SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Balik Kaca
Hari-hari berikutnya berlalu seperti aliran air yang tenang namun menghanyutkan. Adrian benar-benar membuktikan ucapannya; ia tidak lagi menjadi bayang-bayang diktat olimpiade yang membosankan.
Hampir setiap sore, mobil putihnya terparkir di depan gerbang, siap membawa Aruna ke sisi kota yang belum pernah gadis itu jamah.
Mereka menjelajahi kafe-kafe tersembunyi, menonton pertunjukan musik jalanan, hingga sekadar duduk di bangku taman sambil membicarakan mimpi-mimpi masa kecil yang tidak ada hubungannya dengan rumus Biologi.
"Na, kamu harus coba ini. Es kopi ini katanya paling enak di daerah sini," ucap Adrian sambil menyodorkan segelas kopi dengan hiasan busa yang cantik.
Aruna menerimanya dengan senyum. "Kak Adrian kok tahu banget sih tempat-tempat kayak begini? Aku pikir Kakak cuma tahu jalan ke perpustakaan sama lab doang."
Adrian tertawa, matanya menyipit di balik kacamatanya. "Aku juga manusia, Na. Kadang aku butuh alasan untuk berhenti sejenak dari semua tekanan itu. Dan alasan terbaikku sekarang adalah melihat kamu senyum begini. Kamu terlihat jauh lebih tenang dibanding saat kita cuma bahas soal pembelahan sel di sekolah."
Aruna merasakan pipinya memanas. Kenyamanan ini terasa begitu nyata dan mudah. Tidak ada suara motor yang berisik, tidak ada debu jalanan, tidak ada rasa khawatir akan bau bensin yang menempel di baju. Bersama Adrian, semuanya terasa rapi, harum, dan terjadwal dengan indah.
Namun, di balik tawa itu, ada satu nama yang tetap tersangkut di tenggorokannya, tak mampu ia ucapkan tapi selalu ia cari.
---
### Di Sudut Jalan yang Berdebu
Di seberang jalan, di balik rimbunnya pohon tanjung yang menutupi trotoar, sebuah motor butut berhenti di lampu merah. Aska, dengan jaket hijaunya yang sudah memudar dan wajah yang nampak beberapa tahun lebih tua karena kelelahan, terpaku menatap ke arah kafe kaca di hadapannya.
Dari balik kaca yang bening itu, ia bisa melihat Aruna dengan jelas. Gadis itu sedang tertawa lepas, sebuah pemandangan yang sudah lama tidak ia saksikan secara langsung.
Di sampingnya, duduk Adrian yang nampak begitu serasi—bersih, cerdas, dan mampu memberikan segala kenyamanan yang tidak pernah bisa Aska tawarkan.
Aska meremas setang motornya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ada rasa sakit yang menghantam dadanya lebih keras daripada mesin motornya yang rusak.
Ia ingin turun, berlari masuk ke kafe itu, dan menarik Aruna pergi. Ia ingin mengatakan bahwa ia merindukannya setengah mati. Namun, ia melihat tangannya sendiri yang dipenuhi noda oli membandel dan luka lecet akibat gesekan kunci inggris.
"Ya sudahlah," gumam Aska lirih, suaranya hilang ditelan deru kendaraan lain. "Biarin Aruna bahagia. Toh, dia emang pantes dapet yang lebih baik daripada cuma nungguin kurir yang bau matahari kayak gue."
Aska memalingkan wajahnya ke arah lain. Pikirannya melayang pada ibunya yang kini sedang terbaring lemah di rumah sakit, menunggu obat-obatan mahal yang harganya setara dengan ratusan kilometer ia harus menarik gas setiap harinya.
Ia merasa tidak pantas. Di hadapan kesempurnaan Adrian, Aska merasa dirinya hanyalah debu yang hanya akan mengotori gaun putih Aruna jika ia memaksakan diri untuk mendekat.
---
### Dialog di Antara Keraguan
"Na? Kok melamun? Kopinya nggak enak ya?" tanya Adrian, memecah lamunan Aruna.
Aruna tersentak. Ia baru saja melihat sebuah motor yang sangat mirip dengan milik Aska berlalu di lampu merah tadi, namun ia meyakinkan diri bahwa itu hanyalah halusinasinya karena terlalu rindu.
"Eh, enak kok, Kak. Cuma lagi kepikiran tugas sedikit," bohong Aruna.
Adrian meraih tangan Aruna yang berada di atas meja, mengusapnya perlahan dengan jemarinya yang halus. "Jangan dipikirin. Hari ini milik kita. Aku pengen kamu benar-benar lepas dari semua beban itu. Kalau kamu butuh apa pun, kamu tahu kan aku selalu ada di sini? Aku nggak akan membiarkan kamu kesulitan sendirian."
Aruna menatap Adrian, mencoba mencari ketulusan di mata itu. Memang ada, dan itu sangat menenangkan. "Makasih ya, Kak Adrian. Kakak udah baik banget sama aku beberapa minggu terakhir ini. Padahal aku sering jutek dulu kalau diajak belajar."
Adrian tersenyum lembut. "Itu karena aku dulu nggak tahu cara mendekati kamu dengan benar. Sekarang, aku cuma mau menebus waktu yang hilang itu. Kamu mau kan, kasih aku kesempatan buat terus bikin kamu bahagia kayak gini?"
Aruna terdiam. Kalimat Adrian terdengar seperti sebuah janji, sekaligus sebuah taruhan bagi hatinya.
Di saat yang bersamaan, jauh di ujung jalan yang panas, Aska sedang memacu motornya secepat mungkin, berusaha mengejar setoran terakhir hari itu sambil menelan pahitnya rasa rendah diri yang kian membukit.
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