NovelToon NovelToon
SHINIGAMI The Shadow Of Hero

SHINIGAMI The Shadow Of Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Fantasi Isekai / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Voltigern

Berlatar di sebuah dunia yang dihantui ramalan Invasi Volgath. Sebuah perang dahsyat ketiga dunia yakni melawan dunia atas, tengah, dan bawah ditakdirkan melawan makhluk asing dari luar dunia. Di tengah bayang-bayang kehancuran, muncul harapan dimana datangnya seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mencabut pedang legendaris dan menyatukan semua ras sebagai harapan terakhir dunia.

Di Benua Gradecya, benua sihir tempat mayoritas penduduknya adalah penyihir, hiduplah Ardius. Terlahir di keluarga penyihir Leonheart yang ternama. Kehadirannya dianggap sebagai aib dan produk gagal karena tak mampu menggunakan tongkat sihir.

Tak goyah oleh takdir yang melanda hidupnya, Ardius berjuang balik melawan takdir itu sambil diam-diam menyimpan rahasia bahwa ia adalah reinkarnasi dari dunia lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 : Bibit Kemampuan Baru

Beberapa hari berlalu. Sepulang dari dungeon seperti biasanya, Ardius selalu pergi ke ruangan Profesor Gilbert, tetapi selama beberapa hari ini Profesor Gilbert absen karena suatu alasan. Meski tidak hadir, setiap harinya Ardius terus datang meskipun hanya sampai di depan pintu dan hanya memberi ketukan tiga kali.

Siang itu, dia kembali di hadapan pintu masuk ruangan wali kelasnya. Ardius menduga jika hari ini Profesor Gilbert masih belum masuk. Tetapi, dia tetap mengetuk pintu ruangan itu sebanyak tiga kali.

Tok... tok... tok!

Tak ada jawaban dari dalam. Mungkin Profesor Gilbert memang belum kembali masuk. Ardius berbalik, langkahnya hendak pergi meninggalkan tempat tersebut. Baru saja berjalan beberapa langkah, dia dihentikan oleh suara yang tak asing.

"Masuklah!"

Suara itu terdengar familiar. Ardius kembali berbalik lalu tanpa banyak bicara segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Matanya melihat secara jelas jika Profesor Gilbert tengah duduk di kursi sambil meminum secangkir teh hangat. Wajahnya terlihat cukup bosan seolah bahwa dia telah menunggunya dari tadi.

"Duduklah!" suruhnya kepada Ardius. "Maaf ya, selama beberapa hari ini aku tidak bisa hadir."

Ardius segera duduk di kursi yang berhadapan dengan wali kelasnya itu. "Dari yang saya dengar, Anda absen karena sakit. Saya tidak menyangka penyihir hebat seperti Anda juga bisa sakit."

Cangkir berisi teh hangat yang berada di tangan Profesor Gilbert diletakkan ke meja olehnya. "Rupanya kau juga bisa mengejek. Bagaimanapun juga aku tetap orang tua yang rentan terkena penyakit. Sihir bukanlah patokan yang bisa membuatmu tidak terkena penyakit. Ya kecuali sihir gelap."

Profesor Gilbert bertepuk satu kali. Saat itu, dari dalam lemari yang dipenuhi cangkir segera terbang ke arahnya. Di sisi lain, sebuah teko keramik ikut terbang lalu menuangkan teh hangat ke dalam cangkir tersebut dan setelahnya cangkir itu terbang ke arah Ardius.

Tangan Ardius segera meraih teh hangat itu. "Maaf tapi saya tidak punya waktu untuk bersantai. Sebentar lagi saya haru—"

"Mulai dari sekarang dari jam istirahat siang dan seterusnya, kau tidak diizinkan kembali ke kelas." Profesor memotong pembicaraan Ardius.

Ardius mengangkat kedua alisnya. Ia nampak kebingungan dengan perkataan mendadak dari gurunya. "Apa maksud Anda?"

"Jadwal pelajaran kembali di rubah. Dari pukul 12 dan seterusnya hanya pelajaran praktik. Daripada kau menghabiskan waktu untuk melihat sesuatu tak berguna yang tak kau bisa lakukan, lebih baik kau belajar di ruanganku." Profesor menjawab sembari meneguk teh miliknya.

"Jadi maksud Anda, saya akan belajar dengan bimbingan langsung dari Anda?"

"Ya, tepat sekali."

Ardius terdiam beberapa saat. Pandangannya tertuju ke arah pantulan dirinya dari air teh di dalam cangkir yang dia pegang. Dia berpikir sesaat, mungkin apa yang dikatakan Profesor memang masuk akal.

