Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.
namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.
shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.
terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 15
"Pah, tolong Dewi! Zombie-nya masuk rumah kita!" Dewi berteriak dari dapur dengan histeris, suaranya penuh ketakutan.
Mendengar teriakan Dewi, Hendro langsung berlari ke dapur. Benar saja, zombie-zombie itu sudah masuk ke dalam rumah mereka. Bukan hanya rumah mereka, rumah-rumah lain di sekitar pun tampak kemasukan zombie.
"Astaga, sayang. Cepat sini! Tapi kamu diam saja di sana, biar para zombie ini Papa bunuh dulu," ujar Hendro dengan sigap.
Ia segera mengambil senjata, lalu menembaki para zombie tersebut tanpa ragu. Suara tembakan menggema di dalam rumah, membuat suasana semakin mencekam.
Dewi bersembunyi di bawah meja makan dengan tubuh yang gemetar hebat. Ia menutup mulutnya agar tidak berteriak. Tak butuh waktu lama, para zombie itu pun berhasil dilumpuhkan.
Hendro kemudian menyeret tubuh mereka keluar dan kembali menutup pintu rumahnya dengan rapat.
"Pak Hendro, izinkan saya masuk ke rumah Bapak. Tolong, Pak. Saya tidak tahu mau ke mana lagi. Keluarga saya sudah berubah jadi zombie," kata seorang ibu-ibu yang seumuran dengan sang istri, memohon dari luar dengan suara penuh tangis.
Namun, Hendro tidak peduli dengan ibu-ibu tersebut. Ia malah mengunci pintu rumahnya lebih rapat, lalu kembali ke dapur untuk menemui putrinya.
"Sayang, ayo keluar. Zombie-nya sudah Papa bunuh," ucap Hendro berusaha menenangkan.
Dewi keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung memeluk sang papa erat, seolah tidak ingin melepaskannya.
"Dewi takut, Pah," ucapnya lirih.
"Kan ada Papa di sini. Kamu nggak usah takut. Mana mama kamu, sayang?" tanya Hendro sambil mengelus kepala Dewi.
"Aku tidak tahu, Pah. Dari pagi Mama sudah pergi dari rumah tanpa bilang mau ke mana," jawab Dewi pelan.
"Pasti perempuan sialan itu lagi pergi ke rumah Prof. Teguh dan sekarang lagi bermesraan," batin Hendro dengan amarah yang mulai memuncak.
Beberapa hari ini, Hendro mengetahui kalau istrinya memiliki hubungan spesial dengan Prof. Teguh. Mengetahui hal itu, Hendro sangat marah. Istri yang paling ia cintai tega mengkhianatinya, meninggalkan luka yang sulit diterima.
"Dewi, kita harus pergi dari sini sekarang juga. Rumah ini sudah tidak aman bagi kita lagi," ujar Hendro tegas.
Dewi menatap papanya dengan ragu.
"Lalu gimana dengan Mama, Pah?"
"Mamamu tidak akan pernah kembali ke sini lagi," ujar Hendro dingin.
Di luar, suara ketukan dan jeritan masih terdengar samar. Waktu mereka tidak banyak—dan keputusan harus segera diambil.
Sementara itu...
Prof. Teguh dan Riskah, istri Hendro, berencana meninggalkan kota ini karena sudah ada kabar bahwa dalam tiga hari kota mereka akan dimusnahkan.
Hal itu dilakukan karena kota tersebut sudah dipenuhi zombie dan tidak lagi bisa diselamatkan.
"Kita ke mana, Prof?" tanya Riskah, suaranya terdengar cemas namun tetap manja.
"Kita akan ke tempat yang aman, ke kota yang tidak ada zombie-nya. Dan kita akan hidup bahagia di sana, honey," bisik Prof. Teguh dengan nada meyakinkan.
"Baiklah, honey. Ke mana pun kamu pergi, aku pasti ikut," ujar Riskah sambil duduk di pangkuan Prof. Teguh, seolah tidak peduli dengan keadaan di luar sana.
Prof. Teguh tidak menyangka kalau zombie-zombie itu akan bertambah sebanyak ini. Situasi sudah di luar kendalinya. Sampai sekarang, ia belum menemukan cara untuk mencegah penyebarannya.
Kali ini, penelitiannya benar-benar gagal.
Yang lebih parah, zombie buatannya pun tidak bisa ia kendalikan. Mereka tetap akan menyerang siapa saja, termasuk dirinya sendiri.
Di sisi lain, amarah Prof. Teguh masih membara. Ia masih menyimpan dendam pada Shila dan Gibran yang dengan sengaja membakar pabrik mochi miliknya.
Selain itu, laboratoriumnya juga sudah tidak berfungsi, membuat segalanya semakin kacau.
Ia mengepalkan tangan, matanya menyipit tajam.
"Ini belum selesai..." gumamnya pelan.
