Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Bumi Kendal
Lampu-lampu jalanan kota Semarang mulai menjauh, digantikan oleh jajaran pohon jati yang berbaris rapat di sepanjang jalan menuju sebuah desa di pinggiran Kendal, tempat akar keluarga Damar tertanam. Udara malam yang sejuk merayap masuk melalui sela-sela jendela mobil SUV yang dikemudikan Aris dengan penuh kehati-hatian. Di kursi belakang, Ibu Lastri dan Bapak Suprapto tampak mulai lega melihat gapura desa yang sudah di depan mata.
Rania menyandarkan kepalanya pada bantal leher, menatap hamparan sawah yang gelap gulita namun memberikan aroma tanah yang menenangkan—aroma yang tidak pernah ia temukan di antara gedung-gedung beton Jakarta. Bagi Rania, setiap meter roda mobil berputar menjauh dari ibu kota, seolah satu beban di pundaknya terlepas perlahan.
Begitu mobil berbelok memasuki halaman rumah joglo yang luas milik orang tua Damar, suasana sunyi desa seketika pecah. Di sana, di bawah lampu teras yang temaram, puluhan orang sudah berkumpul. Saudara sepupu, bibi, paman, hingga tetangga dekat telah menanti kepulangan "anak-anak Jakarta" itu. Berita kepulangan Rania dan orang tua Damar memang sudah menyebar cepat lewat jaringan telepon antar saudara.
"Alhamdulillah, sudah sampai!" pekik Bude marni, kakak tertua Ibu Lastri, sambil menghambur ke arah mobil.
Aris turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Rania dengan gerakan sigap yang selalu protektif. Saat Rania melangkah turun, ia segera dikerubuti oleh para wanita paruh baya yang langsung memeluknya erat.
"Rania, Nak... syukurlah kamu sehat. Aduh, wajahmu ayu sekali meski kelihatannya sedikit capek," ujar Bude Marni sambil mengusap pipi Rania.
Di tengah kerumunan yang hangat itu, Rania merasakan sesuatu yang asing namun sangat ia butuhkan: ketulusan. Tidak ada yang bertanya soal denda miliaran, tidak ada yang menagih pesangon, dan tidak ada yang membicarakan identitas rahasia Damar. Di sini, ia hanyalah menantu keluarga Suprapto yang sedang pulang ke rumah.
Munculnya Paras dari Masa Lalu
Namun, di tengah keriuhan sambutan keluarga besar itu, ada satu sosok yang berdiri agak terpisah di dekat pilar rumah. Seorang wanita muda mengenakan kebaya kutubaru sederhana dengan rambut yang disanggul rapi. Wajahnya cantik dengan riasan minimalis, namun matanya menatap tajam ke arah mobil, seolah sedang mencari sesuatu—atau seseorang.
Begitu Bapak Suprapto turun, wanita itu langsung mendekat dan mencium tangan pria tua itu dengan sangat takzim. "Bapak, Ibu... sehat semuanya?"
"Eh, Suci. Kamu sudah di sini dari tadi, nduk?" sapa Ibu Lastri.
Suci. Nama itu sempat disebut beberapa kali oleh Damar dalam cerita-cerita masa kecilnya. Suci adalah anak dari sahabat karib Bapak Suprapto yang tinggal hanya beda dua rumah. Sejak kecil, Suci tumbuh besar bersama Damar di pematang sawah ini. Namun yang tidak diceritakan Damar, atau mungkin yang Damar sendiri tidak sadari, adalah perasaan Suci yang tak pernah padam meski Damar telah memboyong dokter kota sebagai istrinya.
Suci segera mengambil alih tas yang dibawa Ibu Lastri. "Sini, Bu. Biar Suci yang bawa masuk. Ibu pasti capek perjalanan jauh."
Suci bergerak dengan lincah, sangat akrab dengan sudut-sudut rumah itu seolah ia adalah bagian dari penghuninya. Ia mondar-mandir menyiapkan teh hangat dan camilan pasar di meja kayu besar, sembari terus mencuri pandang ke arah Rania yang sedang duduk dikelilingi kerabat.
