NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Di pinggir jalan yang ramai itu, Emirhan masih mematung di samping mobilnya.

Amarah dan penyesalan meledak secara bersamaan di dalam dadanya.

Ia masuk ke dalam mobil dengan gerakan kasar dan segera menghantamkan kepalan tangannya ke arah kemudi berkali-kali.

Brak! Brak!

"Sial!!" teriaknya dengan suara parau yang memenuhi kabin mobil.

Ia merogoh saku, mengeluarkan anting berlian milik Laura itu, dan menatapnya dengan pandangan penuh kebencian.

Gara-gara obsesi gila Laura dan kecerobohannya sendiri, ia kini kehilangan kepercayaan satu-satunya wanita yang ia cintai.

Emirhan mencoba menghubungi ponsel Aliya, namun hanya suara operator yang menjawab. Gadis itu telah mematikan ponselnya.

Sementara itu, di sebuah sudut kota yang lebih tenang, taksi yang ditumpangi Aliya berhenti tepat di depan pagar kayu berwarna cokelat.

Aliya turun dengan langkah gontai, matanya merah dan membengkak.

Ia mengetuk pintu perlahan. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan menampakkan sosok Leyla yang mengenakan piyama, wajahnya tampak sedikit pucat karena sedang tidak enak badan.

"Aliya?" Leyla terbelalak melihat sahabatnya berdiri di depan pintu dalam kondisi yang sangat hancur.

Seragamnya sedikit berantakan dan air mata masih membekas di pipinya.

Leyla segera menarik Aliya masuk dan menutup pintu rapat-rapat.

"Sama siapa kamu ke sini? Mana pria yang biasanya menjemputmu itu?" tanya Leyla dengan nada khawatir sambil menuntun Aliya duduk di sofa ruang tamu.

"Sendirian," jawab Aliya lirih. Suaranya terdengar sangat kosong, seolah jiwanya baru saja dicuri.

Aliya langsung menenggelamkan wajahnya di bahu Leyla dan kembali terisak.

Leyla yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengusap punggung sahabatnya itu, mencoba memberikan kekuatan yang ia sendiri pun tidak tahu harus dari mana asalnya.

"Tumpahkan saja, Aliya. Tumpahkan semuanya. Aku di sini," bisik Leyla lembut, membiarkan seragam Aliya basah oleh air mata yang seolah tak ada habisnya.

"Aku mencintainya, tapi anting itu, Leyla. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri di kamarnya," isak Aliya, suaranya teredam di bahu sahabatnya.

Leyla terus mengusap punggung Aliya, membiarkan gadis itu menumpahkan seluruh rasa sakitnya hingga napas Aliya mulai teratur.

Setelah beberapa saat, Leyla melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Aliya.

"Sudah tenang?" tanya Leyla lembut.

Aliya menganggukkan kepalanya perlahan, meski matanya masih terlihat sangat sembab. Namun, tiba-tiba tatapan Aliya berubah.

Sorot mata yang tadinya penuh kesedihan mendadak digantikan oleh binar nekat yang terlihat asing.

"Aku mau bersenang-senang dulu, Leyla," ucap Aliya sambil menghapus sisa air matanya dengan kasar.

Leyla mengerutkan kening, merasa ada yang tidak beres dengan nada bicara Aliya.

"Hey, apa maksudmu? Kamu harus istirahat, Minggu depan kamu ujian."

Aliya tidak mendengarkan. Ia berdiri dan merapikan rambutnya di depan cermin.

"Ayo kita ke klub malam. Aku ingin melupakan semuanya, setidaknya untuk malam ini saja."

"Aliya, jangan gila!" seru Leyla terperanjat.

"Kita bahkan belum cukup umur untuk masuk ke tempat seperti itu, dan kamu masih pakai seragam!"

"Sekali ini saja, Leyla. Aku mau menjernihkan pikiranku. Kalau kamu tidak mau ikut, aku akan pergi sendiri," tantang Aliya.

Karena takut Aliya melakukan hal yang lebih berbahaya, Leyla akhirnya terpaksa mengikuti kemauan sahabatnya.

Setelah berganti pakaian seadanya, mereka berakhir di salah satu klub malam yang cukup bising di pusat kota.

Aliya seolah kehilangan kendali. Di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, ia mulai menenggak minuman dari gelas ke gelas.

Ia tidak peduli pada rasa pahit yang membakar tenggorokannya.

Kemudian Aliya naik ke lantai dansa, menari kesana kemari dengan gerakan yang tidak beraturan, mencoba menulikan telinganya dari bayangan suara Emirhan.

Melihat kondisi Aliya yang semakin tidak terkendali, Leyla mulai panik.

Ia menyelinap keluar ke area yang lebih tenang dan segera merogoh ponselnya.

Ia mencari nomor Emirhan yang sempat ia simpan untuk keadaan darurat.

"Halo, Emir?" ucap Leyla begitu panggilan tersambung.

"Leyla? Di mana Aliya? Apa dia bersamamu?" suara Emirhan terdengar sangat cemas di seberang sana.

