NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cakrawala

Dua Wajah Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obsesi di Balik Topeng Sempurna

Suasana kamar Aruna kembali mencekam, namun kali ini bukan karena tumpukan buku Biologi. Sejak kepulangannya dari sekolah, ponsel Aruna tidak berhenti bergetar. Adrian tidak mengirim satu atau dua pesan, melainkan puluhan. Pria itu tampaknya tidak mengenal kata "selesai" jika hal itu berarti kekalahan bagi citra dirinya.

Aruna mencoba mengabaikannya, namun sebuah notifikasi panggilan video masuk. Karena merasa terganggu, ia akhirnya mengangkatnya hanya untuk menegaskan batas.

"Sudah aku bilang, Kak, jangan hubungi aku lagi," ucap Aruna dingin, menatap wajah Adrian di layar yang kini tak lagi menampakkan senyum asyik.

"Na, dengerin aku dulu. Kamu itu cuma emosi karena omongan Sasha dan Jelita," suara Adrian terdengar mendesak, matanya tampak sedikit merah. "Rekaman itu... itu cuma cara aku bercanda sama temen-temen aku. Kamu tahu kan gimana dunia cowok? Kita sering sesumbar, tapi perasaan aku ke kamu itu beda. Aku sudah investasi banyak waktu dan perasaan buat kamu, Na."

Aruna tertawa getir. "Investasi? Kakak baru saja membuktikan kalau aku memang cuma aset dalam kepala Kakak. Tolong, berhenti. Aku mau belajar."

"Belajar apa? Biologi? Tanpa bantuan aku, kamu cuma bakal muter-muter di bab yang sama, Aruna! Kamu butuh aku buat masuk ke sirkel yang lebih tinggi," Adrian menaikkan nada bicaranya. "Dan cowok bengkel itu? Apa dia bisa kasih kamu simulasi soal internasional? Apa dia bisa bantu kamu dapet koneksi organisasi? Enggak, Na. Dia cuma bakal narik kamu ke bawah, ke kubangan lumpur yang sama kayak dia."

Aruna langsung mematikan sambungan itu tanpa pamit. Ia memblokir nomor Adrian dengan tangan gemetar. Namun, Adrian tidak menyerah. Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil putih yang sangat ia kenali berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Cahaya lampu sennya berkedip-kedip, menembus celah gorden kamar Aruna.

Adrian turun dari mobil, berdiri di bawah lampu jalan sambil menatap ke jendela kamar Aruna. Ia tidak berteriak, namun keberadaannya di sana terasa seperti ancaman yang elegan. Ia mengirimkan sebuah pesan singkat melalui platform lain yang belum sempat Aruna blokir.

> **Kak Adrian:** "Aku nggak akan pergi sampai kamu turun. Mama kamu ada di ruang tamu, kan? Apa perlu aku masuk dan bilang ke Mama kalau kamu sekarang lebih milih main di bengkel daripada belajar buat masa depan kamu? Kamu tahu kan gimana reaksi Mama kalau tahu putrinya 'salah pergaulan'?"

Aruna merasa seluruh badannya dingin. Adrian tahu benar di mana letak kelemahannya: ekspektasi orang tua. Dengan langkah berat dan jantung yang berdegup kencang, Aruna terpaksa turun. Ia menemui Adrian di depan pagar, memastikan mereka berada cukup jauh dari jangkauan pendengaran Mamanya.

"Kakak gila ya? Pergi dari sini!" bisik Aruna penuh penekanan.

Adrian tersenyum, sebuah senyuman yang kini terlihat sangat manipulatif. Ia melangkah mendekat, mencoba meraih tangan Aruna, namun Aruna segera menyembunyikannya di balik punggung.

"Aku cuma nggak mau kamu salah jalan, Na. Aku ini peduli," ujar Adrian lembut, namun matanya mengunci Aruna dengan intensitas yang menakutkan. "Aku sudah maafin tamparan Jelita tadi. Aku anggap itu cuma bumbu drama. Tapi kamu? Kamu harus balik ke aku. Aku sudah nyiapin jadwal belajar baru dan kita bakal ikut seminar internasional minggu depan. Itu bakal bagus buat CV kamu."

