“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3.Jiwa baru di tubuh Luna ria.
Hari-hari berlalu, dan suasana di Villa Star born berubah total. Jika dulu rumah besar ini selalu terasa sunyi, dingin, dan penuh kesedihan, kini ada semacam energi baru yang mengalir di setiap sudut ruangan.
Energi itu datang dari Luna Ria.
Atau lebih tepatnya, dari jiwa Luna yang kini mendiami tubuh itu.
Saat mereka berdu di halaman villa, Ivy yang biasanya melakukan tugasnya menyirami halaman.
Dengan kekuatan sihirnya air pun keluar dari jari tangannya setelah mengucapkan mantra.
“Sam..tim air bum. ”ucap Ivy yang fokus.
Dan Luna pun memperhatikan nya, dan bertepuk tangan dengan tatapan kekaguman.
Plok...
“Wah!, kamu hebat Ivy. ”pujinya.
Ivy merasa canggung dirinya hanya menanggapinya dengan senyuman.
Nona semakin hari semakin aneh, dia berbeda dari yang dulu,pikir Ivy.
Lalu Luna memperhatikan bunga di halaman yang terlihat indah.
"Wow! Ivy, lihat! Bunga ini bisa berubah warna kalau kita sentuh?!" seru Luna dengan mata berbinar-binar. Ia sedang duduk di taman belakang villa, jari-jarinya yang lentik menyentuh kelopak bunga biru yang seketika berubah menjadi merah muda.
Ivy yang sedang menyiram tanaman hanya tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala tak percaya.
"Iya, Nona. Itu bunga Chameleon. Sudah biasa tumbuh di sini," jawab Ivy lembut. Namun dalam hati, ia masih sering terkagum-kagum.
Nona nya benar-benar berubah drastis.
Dulu, Luna ria yang asli adalah tipe gadis yang pemalu, jarang tersenyum, dan lebih suka mengurung diri di kamar karena takut dimanfaatkan atau diejek. Setiap kali keluar rumah, kepalanya selalu tertunduk, suaranya kecil, dan sedikit saja ada suara keras dia akan langsung menangis atau bersembunyi di balik punggung Ivy.
Tapi sekarang?
Wanita ini... atau gadis ini, sangat berbeda.
Luna ria sekarang ceria, suaranya lantang, tatapan matanya tajam namun hangat. Ia tidak takut mencoba hal baru. Ia bahkan sering tertawa lepas, sebuah suara yang sangat jarang terdengar di villa ini selama bertahun-tahun.
"Nona kok senang sekali sih? Padahal dulu Nona paling tidak suka keluar kamar," tanya Ivy penasaran sambil menghapus keringat di dahinya.
Luna menoleh, menampilkan senyum lebar yang menampakkan deretan gigi putihnya. "Karena ini keren, Ivy! Dunia ini luar biasa! Di tempatku dulu, mau lihat lampu menyala aja kadang susah karena sering mati lampu. Tapi di sini? Batu bisa bersinar, air bisa melayang, tanaman bisa bicara? Ini seperti mimpi yang jadi nyata!"
“Di tempat nona, maksudnya tempat yang mana nona?. ”tanya Ivy yang bingung.
Hening.
Luna terlalu banyak bicara, lalu untuk tidak membuat Ivy lebih banyak tanya.
“Ivy, aku lapar. ”ucapnya sambil memegang perut.
“Baik nona. ”
“Antar di kamar ya!. ”
Luna segera bergegas berjalan kearah kamarnya.
Hari yang cerah itu, saat Ivy bersiap untuk pergi berbelanja ke pasar terdekat di villa.
“Kamu mau kemana?. ”tanya Luna.
“Saya mau belanja sebentar. ”
“Kalau begitu aku ikut, kamu tunggu sebentar aku mau ambil topi dulu. ”
Tanpa menunggu jawaban Ivy, Luna bergegas kembali ke kamarnya.
