NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 - Masa Lalu Wasiat

Acara lamaran usai menjelang dzuhur. Para tamu mulai beranjak pulang, meninggalkan jejak kaki di karpet merah dan aroma teh sisa di cangkir-cangkir kristal. Suasana yang semula tegang perlahan mencair menjadi obrolan ringan di antara keluarga inti.

Naura duduk di sofa ruang tengah, merasa tulang-tulangnya seperti baru saja dihantam truk. Gaun blush pink yang awalnya terasa anggun kini terasa seperti penjara yang sesak. Ia ingin melepas sepatu haknya, mengikat rambutnya, dan bersembunyi di bawah selimut.

Tapi sebelum ia bisa melarikan diri, Kyai Hanan berjalan mendekat. Pria tua itu membawa sebuah kotak kayu berukir yang tampak sangat tua, permukannya sudah menghitam dimakan usia.

"Naura," sapa Kyai Hanan dengan senyum yang menghangatkan hati. "Bisa kita bicara sebentar? Berempat mata, di taman belakang?"

Naura menelan ludah, melirik ke arah Azzam yang sedang berbicara dengan ayahnya di sudut ruangan. Seolah memiliki radar, Azzam menoleh, menangkap tatapan Naura, dan memberikan anggukan halus isyarat bahwa ia boleh pergi.

"Iya, Boleh Kyai," jawab Naura, berdiri dan mengikuti langkah pelan Kyai Hanan menuju taman belakang.

.

.

.

Taman belakang rumah Mahendra adalah tempat persembunyian favorit Naura. Di sinilah mawar putihnya tumbuh, di sinilah ia menyembunyikan diri dari dunia. Udara siang ini berbau tanah basah dan bunga, menyejukkan pikiran yang mendidih.

Kyai Hanan duduk di bangku taman batu, meletakkan kotak kayu itu di pangkuannya. Naura duduk di seberangnya, merasa canggung. Ia tidak terbiasa berduaan dengan kyai besar, apalagi setelah semua drama yang ia ciptakan.

"Kyai, soal kemarin..." Naura memelas, ingin menjelaskan soal kaburnya.

Kyai Hanan mengangkat tangan, tersenyum. "Tidak perlu penjelasan, Naura. Aku sudah mendengar dari Azzam dan aku mengerti. Tekanan bisa membuat kita melakukan hal-hal diluar dugaan."

Naura menunduk, rasa bersalah menjalar di dadanya.

"Sebenarnya, ada alasan lain aku menemuimu hari ini," Kyai Hanan melanjutkan, menarik napas panjang. Matanya menerawang ke puncak pohon bungur di sudut taman. "Aku ingin memberitahumu mengapa wasiat itu ada. Mengapa Kakekmu dan kakeknya Azzam menjodohkan kalian."

Naura mengangkat kepala, matanya mengerjap penasaran. "Ayah bilang itu karena utang budi dan urusan bisnis."

"Itu alasan dunianya," Kyai Hanan menatap Naura dengan tatapan yang menembus jiwa. "Tapi ada alasan yang lebih besar. Alasan dari langit."

Ia membuka kotak kayu itu di dalamnya, terletak selembar kertas yang sudah menguning, dilipat rapi, dengan tulisan tangan yang kuat dan tegas. Tulisan seorang ulama besar.

"Ini surat wasiat yang di tulis di ujung sajadahnya, sebelum beliau wafat," jelas Kyai Hanan. "Azzam sudah membacanya. Sekarang, giliranmu."

Kyai Hanan mengulurkan surat itu. Naura menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Kertas itu terasa rapuh di ujung jarinya. Ia membukanya perlahan, dan matanya menyapu deretan kalimat.

