NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12| Mendadak Dijodohkan

Pipinya mengembung bak ikan buntal yang merasa terancam, pria dengan seragam pembantu berhenti tak jauh dari posisi gadis remaja memasang tampang nelangsa. Mendapatkan pesan mendadak dari Jayden—korban tak sengaja disundul Aluna, pria itu mengirimkan pesan singkat padanya pagi-pagi sekali untuk datang ke mansion keluarga Alexander. Pagi mingguan cerah Aluna mendadak menjadi kelabu, merasa ditatap pipi Aluna perlahan kempes dan kembali mengayunkan langkah kakinya mengikuti pria paruh baya di depannya.

Kedua bola mata Aluna berotasi malas. 'Baru tadi malam rasanya gue masuk kandang singa, paginya malah masuk kandang buaya. Sial kali nasib gue.'

"Non Aluna bisa tunggu Tuan muda Jayden di sini, sebentar lagi Tuan muda selesai berenang," tuturnya menjelaskan secara singkat, ketika mereka berhenti tak jauh dari area kolam berenang.

Aluna mengangguk tanpa suara, pria paruh baya itu melangkah pergi meninggalkannya sofa panjang yang menghadap langsung ke kolam renang. Aluna menghempaskan tubuhnya di atas sofa, mulutnya berkomat-kamit mengerut kesal. Manik mata Aluna bergerak ke arah kolam, permukaan air tampak beriak disertai suara gemericik. Baru tiga menit duduk, Aluna sudah dilanda kebosanan. Ia berdiri kembali melangkahkan mendekati kolam renang, tubuh atletis Jayden perlahan mendekati pinggir kolam. Menaiki satu persatu anak tangga kolam, telapak tangannya mengusap wajahnya yang basah. Bagian atas polos dibalut celana renang sempit di bagian bawah memperlihatkan garis duyung, bulir-bulir air memenuhi tubuh Jayden.

Merasa ditatap intens Jayden menoleh ke arah empunya mata, pupil matanya melebar saat mendapati saliva yang turun meleleh di sudut bibir dan turun ke dagu. Sementara gadis berambut hitam legam tanpa berkedip memperhatikan otot-otot lengan keras yang terbentuk dari latihan gym rutin, turun ke arah sixpack terukir jelas, dan turun ke bawah.

"Woah!" gumam Aluna takjub tanpa ia sadari.

"Apa yang lo liat huh? Tutup mulut lo yang ileran itu," tegur Jayden menaikan oktaf intonasi nada suaranya. Jayden berdecak jijik melirik ekspresi serta tatapan mata Aluna.

Bulu mata lentik Aluna berkibar kala kedua kelopak matanya berkedip dua kali, dan cengengesan ke arah Jayden saat menyeka bibir dan dagunya tanpa malu. Telapak tangannya yang basah diusap ke rok, ia mengayunkan langkah kakinya tanpa sadar mendekati Jayden, kedua mata Aluna tak henti-hentinya menatap lekat pahatan sempurna tubuh Jayden.

"Gede ya," kata Aluna saat lidah lebih dahulu menyuarakan apa yang terlintas di otak.

Sontak saja Jayden melotot dikala ia mengikuti tatapan mata nakal Aluna, kedua telapak tangan Jayden bergerak cepat menutupi masa depannya. Teriaknya keras Jayden menyadarkan Aluna, ia menutup rapat bibirnya garis bibirnya naik tinggi.

"Gadis mesum gila," maki Jayden mukanya merah padam, terburu-buru melangkah mendekati kursi santai di pinggir kolam renang.

Handuk kimono terpasang dengan cepat menutupi tubuhnya, rona merah menjalar di daun telinga Jayden. Setelah Aluna sempat mempermalukan di rumah sakit, hari ini gadis itu kembali berhasil membuat Jayden malu bukan main.

Aluna mengipasi wajahnya yang ikut memerah, ia kembali mengulas senyum konyol ketika Jayden berbalik menghadap ke arahnya. Berkedip-kedip polos tanpa dosa, jari telunjuk Jayden menunjuk-nunjuk ke arah Aluna tanpa suara yang keluar dari bibirnya.

