Hidup gadis itu sederhana___terlalu sederhana untuk seseorang yang selalu merasa seperti tidak berada di tempat yang tepat. Saat keadaan memaksanya dirinya merantau ke kota, semuanya berubah ketika tanpa sengaja ia terseret masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga terpandang__Algara.
Salah satu pemuda pewaris keluarga itu membencinya sejak hari pertama kedatangan nya.
Baginya, gadis itu hanyalah masalah yang datang tanpa permisi. Pengganti yang tak seharusnya di akui. Namun semakin ia mencoba menjauh, gadis itu justru semakin mengganggu pikirannya. Sikap hangat gadis itu merusak dinding-dinding dingin yang selama ini ia bangun.
Hingga perlahan… kebencian berubah menjadi ketergantungan.
Ketergantungan berubah menjadi rasa yang ia benci akui; cinta.
Tanpa tau ada rahasia lama yang terkubur dalam malam kelahiran tiga anak di sebuah fasilitas darurat bertahun-tahun lalu.
Rahasia yang tidak pernah dibicarakan.
Tidak pernah dicari. tak pernah di sadari...
Bersambung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARQ ween004, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan ulang tahun untuk Cahaya
Lorenzo menjatuhkan tubuhnya ke salah satu kursi yang menghadap ke area tengah restoran. Ia menyandarkan punggung, memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. Rasa lelah yang menjalari sekujur tubuh membuatnya sama sekali tak berniat menyentuh buku menu yang tergeletak di atas meja.
Sementara itu, Gracelya justru tampak jauh lebih bersemangat. Gadis itu berdiri di depan etalase makanan, sibuk memilih hidangan sambil sesekali bertanya kepada pelayan mengenai menu favorit restoran tersebut.
"Aku pesan dulu, ya. Kamu tunggu di sini," ujarnya ceria sembari menoleh sekilas ke arah Lorenzo.
Lorenzo hanya membalas dengan anggukan singkat, tanpa minat.
Tatapannya kemudian beralih menembus dinding kaca restoran, menyapu keramaian pusat perbelanjaan yang belum juga surut meski malam semakin larut. Para pengunjung masih berlalu-lalang dengan wajah-wajah ceria. Beberapa keluarga berjalan sambil menggandeng anak-anak mereka, sementara sekelompok remaja sibuk berfoto di depan dekorasi musiman yang dihiasi gemerlap lampu.
Namun, pandangannya mendadak terhenti.
Di salah satu sudut restoran yang tak begitu jauh dari tempatnya duduk, Gevano, Rachel, dan beberapa pelayan tampak berkumpul mengelilingi sebuah meja yang dihiasi kue ulang tahun sederhana.
Lampu di area itu perlahan diredupkan.
Gevano menyalakan lilin-lilin kecil yang tertancap di atas kue, sementara seorang gadis yang sejak tadi duduk dengan mata tertutup kain perlahan membuka penutup matanya.
Begitu kain itu terlepas, semua orang berseru kompak.
"Happy birthday, Cahaya!"
*Deg*...
Lorenzo sontak menegang. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mengepal kuat di atas meja. Rasa tak suka perlahan menjalari dadanya saat melihat senyum bahagia yang begitu lepas menghiasi wajah Cahaya.
Di sisi lain, Cahaya masih terpaku tak percaya.
Tatapannya berpindah dari Gevano kepada Rachel, lalu jatuh pada kue ulang tahun yang menyala indah di hadapannya. Untuk beberapa saat ia tak mampu berkata-kata. Haru, bahagia, dan syukur bertumpuk menjadi satu hingga dadanya terasa sesak oleh kebahagiaan yang selama ini hanya berani ia impikan.
"Kalian..." lirihnya, tetapi ucapannya terhenti ketika Rachel tiba-tiba memeluknya erat.
"Happy birthday, Cahaya," ucap Rachel tulus sembari mengusap lembut punggung sahabatnya. "Gimana? Suka sama kejutannya?"
Cahaya mengangguk pelan. Senyumnya bergetar ketika air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Suka... banget. Makasih."