Dia mengangkat cangkir itu lalu meneguknya pelan. Lidahnya merasakan sensasi antara teh dan rasa buah yang belum pernah dia rasakan, namun kedua sensai tersebut menciptakan raaa yang nikmat.

"Profesor... apa itu semua bagian dari metode pembelajaran khusus kepada saya?" tanya Ardius dengan suara pelan namun terasa seperti angin yang datang secara tiba-tiba.

Seketika Profesor Gilbert berhenti saat hendak menuangkan teh hangat ke mulutnya. Dia menatap Ardius dengan tatapan sedikit terkejut. Tangannya kembali meletakkan cangkir miliknya ke meja.

"Aku tidak akan bertanya dari siapa atau dari mana kau tahu jika kau mendapatkan metode pembelajaran khusus." Pria tua itu berdiri. Kedua kakinya melangkah ke arah lemari berisi buku-buku yang terlihat usang. "Jika kau sudah tahu tentang metode itu, maka kau juga tahu kenapa seorang murid mendapatkannya. Dari sekian banyaknya siswa, kau adalah salah satu murid yang mendapatkan metode khusus karena termasuk siswa bermasalah."

"Saya tahu itu."

"Awalnya pihak akademi menginginkan supaya kau dikeluarkan. Tapi, aku melihat sesuatu yang berbeda darimu. Sikap keras kepalamu yang terus ingin belajar meskipun kau tidak mampu menggunakan tongkat benar-benar luar biasa. Karenanya, aku berbicara kepada kepala akademi untuk tetap membiarkanmu terus belajar dengan catatan aku sendiri yang akan membinamu." Profesor kembali menjelaskan. Tangan kanannya meraih sebuah buku tua.

Ardius tak berkata apa-apa. Hanya terdiam karena tidak tahu apa yang harus dia katakan lagi. Buku di tangan Profesor Gilbert melayang dan terbang ke arah Ardius. Profesor Gilbert menyuruh Ardius untuk membaca buku tersebut sampai halaman tertentu.

Tangan pemuda itu meraih buku tersebut dan membukanya dari halaman pertama. Ardius tak mengeluh atau mengkritik, dia hanya membaca buku tersebut dalam diam.

Satu jam berlalu. Ardius telah selesai membaca buku tersebut sebanyak empat bab. Buku itu berisi pelajaran tentang sejarah tentang awal penciptaan sihir.

Orvandel Arkanos adalah seorang pahlawan dari tiga pahlawan kuno. Sedangkan pahlawan kuno adalah para pahlawan di zaman terdahulu yang bertarung untuk menengahi antara para malaikat dari dunia atas dan para iblis dari dunia bawah yang saling berperang hingga pada akhirnya ketiga pahlawan berhasil menghentikan perang tersebut dan membuat ketiga dunia damai.

Orvandel awalnya adalah manusia biasa, namun saat usia remaja dia menyelamatkan seorang gadis malaikat yang merupakan teman terdekatnya dari serangan iblis. Karena Orvandel berada di ambang kematian, akhirnya gadis malaikat itu mengorbankan dirinya dengan memberikan energi kehidupan serta kekuatannya kepada Orvandel muda. Semenjak saat itu, Orvandel berubah menjadi setengah malaikat dan memiliki kekuatan sahabatnya. Saat itu juga awal mula sihir tercipta.

Sihir pertama diperkenalkan oleh Orvandel di Gradecya. Awalnya, sihir konvensional pertama hanya menggunakan tangan sebagai perantara tetapi cara konvensional pertama tersebut dinilai dapat melukai pengguna karena mana dipusatkan pada ujung jari sehingga dan pengguna harus terus fokus untuk memusatkan. Tetapi mana yang terpusat mengakibatkan rasa sakit yang terjadi pada seluruh bagian tangan. Jika dibiarkan atau dipaksakan maka mana tersebut akan meledak yang menghancurkan tangan. Berbanding terbalik dengan Orvandel yang memiliki tubuh setengah malaikat sehingga dia tidak akan mengalami luka berarti.

Selama beberapa generasi, akhirnya muncul alat-alat sebagai perantara sihir seperti tongkat sihir dan sebagainya. Cara tersebut dinilai lebih aman digunakan serta lebih cepat dalam mengalirkan mana. Semua orang mulai beralih dengan menggunakan tongkat sihir, semenjak itu tongkat sihir secara resmi menjadi cara konvensional kedua.

Cara pertama dan kedua memiliki kekurangan dan kelebihan seperti cara konvensional kedua lebih aman namun serangannya sedikit lebih lemah dari cara pertama karena konsentrasi mana cara pertama jauh lebih terpusat.

