NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Udara di aula SMA Istanbul Internasional terasa sesak oleh aroma parfum mahal dan kegugupan yang membuncah.

Di balik tirai beludru merah yang berat, Aliya menarik napas dalam-dalam.

Jemarinya yang ramping sedikit gemetar saat ia membetulkan letak selendang sutra yang melingkari pinggangnya.

Di luar sana, riuh rendah suara orang tua murid memenuhi ruangan.

Hari ini adalah perayaan Hari Ibu, dan Aliya telah berlatih hingga kakinya lecet selama berbulan-bulan demi momen ini.

"Aliya, cepat! Kita naik sepuluh detik lagi," bisik Leyla, teman sebangkunya, sambil memberikan senyum penyemangat.

Aliya mengangguk pelan, namun matanya mencuri pandang ke arah celah tirai.

Di barisan ketiga, ia menemukan sosok itu. Maria, ibunya, duduk dengan punggung tegak dan wajah yang kaku.

Tidak ada senyum di bibir wanita itu. Maria mengenakan pakaian tertutup yang elegan, namun tatapannya tajam, seolah sedang menghakimi setiap jengkal aula tersebut.

Aliya tahu apa yang dipikirkan ibunya. Bagi Maria, menari bukanlah sebuah prestasi; itu adalah gangguan, sesuatu yang dianggap tidak berguna bagi masa depan.

Berkali-kali Maria meminta Aliya berhenti, menyuruhnya fokus pada buku-buku tebal agar bisa masuk ke fakultas kedokteran atau hukum.

“Menari tidak akan memberimu makan, Aliya. Itu hanya akan membuatmu jadi tontonan,” suara dingin ibunya terngiang kembali.

Lampu aula meredup. Musik instrumental tradisional Turki yang bercampur dengan ketukan modern mulai mengalun.

Tanpa memedulikan rasa takut yang menghimpit dadanya, Aliya melangkah maju.

Saat kakinya menyentuh lantai panggung yang dingin, jiwanya seolah berpindah.

Ia bukan lagi gadis SMA yang pendiam dan penurut.

Di bawah sorot lampu spotlight, ia adalah hembusan angin, ia adalah api.

Aliya mulai bergerak.

Tubuhnya meliuk dengan luwes, mengikuti irama yang semakin cepat.

Setiap putaran dan gerakannya bercerita tentang kebebasan yang selama ini ia idamkan.

Teman-temannya bergerak serempak di belakangnya, namun Aliya menjadi pusat gravitasi di atas panggung itu.

Dari kejauhan, Maria terpaku. Matanya tidak berkedip melihat putrinya yang tampak begitu asing—begitu bersinar.

Ada kemarahan yang tertahan di rahang Maria yang mengatup rapat, namun ia tidak bisa memungkiri betapa anggunnya Aliya saat itu.

Saat musik mencapai puncaknya, Aliya melakukan putaran terakhir yang sempurna sebelum berhenti dengan satu tangan terangkat ke udara.

Lalu, aula itu seakan meledak. Gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai memenuhi setiap sudut ruangan.

Beberapa orang tua bahkan berdiri, terpesona oleh bakat luar biasa gadis remaja itu.

Aliya tersenyum lebar, dadanya naik turun karena napas yang memburu. Air mata haru hampir jatuh di pipinya.

Namun, saat matanya kembali mencari sosok Maria, bangku di barisan ketiga itu sudah kosong.

Ibunya telah pergi sebelum tepuk tangan itu berakhir.

Setelah gemuruh tepuk tangan di aula perlahan memudar, Aliya berlari kecil menuju ruang kelas yang dijadikan ruang ganti sementara.

Jantungnya masih berdegup kencang, campuran antara sisa adrenalin panggung dan rasa cemas yang mulai menggerogoti.

Ia berharap menemukan senyum tipis di wajah ibunya, atau setidaknya anggukan kecil tanda menghargai. Namun, pemandangan di dalam kelas membuatnya membeku di ambang pintu.