Rachel terkekeh kecil sebelum melirik ke arah Gevano.
"Semua ini idenya Gevano," katanya bangga. "Dia yang nyiapin semuanya dari jauh-jauh hari."
Tatapan Cahaya pun beralih kepada Gevano. Matanya berkaca-kaca, sementara senyum hangat perlahan merekah di bibirnya.
"Aku benar-benar enggak nyangka," ucapnya lirih. "Kalian sampai repot-repot ngerayain ulang tahun aku kayak gini. Apalagi kamu... makasih ya, Van."
Gevano hanya membalas dengan senyum tipis.
"Ini belum seberapa," ujarnya santai sembari menunjuk beberapa kotak hadiah yang tersusun rapi di atas meja. "Masih ada kejutan lain yang harus lo buka. Tapi sebelum itu, tiup dulu lilinnya. Jangan lupa make a wish."
Cahaya mengangguk pelan. Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan sejenak menyelimuti dirinya saat mengucapkan doa dalam hati.
Beberapa detik kemudian, ia membuka mata dan meniup seluruh lilin di atas kue.
"Yeay!"
Sorak sorai dan tepuk tangan kembali memenuhi sudut restoran.
"Potong kuenya... potong kuenya... potong kuenya sekarang juga... sekarang juga... sekarang juga..."
Rachel, Gevano, dan beberapa pelayan menyanyikannya dengan kompak hingga membuat Cahaya tak kuasa menahan tawa.
Saat mulai memotong kue, Cahaya mengambil potongan pertama. Tanpa ragu, ia melangkah menghampiri Gevano lalu menyodorkannya dengan senyum hangat.
"Yang pertama buat kamu," ucapnya lembut. "Makasih... udah bikin ulang tahun aku jadi berkesan."
Belum sempat Gevano menerimanya, Rachel bersama beberapa pelayan kembali bersorak.
"Suapin... suapin... suapin...!"
Sorakan itu sontak membuat Cahaya dan Gevano saling berpandangan sesaat sebelum buru-buru mengalihkan wajah. Keduanya sama-sama tersipu.
Tak ingin kehilangan kesempatan, Rachel yang usil mendorong pelan tubuh Cahaya hingga gadis itu terdorong dan berdiri sangat dekat di hadapan Gevano.
Wajah Cahaya langsung memerah.
Dengan gerakan canggung, ia kembali mengulurkan potongan kue itu.
Gevano tak kuasa menahan senyum kecil. Ia sedikit menundukkan kepala, menggigit sebagian kecil kue tersebut, lalu mengambil sisa potongan dari tangan Cahaya.
Tanpa diduga, ia justru balik menyuapi Cahaya.
Cahaya sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya menerima suapan itu. Wajahnya kini semakin merah.
"Cieee..."
Godaan kembali memenuhi udara.
Suasana sederhana itu dipenuhi gelak tawa, kehangatan, dan kebahagiaan yang begitu tulus.
Namun...
Dari tempat duduknya...
Lorenzo masih menatap tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Entah sudah berapa lama jemarinya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Tatapannya tak pernah lepas dari Cahaya.
Semua suara di sekelilingnya seolah lenyap.
Yang tersisa hanyalah pemandangan di hadapannya___Cahaya yang tersipu malu, Rachel yang terus menggoda, dan Gevano yang berdiri begitu dekat dengannya.
"Sayang?"
Suara Gracelya membuyarkan lamunannya.
Gadis itu baru saja kembali ke meja sambil membawa nomor antrean.
"Aku udah pesanin makanan buat kamu. Spaghetti bolognese favorit kamu, lengkap sama topping tambahannya," ucapnya ceria.
Namun, ketika tak mendapat jawaban, ia mengikuti arah pandang Lorenzo.
"Kamu lihat apa, sih?" tanyanya penasaran.
Beberapa detik kemudian matanya membulat.
"Lho... bukannya itu Cahaya? Si gadis kampung itu?" gumamnya sambil menyipitkan mata. "Ngapain dia di sini?"
Ia kembali menoleh ke arah Lorenzo.