Dalam perjalanan Luna benar-benar menikmati setiap detik di dunia Avalon.
Ia takjub melihat bagaimana sihir menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Para pedagang mengangkat barang dagangan menggunakan levitasi, lampu jalan menyala karena kristal energi, bahkan burung-burung di sini memiliki bulu yang memancarkan cahaya warna-warni.
Semua asing, namun sangat memukau.
“Nona tidak takut lagi keluar di keramaian. ”
"Untuk apa takut dan lihat tubuh ini," lanjut Luna sambil memutar badannya, membiarkan angin menerpa rambut panjangnya. "Meskipun lemah, tapi sehat dan cantik. Kenapa harus murung? Hidup itu singkat, Ivy. Kita harus menikmatinya!"
Ivy tersenyum bahagia. Hatinya terasa hangat. Meskipun Nona nya lupa segalanya dan berubah sikap, Ivy justru lebih menyukai Luna ria yang sekarang. Nona nya terlihat lebih hidup, lebih bersinar, dan... tidak mudah ditindas.
"Baiklah, Nona yang ceria.Mau ikut aku pergi ke Pasar Crescent belanja bahan makan. Nanti kalau kesorean, jalannya agak sepi," ajak Ivy.
"Siap, Bos!" jawab Luna dengan semangat, membuat Ivy tertawa kecil.
SORE ITU DI PASAR CRESCENT
Suasana pasar sangat ramai dan meriah. Warna-warni sihir memenuhi pandangan mata. Luna berjalan di samping Ivy, matanya tak henti mengamati segala hal dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia berjalan tegak, kepala mendongak, penuh percaya diri. Jika dulu orang melihatnya sebagai "gadis sampah" yang tertunduk malu, sekarang aura yang dipancarkannya justru membuat orang-orang segan untuk mendekat sembarangan.
Setelah selesai berbelanja dan keranjang mereka penuh, mereka pun berjalan pulang melewati jalan setapak yang agak sepi dan banyak pohon-pohon besar.
"Hei, lihat siapa itu..."
Tiba-tiba, suara cempreng dan mengejek terdengar dari depan. Tiga orang remaja laki-laki dan perempuan muncul, bersandar di dinding batu dengan wajah sok jagoan.
Mata Luna menyipit. Ada rasa familiar yang aneh, atau lebih tepatnya, ingatan tubuh ini yang bereaksi.
Mereka... batin Luna. Ingatan tubuh ini mengatakan mereka adalah orang-orang yang sering mengganggu 'Aku' dulu.Dan... bukankah mereka yang menyebabkan Luna ria tengelam?
Wajah Luna yang tadinya ceria kini berubah datar. Tatapannya menjadi dingin, namun tetap tenang.
"Hei, gadis buangan! Kamu masih hidup aja?" celetuk gadis berambut merah muda di tengah, namanya Lira. Dia tersenyum sinis. "Gue kira lo udah dimakan ikan di Danau Glory, ternyata balik lagi buat nyusahin."
Tiga orang itu tertawa mengejek. Mereka maju selangkah, menghalangi jalan Luna dan Ivy.
Ivy langsung maju satu langkah ke depan, melindungi Luna ria di belakangnya. Wajahnya memerah menahan amarah.
"Kalian jangan kurang ajar! Nona Luna ria adalah putri keluarga Star born! Hormat sedikit!" bentak Ivy.
"Heh, Star born apaan? Yang bener aja," potong salah satu cowok, Rian, yang tertawa mengejek. "Keluarga Star born cuma punya satu bintang, itu Lae ria. Yang satu ini mah cuma sampah yang dibuang. Gadis tanpa sihir. Beban dunia!"
"Dan kalian tahu nggak?" tambah Lira sambil menunjuk hidungnya sendiri. "Waktu dia jatuh ke danau, kami nggak sengaja? Hahaha! Salah sendiri tidak punya kekuatan seperti kita. Ditakuti dikit aja sudah nyemplung."
