Seperti boneka, Lilyana merasa hidupnya diperalat keluarganya untuk kepentingan bisnis. Diminta bertunangan dengan Dave demi bisnis lalu tiba-tiba diminta putus karena tunangannya dituduh berkhianat terhadap perusahaan keluarganya.
Lily merasa inferior karena kelainan jantung bawaan yang dideritanya. Sejak orang tuanya meninggal, ia bersusah payah dengan segala keterbatasannya membangun kepercayaan diri, memperjuangkan cintanya dan membebaskan sengketa warisan dan perebutan kekuasaan di perusahaan keluarganya.
Akankah keberuntungan selalu berpihak padanya? Apakah ia mampu mengembalikan kedamaian dan kejayaan keluarganya? Bagaimana pula akhir kisah cinta segitiganya dengan seorang arsitek yang romantis dan petani sukses yang penuh semangat?
JANGAN LUPA DUKUNG LILY DENGAN LIKE dan VOTE yaa 😍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya-senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persekongkolan Satya dan Asep
Siska tertawa dalam hati. Puas rasanya bisa ngomel melampiaskan kekesalannya. Ia membayangkan bagaimana reaksi Satya saat menerima telponnya tadi. Dia tidak marah, tidak unjuk kekuasaan dan tidak melakukan hal menyebalkan yang biasanya dia tunjukan untuk membuktikan dominasinya. Ternyata dia tidak sekeras yang terlihat. Mungkin dia hanya mematung menyesali kesalahannya. Bagaimanapun juga Siska tahu dia pasti sangat menyayangi adik perempuannya.
Siska dan Asep menghampiri Lily yang sudah tidak linglung setelah menghabiskan separuh botol air mineral. “Bagaimana keadaanmu, Ly.”
“Aku baik-baik saja. Kamu telpon kak Satya ya, Sis?”
“Iya. Kayaknya dia khawatir sekali dengan keadaanmu.”
Lily tersenyum.
“Kamu sudah bicara dengan dokter Widya?”
Lily mengangguk.
“Sudah, mbak Siska. Insya Allah tidak perlu ke rumah sakit. Mbak Lily hanya butuh istirahat. Kami sudah pesan di kamar hotel Pullman Ciawi dan dokter Widya akan segera datang ke sana memeriksa kondisi mbak Lily.” Dida yang angkat bicara menjelaskan keputusan dokter Widya dan apa yang telah dilakukannya untuk majikannya itu.
“Jadi kita tidak butuh ambulan ya?”
“Tidak. Ke hotel naik mobil aja. Mungkin hanya butuh sterilisasi keamanan dan mbak Gea pasti akan lakukan itu.”
Siska manggut-manggut. Dilihatnya Gea juga sudah bergegas melaksanakan tugasnya.
Tak lama kemudian mereka berangkat. Asep mengajukan diri ikut mengantar sebagai supir perempuan-perempuan itu. Siska duduk di samping supir. Dida dan Gea mengapit Lily di bangku tengah. Alphard silver itu pun melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel Pullman Ciawi yang telah direservasi oleh Dida. Meski telah beranjak petang, lalu lintasnya masih agak padat.
“Sepertinya ada mobil yang dari tadi menguntit kita.” Asep sedikit gelisah. Ia terus memperhatikan kaca spion karena sejak ke luar Kafe dilihatnya ada mobil yang menguntitnya.
Semua menoleh ke arah belakang
“Nggak apa-apa, kang Asep. Itu mobil security pak Satya,” jelas Gea santai. Tampaknya ia memang sudah kenal mobil penguntit itu.
Busyet… ternyata ada pengamanan lapis kedua selain 2 asisten yang selalu menguntit Lily kemana - mana. Asep jadi ingin garuk-garuk kepala. Setengah takjub setengah bingung. Ternyata putri salju yang diincarnya benar-benar putri raja. Sistem pengamanannya berlapis-lapis. Jangan-jangan di belakang mobil itu masih ada lagi tim keamanan lapis ketiga dan seterusnya. Rasa-rasanya mimpinya untuk bisa memodifikasi cerita putri salju itu mustahil terwujud. Mana mungkin kurcaci bisa menggantikan posisi pangeran. Mendekat atau mencari sedikit perhatian berdua saja tak pernah ada kesempatan.
