NovelToon NovelToon
Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: LaruArun

Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.

Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.

Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.

Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Moan my name."

"Kak... ahhh—"

Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 TERBONGKAR

Arash melayangkan pukulan pada Lian begitu pria itu muncul hingga membuat wajahnya menoleh ke samping. Sorot matanya menggelap, dadanya naik turun di kuasai emosi yang sejak tadi mati-matian ia tahan.

"Kenapa kau memukulku?" tanya Lian bingung. Ia tidak menduga kedatangannya akan di sambut pukulan oleh sahabatnya itu.

"Brengsek kau!"

Arash mencengkram kerah Lian dan kembali melayangkan pukulan hingga membuat ujung bibir Lian pecah dan mengeluarkan darah.

"Apa maksud perlakuan mu ini?" Lian yang semula tenang kini berubah kesal. Kedua alisnya bertaut bingung. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan Arash begitu murka karena sahabatnya itu hanya menyuruhnya datang ke rumah sakit secepatnya tanpa memberi tahu alasannya.

"Kau bajingan, Lian!"

Kening Lian semakin berkerut mendengar makian Arash. "Kau kenapa Arash? Kenapa kau begitu marah?" sebisa mungkin Lian menahan tangan Arash supaya tidak kembali menghajarnya

Arash tidak menjawab. Emosi sudah menguasai dirinya, mengalahkan fakta bahwa sosok di depannya adalah sahabatnya. Ia menepis tangan Lian kasar, hendak memukulnya kembali jika saja Ava tidak muncul dan melerai mereka.

"Arash kendalikan dirimu. Aku tahu kau kesal, tapi ini rumah sakit." Ava memegangi dada suaminya yang bergerak naik turun tak beraturan. Marah dan kesal bercampur menjadi satu setelah mengetahui fakta dari dokter bahwa adiknya tengah mengandung.

"Emosi tidak akan menyelesaikan masalah," Bisiknya lagi seraya mengelus Arash perlahan supaya pria itu tenang.

Namun alih-alih tenang, Arash justru malah berteriak. "Lepaskan aku Ava! aku akan memberinya pelajaran."

"Arash!"

Ava terpaksa membungkam mulut suaminya itu karena ia sangat tahu bagaimana pria itu saat emosi. Selain ototnya yang menegang, mulutnya juga tidak akan berhenti mengumpat dan memaki.

"Diam." Ava menyentuh wajah suaminya, memaksanya menatap mata bulatnya yang kian membesar kala ia melotot. "Kendalikan dirimu atau aku akan menguncimu di luar."

Arash tidak menjawab. Rahang Arash mengeras. Otot di lehernya menegang, namun akhirnya ia mundur setengah langkah sambil mengusap wajah kasar.

"Sebenarnya ada apa ini, Ava?" tanya Lian sambil menyeka darah di bibinya. "Kenapa dia seperti orang gila?"

"Kau masih bertanya apa?!" Arash menepis tangan Ava, emosinya kian memuncak hingga membuatnya hendak kembali melayangkan pukulannya jika Ava tidak segera menahannya.

"Arash!"

"Lian," panggil Ava serius. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu dan tolong kau jawab dengan jujur."

Lian menatap bingung sambil menahan rasa sakit di wajahnya namun kepalanya tetap mengangguk pelan.

"Kau darimana? Kenapa kau tidak ada di apartemenmu saat aku dan Arash mengunjungimu?"

Arash berdecak kesal mendengar istrinya yang di anggap terlalu bertele-tele. "Jawab aku Lian," bentakna. "Kenapa adikku Esther bisa ada di apartemenmu malam-malam?!"

"Esther?" gumam Lian. Keterkejutan tergambar jelas di wajahnya sebelum buru-buru ia sembunyikan. Ia baru menyadari bahwa orang yang terbaring di ranjang rumah sakit itu adalah Esther.

Lian terkekeh, mencoba menyembunyikan fakta sebenarnya. "Mustahil. Bagaimana mungkin—"

"Aku menemukannya kesakitan di dalam apartemenmu!" Arash sudah kembali mencengkram kerah Lian dengan erat.