Mendengar pengakuan itu, darah Luna mendidih.
Tapi Luna tidak bergerak. Ia tetap berdiri tenang di belakang punggung Ivy, menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia ingin melihat seberapa jauh kesabaran pelayan setianya ini, dan juga ingin melihat kekuatan apa yang dimiliki orang-orang di dunia ini.
"Kalian... jahat!" teriak Ivy. Matanya berubah tajam, aura biru muda mulai mengelilingi tubuhnya. "Minta maaf sekarang juga, atau jangan salahin aku kalau kasar!"
"Wih, pelayan mau berani sama majikan? Ayo dong, seru nih!" Lira bertepuk tangan mengejek. "Serang dia! Jangan kasih kendor!"
WUSH!
Salah satu cowok langsung melancarkan serangan. Ia mengayunkan tangannya, dan seketika tanah di bawah kaki Ivy meledak, memuntahkan duri-duri batu tajam.
"Jangan remehkan aku!" teriak Ivy.
Dengan gerakan cepat, Ivy mengibaskan tangannya. Angin kencang muncul entah dari mana, menerbangkan duri-duri batu itu sebelum sempat menyentuhnya.
BOOM!
Pertarungan pun meletus!
Ivy ternyata sangat tangguh. Ia menggunakan sihir Angin tingkat menengah yang cukup cepat dan mematikan. Serangan demi serangan ia balas. Ia mampu menahan serangan dari dua lawan sekaligus.
Tapi... lawannya bertiga.
Lira, si pemimpin, ternyata memiliki sihir Api yang cukup kuat.
"Awas lo!" teriak Lira. Ia mengangkat kedua tangannya, bola api besar terbentuk dan meluncur kencang ke arah Ivy.
Ivy mencoba menangkis dengan dinding angin, tapi ledakan api itu terlalu kuat.
DORRR!
"Akh!" Ivy terlempar ke belakang, punggungnya membentur pohon besar. Ia jatuh berlutut, napasnya memburu, luka ringan terlihat di lengannya.
"Ivy!" seru Luna, tapi suaranya tenang, tidak panik.
"Hehehe, lemah juga," Rian mendekat sambil menendang-nendang batu. "Dasar pelayan tak berguna. Sekarang giliran majikan lo yang gak punya guna itu."
Ketiga remaja itu berjalan mendekat ke arah Luna ria yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Tidak ada rasa takut sedikitpun di wajah Luna. Justru ada senyum miring yang sedikit menyeramkan terpampang di sana.
"Jangan dekati dia!" Ivy mencoba bangun, tapi kakinya terlalu lemas. Ia hanya bisa menahan tangis frustrasi melihat Nona nya sendirian menghadapi mereka bertiga.
Lira berdiri tepat di depan Luna. Wajahnya menyeringai jijik.
"Gimana rasanya,putri buangan? Lihat pelayan mu babak belur cuma buat belain majikan tak berguna? Sampah emang nggak berguna. Nggak punya sihir, nggak punya apa-apa. Mending kamu mati aja di danau, daripada hidup nyusahin orang kayak gini."
Lira mengangkat tangannya, siap untuk memberikan serangan kecil yang menyakitkan ke wajah Luna.
"Tes... tes... rasain ini!"
WUSH!
Angin panas berhembus kencang tepat ke arah wajah Luna.
Ivy memejamkan mata, tak tega melihat.
Namun...
Tidak ada teriakan kesakitan. Tidak ada darah.
Yang ada hanya keheningan yang mencekam.
Ivy membuka matanya perlahan, dan apa yang dilihatnya membuat mulutnya ternganga tak percaya.
Luna ria... tidak bergeming.
Bahkan saat bola api kecil itu hampir menyentuh wajahnya, Luna hanya mengangkat tangan kanannya dengan santai, dan... Brak!