"Gu—gue cuman mau ngecek doang, keknya itu lo normal nggak kelihatan patah. So, gue pikir kecelakaan yang udah terjadi nggak bikin lo impoten. Jadi gue—"

"Shut up!" seru Jayden makin kesal. "Lo kira, lo bisa bebas kek gitu aja huh. Lo nggak tau rasanya sakitnya keseruduk dan ditinggal pergi kek gitu aja saat lo ngerasa sekarat. And perlu gue pertegas gue nggak 'impoten' Aluna, berhenti ngomong itu berulang-ulang sialan," sembur Jayden menyuarakan kekesalannya yang tak lagi mampu ia bendung.

Aluna mengangkat kedua tangannya ke atas pertanda ia pasrah tak lupa kepalanya mengangguk-angguk cepat.  "Ya, ya, ya. Gue yang salah, gue minta maaf soal kejahatan yang nggak sengaja gue lakuin. Okeh deh, lo sama sekali nggak 'impoten' lo kuat dan bisa jadi lakik seutuhnya. Kalo kek gitu gue nggak perlu tanggungjawab buat nikahin lo dong ya 'kan?" Aluna antusias menjawab Jayden, tangan diturunkan kembali.

Dagu Jayden terangkat angkuh kepalanya mengangguk, matanya terbelalak saat mendengar kata-kata Aluna yang hampir saja ia setujui.

"Tunggu, apa tadi lo berniat buat lepas dari tanggungjawab, huh?" Jayden mengikis jarak di antara mereka berdua.

Aluna menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal, ia memiliki pengalaman bekerja dengan berbagai bos di dunia nyata. Menjilat pun sesekali menjadi pintu keluar darurat untuk Aluna, meskipun pada akhirnya ia terlindas roda kenyataan jika menjilat tetap kalah dengan yang berbakat serta visual memukau. Ia tak menyerah, ia pikir remaja jauh lebih simpel dibanding para bos besar, sedikit bumbu pujian ia bisa lepas dari marabahaya.

"Mana ada, gue nggak berani menghindar dari tanggungjawab jawab kok. Hehe..., lo mau gue gimana?" tanya Aluna melembutkan suaranya saat keduanya berdiri berhadap-hadapan.

Mendapatkan pertanyaan langsung dari si pelaku, Jayden mengerutkan dahinya. Rasa sakit satu minggu yang lalu tak akan pernah Jayden lupakan, apalagi saat gadis di depannya itu berlarian kabur meninggalkan dirinya yang berguling-guling di lantai. Jayden ingin Aluna—pelaku merasakan bagaimana rasanya sakit, dan rasanya ditinggalkan saat sedang sekarat. Lantas hukuman apa yang cocok untuk menyakiti gadis di depannya ini, diamnya Jayden mengundang degupan jantung keras seakan-akan Aluna tengah menunggu hakim menjatuhkan hukum mati seumur hidup.

"..., gue yakin Tuan muda Jayden Alexander cowok paling ganteng seantero sekolah, paling keren bikin banyak cewek-cewek klepek-klepek sampek mampus adalah cowok paling murah hati dalam memaafkan. Kasih gue hukuman paling ringan ya, Jayden. Ya, ya, ya!" seru Aluna tak lupa mengimut-imutkan ekspresi wajahnya tak lupa pujian yang mampu membuat lubang hidung Jayden kembang-kempis.

Sudut bibir Jayden tanpa sadar tertarik tinggi ke atas, kedipan lucu Aluna membuat pria itu sempat amnesia secara mendadak.

"Tapi kalo lo ngerasa tetap nggak terima. Ya udah seruduk balik aja gue," lanjut Aluna lantang.

Garis bibir Jayden turun seketika, otak cerdasnya kembali bekerja. Telunjuk tangan Jayden mendorong dahi Aluna ke belakang, ia berbalik memunggungi Aluna.

"Lo tungguin gue di sana, gue mau pakek baju dulu. Soal hukuman lo biar gue pikirin lagi," balas Jayden, ia melangkahkan meninggalkan Aluna yang berdiri kaku.