Saat Rania sedang menyesap teh hangatnya, Suci mendekat dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Mbak Rania... apa kabar? Saya Suci, teman kecilnya Mas Damar."
Rania tersenyum tipis. "Halo, Suci. Saya Rania. Terima kasih sudah membantu Bapak dan Ibu."
Suci tidak langsung pergi. Ia justru duduk di kursi kecil di samping Rania, mengabaikan fakta bahwa Rania butuh istirahat. "Mbak Rania, kok Mas Damar tidak kelihatan? Masih banyak kerjaan di Jakarta ya? Biasanya kalau Bapak dan Ibu pulang, Mas Damar pasti paling semangat menyetir sendiri."
Pertanyaan itu seperti jarum kecil yang menusuk balon ketenangan Rania. Rania terdiam sejenak, tenggorokannya mendadak kering. "Mas Damar... masih ada urusan yang belum selesai di sana, Suci."
"Urusan apa ya, Mbak? Sampai-sampai Mbak Rania pulang sendiri begini? Mas Damar itu orangnya tidak betahan kalau jauh dari orang tuanya, lho," Suci terus mendesak dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar para tetangga mendengar. "Mas Damar tidak apa-apa kan, Mbak? Tidak sakit kan?"
Ibu Lastri mencoba menimpali dari arah dapur, "Damar lagi cari peluang usaha baru di sana, Suci. Doakan saja cepat selesai."
Tapi Suci seolah tidak puas. "Tapi aneh ya, Bu? Mas Damar kan nomor teleponnya juga tidak aktif. Suci coba telepon tadi pagi mau tanya titipan buku, tapi tidak nyambung sama sekali. Apa Mas Damar ganti nomor? Mbak Rania punya nomor barunya?"
Rania meremas gelas tehnya. Tekanan di dadanya mulai terasa lagi. Ingatan tentang hilangnya Damar dan beban rahasia itu seolah ditarik paksa ke permukaan oleh pertanyaan-pertanyaan Suci yang repetitif.
Teguran Sang Pelindung
Aris, yang sedang menurunkan koper terakhir dari bagasi, mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Suci. Ia memperhatikan bagaimana bahu Rania mulai tegang dan matanya mulai berkaca-kaca. Aris menutup pintu bagasi dengan dentuman yang agak keras, lalu melangkah masuk ke teras.
"Maaf, Mbak Suci ya?" suara Aris terdengar berat dan berwibawa, memotong kalimat Suci yang baru saja hendak bertanya lagi.
Suci menoleh, sedikit tertegun melihat pria bertubuh tegap dengan tatapan mata yang setajam elang itu. "I-iya, saya Suci."
Aris berdiri di samping kursi Rania, tangannya secara simbolis memegang sandaran kursi seolah sedang memagari Rania. "Saya Aris, sahabat Rania dan Damar. Rania baru saja menempuh perjalanan sepuluh jam dan kondisinya sedang kurang sehat. Dia butuh istirahat, bukan interogasi."
Suci sedikit tersinggung, wajahnya memerah. "Saya kan cuma tanya soal Mas Damar, Mas. Wajar kan sebagai teman kecil?"
"Wajar jika ditanyakan sekali. Tapi jika ditanyakan berkali-kali kepada orang yang sedang pucat dan kelelahan, itu namanya tidak sopan," Aris membalas dengan nada yang tetap tenang namun sangat tegas—nada bicara yang biasa ia gunakan untuk membungkam saksi yang berbelit-belit. "Kalau ada informasi terbaru soal Damar, pihak keluarga pasti akan menyampaikannya. Untuk sekarang, tolong biarkan Rania masuk ke kamar dan istirahat."
Suci terdiam, nyalinya menciut melihat tatapan Aris yang tidak berkedip. Ia segera berdiri sambil merapikan kebayanya. "Ya... ya sudah kalau begitu. Saya cuma perhatian saja kok. Mari, Mbak Rania, istirahat saja dulu."