Tak lama mereka sampai di hotel Pullman Ciawi. Ternyata yang direservasi Dida bukan kamar hotel biasa tapi suite room yang didesain seperti vila mewah dengan 3 kamar tidur dan private pool. Dida dan Gea segera mengantar Lily agar bisa langsung beristirahat di kamar utama. Siska dan Asep menunggu di teras vila yang menghadap ke kolam renang.
“Sis, boleh kepo nggak? Sudah berapa lama kamu sahabatan dengan Lily?”
“Sejak kecil. Mamaku sudah berteman dengan mamanya Lily sejak SMA.”
“Oooh…. Aku kira kalian teman sekolah.”
“Pernah sih sekampus bareng, tapi cuma beberapa bulan,” jawab Siska sambil senyum-senyum sendiri. Malu kalau ingat saat mereka masih kuliah bareng.
“Jangan bilang kamu drop out dari kampus itu ya,” ledek Asep
“Sayangnya aku drop out.” Siska tertawa lepas sekarang. Sama sekali tidak ada prnyesalan di wajahnya.
Asep melongo sebentar lalu tertawa karena dugaannya ternyata benar.
“Aku nggak betah kalau harus terus bersama Lily meski dia sahabat baikku. Peraturan keluarganya ribet banget. Lagipula kuliah di fakultas bisnis itu nggak enak. Aku lebih suka ikut kursus-kursus yang praktis aja sambil kerja jadi barista di kafe. Passionku di situ. Keluargaku sempat kecewa dengan keputusanku keluar kuliah tapi aku nggak peduli.”
Asep tidak heran. Siska memang tipe orang yang suka kebebasan. Sifatnya terlihat sangat bertolak belakang dengan sahabatnya.
“Bagaimana kalian bisa tetap bersahabat? Apa tidak pernah ada gesekan diantara kalian mengingat karakter dan cara hidup kalian yang berbeda.”
“Yang penting kami saling mengerti satu sama lain. Kuncinya cuma itu.”
Asep manggut-manggut.
“Lagipula di dunia nyata Lily itu hanya punya sedikit teman, kang. Sejak kecil dia dikurung di rumah besarnya itu. Temannya ya cuma pelayan-pelayan rumahnya saja. Beruntung sekarang ada media sosial. Teman dan followernya di media sosial lumayan banyak karena dia cantik, fashionable dan anak konglomerat.”
“Teman sekolah?”
“Dia home schooling sampai tamat SMA, jadi nggak punya teman sekolah. Ada sih beberapa teman kampus yang akrab sama dia. Tapi nggak banyak. Bisa dihitung dengan jari”
“Dia pernah punya pacar?”
Siska malah menatap Asep dalam-dalam. “Jangan bilang kalau kang Asep naksir dia ya.” Kali ini Siska mengancam dengan nada serius. Dalam hati ia berharap Asep berkata tidak walaupun ia sudah berkali-kali memergoki Asep tampak terpesona memandangi paras sahabatnya.
Asep tertawa sambil menyeringai , “Kamu pikir aku cukup kuat menembus sistem keamanannya yang berlapis itu?”
Kali ini Siska tertawa sinis. “Kang Asep pasti tidak sanggup. Kehidupan dia itu berbeda dengan kita. Kang Asep hari ini baru tahu sistem keamanannya yang berlapis-lapis. Peraturan keluarga yang harus ditaati banyak. Keluarganya banyak masalah. Aku lebih memilih hidup di penjara daripada menjadi bagian keluarga itu.”
“Benarkah? Tapi ehmmm…. Kamu belum jawab pertanyaan utamaku tadi.” Asep masih penasaran, bertanya sambil berbisik.
Siska tersenyum sinis lagi. Sepertinya ia enggan menjawab pertanyaan itu. Entah karena privasi atau ada alasan lain.
