Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di ujung persembunyian
Sidik membawa Zaenab melesat, menembus dinding udara yang seolah membelah untuk mereka. Mereka berhenti di sebuah celah tersembunyi di perbukitan batu, sebuah gua kecil yang menghadap langsung ke arah Ka’bah. Di sana, suara bising kota dan deru pengejar hilang ditelan sunyi.
Sidik membentangkan sorbannya, merebahkan tubuh Zaenab yang kian ringkih dengan sangat hati-hati. Cahaya bulan masuk melalui celah batu, menyinari wajah Zaenab yang pucat namun tetap memancarkan kecantikan yang murni.
Zaenab tersenyum, napasnya tersengal namun matanya berbinar menatap suaminya. "Kang... terima kasih. Akhirnya, hanya ada kita dan Dia."
Di atas hamparan pasir yang tak pernah tidur,
Aku membawamu melintasi samudera dan takdir.
Bukan dengan sayap besi atau surat sakti,
Tapi dengan rida yang kupatri di dalam hati.
Wajahmu adalah kiblat bagi rindu yang lelah,
Genggammu adalah jimat saat duniaku pecah.
Jika dulu peluru tak mampu merobohkan ragaku,
Maka hari ini, air matamu yang meruntuhkan duniaku.
Jangan takut pada gelap, wahai bidadari perantauan,
Sebab di tanah ini, setiap debu adalah doa yang tersimpan.
Aku tak memberimu istana di tanah air yang melupa,
Tapi kuhadiahkan pelataran surga di sela doa yang menyapa.
Tidurlah, Zaenab...
Biarlah namamu harum di antara bukit batu,
Menjadi saksi bahwa cinta dan bakti tak butuh restu,
Cukup Allah, aku, dan janji yang takkan membatu.
Zaenab memejamkan mata perlahan, setetes air mata bahagia jatuh di sudut matanya.
***
Di dalam gua rahasia itu, Sidik menyuapi Zaenab dengan air Zamzam yang ia bawa secara ajaib. Keajaiban demi keajaiban terus terjadi; luka dan sakit Zaenab sembuh lebih cepat dari logika medis mana pun.
"Kita tidak bisa terus bersembunyi di sini, Kang," ujar Zaenab sambil bangkit berdiri. Kekuatannya pulih total. "Kalau mereka mencari kita sebagai pelarian, mari kita tunjukkan bahwa kita adalah pejuang. Akang veteran, bukan pecundang."
Sidik berdiri tegak, dadanya membusung kembali seperti saat ia menghadapi musuh di Alas Sri Rondo. "Kau benar, Zae. Mbah Pupus tidak memberiku ilmu untuk bersembunyi selamanya seperti pencuri."
Malam itu juga, Sidik mengambil keputusan besar. Ia tidak lagi menggunakan ilmu halimun untuk lari. Ia justru menggunakan kekeramatannya untuk memunculkan wibawa yang luar biasa. Ia merapalkan doa, dan seketika baju lusuhnya tampak bersih dan bersinar.
"Zae, pakai kerudung terbaikmu. Kita akan berjalan langsung menuju Masjidil Haram. Kali ini, tidak akan ada mata yang berani menghalangi, dan tidak ada tangan yang sanggup menyentuh."
Mereka keluar dari gua. Saat para petugas intelijen yang masih berjaga di kaki bukit melihat mereka, sesuatu yang aneh terjadi. Bukannya mengejar, para petugas itu justru terdiam kaku, seolah-olah melihat sosok agung yang tak boleh diganggu. Langkah Sidik dan Zaenab begitu berwibawa hingga orang-orang di jalanan tanpa sadar memberikan jalan, seperti ombak yang terbelah.
Maut baru saja mengetuk pintu, namun kau tolak dengan senyuman,
Sebab rindu pada Baitullah belum tuntas kau tunaikan.
Kau bukan bunga yang layu saat badai gurun menerjang,
Tapi intan yang kian berkilau di tengah perang yang panjang.
Tanganmu yang lembut kini menggenggam hariku,
Mengingatkanku bahwa doa lebih tajam dari peluru.
Tak perlu lagi kita bersembunyi di balik bayang kabut,
Sebab cinta yang suci, takkan pernah bisa mereka rebut.
Berjalanlah di sampingku, wahai nyawa yang kembali,
Kita melangkah bukan untuk lari, tapi untuk mengabdi.