Maria berdiri di sana, membelakangi jendela. Sosoknya terlihat kontras dengan dekorasi kelas yang penuh warna. Wajahnya sedingin es.

"Apa-apaan ini?" Suara Maria rendah, namun tajam menghujam.

"Bukankah Ibu sudah melarangmu untuk menari, Aliya?"

Aliya meremas ujung kostum tarinya, mencoba mencari keberanian.

"Ibu, ini untuk Hari Ibu. Aku melakukannya untuk Ibu. Semua orang menyukainya, mereka bertepuk tangan untukku."

"Ibu tidak suka, Aliya," potong Maria cepat, tanpa keraguan sedikit pun.

Kalimat itu lebih menyakitkan bagi Aliya daripada tamparan fisik.

"Ibu tidak butuh persembahan seperti ini. Ibu ingin kamu menjadi orang yang terpandang, bukan menjadi tontonan di atas panggung."

Suasana kelas menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara riuh samar dari kejauhan.

Aliya menunduk, menatap sepatu tarinya yang kini terasa sangat berat.

"Ibu pulang dulu," Maria merapikan tas tangannya dengan gerakan kaku. "Dan ingat, jangan ulangi lagi. Lepas kostum itu dan segera pulang setelah urusanmu selesai."

Tanpa menoleh lagi, Maria keluar dari kelas dengan langkah tegas.

Aliya hanya bisa terpaku di tempatnya, memandang punggung ibunya yang menghilang di balik lorong sekolah.

Di parkiran, Maria masuk ke dalam mobilnya dengan napas yang memburu.

Tangannya menggenggam kemudi dengan erat hingga buku jarinya memutih.

Ada kilatan emosi yang sulit diartikan di matanya—antara marah dan sesuatu yang tampak seperti trauma lama.

Ia menyalakan mesin, menginjak pedal gas, dan memacu kendaraannya meninggalkan area sekolah menuju pusat kota Istanbul.

Tujuannya hanya satu: restoran miliknya, tempat di mana ia bisa mengubur semua perasaan tak nyamannya ke dalam kesibukan pekerjaan.

Leyla mendekat dan merangkul bahu Aliya yang masih mematung.

Ia bisa merasakan tubuh sahabatnya itu sedikit bergetar.

"Sudahlah, Al. Mungkin Bibi Maria hanya sedang kelelahan," hibur Leyla dengan suara lembut.

Ia mengambilkan pakaian ganti Aliya dan menyodorkannya.

"Ayo, lekas ganti pakaianmu. Jangan biarkan riasan cantik ini luntur karena air mata. Kamu hebat di panggung tadi, semua orang melihatnya."

Aliya hanya mengangguk lemah, mencoba menelan pahitnya kenyataan bahwa bagi ibunya, prestasinya hanyalah sebuah kekecewaan.

Di sudut lain kota Istanbul yang lebih mewah, suasana kontras menyelimuti ruang makan kediaman keluarga besar Emirhan.

Meja panjang itu penuh dengan hidangan kelas atas, namun percakapan yang mengalir tetap terasa formal dan kaku.

Emirhan duduk dengan posisi tegak yang sempurna.

Di hadapannya, duduk sang ayah yang berwibawa dan sepupu jauhnya, Laura, yang baru saja kembali dari luar negeri.

Laura sesekali melirik Emirhan, mencoba memancing percakapan, namun pria itu hanya menanggapi dengan sopan tanpa sedikit pun kehangatan ekstra.

Setelah menyeka bibirnya dengan serbet berbahan linen, Emirhan menatap ayahnya.

"Setelah ini aku dan Kabir akan menuju ke lapangan untuk meninjau proyek kita terbaru, Ayah," ucap Emirhan dengan nada bicara yang tegas dan efisien. Baginya, waktu adalah komoditas yang paling berharga.