"Aku bukan proyek Kakak! Berhenti ngatur hidup aku seolah-olah aku ini barang yang harus Kakak poles!"

"Tapi kamu suka kan pas dipoles?" potong Adrian cepat. "Kamu suka dipuji pintar, kamu suka diajak ke tempat bagus. Jangan munafik, Aruna. Cowok bengkel itu cuma pelarian sesaat karena kamu lagi capek. Tapi rumah kamu, masa depan kamu, itu ada di jalur yang aku buat."

Tepat saat itu, sebuah motor dengan suara knalpot yang khas berhenti di seberang jalan. Aska di sana. Ia masih mengenakan jaket bengkelnya, tampaknya ia merasa ada yang tidak beres dan memutuskan untuk memutar balik ke rumah Aruna.

Melihat Aska, raut wajah Adrian berubah drastis. Ia merangkul bahu Aruna dengan paksa, seolah ingin menunjukkan kepemilikan. "Nah, si pahlawan kesiangan datang. Mau apa kamu ke sini? Mau nawarin jasa ganti oli di kawasan elit?"

Aska turun dari motornya, matanya menatap tajam ke arah tangan Adrian yang berada di bahu Aruna. "Lepasin tangan lo dari dia."

"Kalau nggak mau?" tantang Adrian sambil tertawa sinis. "Aruna ini urusan gue. Dia butuh bimbingan, bukan debu jalanan."

Aruna menyentak tangan Adrian dengan sekuat tenaga. Ia berlari kecil ke arah Aska, berdiri di samping cowok yang aromanya hanya sebatas sabun murah dan pelumas mesin, namun memberikan rasa aman yang tak bisa dibeli dengan uang.

"Kak Adrian, pergi sekarang atau aku sendiri yang bakal teriak biar Mama keluar dan aku ceritain semuanya, termasuk soal taruhan Kakak di kafe itu!" ancam Aruna dengan suara yang tak lagi ragu.

Adrian terdiam. Ia menatap Aruna dan Aska bergantian dengan tatapan penuh kebencian yang tertutup kerapian pakaiannya. "Oke. Aku pergi malam ini. Tapi inget, Na... dunia nyata itu keras. Dan saat kamu jatuh nanti karena tekanan Mama kamu atau karena cowok ini nggak bisa kasih kamu apa-apa, jangan pernah cari aku lagi. Karena saat itu, portofolio kamu sudah dianggap gagal di mata aku."

Adrian masuk ke mobilnya dan memacu kendaraannya dengan kencang, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di jalanan kompleks itu.

Aska menghela napas panjang, ia menatap Aruna yang masih gemetar. "Dia nggak bakal berhenti gitu aja, Na. Orang kayak dia... egonya lebih besar dari rasa sukanya."

Aruna mengangguk, ia menyandarkan kepalanya sejenak di lengan Aska. "Gue tahu, Ka. Tapi gue lebih milih berantem di samping lo daripada jadi boneka di dalam mobil dia."

Malam itu, perang dingin baru saja dimulai. Adrian bukan lagi seorang kakak kelas yang mengagumkan, melainkan bayang-bayang obsesif yang siap menghancurkan apa pun yang tidak bisa ia miliki.

1
Alex
tambah Thor,
perasaan bacaku sdah pelan"🤭tapi kok masih kurang ya
Eti Alifa
bacanya udah pelan2 tpi perasaan kok cepat selesai🤭
Eti Alifa
klo q jd Aluna jg bingung🤭
Eti Alifa
bacanya merinding thor....nano2 jg.
Alex
😭😭😭😭
nyesek didada rasanya
Alex
bawangnya terlalu banyak thor😭😭
lanjut thor
minttea_: hehehe, siappp tetep terus dukung author dan baca ceritanya ya😍
total 1 replies
Eti Alifa
bagus bngt ceritanya, sumpah authornya jenius.
👍🏻
minttea_: wow, makasih banyak kak💐✨
total 1 replies
Eti Alifa
asli ceritanya bagus banget👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!