"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Kecil di Tengah Badai
POV Zhira
Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Di atas kasur tipis ini, aku memandang langit-langit kamar yang gelap. Kata-kata Ibu Zainal terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak.
"Cari sendiri uangnya! Jangan harap ada sepeser pun dari Ibu!"
Kalimat itu pedas, menyakitkan, tapi entah kenapa justru menjadi cambuk yang membangkitkan semangat juangku. Jika mereka tidak percaya padaku, maka aku harus membuktikannya sendiri. Jika mereka tidak mau mendukung, maka aku akan berjalan sendirian.
Besok paginya, aku bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada beban berat, tapi ada juga tekad yang membara.
Saat sarapan, suasana kembali canggung. Ibu Zainal tampak tidak peduli dan seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi. Dia tetap sibuk melayani Rara dan Bimo, sementara aku makan dalam diam. Ayah Alvin sesekali melirikku dengan tatapan sedih, tapi dia tidak berani berkata banyak.
Aku memutuskan untuk tidak membuang energiku dengan bersedih lagi. Hari ini aku harus mulai bertindak.
Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang. Aku menyempatkan diri pergi ke sebuah toko buku besar di pusat kota. Aku mencari buku-buku soal ujian masuk perguruan tinggi dan buku-buku referensi. Jari-jariku meluncur membelai sampul buku-buku itu dengan penuh rindu. Harganya tidak murah, jauh dari jangkauan uang sakuku yang pas-pasan.
"Gapapa, Zhira. Nanti kamu bisa beli pelan-pelan atau pinjam dari perpustakaan," bisikku menyemangati diri sendiri.
Di tengah aku sedang sibuk memilih buku, ponselku bergetar. Ada pesan masuk dari grup kelas.
Grup Kelas XII-IPA 2:
"Guys, info nih! Pendaftaran Beasiswa Prestasi Akademik sudah dibuka! Deadline-nya minggu depan lho! Yang nilainya bagus buruan daftar!"
Mataku langsung berbinar. Beasiswa? Itu jawabannya! Itu satu-satunya jalan agar aku bisa kuliah tanpa membebani orang tua, dan tanpa harus meminta sepeser pun pada Ibu.
Aku buru-buru pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan. Sesampainya di rumah, aku melihat Ibu sedang duduk di teras sambil menghitung uang hasil jualan.
Aku memberanikan diri mendekat. "Bu..."
Ibu tidak menoleh, tetap fokus pada uang di tangannya. "Apa lagi? Jangan bilang mau minta uang lagi!"
"Bukan, Bu. Zhira cuma mau minta KTP dan Kartu Keluarga sebentar, mau difotokopi. Ada pendaftaran beasiswa di sekolah," jelasku hati-hati.
Baru saja aku selesai bicara, Ibu langsung mendengus kasar. "Beasiswa? Percuma saja! Itu cuma acara formalitas. Pasti yang dapat itu anak orang kaya atau yang punya kenalan. Kamu mah mimpi aja terus! Ribet sekali urusannya!"
"Tapi Bu, ini kesempatan Zhira. Kalau dapat, Zhira nggak perlu minta uang kuliah sama sekali. Semua ditanggung penyelenggara," coba aku jelaskan manfaatnya.
"Sudah sana! Ambil sendiri di laci meja! Jangan ganggu aku! Nanti kalau gagal jangan nangis di sini! Ibu sudah bilang dari awal nggak bakal ada hasilnya!" bentak Ibu sambil melambaikan tangan menyuruhku pergi.
Dadaku kembali terasa perih. Kenapa dia selalu meremehkan? Kenapa tidak pernah ada kata semangat yang keluar dari mulutnya?
"Baik Bu, terima kasih," jawabku singkat lalu pergi mengambil berkas itu.
Malam harinya, di bawah cahaya lampu kamar yang remang-remang, aku mulai mengisi formulir pendaftaran. Tanganku gemetar, bukan karena takut, tapi karena sangat berharap. Aku menulis data diriku, nilai-nilai rapor yang memang selalu bagus, prestasi-prestasi kecil yang pernah aku dapatkan di sekolah, sampai pada bagian esai: "Tuliskan alasan mengapa Anda layak mendapatkan beasiswa ini."
Di sana, aku menulis dengan jujur dan tulus. Aku menulis tentang mimpiku, tentang keinginanku untuk mengubah nasib, tentang kenyataan bahwa aku tidak memiliki dukungan biaya, tapi memiliki semangat yang seribu kali lipat lebih besar dari orang lain.
Air mataku jatuh menetes di atas kertas formulir itu. Aku berdoa dalam hati, "Tuhan, Engkau tahu segalanya. Engkau tahu betapa beratnya jalan yang harus Zhira lalui. Tolong bukakan pintu ini untukku. Tolong jadikan ini jalan keluarnya."
Beberapa minggu berlalu dengan penuh ketegangan. Aku belajar mati-matian. Setiap malam sampai larut, mataku tak lepas dari buku. Badan kurus ini terasa makin kurus, kantung mata makin menghitam, tapi aku tak peduli.
Suatu siang, saat sedang istirahat, Pak Herman memanggilku ke ruangannya. Jantungku berdegup kencang tak karuhan.
"Zhira, duduk sini," kata Pak Herman dengan wajah serius.
"I-iya Pak," jawabku gugup.
"Selamat ya, Zhira..." tiba-tiba wajah Pak Guru berubah menjadi senyum lebar. "Kamu lolos seleksi administrasi dan wawancara. Kamu terpilih mendapatkan beasiswa penuh itu!"
Detik itu juga, dunia seakan berhenti berputar. Mataku terbelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
"B-Benarkah Pak? Zhira... Zhira dapat?" tanyaku tak percaya.
"Benar dong! Lihat ini surat keputusannya. Kamu hebat sekali, Zhira. Nilaimu sangat tinggi dan esaimu menyentuh hati dewan juri. Kamu resmi diterima di jurusan yang kamu inginkan, dan semua biaya ditanggung penuh sampai lulus!"
Tanganku mengambil surat itu. Tangannya gemetar hebat. Tulisannya jelas, namaku tertera di sana sebagai penerima beasiswa.
Aku menangis. Kali ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata kelegaan dan kebahagiaan yang luar biasa. Aku berhasil! Aku membuktikannya! Tanpa uang, tanpa restu yang penuh, aku berhasil!
"Terima kasih, Pak! Terima kasih banyak!" ucapku sambil terisak.
Pulang sekolah itu, aku berlari dengan sepatu tuaku. Rasanya tidak sakit lagi, rasanya ringan sekali melayang di udara. Aku ingin pulang, ingin memberitahu kabar gembira ini pada Ayah Alvin dan... Ibu Zainal. Aku ingin melihat ekspresi wajahnya. Apakah dia akan senang? Apakah dia akan bangga padaku untuk pertama kalinya?
Harapan itu kembali tumbuh subur di hatiku. Mungkin... mungkin dengan keberhasilan ini, Ibu akan berubah. Mungkin Ibu akan sadar bahwa aku juga bisa membanggakan keluarga.
Dengan nafas terengah-engah, aku sampai di depan pintu rumah. Surat itu kupegang erat-erat di dada, seperti harta karun yang paling berharga.