Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.Rantai Rahasia
Sinar matahari siang menyengat pelataran Akademi Kuoh, membiaskan panas yang menciptakan fatamorgana tipis di atas aspal jalanan menuju kantin. Ren berjalan dengan langkah yang sangat terukur, tidak terburu-buru, membiarkan kebisingan para siswa yang berlarian dan berteriak menjadi latar belakang yang samar. Di balik kacamata hitamnya, ia tidak lagi hanya mengamati aliran energi luar; fokusnya terbagi ke dalam ruang batinnya sendiri.
Resonansi itu semakin kuat. Di dalam dimensi penyimpanan pribadinya, energi dari fragmen suci semalam telah sepenuhnya melebur dengan esensi jiwa Bibi Dong. Ren bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari dadanya, sebuah getaran lembut yang memberitahunya bahwa kesadaran sang permaisuri sedang menjahit kembali potongan-potongan memorinya.
"Satu langkah lagi," gumam Ren nyaris tak terdengar.
"Hah? Kau bicara padaku, Saiba-kun?"
Issei Hyodo, yang sedari tadi berjalan di samping Ren dengan nampan berisi roti yakisoba dan susu kotak, menoleh dengan wajah bingung. Sejak pertemuan di ruang pertemuan pagi tadi, Issei seolah-olah ditugaskan (atau mungkin merasa berkewajiban) untuk menempel pada Ren. Issei merasa ada sesuatu yang sangat aneh pada murid baru ini—sesuatu yang membuatnya takut sekaligus sangat penasaran.
Ren menghentikan langkahnya di bawah naungan pohon sakura yang besar, jauh dari kerumunan kantin yang menyesakkan. Ia bersandar pada batang pohon yang kasar, menatap Issei dengan tatapan datar. "Hanya berpikir keras, Issei-kun. Dunia ini seringkali memberikan kita beban yang tidak kita minta, bukan?"
Issei tertegun sejenak. Ia teringat akan tangan kirinya yang sering berdenyut aneh belakangan ini, dan pertemuan-pertemuannya yang janggal dengan gadis-gadis cantik yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu. "Kau benar... terkadang aku merasa seperti sedang ditarik ke dalam sesuatu yang tidak kupahami sama sekali."
[SISTEM: Deteksi aktivitas Sacred Gear Boosted Gear. Ddraig sedang mencoba mengamati Anda melalui hubungan emosional penggunanya.]
[REN: Biarkan Naga itu mengintip. Berikan dia tekanan ruang yang cukup agar dia tahu siapa yang sedang dia hadapi.]
Tiba-tiba, Issei menjatuhkan roti yakisobanya. Tangan kirinya gemetar hebat, dan wajahnya mendadak pucat pasi. Ia merasa seolah-olah oksigen di sekitarnya menghilang, digantikan oleh gravitasi yang sangat berat yang terpusat pada pemuda di hadapannya. Di dalam pikirannya, Issei mendengar suara berat yang menggelegar ketakutan—suara naga yang biasanya angkuh kini terdengar gemetar.
"Partner... menjauhlah... dia bukan manusia... dia adalah lubang hitam yang berjalan!"
"Issei? Kau baik-baik saja?" Ren bertanya dengan nada suara yang sangat normal, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia mengulurkan tangan, menepuk bahu Issei dengan pelan.
Seketika, tekanan itu hilang. Issei terengah-engah, keringat dingin membasahi dahinya. Ia menatap Ren dengan mata yang membelalak lebar. "Tadi itu... apa itu tadi?"
"Mungkin kau hanya kurang tidur, Issei-kun. Atau mungkin kau terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya kau pikirkan," Ren mengambil roti yakisoba yang terjatuh—yang untungnya masih terbungkus plastik—dan menyerahkannya kembali pada Issei. "Hati-hati dengan kesehatanmu. Kau punya tanggung jawab besar di masa depan."
Ren tidak menunggu jawaban. Ia kembali berjalan, namun kali ini langkahnya lebih cepat. Ia merasakan sebuah denyutan tajam di dalam jiwanya.