Profesor Gilbert bertanya dengan santai, "Dari empat bab yang kau baca, bagian mana yang membuatmu tertarik?"

Wajah Ardius terlihat serius. Tangannya kembali meraih teh yang sudah dingin dan meminumnya. Dia tak langsung menjawab, ekspresi wajahnya nampak tengah berpikir.

"Bagian yang membuat saya tertarik adalah tentang bagian perkembangan penggunaan sihir."

"Apa alasannya? Kenapa kau tidak tertarik dengan kisah Orvandel atau tentang perang hebat di masa lalu?" tanya kembali Profesor Gilbert.

"Alasannya sederhana. Jika kita hanya terpaku kepada masa lalu, maka sama sekali tidak akan ada perkembangan. Saya lebih tertarik kepada bagaimana masyarakat dahulu menciptakan inovasi baru yang membuat revolusi penggunaan sihir secara masif. Pengetahuan manusia adalah kunci dari kemajuan. Namun bukan berarti saya juga tidak menghargai sejarah Orvandel." Ardius menjelaskan dengan cukup panjang.

Wajah Profesor Gilbert tersenyum seakan puas dengan jawaban dari muridnya. "Kita akan lanjut ke materi selanjutnya!" ucap pria tua itu. Dia kembali duduk ke kursinya. "Pelajaran selanjutnya terdapat dalam bab yang kau baca. Menggunakan tangan sebagai alat sihir."

"Hah?" Ardius sedikit tercengang dengan apa yang dikatakan oleh sang guru. "Anda ingin saya untuk meledakkan tangan saya sendiri?"

"Aturan pertama, tidak usah banyak mengeluh. Aturan kedua, aku menjamin tanganmu tidak akan meledak. Aturan ketiga, aku percaya kepadamu." Profesor Gilbert sedikit mengeluarkan senyum kecil.

Ardius hanya bisa diam. Tidak ada pilihan lain baginya untuk menolak. Kepalanya sedikit bingung dengan aturan ketiga, tetapi dia tidak mempermasalahkannya dan tak terlalu memikirkannya.

Profesor Gilbert menyuruh Ardius untuk membuka tangan selebar-lebarnya. Sebelum melanjutkan, dia sempat bertanya apakah Ardius mampu mengalirkan mana ke pedangnya yang langsung dijawab oleh Ardius bahwa dia mampu melakukannya. Profesor Gilbert tak banyak berkomentar setelahnya, dia kembali fokus membimbing muridnya ke tahap selanjutnya.

Ardius disuruh untuk mengalirkan mana dari inti mana miliknya ke ujung jari secara perlahan-lahan. Kedua mata pemuda itu tertutup, bukan tanpa alasan melainkan untuk membuatnya lebih fokus. Dia membayangkan struktur mana dalam tubuh manusia sama persis dengan pembuluh darah yang mengalirkan darah dari jantung. Dengan membayangkan inti mana sebagai jantung dan struktur mana seperti pembuluh darah, Ardius kembali membayangkan jika dia mengatur inti mana seperti jantung yang berdetak serta mengatur lokasi yang menjadi tujuannya, yaitu ujung jari.

Mana mengalir secara konsisten dari inti mana, melewati bagian tubuh yang lain hingga akhirnya tiba di ujung jarinya. Seketika Ardius tersentak, dia merasakan seolah tersengat oleh arus listrik ketika mana tiba di ujung jari. Wajahnya menoleh ke arah Profesor Gilbert, kemudian gurunya tersebut memberi anggukan kecil seolah mengatakan untuk tetap lanjut.

Ardius kembali tenang. Dia kembali ke posisinya semula untuk kembali mencoba melatih kemampuan barunya tersebut.

.

.

.

Beberapa jam berlalu dengan cepat. Matahari sudah hampir terbenam. Langit malam hendak datang dari arah timur untuk menggantikan langit jingga di barat. Suasana akademi sangat hening, berbanding terbalik dengan siang tadi. Beberapa murid yang tinggal di asrama masih berlalu-lalang di sekitaran akademi.

Sore menjelang malam itu, Ardius masih tetap berlatih di ruangan Profesor Gilbert. Saat percobaan pertama beberapa jam sebelumnya, jari-jari Ardius mengeluarkan darah akibat tekanan mana yang semakin meningkat. Percobaan kedua juga sama-sama tidak cukup baik, kuku-kuku jarinya langsung terlontar kemana-mana. Untungnya Profesor Gilbert secara sigap menyembuhkan luka Ardius menggunakan sihir penyembuhnya.

