Nono dan Ayu adalah sepasang kekasih yang unik. Mereka sering bertengkar soal hal-hal kecil—mulai dari soal baju, jalan mana yang lebih cepat, sampai soal makanan. Tetangga bilang mereka kayak air dan minyak, nggak pernah akur. Tapi siapa sangka, di balik setiap pertengkaran dan perdebatan, tersimpan rasa sayang yang besar dan perhatian yang tulus. Bagaimana kisah mereka bertahan dan tetap bersama meski sering beda pendapat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Putu Merta Ariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Besar dan Ujian Kesabaran
Minggu-minggu berikutnya, Nono dan Ayu benar-benar sibuk luar biasa. Rencana membuka cabang baru di kota sebelah kini bukan lagi sekadar tulisan di buku catatan, melainkan sebuah tujuan nyata yang sedang mereka kejar dengan penuh semangat. Setiap hari, setelah menutup kedai utama, mereka tidak langsung pulang untuk beristirahat. Sebaliknya, mereka sering duduk berjam-jam di meja kerja, membuka laptop, dan mendiskusikan segala hal detail mengenai cabang baru itu.
Tentu saja, seperti yang sudah diduga, perdebatan besar pun tak terelakkan. Kali ini, topik perdebatan mereka jauh lebih serius dan kompleks daripada sekadar warna cat atau letak gelas.
"Aku bilang lokasinya harus di dekat pusat keramaian atau kampus, Yu! Di sana banyak anak muda yang pasti suka nongkrong di kedai kayak kita. Logika aja dong," kata Nono sambil menunjuk peta kota sebelah yang terbentang di meja. Wajahnya serius dan sedikit tegas.
Ayu yang sedang meminum air putih langsung meletakkan gelasnya agak keras di meja. "Eh, jangan ngomong seolah-olah aku nggak pakai logika dong, No! Kalau di dekat pusat keramaian, sewanya mahal banget! Kita kan baru mau mulai, harus hemat biaya. Lagian, kalau kedainya bagus dan enak, orang pasti bakal nyari sampai ke mana aja, kan? Bagusnya kita cari lokasi yang agak tenang tapi mudah diakses, dan yang paling penting sewanya masuk akal," jawab Ayu tak kalah tegas, matanya menatap Nono tajam.
Nono menghela napas panjang, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya ampun, Yu. Aku tahu kamu pintar hitung-hitungan, tapi kalau lokasinya sepi, siapa yang tahu kalau kita ada di sana? Modal kita bisa boncos nanti!"
"Kalau lokasinya mahal, kita bisa boncos juga karena beban sewa tiap bulan! Kamu tuh ya, kadang terlalu optimis tapi kurang perhitungan!" balas Ayu ketus.
Suasana di ruangan itu jadi agak tegang. Mereka berdua diam saling memandang, dada mereka naik turun menahan emosi. Ini adalah salah satu pertengkaran terbesar mereka selama ini. Bukan karena rasa sayang yang berkurang, tapi karena keduanya sama-sama peduli dan sama-sama ingin yang terbaik buat usaha mereka.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang canggung. Nono melihat wajah Ayu yang kesal, dan perlahan rasa kesalnya pun hilang, digantikan rasa bersalah. Dia sadar, Ayu benar juga soal perhitungan biaya. Dan Ayu pun sadar, Nono juga benar soal pentingnya lokasi yang strategis.
"Yu..." Nono memecah keheningan pelan, suaranya sudah lebih lembut. "Maaf ya, aku tadi nada bicaranya agak keras. Aku cuma khawatir sama hasilnya nanti."
Ayu mendengus pelan, tapi tatapannya sudah tidak tajam lagi. "Aku juga minta maaf, No. Aku juga tadi agak emosi. Aku cuma pengen kita hati-hati aja sama uang kita."
Nono tersenyum kecil, lalu dia meraih tangan Ayu di atas meja. "Kita cari jalan tengah ya? Gimana kalau kita cari lokasi yang ada di pinggiran pusat keramaian? Sewanya nggak semahal di tengah, tapi masih banyak orang lewat. Gimana menurutmu?"
Ayu berpikir sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. "Hmm, boleh juga sih ide itu. Oke deh, kita coba cari lokasi yang kayak gitu. Tapi ingat ya, harganya harus sesuai sama anggaran kita!"