Ayah Emirhan mengangguk setuju. "Pastikan semua material sampai tepat waktu. Proyek ini adalah wajah baru perusahaan kita di Istanbul."

"Tentu," jawab Emirhan singkat.

Selesai makan, Emirhan segera berdiri, diikuti oleh Kabir—asisten sekaligus orang kepercayaannya yang sejak tadi menunggu dengan sigap.

"Kita berangkat sekarang, Kabir. Aku ingin sampai di lokasi sebelum matahari terlalu terik," perintah Emirhan.

Tanpa menunggu lama, kedua pria itu melangkah menuju mobil sedan hitam yang sudah terparkir di depan lobi rumah.

Di sisi lain, Aliya dan Leyla sudah berada di dalam taksi.

Kesedihan yang sempat menggelayuti Aliya perlahan sirna, digantikan oleh antusiasme Leyla yang tak henti-hentinya mengoceh tentang film terbaru yang akan mereka tonton di mall.

Di dalam taksi, mereka bernyanyi mengikuti lagu yang diputar di radio, tertawa terbahak-bahak seolah beban dunia telah terangkat dari pundak mereka. Namun, tawa itu tak bertahan lama. Laju taksi perlahan melambat hingga akhirnya berhenti total.

"Ada apa ini?" tanya Aliya sambil melongokkan kepalanya ke jendela.

"Pemeriksaan seperti biasa, Nona. Ada blokade polisi di depan," jawab sopir taksi dengan tenang.

Semua mobil berjalan merayap. Namun, ketenangan itu pecah dalam sekejap saat Aliya melihat pemandangan ganjil melalui kaca jendela.

Beberapa pria bermasker muncul dari celah kemacetan, memegang senjata api, dan menodongkan ke arah mobil sedan mewah di depan mereka—mobil milik Emirhan.

Emirhan membuka pintu dan keluar dengan tenang, mencoba bernegosiasi.

"Cepat serahkan semuanya!!" bentak salah satu perampok dengan suara parau.

Emirhan tetap tenang, ia membuka mantelnya dan merogoh saku dalam untuk mengambil dompet. Namun, gerakan itu terlihat salah di mata para perampok yang sedang tegang.

Mereka mengira Emirhan sedang mengambil senjata.

Melihat laras senjata itu mulai ditarik pelatuknya, insting Aliya bergerak lebih cepat dari logikanya.

Ia membuka pintu taksi dan berlari sekuat tenaga.

"Jangan!" teriak Aliya.

Ia menubruk dan mendorong tubuh Emirhan tepat saat suara memekakkan telinga terdengar.

DOR!!

Hening sejenak. Aliya merasakan panas yang luar biasa menjalar dari dadanya.

Ia terhuyung, sementara Emirhan yang sempat terjatuh segera menangkap tubuh gadis itu sebelum menghantam aspal.

"Aliya!!" teriak Leyla histeris dari dalam taksi.

Napas Aliya tersengal, wajahnya yang tadi ceria kini pucat pasi.

Dengan sisa tenaganya, ia mencengkeram lengan baju Emirhan, lalu menoleh ke arah Leyla yang berlari mendekat.

"Jangan... beritahu Ibu..." bisik Aliya parau.

Matanya perlahan meredup, dan tubuhnya ambruk sepenuhnya di pelukan Emirhan.

Para perampok yang ketakutan karena mendengar sirine polisi yang mendekat langsung mencoba melarikan diri, namun polisi yang sudah berjaga di titik pemeriksaan segera meringkus mereka.

Emirhan terpaku, menatap gadis berseragam sekolah yang kini tak sadarkan diri di pangkuannya.

Darah mulai membasahi kemeja putihnya yang mahal.

"Nona! Bangun, Nona!" seru Emirhan dengan nada suara yang bergetar. Untuk pertama kalinya dalam hidup, sang CEO kehilangan kendali atas situasi di depannya.

"Kabir! Panggil ambulans sekarang! Cepat!"

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!