Pemuda itu masih membisu.
Rahangnya mengatup rapat.
Sorot matanya begitu dingin dan tajam, menyimpan amarah yang perlahan mendidih di balik ketenangannya.
Tanpa peringatan...
*Brak*!
Telapak tangannya menghantam permukaan meja hingga Gracelya tersentak.
Lorenzo bangkit begitu saja, lalu melangkah cepat menuju meja Cahaya tanpa sedikit pun menghiraukan panggilan Gracelya.
"Sayang! Kamu mau ke mana? Al... Lorenzo!" seru Gracelya.
Tak ada respons.
Sesampainya di sana, Lorenzo langsung meraih pergelangan tangan Cahaya.
Cahaya tersentak kaget. Matanya membulat ketika mendapati Lorenzo berdiri di hadapannya dengan sorot mata yang menyala penuh amarah.
"Varez..." lirihnya sembari meringis pelan saat merasakan cengkeraman kuat di pergelangan tangannya.
Gevano dan Rachel sama-sama terkejut melihat kedatangan Lorenzo yang begitu tiba-tiba.
"Al, lepasin tangan Cahaya," ujar Gevano tegas sembari berusaha melepaskan cengkeraman Lorenzo.
Namun, Lorenzo langsung menepis tangan Gevano dengan kasar.
"Gak usah ikut campur," desisnya dingin sebelum kembali menatap Cahaya. "Balik sekarang."
Tanpa memberi kesempatan Cahaya menjawab, Lorenzo langsung menarik gadis itu untuk pergi.
"Heh!" Rachel segera menghadang langkahnya. "Lo enggak bisa bawa Cahaya seenaknya. Dia datang sama gue, jadi nanti dia juga pulang sama kita."
Lorenzo menatap Rachel tanpa ekspresi.
"Urusan sama lo apa?" balasnya dingin. "Lo enggak punya hak buat ngelarang gue bawa dia. Ngerti?"
"Enak aja!" sahut Rachel tajam. "Cahaya tetap pulang sama kita. Lagian kita udah izin sama Tante Emelly, dan beliau juga ngizinin."
Rachel kembali berusaha menarik tangan Cahaya.
Namun...
*Plak*!
Lorenzo menepis tangan Rachel begitu keras hingga tubuh gadis itu kehilangan keseimbangan.
*Bruk*!
Rachel terdorong ke samping. Kakinya membentur sudut meja sebelum akhirnya terjatuh ke lantai.
"Rachel!" seru Gevano dan Cahaya bersamaan.
Dengan wajah geram, Gevano spontan mendorong dada Lorenzo.
"Al... Apa-apaan sih lo, gak usah kasar sama cewek!"
Lorenzo hanya menepis dorongan itu. "Harusnya lo bilang sama temen lo buat enggak ikut campur urusan gue sama dia," ucapnya tajam.
Tanpa menunggu balasan, ia kembali menyeret Cahaya yang nyaris terseret mengikuti langkah panjangnya.
Gevano hendak mengejar.
Namun, rintihan pelan Rachel membuat langkahnya terhenti.
"Lo enggak apa-apa?" tanyanya cemas sembari berjongkok membantu Rachel duduk di kursi.
Ia segera memeriksa kaki Rachel yang tampak lecet akibat benturan tadi.
Setelah memastikan luka Rachel tidak terlalu serius, Gevano menatapnya sejenak dengan sorot mata penuh cemas. "Lo bisa pulang sendiri, kan?" tanyanya cepat. "Gue harus nyusul Cahaya sebelum Lorenzo ngapa-ngapain dia."
Rachel mengangguk pelan meski wajahnya masih meringis menahan nyeri.
Tanpa membuang waktu lagi, Gevano segera berlari keluar restoran, mengejar Lorenzo dan Cahaya yang telah lebih dulu menghilang.
Rachel hanya mampu menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Sementara itu, dari kejauhan, Gracelya yang sejak tadi menyaksikan seluruh keributan itu hanya memutar bola mata, menghentakkan kaki dengan kesal, lalu mengembuskan napas panjang penuh kejengkelan.