“Aku cuma nggak bisa membayangkan aja, Sis. Apa ada lelaki yang berani mendekati dia, sementara kemana-mana dia dikuntit asisten dan bodyguard itu. Belum lagi ada sekuriti lapis kedua, ketiga dan seterusnya. Kalau pun ada dia pasti lelaki hebat.”
“Dia sempat punya tunangan tapi sekarang putus.” Akhirnya Siska terpancing juga buat menjawab inti pertanyaan Asep tadi. Asep menahan senyum.
“Ohya?”
“Sudahlah. Jangan kepo mulu soal dia. Nanti kupingnya panas. Apalagi kalau ada salah satu pelayannya itu tahu dan melapor ke keluarganya. Kalau keluarganya marah, kita bisa dibikin nggak bisa tidur 40 hari 40 malam, kang. Bahaya.”
Asep tertawa.
Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki berpenampilan perlente, berkulit bersih dan gagah bersama seorang perempuan berpakaian dokter. Itu pasti dokter Widya yang tadi disebut-sebut Dida. Dokter perempuan paruh baya yang tampak kharismatik dengan rambut digelung rapi.
Siska langsung berdiri menyambut keduanya. “Selamat malam, kak Satya, dokter Widya,” katanya ramah.
Asep segera ikut berdiri menyambut mereka.
“Selamat malam.” Dokter itu menjawab dengan suara lembutnya. “Lily sudah di dalam kan?”
“Iya. Silahkan masuk, dok. Lily ada di kamar utama.”
Dokter itu segera masuk sementara Satya masih mematung di hadapan mereka berdua. Satya mengamati Asep dari ujung kepala ke ujung kaki. Tatap matanya tajam penuh selidik. Asep jadi tak enak hati.
“Ohya, kenalkan ini Asep rekan bisnis kami.” Untunglah Siska cepat tanggap dengan situasi itu dan langsung memperkenalkan Asep pada Satya.
Raut muka Satya cepat berubah ramah setelah mengetahui siapa lelaki itu. Tampaknya ia sudah cukup familiar dengan namanya. “Teman kalian yang baru pulang dari Rio itu?” tebaknya
“Benar sekali, kak.”
Satya tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Asep. Mereka langsung berjabat tangan hangat dan saling menyebutkan namanya. Setelah itu Satya ikut duduk di kursi teras bersama mereka.
“Bagaimana kabar om, Kak?” tanya Siska membuka percakapannya dengan Satya
“Masih kritis.”
“Siapa yang jaga di rumah sakit.”
“Sekretarisnya.”
“Kok bukan tante Rissa?”
“Dia sedang hamil besar.”
“Waw…. Sebentar lagi kalian akan punya adik bayi dong. Kok Lily nggak pernah cerita ya kalau kalian akan punya adik bayi.”
Rahang Satya tampak mengeras. Tatapan matanya tajam menghujam jantung. Siska sadar lelaki berparas tampan itu sedang menahan amarahnya. Tampaknya Siska telah salah bicara.
Ufh, Siska menutup mulutnya. “Maaf.” Siska menyesal telah berkomentar soal ibu sambung sahabatnya itu. Siska tahu betul Lily dan Satya membencinya. Seharusnya ia tidak usah berkomentar. Satya pasti tak suka punya adik dari wanita itu. Bagaimana tidak, Lily dan Satya sangat yakin kalau wanita yang dinikahi papanya itu adalah pembunuh ibu kandungnya. Mereka berniat melemparkan wanita itu ke penjara, tapi sampai saat ini bukti yang mereka peroleh belum cukup. Konon Satya sudah membayar detektif bayaran untuk mencari bukti yang lebih meyakinkan. Kelihatannya sampai saat ini penyelidikannya belum membuahkan hasil seperti yang dipikirkannya.
“Ohya, berhubung dokter Widya dan kak Satya sudah datang. Kami mohon diri dulu ya, kak.” Siska merasa pamit dan menghindari tajamnya tatapan Satya adalah keputusan paling baik. Satya bisa membunuhnya hanya dengan tatapan mata itu.