Di tengah kekacauan yang ia ciptakan sendiri, Prof. Teguh masih memikirkan balas dendam—tanpa menyadari bahwa waktu terus berjalan, dan kehancuran semakin dekat.
hendro pun tidak jadi ke rumah shila yang ada di hutan setelah mendengar berita di tv. dia dan dewi hari ini akan meninggal kota ini dan sebisa mungkin pergi jauh dan memulai hidup baru.
*******
Shila dan Gibran pun menonton berita tersebut dan mulai berencana akan meninggalkan kota ini hari ini juga. Wajah mereka terlihat tegang, menyadari waktu yang tersisa tidak banyak.
Shila langsung menghubungi Aira lewat HP Gibran untuk mengajaknya pergi.
"Aira, lo sudah nonton berita di TV, kan? Pemerintah menyuruh kita tiga hari ke depannya harus meninggalkan kota ini karena mau dimusnahkan," tanya Shila.
"Gue tahu kok, tapi gue tidak akan pernah pergi dari sini, Shila. Kalian saja sana," Aira langsung mematikan panggilannya.
Gadis itu tetap kekeh untuk tidak pergi dan memilih mati saja, karena ia yakin akan bertemu dan berkumpul kembali bersama orang tuanya.
"Terserah lo sudah, Aira. Yang penting gue sudah ajak lo," oceh Shila, meski dalam hatinya ada rasa sedih yang tidak bisa disembunyikan.
Gibran yang sudah tahu jawabannya hanya menyemangati Shila. Yang penting, Shila sudah mengajak sahabatnya itu. Kalau Aira tidak mau, itu bukan lagi urusan mereka.
"Mending kita persiapkan semua keperluan kita selama perjalanan menuju rumah-rumah yang telah disediakan oleh pemerintah," ajak Gibran.
"Oke... mari kita bertualang sesungguhnya," ucap Shila, mencoba terdengar berani meski ada rasa cemas.
Semua kebutuhan dimasukkan ke dalam mobil.
Di sana ada juga mobil Satria yang akan mereka gunakan. Mobil itu sudah dimodifikasi dan anti peluru, siap menghadapi situasi berbahaya.
Shila dan Gibran lebih banyak memasukkan senjata ke dalam mobil. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah mainan dan camilan Kenan, supaya ia tidak rewel selama di perjalanan.
Mereka saling berpandangan sejenak sebelum berangkat, seolah memahami bahwa perjalanan ini tidak akan mudah.
Mereka tidak tahu bahaya seperti apa yang akan mereka hadapi di luar sana. Yang jelas, mereka harus selalu berhati-hati dan tidak mudah percaya kepada siapa pun.
Sebelum benar-benar pergi, Shila masuk ke kamar untuk menemui Kenan yang sedang bermain dengan mainannya di atas kasur.
"Adek..." panggil Shila pelan.
Kenan langsung menoleh dan tersenyum melihat kakaknya.
"Kakak, kita mau pergi ya?" tanya Kenan polos, seolah sudah mengerti situasi.
Shila duduk di samping adiknya, lalu mengusap rambut Kenan dengan lembut.
"Iya, Dek. Kita mau pergi dari sini. Tapi adek jangan takut, ya. Kakak sama Kak Gibran selalu ada buat adek," ucap Shila, berusaha terdengar kuat.
"Adek ikut, kan? Kakak nggak ninggalin adek, kan?" tanya Kenan lagi, matanya mulai berkaca-kaca.
Shila langsung memeluk Kenan erat.
"Nggak mungkin, Dek. Kakak nggak akan pernah ninggalin adek. Kita bakal selalu bareng," bisik Shila.
Kenan mengangguk pelan di pelukan kakaknya.
"Tapi nanti di luar banyak bahaya, ya, Kak?" tanya Kenan lagi dengan suara kecil.
"Iya, tapi adek harus jadi anak yang berani. Ingat, jangan jauh-jauh dari kakak dan Kak Gibran. Kalau kakak bilang sembunyi, adek harus langsung sembunyi, ya," jelas Shila sambil menatap serius.
"Baik, Kak. Adek jadi anak berani," jawab Kenan, mencoba terlihat tegar meski masih kecil.
Shila tersenyum tipis, lalu mencubit pipi Kenan gemas.
"Pinter... nanti kalau adek berani, kakak kasih cokelat banyak," goda Shila sedikit mencairkan suasana.
"Ih, beneran?" mata Kenan langsung berbinar.
"Iya, tapi harus nurut sama kakak," jawab Shila.
Kenan mengangguk semangat.
"Adek nurut!"
Shila menarik napas dalam, lalu berdiri.
"Ya udah, sekarang kita siap-siap, ya. Kita bakal pergi jauh," ucap Shila.
Kenan langsung turun dari kasur dan menggenggam tangan kakaknya erat, seolah tidak ingin terlepas sedikit pun.
Di dalam hati, Shila berjanji apa pun yang terjadi nanti, dia harus bisa melindungi adiknya.