Leyla mengintip ke dalam, melihat Aliya yang sedang tertawa sambil terus menari di tengah kerumunan pria.

"Emir, jemput kekasihmu sekarang. Dia sudah gila," ucap Leyla sambil tertawa kecil, tawa yang lahir dari rasa frustrasi melihat tingkah nekat sahabatnya.

"Apa maksudmu? Apa yang terjadi?!" bentak Emirhan, suaranya meninggi karena rasa takut yang luar biasa.

"Dia di klub malam 'The Void'. Cepatlah sebelum dia melakukan hal yang lebih memalukan lagi!" jawab Leyla sebelum mematikan telepon.

Di seberang sana, Emirhan langsung menyambar kunci mobilnya.

Rahangnya mengeras. Ia tidak pernah membayangkan Aliya yang polos akan menginjakkan kaki di tempat seperti itu.

Dengan kecepatan penuh, ia memacu mobilnya, siap menyeret Aliya pulang dari kegilaan malam itu.

Musik berdentum kencang di dalam klub malam 'The Void', memekakkan telinga dan membuat lantai dansa bergetar.

Di tengah kerumunan yang pengap, Aliya menjadi pusat perhatian.

Parasnya yang cantik dan gerakannya yang tidak beraturan mengundang perhatian banyak lelaki.

Beberapa dari mereka mulai mendekat, mencoba menyentuh bahu atau pinggang Aliya dengan tatapan nakal.

"Ini sungguh gila..." gumam Leyla yang berdiri di pojok, wajahnya pucat karena cemas melihat sahabatnya hampir kehilangan kesadaran di tengah kepungan lelaki asing.

Tiba-tiba, suasana yang riuh itu seolah membeku bagi satu orang.

Pintu depan klub terbuka lebar, dan Emirhan melangkah masuk dengan aura yang begitu gelap.

Matanya menyapu ruangan hingga ia menemukan sosok yang dicarinya.

Emirhan mencengkeram erat kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih saat melihat kekasihnya yang biasanya polos kini menari di tengah godaan lelaki lain.

Emirhan menerjang kerumunan, mendorong siapapun yang menghalangi jalannya dengan kasar. Ia langsung menarik tangan Aliya, membuat gadis itu tersentak.

"Aliya, ayo pulang!" ajak Emir dengan suara berat yang menahan amarah.

Aliya yang sudah dipengaruhi alkohol menepis tangan Emirhan dengan gerakan lambat.

Ia tertawa miris, menatap Emirhan dengan mata yang sayu namun penuh kebencian.

"Pulang? Ke mana? Ke rumahmu? Semua orang tidak mau aku di sana, Emir..." ucap Aliya terbata-bata. "Dan, membohongiku, Emirhan!"

"Cukup, Aliya! Kita bicara di rumah!"

Tanpa aba-aba lagi, Emirhan membungkuk dan langsung memanggul Aliya di bahunya seperti karung beras.

Ia membawa gadis itu keluar melewati kerumunan yang bersorak mengejek.

"Lepaskan aku! Turunkan aku, Emirhan!" teriak Aliya sambil memukul-mukul punggung kokoh pria itu.

Begitu sampai di area parkir yang dingin, Emirhan menurunkan Aliya dengan kasar.

"Aliya, sadar!! Apa yang kamu pikirkan dengan datang ke tempat seperti ini?" bentak Emirhan.

Aliya terdiam sejenak, dadanya naik turun karena emosi. Air mata kembali mengalir di pipinya yang memerah.

"Kamu membentakku? Kamu jahat, Emirhan... Kamu jahat!"

Emirhan yang sudah sangat jengkel karena rasa khawatir dan cemburu yang bercampur aduk, tidak sanggup lagi berdebat.

Dengan gerakan cepat, ia menarik pinggang Aliya hingga tubuh mereka menempel erat, lalu ia membungkam mulut gadis itu dengan ciuman yang dalam dan penuh tuntutan.

Aliya sempat memberontak selama beberapa detik, namun aroma maskulin Emirhan dan rasa rindu yang terpendam di balik kemarahannya membuat pertahanannya runtuh.

Ia justru mulai membalas ciuman yang diberikan oleh Emirhan, meluapkan segala rasa sakit dan cintanya dalam satu lumatan yang intens.

Setelah beberapa saat, Emirhan melepaskan ciumannya. Ia menatap Aliya yang kini tampak lebih tenang meski napasnya masih memburu.

Tanpa berkata-kata lagi, ia membuka pintu mobil dan memasukkan Aliya ke kursi penumpang depan, lalu memasangkan sabuk pengamannya dengan paksa.

Emirhan menoleh ke arah Leyla yang berdiri tak jauh dari sana.

"Kamu pulanglah naik taksi. Ini uangnya," ucap Emirhan singkat sambil menyodorkan beberapa lembar uang besar.

Leyla menganggukkan kepalanya dengan cepat, merasa lega sekaligus takut melihat kemarahan di mata Emirhan.

Ia mematung melihat mobil sedan mewah itu melesat pergi meninggalkan area klub, membawa Aliya kembali ke dalam sangkar emas yang penuh dengan rahasia.

Emirhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan malam kota Istanbul. Rahangnya masih mengeras, namun sesekali ia melirik Aliya yang mulai terkantuk-kantuk di kursi penumpang.

Ia memutuskan untuk tidak membawa Aliya kembali ke mansion Karadağ.

Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Onur atau betapa tajamnya lidah Zaenab jika melihat Aliya pulang dalam kondisi mabuk dan kacau seperti ini. Itu hanya akan memberi musuh-musuhnya peluru untuk mengusir Aliya selamanya.

Setibanya di gedung apartemen pribadinya, Emirhan segera turun dan membukakan pintu.

Dengan penuh kehati-hatian namun tetap sigap, Emirhan membopong tubuh Aliya yang terasa sangat ringan di pelukannya.

"Emirhan..." gumam Aliya pelan, suaranya parau dan hampir tidak terdengar.

Kepalanya terkulai di ceruk leher Emirhan, menghirup aroma parfum maskulin pria itu yang selalu menjadi candunya.

Emirhan tidak menjawab. Ia terus melangkah melewati lobi menuju lift pribadi.

Begitu pintu apartemen terbuka, suasana sunyi dan mewah menyambut mereka. Emirhan membawa Aliya langsung menuju kamar utama, tempat di mana semalam segala ketegangan dimulai.

Ia membaringkan Aliya di atas ranjang king size yang empuk.

Dengan telaten, Emirhan melepas sepatu Aliya dan menyelimuti tubuh gadis itu hingga sebatas dada.

"Kenapa, kamu jahat sekali, Emir?" igau Aliya dengan mata terpejam, air mata tipis mengalir dari sudut matanya yang tertutup.

"Anting itu... kenapa ada di kamarmu?"

Emirhan duduk di tepi ranjang, menatap wajah Aliya yang memerah karena pengaruh alkohol.

Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dadanya.

Ia membelai lembut dahi Aliya, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik yang kini tampak sangat rapuh itu.

"Aku tidak pernah mengkhianatimu, Aliya. Maafkan aku karena membiarkan kekacauan ini terjadi di rumahku sendiri," bisik Emirhan pelan, meskipun ia tahu Aliya tidak benar-benar mendengarnya.

Malam itu, Emirhan tidak tidur. Ia tetap berjaga di samping Aliya, menggenggam tangan gadis itu erat-erat seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Aliya akan kembali lari ke tempat yang gelap.

Di balik kemewahan apartemen yang tinggi itu, Emirhan bersumpah dalam hati bahwa esok, ia akan menuntaskan urusannya dengan Laura dan memastikan tak ada satu pun benda asing yang akan merusak kebahagiaan mereka lagi.

Suasana sunyi di apartemen mewah itu tiba-tiba terusik oleh getaran ponsel Emirhan di atas nakas.

Nama "Ayah" kembali muncul di layar. Emirhan melirik Aliya yang sudah tertidur lelap dengan napas yang mulai teratur, lalu ia beranjak ke balkon agar suaranya tidak mengganggu istirahat gadis itu.

"Ya, Ayah?" ucap Emirhan pelan begitu mengangkat telepon.

"Kenapa kalian belum sampai di rumah? Mobilmu tidak ada di parkiran dan kamar Aliya kosong," suara Onur terdengar penuh selidik, ada nada kekhawatiran yang tersembunyi di balik ketegasannya.

Emirhan memijat pangkal hidungnya, mencari alasan yang paling aman tanpa harus mengungkapkan kegilaan yang terjadi di klub malam tadi.

"Aliya sudah tidur karena kelelahan, Ayah. Tadi ada banyak tugas sekolah dan dia sangat terguncang karena masalah kemarin," dusta Emirhan demi melindungi martabat Aliya di depan ayahnya.

"Biarkan kami malam ini di apartemen. Aku tidak mau membangunkannya hanya untuk perjalanan pulang."

Di seberang telepon, Onur terdiam cukup lama. Ia teringat percakapannya dengan Maria tadi siang di kafe—tentang bagaimana Aliya adalah segalanya bagi Maria, dan bagaimana Onur berjanji akan menjaga gadis itu.

Onur menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar sangat berat dan penuh beban pikiran.

"Baiklah, Emir," ucap Onur akhirnya dengan nada yang sedikit melunak.

"Tapi jaga dia baik-baik. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya, atau aku sendiri yang akan menyeretmu pulang."

"Aku mengerti, Ayah," jawab Emirhan singkat sebelum menutup sambungan telepon.

Emirhan kembali masuk ke kamar dan menatap Aliya yang masih terlelap.

Ia tahu, meskipun malam ini ia berhasil melindungi Aliya dari kemarahan ayahnya, besok pagi ia harus menghadapi badai yang sebenarnya: penjelasan jujur tentang anting itu dan bagaimana ia harus meyakinkan Aliya untuk tetap tinggal di sisinya.

Ia duduk kembali di kursi samping ranjang, menatap cahaya lampu kota Istanbul dari jendela besar, menyadari bahwa takdirnya dan Aliya kini benar-benar berada di ujung tanduk antara masa lalu orang tua mereka dan ego keluarga Karadağ.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!