[SISTEM: Peringatan! Proses asimilasi mencapai titik jenuh. Jiwa Bibi Dong telah sepenuhnya terbangun dan menuntut manifestasi fisik.]
[SISTEM: Koordinat energi terdeteksi oleh pihak ketiga. Peringatan: Fluktuasi ruang-waktu di sekitar Anda mulai memicu sensor sihir di seluruh Akademi Kuoh.]
[REN: Sial, waktunya lebih cepat dari perkiraanku. Aku harus menemukan tempat yang terisolasi.]
Ren berbelok tajam menuju area gudang olahraga yang jarang dilewati siswa. Ia bisa merasakan tatapan mata-mata Rias dan Sona yang terus mengikutinya, namun kali ini ia tidak akan membiarkan mereka mengintip. Dengan lambaian tangan yang samar, Ren menciptakan sebuah tirai ruang—Curtain—yang menyembunyikan keberadaannya dari deteksi sihir maupun penglihatan manusia.
Di dalam gudang yang remang-remang dan berdebu, Ren berdiri di tengah ruangan. Cahaya biru kristal dari matanya berpendar menembus kacamata hitam. Ia melepaskan kacamata itu, memperlihatkan Six Eyes yang kini berputar dengan kecepatan tinggi.
"Datanglah, Dong'er," bisik Ren.
Sebuah celah hitam legam terbuka di udara di depan Ren. Udara di dalam gudang itu mendadak menjadi sangat dingin, diikuti oleh aroma bunga melati yang sangat kuat dan murni. Dari dalam celah itu, sebuah tangan dengan kulit seputih porselen terjulur keluar, jemarinya yang lentik tampak mencari pegangan pada realitas dunia ini.
Ren menyambut tangan itu dengan lembut. Saat jemari mereka bertautan, sebuah ledakan energi yang tenang namun masif menyapu seluruh gudang, membuat rak-rak besi bergetar hebat. Sosok wanita dengan gaun agung berwarna ungu kemerahan perlahan melangkah keluar. Rambutnya hitam panjang, mahkota kecil bertengger di kepalanya, dan matanya memancarkan otoritas seorang kaisar yang tak tertandingi.
Bibi Dong berdiri di hadapan Ren. Matanya yang indah menatap wajah Ren dengan kerinduan yang memilukan. Selama beberapa detik, tidak ada kata-kata yang terucap. Hanya suara napas mereka yang saling bersahutan di tengah keheningan gudang yang terisolasi itu.
"Ren..." suaranya gemetar, lembut namun penuh tenaga. "Apakah ini... dunia baru yang kau janjikan?"
Ren tersenyum, sebuah senyuman yang benar-benar manusiawi, penuh dengan cinta yang selama ini ia pendam. Ia menarik Bibi Dong ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah takut wanita itu akan menghilang kembali ke dalam kegelapan.
"Ya, Dong'er. Selamat datang di rumah baru kita," bisik Ren di telinganya.
[SISTEM: Karakter Bibi Dong berhasil dimanifestasikan. Status: Adaptasi Energi 10%. Hubungan: Istri Sah / Permaisuri Abadi.]
[SISTEM: Peringatan! Tekanan energi ini telah merusak penghalang Akademi. Rias Gremory dan Sona Sitri sedang bergerak menuju lokasi Anda dengan kekuatan penuh.]
Ren melepaskan pelukannya sedikit, namun tetap memegang tangan Bibi Dong. Ia menatap ke arah pintu gudang yang tertutup, sebuah seringai nakal kembali muncul di wajahnya. "Sepertinya kita akan memiliki tamu untuk menyambut kepulanganmu, Sayang. Kau siap menunjukkan pada mereka sedikit tentang bagaimana seorang ratu yang sebenarnya bersikap?"
Bibi Dong mengusap air mata di sudut matanya, lalu berdiri tegak dengan keanggunan yang mematikan. Energinya yang tadinya meluap-luap kini ia tekan kembali, namun aura kemuliaannya tetap tak tertutup. "Tentu saja, Suamiku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu ketenangan kita di dunia ini."