Hingga nanti, benar-benar tiba waktu yang abadi,
Di mana maut hanyalah jembatan untuk bertemu Sang Ilahi.
Mereka berjalan bergandengan tangan menembus keramaian kota Makkah menuju pelataran Ka'bah. Sidik telah memutuskan: ia akan menghadapi siapa pun yang datang, bukan dengan kesaktian untuk menyakiti, tapi dengan kebenaran bahwa seorang pejuang berhak berada di rumah Tuhannya.
***
Sebelumnya Sidik bermimpi bertemu, Mbah Pupus dengan jubah putih yang memancarkan aroma tanah hutan basah. Beliau tidak lagi merangkul Sidik untuk bersembunyi, melainkan menyentuh dada kiri Sidik dengan telapak tangannya yang hangat.
"Sidik, cucuku... Berhenti bersembunyi. Seorang prajurit sejati tak selamanya berada di balik kabut. Gunakan wibawa ini, agar setiap mata yang memandangmu tak lagi melihat pelarian, melainkan melihat kemuliaan yang dititipkan Tuhan."
Mbah Pupus meniupkan satu helai napas ke ubun-ubun Sidik. Saat itulah, Sidik terbangun dengan dada yang terasa lapang. Ia merasa memiliki Ajian Macan Putih—ilmu kewibawaan tingkat tinggi yang membuat siapapun yang memandangnya akan menunduk hormat, bukan karena takut, melainkan karena rasa segan yang tak bisa dijelaskan.
****
Semenjak malam itu, Sidik dan Zaenab menetap di Makkah dengan cara yang luar biasa. Mereka tidak lagi dikejar, tidak lagi dicari. Berkat ajian kewibawaan itu, para intelijen dan petugas yang dulu memburu mereka kini seolah buta atau kehilangan niat saat berpapasan. Jika mereka melihat Sidik, hati mereka mendadak damai dan mereka justru membungkuk hormat tanpa tahu siapa pria itu sebenarnya.
Sidik dan Zaenab pun menjadi "Penjaga Tak Terlihat" di tanah suci. Mereka menghabiskan hari-hari mereka di sekitar Masjidil Haram.
Sidik seringkali terlihat membantu jamaah haji yang tersesat atau orang tua yang kelelahan. Anehnya, jamaah yang dibantu Sidik selalu merasa beban mereka mendadak ringan atau jalan yang sulit menjadi mudah. Sementara Zaenab, dengan kecantikan yang kian bercahaya, sering terlihat menghibur wanita-wanita yang menangis di pelataran Ka'bah, memberikan ketenangan hanya dengan sentuhan tangannya.
Mereka hidup sederhana, namun berkecukupan. Setiap kali mereka butuh makanan, selalu saja ada jamaah yang tiba-tiba bersedekah atau makanan yang muncul melalui perantara yang tak terduga.
Wibawa di Balik Debu
Mbah Pupus telah menitipkan cahaya pada dahi,
Membuat benci berubah menjadi bakti yang tak terperi.
Kini kaki ini tak lagi berlari dari kejaran bayang,
Sebab wibawa telah tumbuh di tengah padang yang gersang.
Kau di sampingku, Zaenab, bagai embun di atas batu,
Menjadi saksi betapa Tuhan menyukai cinta yang bersatu.
Kita bukan lagi buronan yang terbuang dari negeri,
Kita adalah tamu istana Sang Maha Pemberi.
Tak butuh stempel emas atau paspor di tangan,
Cukup rida-Nya yang menjadi sebaik-baik jaminan.
Di sini kita bertahta di atas sejadah pengabdian,
Menunggu waktu hingga tiba janji pertemuan.
Setiap kali matahari terbenam di balik gunung batu Makkah, Sidik dan Zaenab akan duduk berdampingan menatap Ka'bah. Mereka tak lagi memikirkan paspor yang ditolak atau pemerintah yang melupa. Di sini, di jantung dunia, mereka telah menemukan kemerdekaan yang sesungguhnya—kemerdekaan jiwa yang dijaga oleh keramat leluhur dan kesetiaan cinta yang tak pernah luntur.
Zaenab menyandarkan kepalanya di bahu veteran itu, tersenyum menatap langit. Ia tahu, selama Sidik ada di sisinya dengan wibawa dan doanya, dunia takkan pernah bisa menyakiti mereka lagi.
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?