Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.
Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.
Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.
Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.
Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.
"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."
Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.
Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?
Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: KEBENARAN YANG MENYAKITKAN
Pertarungan di dalam Kuil Terbengkalai itu telah usai. Hening. Sunyi senyap.
Hanya tersisa suara napas memburu dan bau darah yang menyengat memenuhi udara. Di lantai yang penuh debu dan puing-puing, tergeletak puluhan tubuh musuh yang tak berdaya. Mereka semua kalah telak dalam sekejap mata oleh kekuatan dahsyat jurus Pusaran Naga Emas milik Mo Fei.
Di tengah medan pertempuran itu, Mo Fei berdiri tegak dengan napas yang sedikit memburu namun wajahnya tetap dingin dan tegas. Aura emas yang mengelilingi tubuhnya perlahan meredup, namun tekanan maut yang dipancarkannya masih terasa sangat berat dan menakutkan.
Di hadapannya, hanya tersisa satu orang yang masih berdiri.
Itu adalah sang Pemimpin Bertopeng, pemimpin divisi satu Istana Kematian tadi. Namun kini, sosok yang tadi begitu sombong dan angkuh itu sudah berubah total. Tubuhnya gemetar hebat, lututnya lemas, dan tangannya gemetar tak kuasa menahan rasa takut yang luar biasa.
Ia menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan manusia biasa. Ia baru saja menantang seekor naga yang sedang tidur, dan kini naga itu sudah bangun.
Mo Fei berjalan perlahan mendekatinya. Setiap langkah kakinya menginjak tanah, terdengar tok... tok... tok... yang berat, seolah memukul-mukul jantung pria bertopeng itu hingga rasanya ingin copot.
"Sekarang..." ucap Mo Fei dengan suara rendah, dingin, dan menusuk. "Permainan sudah selesai. Waktunya kau membayar hutang. Dan waktunya kau menjawab pertanyaanku."
Mo Fei berhenti tepat di hadapan pria itu, jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah saja.
"Bilang padaku... Siapa sebenarnya Bos Besar kalian itu? Dan apa hubungannya dengan Lembah Naga Tidur? Dan yang paling penting... Di mana guruku?! Apa yang kalian lakukan pada Kakek?!" tanya Mo Fei bertubi-tubi dengan tatapan mata yang tajam bagaikan pisau belati.
Pria bertopeng itu menundukkan kepalanya, bahunya terlihat bergetar hebat. Apakah dia menangis? Atau dia ketakutan setengah mati?
Tiba-tiba...
WAK WAK WAK WAK!!!
Ia tertawa!
Tawanya bukan tawanya orang normal. Itu adalah tawa pahit, tawa putus asa, dan tawa yang terdengar sangat gila!
"WAKAKAKA! HAHAHAHA! Kebenaran? Kau ingin tahu kebenaran, bocah naif?!" ucapnya dengan suara serak dan bergetar. "Kau pikir kau sedang memburu musuhmu? Kau pikir kau sedang berjuang membalaskan dendam lembahmu? SANGAT BODOH!!"
"Apa maksudmu?!" bentak Mo Fei, tangannya siap menembakkan jarum sewaktu-waktu.
"Dengar baik-baik dan ingat selamanya, Mo Fei..." pria itu mengangkat wajahnya perlahan, matanya di balik topeng memancarkan pandangan aneh. "Gurumu... Kakek yang kau hormati dan kau cintai itu... BUKANLAH KORBAN!"
JEDAR!
Seperti disambar petir di siang bolong!
Jantung Mo Fei seakan berhenti berdetak sejenak. Otaknya terasa kosong mendengar kalimat itu.
"Apa... apa yang kau omongkan? Jangan fitnah! Kakek diserang! Lembahku hancur! Kalianlah yang melakukannya!" teriak Mo Fei tak terima, suaranya meninggi karena emosi yang mulai meledak.
"KAMI YANG MELAKUKANNYA? YA BENAR! TAPI ATAS PERINTAH DIA SENDIRI!" teriak pria itu membalas dengan keras. "DIA YANG MEMBUKA GERBANG LEMBAH! DIA YANG MEMBERI KAMI PETA! DIA YANG MEMBERITAHU KAMI DI MANA SEMUA RAHASIA ITU DISIMPAN!"
