Kalian pernah membayangkan gimana kalau jodoh kita berada dideket kita? Mungkin seperti dosen kita sendiri gimana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mputriniar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15 | Hari pertama kuliah dengan status baru
Pagi ini aku masuk kuliah. Subuh tadi aku sholat bareng mas adnan karena aku harus membangunkan dia kalau tidak aku yang dosa.
Selepas subuh Mas Adnan masih mendiamkan aku. Aku melihat Mas Adnan yang kesusahan memakai dasi.
" Mau Afifah bantu?. " Tanya ku.
Dia tidak menjawab melainkan menyodorkan dasi nya ke aku.
Selesai memakaikan dasi mungkin sebaiknya aku meminta maaf secara langsung hari ini.
" Eum mas. " Aku memanggil dia tapi iya aku tidak mendapat jawaban.
" Maafin Afifah yang sudah lancang. " Ucapku.
" Jangan pernah masuk ke ruangan yang sudah dilarang PAHAM!. " Ucapnya.
" Paham hiks. " Ucapku yang tidak sengaja menangis.
Aku segera pergi dari hadapan Mas Adnan karena aku enggak mau dia lihat aku menangis.
Saat aku sudah siap untuk pergi
" Mau kemana kamu?. " Tanya Mas Adnan dari belakang ku.
" Eum mau ke kampus. " Ucapku.
" Sama siapa?. " Tanyanya.
" Fifah pesan ojek online. " Ucapku.
" Cancel. " Ucapnya.
" Loh kenapa di cancel terus nanti Fifah sama siapa?. " Tanyaku.
" Biar aku yang ngantar kamu. " Ucapnya yang langsung pergi mengeluarkan mobil.
" Tapi__." Belum sempat aku melanjutkan ucapan ku.
" Masuk cepetan nanti telat. " Ucapnya.
Iya sudah lah aku masuk dan sepanjang perjalanan kita hanya diam saja.
Sesampainya di kampus aku langsung mencium tangan mas adnan dan keluar terlebih dahulu.
" Assalamu'alaikum Anum. " Ucapku saat melihat Anum lagi diluar ruangan.
" Wa'alaikumsalam Fifah. "
Aku dan Anum masuk ke kelas
" Tugas mu sudah selesai Fah?. " Tanya Anum.
" Sudah. "
" Coba kulihat. " Ucap Anum.
Aku pun langsung mengeluarkan tugas ku dari dalam tangan.
Tapi saat aku ingin membuka halamannya tiba-tiba Anum berucap.
" Tunggu-tunggu ini apa?. " Ucap Anum menarik tangan ku.
oh my good,
Aku lupa membuka cincin nya.
" Fifah?. " Panggilnya.
" Selamat pagi semuanya. " Ucap Mas Adnan yang masuk ke dalam kelas.
" Aku tunggu penjelasan mu selesai mata kuliah nanti. " Ucap Anum yang langsung balik ke tempat duduknya.
Oke mau tidak mau aku harus memberi tau Anum yang sebenarnya terjadi.
Seperti biasa selesai mata kuliah aku dan anum ke kantin untuk mengisi perut kita karena aku enggak terbiasa sarapan di pagi hari.
" Fah. " Panggilnya aku hanya menengok saja.
" Saat nya kamu jelaskan ke aku apa yang terjadi. " Ucap Anum.
" Eum baiklah, soal cincin ini aku sudah nikah. " Ucapku pelan agar tidak kedengaran siapa pun kecuali Anum.
" WHAT. " Teriak Anum yang histeris.
" Anum jangan teriak. " Ucapku.
" Coba jelaskan ke aku bagaimana kamu bisa nikah dan kamu nikah sama siapa Fah. " Tanya Anum yang menginterogasi aku.
" Aku jawab satu-satu iya mulai dari mana aku bisa nikah jadi gini aku izin kemarin ya karena aku nikah dan itu dadakan awalnya si pas aku ulang tahun nanti tapi sayang nya karena aku melakukan kesalahan___. "
" Kamu hamil Fah?. " Tanya Anum yang memotong pembicaraan ku
" Anum bisa enggak jangan di potong dulu. " Ucapku.
" Maaf, lanjutkan Fah. " Ucap Anum.