Kedua sisi pipi Aluna menggembung, bibirnya yang kering dijilat. "Tapi kalo dipikirin ulang, gue nggak rugi-rugi amat ya kalo nikahin dia. Eh, maksudnya gue dinikahi dia. Secara dia kaya tujuh turunan bentuk tubuhnya pun oke, kayak aktor-aktor ganteng di drama. Apalagi ase—ugh..., lupain-lupain. Keknya otak gue mulai rada-rada karena pengaruh si Kai." Aluna memukul kecil kepalanya, ia melangkah kembali ke arah sofa.

...***...

Suara dentingan sendok dan garpu di atas meja makan, ditemani obralan ringan mengalun. Aluna tampak nyaman berbincang dengan wanita paruh baya yang tampak sangat ramah, sementara kepala keluarga pun tak kalah baiknya pada Aluna. Jayden sesekali menimpali, selebihnya ia hanya menjadi penonton serta pengamat interaksi antara kedua orang tuanya dengan Aluna.

"Gimana Pi? Aluna keknya cocok jadi pasangan Jayden," celetuk Mona membawa sorot matanya ke arah sang suami.

Suara batuk mengalun dari kedua remaja, Jullian mengangguk samar membuat senyum Mona semakin lebar. Jayden melotot ke arah ayahnya, dan memelas saat matanya bersitatap dengan mata sang ibu—pencetus perjodohan. Sementara Aluna mengigit bibirnya, melirik keduanya dengan ekspresi tak nyaman.

"Kita berdua kenal orang tuanya Aluna, mereka baik. Keluarganya harmonis kayak keluarga kita, so nggak ada salahnya. Kalian keliatan dekat, apa salahnya soal ini?" Jullian menanggapi dengan santai.

Mona meraih tangan Aluna dan menggenggamnya, senyum cerah tampak jelas. "Aluna keberatan jadi mantu Tante?" tanya Mona tak lupa memasang ekspresi sedih.

Lidah Aluna kelu, berat untuk membantah Mona—ibu Jayden. Jayden tak habis pikir dengan kedua orang tuanya, apa mereka lupa siapa biang kerok yang membuat Jayden harus tergolek di ranjang pesakitan hampir selama seminggu.

"Itu..., aku sih nurut aja sama kedua orang tuaku, Tante. Terserah Mommy dan Daddy, kalo mereka setuju aku nggak masalah Tante," sahut Aluna mencari jalan aman.

Tak enak hati menolak langsung, ia menyerahkan pada kedua orang tua angkatnya. Ia pikir keduanya akan menolak, jeritan bahagia mengalun di sampingnya disertai tepukan ringan di punggung telapak tangan yang digenggamnya oleh Mona.

"Dengarkan Pi! Kita tinggal ngehubungi Fandi sama Sonya. Papi kapan kita adain makan malam bersama? Sonya pasti bahagia banget kalo dengar jawaban Aluna. Tunggu, biar Mami hubungi Sonya dulu," jawab Mona antusias, belum sempat Jullian bersuara sang istri telah berdiri dari posisi duduknya melangkah terburu-buru menuju kamar mencari ponselnya.

Bibir Aluna terbuka lebar, atensinya berpindah dari Mona yang menghilang di balik dinding pembatas ruang makan. Kini bergerak ke arah Jayden yang melotot horor ke arahnya, Aluna tersenyum karir ke arah Jayden.

'Alur cerita apaan ini, gue baru semingguan di sini. Kenapa alurnya malah kek taik kucing abu-abu nggak jelas gini.' Aluna mendesah berat sembari bersandar pasrah di sandaran kursi.

Bibir Jayden berkomat-kamit tanpa suara, ibu dan ayahnya tampaknya serius dengan rencana perjodohan. Dari sekian banyak perempuan, kenapa harus Aluna.

"Ancur sudah idup gue di tangan si biang rusuh," monolog Jayden disertai desahan pasrah tapi tak rela. Harusnya ia tak memerintahkan Aluna datang ke mansionnya saat ada kedua orang tuanya.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!