"Arash lepaskan Lian!" Ava mencoba menarik tangan suaminya, mencoba melerai mereka kembali.

"Diam dan jangan ikut campur, Ava."

Suara gaduh di ruangan itu membuat Esther membuka kedua matanya perlahan, sinar lampu membuatnya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia bangkit. Dihadapannya ia dikejutkan dengan kakaknya yang tengah mencengkram kerah Lian dan Ava yang berusaha melerai mereka.

"Esther," Ava yang menyadari Esther sudah bangun lantas menghampirinya.

"Minumlah dulu," katanya seraya memberikan air yang sudah ia bukakan. "Kau tidak apa-apa? Bagaimana perutmu sekarang? masih sakit?"

Esther tidak langsung menjawab. Tangannya refleks memegang perutnya yang rata, mencoba merasakan kehadiran anaknya karena ia tidak sanggup bicara ataupun bertanya pada Kakak iparnya. Seketika jantungnya berdegup kencang, matanya berkaca memikirkan segala kemungkinan buruk yang menimpa bayinya.

Tiba-tiba tangan lain muncul, menyentuh punggung tangan Esther yang masih menempel pada perutnya hingga membuat Esther mendongak.

"Anakmu tidak apa-apa, dokter bilang kondisinya baik." ucap Ava sambil tersenyum.

Mendengar itu kedua mata Esther membesar lalu tanpa berkata apa-apa ia segera memeluk kakak iparnya itu.

"Kau sudah tahu, kak?" gumamnya hampir tak terdengar.

Ava mengangguk. "Aku dan Arash sudah tahu dari dokter," Ava memegang kedua bahu Esther, menatap mata adiknya yang basah oleh air mata. "Katakan padaku Esther, apa yang sudah terjadi. Siapa yang melakukan ini padamu?"

Alih-alih menjawab Esther malah kembali memeluk Ava. Kali ini lebih erat dari sebelumnya. Sementara di sudut lain ruangan itu, ketegangan belum mereda.

"Jawab aku Lian!" suara Arash kembali menggema di ruangan itu. Tangannya masih setia mencengkram erat kerah kemeja sahabatnya itu.

Lian menghela napasnya berat lalu menatap Esther yang terhisak dalam pelukan Ava sebelum akhirnya matanya kembali menatap iris gelap sahabatnya. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan hal ini dari Arash.

"We're living together because... " ucapnya pelan namun begitu jelas di telinga semua orang. "Esther is carrying my child.”

Ruangan mendadak hening.

"Apa?" kedua mata Arash melebar, terkejut bukan main mendengar pengakuan sahabatnya. "You slept with my sister?"

Cengkraman tangannya sempat mengendur beberapa detik sebelum Arash kembali menarik kasar Lian mendekat padanya, membuat pria itu bisa merasakan deru napasnya yang memburu.

Ava yang sempat mengira bahwa Esther hamil anaknya Joshua pun terdiam mendengar pengakuan Lian. Ia lantas menunduk, menatap Esther yang tersedu memeluknya.

"Benar itu Esther? Anak ini bukan anak Joshua tapi anaknya Lian?"

Dengan gemetar Esther mengangguk. Tak berani ia mengangkat kepalanya untuk menatap Ava, terlebih lagi setelah mendengar bentakan Arash yang menggema di ruangan itu. Ketakutan sudah lebih dulu melanda dirinya.

Ava hanya bisa mengelus punggung Esther pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri yang sama terkejutnya. Ia tidak menyangka semua ini terjadi pada adik dan sahabat suaminya itu.

Diamnya Lian membuat emosi Arash memuncak. Ia kembali memukul Lian hingga tubuhnya tersungkur ke lantai.

"BAJINGAN! Aku pikir kau adalah sahabatku, Lian!"