"BOHONG!! ITU MUSTAHIL!" air mata mulai menggenang di mata Mo Fei, kepalanya terasa pusing dan panas. "Kakek mencintaiku! Dia membesarkanku! Dia mengajariku segalanya! Kenapa dia melakukan itu?!"
"Karena dia menginginkan kekuatan! Karena dia menginginkan keabadian! Karena dia tidak puas hanya menjadi penjaga lembah!" pria itu terus melontarkan kalimat-kalimat pedas yang menghancurkan hati Mo Fei. "Dia bekerja sama dengan kami! Dia menyerahkan semua murid-muridnya, menyerahkan seluruh isi lembah, hanya demi satu janji... Agar dia menjadi orang terkuat di dunia!"
"TIDAKKKK!!" Mo Fei berteriak kencang menutup telinganya, ia tidak mau mendengarnya! "Kau bohong! Kalian pembohong! Kalian hanya ingin memecah belahku!"
"Percaya atau tidak, itu kenyataan pahitnya!" pria itu tertawa lagi semakin keras. "Dan sekarang... dia sudah berhasil! Dia sudah menyerap sebagian kekuatan gelap itu! Dan posisinya sekarang... JAUH LEBIH TINGGI DARIKU! Dia bukan lagi kakek baik hati yang kau kenal! Dia sekarang adalah... PENGUASA BARU ISTANA KEMATIAN!"
BRUG!
Kaki Mo Fei lemas seketika. Ia mundur selangkah demi selangkah, wajahnya pucat pasi, keringat dingin bercucuran deras dari dahinya.
Dunianya seakan runtuh berkeping-keping. Segalanya yang ia percaya, segalanya yang ia perjuangkan, ternyata hanyalah sebuah kebohongan besar!
Orang yang ia cari, orang yang ia hormati, orang yang ia anggap sebagai orang tua sendiri... ternyata adalah dalang utama di balik semua kehancuran dan pembantaian itu!
"Tidak... tidak mungkin..." bisik Mo Fei pelan dengan suara putus asa. "Itu tidak benar... Itu mimpi buruk..."
Tiba-tiba, pria bertopeng itu melakukan gerakan cepat!
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia merobek topeng di wajahnya sendiri dan melemparkannya ke tanah!
TRANG!
Mata Mo Fei terbelalak lebar tak percaya melihat wajah yang terlihat!
Itu bukan wajah orang asing!
Itu adalah wajah... Saudara Seperguruannya sendiri!
Pria yang dulu dikenal sebagai murid terbaik seniornya, yang dulu dianggap gugur saat penyerangan di lembah bertahun-tahun lalu! Dia masih hidup!
"Kakak... Senior?!" Mo Fei tergagap, matanya tak bisa berkedip.
"Ya... ini aku," ucap pria itu dengan wajah sedih dan penuh penyesalan. "Aku selamat karena aku lari... karena aku tidak tega melihatmu dibunuh saat itu. Maafkan aku, Mo Fei... Aku sudah mencoba memperingatkanmu lewat petunjuk-petunjuk kecil. Tapi kau terlalu polos..."
Ia menatap Mo Fei dalam-dalam.
"Kebenarannya memang pahit dan menyakitkan, adikku. Tapi itulah kenyataannya. Gurumu... sudah berubah menjadi monster demi kekuatan. Dan sekarang... target utamanya selanjutnya... adalah kau dan matamu."
GLEKK!
Mo Fei menelan ludah dengan susah payah. Dadanya terasa sesak bagaikan ditimpa beban ribuan ton batu.
Jadi selama ini... ia berjuang melawan orang yang ia cintai? Jadi selama ini... musuh terbesarnya ada tepat di depan matanya selama ini?
Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi Mo Fei. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata kemarahan, kekecewaan, dan rasa hancur yang luar biasa.
"Kakek... kenapa... kenapa kau melakukan ini padaku... padamu sendiri..." bisiknya pelan, suaranya bergetar hebat.