Suci berjalan cepat menuju dapur, mencoba mencari suaka di dekat Ibu Lastri dengan cara membantu mencuci gelas. Ia ingin membangun citra sebagai calon menantu idaman yang rajin, sembari berharap suatu saat Damar akan "tersadar" dan kembali ke pelukan desa.
Kehangatan Tanah Leluhur
Setelah kerumunan tetangga mulai pulang satu per satu karena malam semakin larut, suasana rumah menjadi jauh lebih tenang. Aris membimbing Rania menuju kamar lama Damar yang sudah dibersihkan oleh Ibu Lastri.
Kamar itu sangat berbeda dengan kamar mereka di Jakarta. Lantainya berupa ubin tua yang dingin namun bersih, dindingnya bercat putih gading dengan beberapa pajangan piagam penghargaan masa sekolah Damar. Jendelanya besar, menghadap langsung ke arah kebun belakang yang penuh dengan pohon mangga dan bunga sedap malam.
"Terima kasih, Ris," bisik Rania saat ia duduk di tepi tempat tidur yang empuk dengan seprai beraroma matahari. "Kalau tidak ada kamu, Suci pasti tidak akan berhenti bertanya."
Aris tersenyum kecil, ia menarik sebuah kursi dan duduk di dekat pintu. "Tipe seperti dia itu harus ditegasin, Ran. Dia tidak jahat, hanya terlalu terobsesi dengan masa lalunya bersama Damar. Kamu jangan masukkan ke hati."
Rania mengangguk. Ia merebahkan tubuhnya, merasakan kesejukan bantal yang tidak lagi membawa beban memori menyakitkan. Dari jendela yang terbuka sedikit, ia bisa mendengar suara jangkrik dan gemericik air dari pancuran kolam ikan di halaman tengah. Suasana ini begitu hangat, begitu nyaman.
"Ris... apa aku benar-benar bisa mulai lagi di sini?" tanya Rania dengan mata yang mulai sayu karena kantuk.
Aris menatap Rania dengan pandangan yang paling tulus yang pernah ia miliki. "Tentu saja, Ran. Tanah ini punya cara sendiri untuk menyembuhkan luka. Tidurlah. Besok pagi, kamu akan bangun dengan udara yang berbeda. Tidak ada lagi denda, tidak ada lagi polisi, tidak ada lagi kepalsuan. Hanya kamu, bayimu, dan orang-orang yang benar-benar mencintaimu."
Ibu Lastri masuk membawa segelas susu hangat dan sepiring kecil pisang rebus. "Minum ini dulu, Nak. Biar perutmu tenang."
Rania meminum susunya, merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ibu Lastri kemudian mengusap rambut Rania dan mencium keningnya. "Selamat tidur, cucu Nenek," bisik Ibu Lastri ke arah perut Rania.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Rania tidur tanpa bantuan obat penenang. Ia hanyut dalam pelukan suasana desa yang jujur dan hangat. Ia merasa seolah-olah bumi Kendal ini sedang membisikkan janji bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Di teras luar, Aris masih duduk bersama Bapak Suprapto. Mereka tidak banyak bicara, hanya menikmati kopi hitam dan kepulan asap rokok. Namun di dalam hati Aris, ia merasa puas. Ia telah berhasil mengantarkan hartanya ke tempat persembunyian yang paling aman. Meskipun di sana ada "Suci" atau gangguan kecil lainnya, Aris tahu bahwa ketulusan keluarga Suprapto akan menjadi benteng yang jauh lebih kuat dari apa pun yang bisa ia bangun di Jakarta.
Rania akhirnya pulang. Bukan ke rumah Damar, tapi ke pelukan sebuah keluarga yang siap melindunginya dari pahitnya dunia. Dan di dalam kegelapan malam desa itu, detak jantung kecil di rahim Rania seolah berdenyut lebih tenang, ikut merasakan damai yang baru saja ditemukan sang ibu.