" Aku melakukan kesalahan cuman gara-gara hal sepele aku memanggil dia dengan sebutan yang engga seharusnya dipanggil. "
" Memang siapa dia Fah?. " Tanya Anum.
" Dia adalah Pak Adnan. " Ucapku dan Anum pun tersedak.
huk huk huk
" Are you oke Num?. " Tanya ku dan Anum pun mengangguk.
" Gimana ceritanya kamu bisa nikah sama Pak Adnan. " Tanya Anum.
" Jadi gini Pak Adnan itu anak dari sahabat ayah dan bunda ku sekaligus dia sahabat nya Bang Satria. " Ucapku.
" Ouh terus tadi kan kamu bilang melakukan kesalahan karena memanggil panggilan yang enggak seharusnya, memang kamu manggil apa?. " Tanya Anum.
" Aku memanggil dia bapak saat hari lamaran itu. " Ucap ku.
" Wah gila cuman karena kamu manggil dia bapak. " Ucap Anum.
Aku hanya mengangguk.
" Oh iya Num aku mohon sama kamu tutup mulut iya soal ini karena aku sama Pak Adnan akan menyembunyikan status kita. " Ucap Ku.
" Siap, eh btw gimana rasanya beberapa hari menjadi istrinya Pak Adnan?. " Tanya Anum.
" Tidak ada yang menarik bahkan kemarin dan mungkin sampai tadi aku sama mas adnan diam-diaman, mas adnan marah padaku karena satu hal yang aku langgar. " Ucap Ku.
Anum hanya menyimak dan kemudian handphone ku bergetar ada notif masuk.
Kurang lebih pesan Mas Adnan seperti itu.
" Ada apa Fah?. " Tanya Anum.
" Aku kayaknya harus pulang deh, oh iya aku titip absen iya nanti. " Ucapku.
" Memang nya ada apa Fah?. " Tanya Anum lagi.
" Entah lah Pak Adnan menyuruh ku untuk ke parkiran dan menyuruh ku untuk pulang. " Ucapku.
" Iya sudah mungkin Pak Adnan ada urusan penting yang memerlukan kamu." Ucap Anum.
" Iya Num kalau gitu aku duluan. Eh ini uang buat bayar siomay tolong iya hehehe. " Ucap Ku sambil memberikan selembar uang.
" Iya elah Fifah santai aja si biar aku bayarin hitung-hitung kado pernikahan mu. " Ucap Anum.
" Makasih Num aku pergi sekarang, assalamu'alaikum. " Ucapku yang langsung pergi.
# Parkiran
Aku melihat mobil Mas Adnan tidak jauh dari tempatku berada dan segera mungkin aku masuk agar tidak ada yang melihat apalagi curiga kepada ku.
" Assalamu'alaikum. " Ucapku ketika masuk kedalam mobil.
" Wa'alaikumsalam. " Ucapnya yang fokus ke handphone nya.
" Ada apa mas memanggil Fifah?. " Tanyaku.
" Umi menyuruh kita ke rumah sakit. " Ucapnya.
" Loh Umi sakit, Ko enggak ngasih tahu Fifah." Ucapku.
" Bukan Umi tapi kakaknya umi istrinya melahirkan dan menyuruh kita ke sana. " Ucap Mas Adnan.
Aku hanya diam dan memasang seat belt. Sepanjang perjalanan aku sama Mas Adnan diam dan tiba-tiba perut ku sakit banget karena dari pagi aku baru isi siomay itupun sesuap saja.
Mas Adnan menengok ke arah ku mungkin dia sadar aku cukup tidak bisa diam sedari tadi.
" Kamu kenapa?. " Ucapnya lalu kembali fokus menyetir lagi.
" Ah enggak gapapa mas. " Ucapku yang berbohong karena sejujurnya perut ku sudah perih dan ditambah aku sedikit lemas sekali tapi aku enggak mau mengganggu konsentrasi Mas Adnan.
# Rumah Sakit
Cukup lama kita untuk sampai di rumah sakit karena macet sekali ibu kota ini.
" Assalamu'alaikum. " Ucap Aku dan Mas Adnan saat memasuki ruangan serba putih ini.