Bola api itu hancur berkeping-keping seperti kaca yang dipukul palu, lalu lenyap menjadi asap tanpa menyisakan apa pun!
"Hah?!" Lira terbelalak, mundur selangkah kaget. "Gimana caranya?! Kamu kan nggak punya sihir?!"
Luna menurunkan tangannya perlahan. Ia menatap Lira dan kedua temannya dengan tatapan yang sedingin es. Tatapan yang bukan milik gadis berusia 17 tahun, tapi tatapan seorang wanita yang telah melewati masa-masa sulit, yang pernah berhadapan dengan bahaya nyata, dan yang tidak pernah takut pada apa pun.
"Kalian selesai?" suara Luna keluar pelan, tapi sangat jelas terdengar sampai ke telinga mereka. "Mainnya sudah cukup belum."
"Kamu ngomong apa?!" cowok satunya lagi, Bimo, maju marah. "Kamu pikir kamu siapa berani ngomong gitu?!"
"Aku?" Luna mengangkat dagunya, menatap mereka dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Aku cuma orang yang heran, kenapa orang yang punya kekuatan hebat dipakai cuma buat nge-bully orang yang lebih lemah? Kelakuan kalian kalah sama preman pasar."
"Beraninya menghina kami!" Lira sudah tidak tahan lagi. "Serang dia! Beri dia pelajaran! Biar tahu rasa!"
Kali ini ketiganya menyerang bersamaan. Api, Tanah, dan Petir menyatu menjadi serangan mematikan yang meluncur kencang ke arah tubuh mungil Luna.
Ivy berteriak histeris. "NONAAAAA!!!"
Tapi Luna tetap diam. Jantungnya berdetak normal, pikirannya jernih.
Di dunia lamanya, dia tidak punya sihir. Dia tidak punya kekuatan super. Yang dia punya hanyalah akal, kecepatan, dan nyali yang besar. Dan itu lebih dari cukup.
Saat serangan itu tinggal beberapa inchi lagi dari tubuhnya...
Luna bergerak!
Bukan menggunakan sihir, tapi menggunakan gerakan bela diri yang efisien, cepat, dan mematikan!
WUTZ!
Tubuhnya miring ke samping dengan kecepatan luar biasa, menghindari serangan api tepat di depan hidungnya.
Sebelum musuh sempat bereaksi, Luna sudah melangkah masuk ke jarak pertempuran.
PLAK!
Dengan telapak tangan terbuka, ia menampar pipi Lira dengan sangat keras! Bukan sihir, tapi tenaga yang terfokus dan akurat.
"Awwkkk!!" Lira terpelanting jatuh karena kekuatan tamparan itu, pipinya langsung merah lebam.
Dua cowok lainnya kaget setengah mati.
"Gila! Gerakan dia apa itu?!"
Mereka mencoba memukul dengan sihir tanah, tapi Luna lebih cepat. Ia merunduk, menangkap pergelangan tangan salah satu cowok, lalu menggunakan gaya kunci sederhana...
KRAK!
"Aaaarrghh!! Tanganku!!" teriak Rian kesakitan saat sendi lengannya terpelintir oleh teknik kuncian yang luar biasa efektif.
Luna melempar tubuh cowok itu ke arah temannya yang lain. Mereka jatuh bertumpuk-tumpuk seperti boneka tak bernyawa.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik.
Tiga orang yang tadi mengalahkan Ivy dengan mudah, kini tergeletak di tanah, meringis kesakitan, dan memandang Luna ria dengan mata penuh ketakutan.
Luna berdiri tegak di tengah mereka. Napasnya sedikit memburu, tapi wajahnya tetap tenang dan angkuh.
Rambut panjangnya berantakan sedikit diterpa angin sisa pertarungan, membuatnya terlihat seperti dewi perang yang turun ke bumi.
Ia melangkah perlahan mendekati Lira yang masih terduduk di tanah, gemetar ketakutan.