tertulis dari Nyonya Thalia?”

“Belum ditemukan, Pak.”

“Dari keluarganya?” tanya Arkana lagi.

“Juga tidak ada.”

Arkana menutup map perlahan. Diamnya lebih menekan daripada kemarahan terbuka.

“Rendra memakai nama istrinya untuk menaikkan nilai proyeknya?”

Saka menundukkan sedikit kepalannya. “Belum bisa disebut memakai secara resmi, Pak. Tapi arahnya mengarah ke sana.”

Arkana tersenyum tipis. “Dia cukup berani.”

Saka tidak menjawab.

Arkana meletakkan map itu di meja. “Panggil Rendra besok pagi.”

“Baik, Pak.”

“Dan jangan beri tahu alasan detailnya," ucap Arkana.

“Baik.”

Saka hendak pergi, tetapi Arkana berkata lagi, “Saka.”

“Ya, Pak?”

“Audit semua proyek yang sedang ditangani Rendra. Bukan hanya yang ini.”

Saka terdiam sesaat. “Semua, Pak?”

“Semua. Terutama yang sudah selesai dia kerjakan.”

Tatapan Arkana kembali ke map di meja. Nama Thalia Amradita tertulis di sana. Nama wanita yang Rendra gunakan bukan hanya sebagai istri yang dipajang, tetapi juga sebagai aset dan jaminan citra, sekaligus nilai yang bisa dipakai untuk memperkuat ambisinya sendiri.

Rahang Arkana mengeras.

“Aku ingin tahu,” ucapnya rendah, “Seberapa sering pria itu memakai sesuatu yang bukan miliknya.”

Saka mengangguk. “Baik, Pak.”

Setelah Saka keluar, Arkana kembali membuka map itu, menyandarkan punggungnya ke kursi, dan menatap nama Thalia di dokumen.

Kali ini, hasratnya tidak muncul sebagai fantasi panas yang membuat kendalinya hampir pecah, tetapi sebagai kemarahan dingin.

Karena pria yang semalam menggenggam pinggang Thalia seolah memiliki dunia, ternyata sedang menyusun cara untuk memakai nama wanita itu lebih jauh lagi. Wanita yang sudah membuat ia tertarik sejak ia melihat wanita itu pertama kali.

Arkana mengambil pulpen, memberi tanda pada halaman tersebut, lalu menutup map.

“Kalau kau ingin memakai dia sebagai tangga,” gumamnya pelan, “pastikan tangga itu tidak patah di bawah kakimu, Rendra.”

 . .. . .

. . .. .

To be continued...

1
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
Dewi Payang
Berkilah mulu, binimu lebih pintar Ren....
Dewi Payang
Jangan ngelak...
Dewi Payang
Gue yang oanas hati dah jadinya😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!