" Wa'alaikumsalam walah pengantin baru kesini. " Ucap pria paruh baya ini yang sedang menggendong bayi mungil.
" Oh iya Pakde bude kenalin ini Afifah, Afifah kenalin ini pakde bimo dan itu istrinya Mba Sarah. " Ucap Mas Adnan.
" Bimo. "
Aku pun mencium tangan kedua nya.
" Panggil mba sarah aja kita sepantaran ko tua an aku sedikit ko. " Ucap istrinya pakde bimo.
" Mba sama kayak kamu ko kita di jodohkan di usia muda. " Ucap Mba Sarah.
Walah ternyata keluarganya Mas Adnan punya bakat di bidang perjodohan iya.
" Eum Fifah mau gendong dedek nya?. " Tanya Pakde Bimo.
" Fifah takut Pakde. " Ucapku, ya memang aku suka anak kecil sih bahkan bakat dalam gendong anak kecil tapi kalau masih merah begini agak ngeri aja si aku apalagi ini anak orang kan.
" Dicoba aja dulu hitung-hitung belajar nanti kalau punya anak. " Ucap Mba Sarah.
Lalu pakde bimo memindahkan gendong nya ke tangan ku, aku menerima dengan hati-hati karena bayi ini masih sangat rentan sekali.
" Wah Afifah sudah cocok sekali iya, kapan kalian segera menyusul punya anak?. " Tanya Pakde.
" Nan jangan ditunda atuh mumpung kalian masih muda anak itu titipan loh siapa tau nanti rezeki kalian bertambah dan keluarga kalian menjadi lengkap. " Ucap Mba Sarah.
Aku tersenyum kikuk dan melirik kearah Kak Adnan yang memberikan senyuman sambil memejamkan matanya.
" Doain saja Pakde Mba. Adnan sama Afifah juga sedang berusaha ko. " Ucap Mas Adnan.
Pembicaraan soal anak hanya membuat aku merasa bersalah sejujurnya.
Oh iya berbicara soal umi nya Mas Adnan katanya pakde dan mba sarah, umi sudah pulang sebelum aku dan mas adnan tiba di rumah sakit.
" Pakde Mba sarah eum Adnan sama Fifah pamit pulang iya. " Ucap Mas Adnan.
Aku pun mengembalikan bayi ini ke gendongan pakde.
" Walah cepat-cepat banget Nan. " Ucap Pakde.
" Iya Pakde kita berdua masih ada urusan. " Ucap Mas Adnan.
Dalam hati berucap " urusan apa?. "
" Iya sudah nanti kalau bude mu ini sudah diizinkan pulang kalian main iya ke rumah. " Ucap Pakde.
" Iya main nya dan Afifah nya harus udah hamil." Ucap Mba Sarah.
Aku dan Mas Adnan hanya tersenyum.
" Walah sudah toh sayang kamu menggoda mereka saja. " Ucap Pakde.
" Biarin aja kalau enggak gitu Adnan nya susah nih diajak iya kan?. " Tanya Mba Sarah.
" Eum sudahlah mba, Adnan pamit. "
" Assalamu'alaikum. " Ucap aku dan Mas Adnan.
Selama perjalan ya tidak ada yang berbicara.
" Mas. " Panggilku.
Mas Adnan hanya menengok ke arah ku.
" Bisa mampir ke apotik?. " Tanyaku.
Mas Adnan mengerutkan dahi pertanda bingung.
" Afifah mau beli cadangan pembalut. " Ucapku berbohong karena aku mau beli obat maag ku.
Akhirnya Mas Adnan memberhentikan mobil nya tepat di depan apotik.
Aku langsung turun dan mengambil beberapa stok obat-obatan dan pembalut yang habis di rumah.
Aku pun segara membayar dan balik ke mobil.
" Sudah?. " Tanya nya yang masih memainkan handphone.
" Sudah mas. " Ucapku yang lagi memakai seat belt dan Mas Adnan menaruh handphone lalu melajukan mobil nya.
Sesampainya tidak banyak aku lakuin karena jujur aku lemas sekali.
Mas Adnan masih diam ke aku entahlah sampai kapan padahal aku sudah meminta maaf.
Sudah lah lebih baik aku istirahat saja.