"Aku bisa jelaskan semuanya—"

"Diam Kau! Dari semua wanita di dunia ini kenapa harus adik ku?!" Arash berjongkok dan kembali meraih kerah Lian yang masih terbaring di atas lantai. "Jangan bilang sepupu wanita yang menginap di apartemenmu semalam adalah adikku?"

Lian mengangguk pelan. Ia sebenarnya bisa membalas pukulan Arash, namun rasa bersalah membuatnya memilih diam.

"Cih," Arash menghempaskan Lian kasar. Tangannya mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Ia tidak menyangka orang yang ia percayai dan sudah ia anggap sebagai keluarga justru menghancurkan adiknya sendiri.

Kini ia beralih pada adiknya di atas ranjang.

"Katakan padaku sejujurnya Esther," bentaknya. "Kenapa kau mau tidur dengannya sementara kau punya kekasih? Apa kau lupa kejadian Kak Martin dulu, hah?"

Rahang Arash mengeras. Tangannya mencengkram kedua bahu Esther, menggoncang tubuh adiknya yang masih tersedu.

"Hentikan Arash!" Ava menepis tangan suaminya. Ia kembali merangkul Esther ke dalam pelukannya. "Esther sedang hamil muda, ingat itu!"

"Dengarkan aku Arash." ujar Lian yang kini berdiri kembali. "Semua ini kesalahan adikmu, seandainya dia tidak mengantar ku pulang hari itu, semua ini tidak akan terjadi." jelas Lian. "Aku tidak mungkin tidur dengannya dalam keadaan sadar."

"Apa maksudmu Lian? Kau menyalahkan Esther karena ia telah menolongmu?" Ava menggeleng tak percaya.

"Bu-bukan itu maksudku."

"Lalu apa?" potong Ava tajam. "Alih-alih bertanggung jawab kau justru menyembunyikan ini semua?" seru Ava kesal.

"Kau juga Esther," sahut Arash dingin. "Kenapa kau mau tinggal dengannya?"

"Karena aku yang menyuruhnya tinggal denganku supaya aku bisa menjaganya."

"Menjaga?" Arash tertawa sinis. "Kau bahkan tidak ada di apartemenmu saat Esther kesakitan. Itu yang kau sebut menjaga, hah?"

"Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. Kau tidak bisa menyalahkan aku, Arash."

"Lalu siapa yang harus aku salahkan? Aku?" sahut Arash sarkastis.

Keheningan mengisi beberapa detik sebelum Arash kembali menoleh pada adiknya.

"Esther," panggilnya hingga membuat Esther menoleh. "Kau mau mengakui semuanya sendiri... atau aku yang mengatakan semuanya pada mama?"

Esther langsung menggeleng cepat. Panik. Air matanya kembali jatuh.

"Baiklah, aku akan mengatakan semuanya untuk mu." Arash berbalik, hendak pergi memanggil mamanya untuk datang ke rumah sakit. Namun sebelum itu, Lian menahan langkahnya.

"Kau tidak bisa mengatakan itu pada orang tuamu, Arash."

"Why?"

Arash menatap Lian dengan tatapan benci. Buru-buru ia tepis tangannya dengan kasar. Seolah ia jijik setelah mengetahui apa yang telah dilakukan sahabatnya itu.

"Karena aku akan menikah bulan depan. Jika kau mengatakan itu pada—"

"Menikah? Suara Arash keluar penuh ketidakpercayaan. "Apa kau gila Lian. Kau mau menikah dengan Elena sementara adikku mengandung benihmu?" Arash mendorong dada Lian keras hingga ia mundur.

"Baru semalam kau berjanji padaku tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti kakak ku," bentaknya. "Tapi sekarang kau justru malah melakukannya dengan adikku sendiri?"

Arash menatap Lian tajam.

"Dengarkan aku Lian, aku tidak peduli kau setuju atau tidak. Tapi orang tua ku harus tahu semuanya."

"Dan kau... Kau harus tanggung jawab."

Setelah itu Arash melangkah pergi, sengaja menabrak bahu Lian hingga pria itu mundur beberapa langkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!