Percobaan ketiga dan keempat sedikit lebih lancar. Energi sihir atau mana yang terkumpul dalam jarinya menjadi cukup stabil dan tidak mengakibatkan luka.

Sekarang adalah percobaan kelima. Ardius menatap jari kanannya dengan cukup serius. Napasnya tenang dan teratur ketika dia mulai mengalirkan mana kembali ke ujung jari-jarinya. Tangannya bergetar, tangannya yang lain langsung menggenggam tangan kanannya supaya tidak ada guncangan yang akan mengganggu konsentrasi mana. Dia sedikit merasakan sensasi seperti dicubit oleh serangga, namun sensasi itu tidak berarti baginya.

Beberapa menit yang menegangkan, dia terus fokus tanpa henti dan tak membiarkan celah atau gerakan tak perlu yang akan membuat konsentrasi mana terganggu. Tak menjelang lama, dari ujung jarinya muncul beberapa cahaya-cahaya hijau kecil yang melayang ke udara. Cahaya itu disebut sebagai percikan sihir.

Wajah Ardius tersenyum kecil. Baru pertama kali ini dia tersenyum sedikit lebar dari biasanya. Rasa puas dan bangga muncul dalam hatinya meskipun baru bisa membuat percikan sihir dari penggunaan mana konvensional yang lawas.

Wajah Profesor Gilbert juga tersenyum puas. Hatinya merasakan kebanggaan ketika muridnya mampu menciptakan percikan sihir hanya menggunakan tangan.

Tangan Ardius terkepal. Tatapannya tenang seperti biasa. "Cukup melelahkan. Tapi sepadan dengan yang saya dapat."

"Aku senang kau dapat melakukannya dengan lancar," tukas Profesor Gilbert. "Ngomong-ngomong Ardius. Apa kau membawa material dari misi yang aku berikan?"

Ardius kembali teringat dengan Taring Pytaria. Dia melupakan jika tujuan utamanya datang ke ruangan tersebut siang tadi hanya untuk memberikan Taring Pytaria, tetapi dia tidak menyangka jika dia akan belajar sesuatu yang baru seperti ini.

Tangan pemuda itu meraih kantong kecil di bawah. Dari kantong itu, dia mengeluarkan sebuah taring dari monster ular yang dia kalahkan di gua pedalaman hutan tempat asalnya. Dia meletakkan material tersebut di atas meja.

Mata Profesor Gilbert memperhatikan material itu dengan seksama. "Sebenarnya alasanku membarimu tugas pribadi mencarikan Taring Pytaria adalah untuk menilai sejauh mana kemampuanmu," seru dia sambil mengangkat taring monster itu. "Jika kau berkunjung ke guild petualang dan melihat daftar peringkat para monster, Pytaria adalah monster liar yang terdaftar dalam kelas B atas. Mengesankan jika kau mampu mengalahkan monster itu seorang diri."

"Anda terlalu berlebihan. Saya hanya beruntung karena sarang Pytaria cocok digunakan untuk bertarung," kata Ardius.

"Haha, tidak usah merendah. Ambillah material ini!" Profesor Gilbert melemparkan material tersebut kepada Ardius yang langsung ditangkap oleh pemuda itu. "Kau membutuhkannya untuk membuat pedang baru bernama Izanagi, bukan?"

Mata Ardius kembali terbelalak, dia langsung menoleh ke arah gurunya dengan wajah terkejut. "Bagaimana Anda tahu?" Dia kembali tenang. Berpikir beberapa saat samapai akhirnya tahu apa yang terjadi. "Biar saya tebak! Saat saya kembali ke Gilia, Anda berkunjung ke rumah dan bertanya kepada Paman Arba. Itu benar, kan?"

"Hahaha..." Profesor Gilbert tertawa. "Instingmu luar biasa. Seperti yang kau katakan, aku ke rumahmu saat kau tidak ada."

"Sebernanya pedang yang selalu saya bawa juga bernama Izanagi meskipun masih belum sempurna."

"Benarkah? Aku penasaran dengan Izanagi sempurna yang terbuat dari kumpulan material monster," seru Profesor Gilbert.

Ardius melirik ke arah katana miliknya yang bersandar di dinding. "Ya... kurasa saya akan mulai menempanya dimulai dari malam ini."

1
Erna Wati
Kereen
Tuxedo Mask
Seru banget deh!
Ahmad Voltigern: Makasih udah baca novel saya kak🙏🥰
total 1 replies
ella ellie
Banyak air mata terbuang untuk cerita ini, tapi worth it!
Ahmad Voltigern: makasih udah baca cerita ini!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!