"Siap, Tuan Putri! Apa perintah Tuan Putri, pasti aku turuti," jawab Nono sambil tertawa lega, diikuti tawa Ayu yang renyah. Pertengkaran besar itu pun usai, digantikan dengan rasa lega dan rasa saling mengerti yang lebih dalam lagi.
Hari demi hari berlalu dengan kesibukan yang padat. Mereka bolak-balik ke kota sebelah untuk mencari lokasi, bertemu dengan pemilik tempat, dan bernegosiasi. Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan—dan tentunya beberapa perdebatan kecil lainnya—mereka akhirnya menemukan tempat yang pas. Lokasinya strategis, dekat dengan area perkantoran dan perumahan, sewanya masuk akal, dan yang paling penting, tempatnya luas dan nyaman.
Malam itu, setelah menandatangani perjanjian sewa, mereka duduk di sebuah taman kecil di kota itu sambil menikmati es krim yang mereka beli di pinggir jalan.
"Berat banget ya perjuangannya, ya, No?" kata Ayu pelan sambil menjilat es krimnya. "Aku sampai ngerasa capek banget fisik dan pikiran."
Nono mengangguk setuju sambil menatap Ayu dengan tatapan penuh rasa sayang. "Iya, Yu. Berat banget. Tapi aku senang banget karena kita bisa lewatin ini semua bareng-bareng. Tanpa kamu, aku pasti udah nyerah dari lama. Kamu tuh sumber kekuatan aku, Yu."
Ayu menoleh dan menatap mata Nono. Hatinya terasa hangat sekali mendengar kata-kata itu. "Kamu juga sumber kekuatan aku, No. Tanpa kamu, aku nggak bakal punya keberanian buat mimpi sebesar ini."
Nono meletakkan es krimnya di meja kecil di depan mereka, lalu dia meraih kedua tangan Ayu dan menggenggamnya erat. Dia menatap mata Ayu dengan tatapan yang sangat serius dan tulus.
"Yu, karena kita udah berhasil lewatin banyak hal bareng-bareng, dan karena aku yakin banget sama masa depan kita, aku mau tanya sesuatu sama kamu..." suara Nono terdengar sedikit bergetar, matanya menatap Ayu dalam-dalam.
Ayu menatap Nono penasaran, jantungnya mulai berdegup kencang. "Tanya apa, No?"
Nono menarik napas panjang, lalu dia berkata dengan tegas dan penuh keyakinan: "Ayu, aku sayang banget sama kamu. Aku sayang segala hal tentang kamu, termasuk sifat kamu yang keras kepala, suka ngeyel, tapi juga perhatian dan penuh cinta. Aku nggak bisa bayangin hidup aku tanpa kamu. Jadi... Yu, maukah kamu menikah sama aku dan jadi pendamping hidup aku selamanya? Kita bakal terus jadi 'Kekasih yang Tak Akur' yang saling menyayangi, sampai kita tua nanti."
Ayu ternganga kaget mendengar pertanyaan itu. Matanya langsung berkaca-kaca, air mata bahagia pun jatuh membasahi pipinya. Dia tidak menyangka Nono akan melamarnya di momen ini, di tengah perjuangan mereka membangun masa depan. Tanpa berpikir dua kali, Ayu mengangguk cepat berkali-kali sambil tersedu-sedu bahagia.
"Iya, No! Aku mau! Aku mau banget jadi pendamping hidup kamu selamanya! Aku sayang banget sama kamu!" seru Ayu, suaranya penuh dengan emosi bahagia.
Nono tersenyum lebar, wajahnya bersinar penuh kebahagiaan. Dia langsung menarik Ayu ke dalam pelukannya yang erat. Mereka berpelukan lama di bawah langit malam yang berbintang, seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.
Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan. Langkah besar mereka membuka cabang baru kini disertai dengan janji suci untuk menghabiskan sisa hidup bersama. Mereka tahu, perjalanan ke depan masih panjang, masih banyak tantangan, dan pasti masih banyak perdebatan yang mewarnai hari-hari mereka. Tapi mereka juga yakin, dengan cinta yang mereka miliki dan dukungan satu sama lain, mereka bisa melewati semuanya dan hidup bahagia selamanya.