Assalamu'alaikum, Naura kecilku,

...Jika kamu membaca surat ini, berarti kamu sudah tumbuh menjadi gadis dewasa dan cantik, ketika kamu membaca ini, berarti sudah waktunya kamu menjalankan wasiat. Naura mungkin nanti merasa terpaksa. Kamu mungkin marah pada orang tuamu, pada keluarga pesantren, pada takdir yang seolah merampas kebebasanmu. Kamu memang gadis yang keras kepala, Naura. Seperti mawar yang berduri. Tapi aku tahu, di balik durimu, ada kelopak yang paling lembut. Sepuluh tahun yang lalu, di sebuah pasar tradisional di pinggir kota, aku melihatmu. Kamu berusia sepuluh tahun, mengenakan gaun mahal, rambutmu diikat dua. Kamu sedang berjalan dengan ibumu, tapi kakimu berhenti di depan seorang pengemis tua yang duduk di pinggir jalan, yang diabaikan oleh semua orang. Kamu mendekat. Kamuu tidak hanya memberikan uang. Kamu membungkuk, menatap mata pengemis itu, dan bertanya, "Kakek, sudah makan belum?" Lalu kamu memberinya roti yang kamu pegang, dan duduk di sampingnya di atas tanah yang kotor, tanpa mempedulikan gaun mahalmu yang kotor. Lalu, kamu melihat seorang anak yatim kecil menangis karena sepatunya robek dan tanpa ragu, kamu melepas sepatumu yang berkilau, memberikannya pada anak itu, dan berjalan pulang dengan kaki telanjang, tersenyum lebar, sementara ibumu berteriak panik. Di hari yang sama, aku tidak sendirian. Di belakangku, berdiri cucuku, Azzam, yang saat itu berusia enam belas tahun. Ia menatapmu dari kejauhan. Ia melihat apa yang kulihat sebuah hati yang terlalu besar untuk dunia yang kecil. Azzam adalah anak yang hidupnya penuh aturan. Dunianya hitam dan putih. Ia hafal kitab, tapi ia belum pernah melihat kebaikan yang lahir dari kebebasan, kebaikan yang tulus tanpa aturan. Saat ia melihatmu memberikan sepatumu, aku mendengarnya berbisik, "Kakek, dia seperti matahari." Dan aku berdoa di ujung sajadahku malam itu, "Ya Allah, jika suatu hari nanti Azzam butuh seseorang untuk mewarnai hari-harinya yang kelabu, biarlah gadis yang berjalan telanjang demi orang lain itu menjadi pendampingnya." Naura, kamu bukan hadiah untuk menebus utang budi. Kamu adalah doa yang kami panjatkan. Jangan biarkan dunia membisikkan bahwa kamu tidak pantas, karena di mata kami, di mata Azzam, kamu lebih dari cukup....

^^^Wassalamu'alaikum, Kakek Zainal^^^

Naura membaca surat itu dua kali. Tiga kali. Matanya semakin kabur oleh air mata yang tak bisa ditahannya lagi. Setetes air mata jatuh ke atas kertas kuning itu, membasahi ujung kalimat terakhir.

Ingatan itu kembali. Sepuluh tahun lalu, pasar tradisional. Bau ikan asin dan tanah basah. Pengemis tua yang tersenyum padanya. Anak kecil yang berlari membawa sepatunya padanya dan teriakan ibunya yang kesal karena gaunnya kotor.

Ia tidak pernah tahu ada sepasang mata yang menatapnya dari kejauhan. Ia tidak pernah tahu ada seorang pemuda berusia enam belas tahun yang membandingkannya dengan matahari.

"Kakekmu adalah orang yang sangat arif," suara Kyai Hanan lembut, memecah keheningan. "Ia tahu Azzam akan tumbuh menjadi pemimpin yang disegani, tapi ia juga tahu Azzam berisiko menjadi manusia yang sepi. Kakekmu melihatmu, Naura. Bukan penampilanmu, tapi hatimu."

Naura mengusap matanya dengan punggung tangan, bukan cara elegan, tapi cara anak kecil yang sedang menangis. "Tapi... aku bukan perempuan baik seperti yang mereka bayangkan, Kyai. Aku suka nongkrong di cafe, aku baca novel romance, aku nggak pakai hijab syar'i, aku terlalu terbuka, aku..."

"Dan itulah mengapa Azzam membutuhkanmu," Kyai Hanan tersenyum, matanya penuh kehangatan. "Pesantren sudah penuh dengan perempuan yang hafal kitab. Tapi Azzam butuh seseorang yang bisa mengajarinya bahwa dunia ini juga punya warna. Kamu tidak harus menjadi orang lain, Naura. Kamu hanya harus menjadi Naura."

Nama Zahra membuat dada Naura sedikit tertusuk, tapi kata-kata Kyai Hanan lebih kuat. "Kamu tidak harus menjadi orang lain. Kamu hanya harus menjadi Naura."

"Azzam... dia tahu tentang surat ini?" tanya Naura serak.

"Dia membacanya pertama kali setelah kakeknya wafat. Dan dia menerima wasiat ini bukan karena kewajiban, Naura. Aku melihat matanya saat ia membaca surat itu. Ia mengingatmu. Ia mengingat gadis kecil yang memberikan sepatunya di pasar."

Naura memeluk surat itu ke dadanya, seperti memelut rahasia yang paling berharga. Tiba-tiba, semua penolakannya, semua kemarahannya, terasa sangat kecil dan kerdil. Selama ini ia merasa dikorbankan, dijadikan alat. Tapi kenyataannya, ia sedang menepati sebuah doa.

"Kyai," bisik Naura, suaranya bergetar. "Aku... aku takut. Aku takut aku tidak bisa jadi seperti mereka harapkan."

Kyai Hanan berdiri, melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Naura dengan kelembutan seorang kakek. "Kamu tidak perlu jadi apa yang mereka harapkan, Naura. Kamu hanya perlu jadi apa yang kamu mau dan sisanya, biar Azzam yang mencari caranya."

.

.

.

Malam harinya, setelah rombongan pesantren pulang, Naura berbaring di atas kasur dengan surat wasiat itu masih di pangkuannya. Ia membolak-balikkan kertas itu, membaca ulang kalimat yang ditulis tangan sang kakek. "Ia mengingat gadis kecil yang memberikan sepatunya di pasar."

Ponselnya bergeta. Pesan dari Azzam.

Azzam: Kamu sudah membacanya?

Naura mengetik balasan dengan tangan yang masih gemetar.

Naura: Iya. K-lo... melihatku hari itu? Di pasar?

Hening beberapa detik sebelum balasan datang.

Azzam: Iya. Kamu duduk di tanah kotor, gaunmu kena lumpur, dan kamu tersenyum pada pengemis itu seperti dia adalah orang paling penting di dunia. Saya tidak pernah melihat senyum seperti itu sebelumnya.

Naura menelan ludah, dadanya sesak.

Naura: Dan lo membanding gue dengan matahari?

Azzam: Bukan saya Naura. Kakekku. Tapi aku setuju dengannya. Kamu seperti matahari, Naura. Terlalu terang untuk diabaikan, dan terlalu hangat untuk tidak dirindukan.

Naura melempar ponselnya ke bantal, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Pipinya terasa panas, jantungnya berdebar brutal, dan perutnya dipenuhi jutaan kupu-kupu yang terbang tak arah.

"Terlalu hangat untuk tidak dirindukan?" Siapa yang ngomong gitu lewat pesan singkat?! Ini kejahatan! Ia mengambil ponselnya kembali, mengetik dengan marah, marah karena ia merasa terpojokkan oleh perasaan sendiri.

Naura: Lo terlalu muluk, Gus. Itu 10 tahun lalu. Sekarang aku cuma gadis keras kepala.

Balasan Azzam cepat.

Azzam: Gadis keras kepala yang masih memberikan sepatunya pada anak kecil di ujung jalan. Saya melihatmu melakukan itu lagi dua bulan lalu, di depan masjid pesantren, saat kamu berkunjung dengan ayahmu. Kamu tidak berubah, Naura. Kamu hanya menyembunyikannya.

Naura terkesima. Dua bulan lalu? Ia memang pernah memberikan sepatu sneakers-nya pada anak pengemis di depan masjid dan berjalan telanjang kaki kembali ke mobil, membuat ayahnya berteriak kebingungan. Azzam melihatnya? Pria ini... pria ini memang mengawasinya. Bukan dengan niat menghakimi, tapi dengan niat yang jauh lebih berbahaya. Tepatnya mengagumi. Mengagumi Naura Aleesha Mahendra

Naura menggigit bantalnya, menahan suara cicitan yang hampir keluar dari bibirnya.

"Kau benar-benar masalah besar, Gus Azzam," batinnya, tapi kali ini, ada senyum yang mengembang di bibirnya. Senyum yang tidak ia coba sembunyikan.

Mungkin, hanya mungkin perjodohan ini bukan hukuman. Mungkin ini adalah jawaban dari doa yang tidak pernah ia panjatkan.

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!