Siska merasa bersalah. Dia menarik tangan Asep dan mengerdipkan mata sebagai isyarat mengajaknya pulang atau kembali ke kafe.
“Pulanglah dengan supirku. Aku tidak mengijinkan Asep ikut kamu karena aku perlu ngobrol dengannya,” sahut Satya tegas dan dingin. Kelihatan sekali kalau ia memang hendak mengusir Siska.
Siska mencibir. Satya selalu bersikap sok kuasa begitu. “Tanya dulu dong apa kang Asep mau ngobrol dengan kak Satya atau tidak. Kak Satya bukan bos kami. Jangan bersikap bossy seperti itu,” protesnya.
”Bagaimana kang? Pulang atau masih mau ngobrol dengan boneka salju itu?” Siska mengalihkan pandangannya dan bertanya pada Asep dengan suara yang lebih lembut.
Asep tersenyum, menghela nafas sebentar mencari kata netral. Maksudnya ingin sedikit meredakan suasana tidak enak yang tercipta karena perselisihan Siska dan Satya. Tapi belum sempat ia menjawab pertanyaan Siska, Satya sudah menepuk pundaknya, “Jangan khawatir, bro. Siska akan sampai di rumahnya dengan aman diantar supir
saya. Kita belum sempat ngobrol kan. Jam segini belum terlalu malam untuk lelaki muda seperti kita.”
Sok akrab. Satya berhasil membuat Asep jadi bimbang. Siska tahu hari belum terlalu malam. Dalam hati ia masih ingin ikut ngobrol di tempat itu sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter Widya terhadap kesehatan sahabatnya. Tapi ia sudah terlanjur pamit, gengsi kalau ucapannya harus ditarik lagi. Sejak dulu Siska memang tidak pernah nyaman berlama-lama dengan Satya dan semua kakak Lily karena jengkel dengan sikap angkuh dan sok kuasanya. Begitupun Satya, tak suka dekat dengan sahabat adiknya yang cerewet, berkomentar seenaknya dan suka membangkang. Apalagi Siska suka kepo sama urusan pribadi.
“Bagaimana kang?” tanya Siska sekali lagi
“Ini kesempatan langka lo, kang. Saya sibuk. Akang pasti juga sibuk. Lagipula sekarang belum terlalu malam. Dokter Widya juga masih melakukan observasi kesehatan Lily. Kalau ada apa-apa sama kesehatan Lily, aku senang kalau ada teman cowok yang menemani ke rumah sakit. Tetaplah di sini. Aku sudah pesan kopi dan makanan ringan dari resto hotel.” Satya membujuk Asep dengan suara dan tatapan ramahnya. Sumpah. Siska makin kesal melihatnya.
Satya mengerdipkan mata dan tersenyum sinis ke arah Siska. “Sudahlah, Sis. Kalau kamu mengantuk, pulang saja duluan sana.”
Siska mencibir jengkel. Satya telah mengusirnya secara terbuka. Dengan jengkel ia masuk ke kamar utama untuk pamit kepada Lily, Dida, Gea dan dokter Widya tanpa memperdulikan jawaban Asep. Ia tahu Asep pasti cenderung ingin ngobrol karena hari memang belum terlalu malam. Lagipula pramusaji hotel telah datang membawa beberapa cangkir kopi, sepiring buah, sepiring pastry dan beberapa bungkus makanan ringan. Ngobrol di teras vila dengan pemandangan taman, private pool, lampu-lampu taman dan cerahnya langit pasti pilihan mengasyikan.
Selesai pamit dari kamar utama, Siska kembali lewat teras dan melihat 2 pria dewasa itu ngobrol asyik sambil tertawa seolah mereka berdua sudah kenal lama. Bahkan ketika Siska pamit untuk kedua kalinya pun Satya hanya bilang, “Silahkan. Semoga selamat sampai di rumah ya.” Lalu kembali tertawa. Bikin iri saja. Kenapa sih mereka langsung cepat akrab begitu. Siska menggerutu kesal. Kali ini ia merasa kalah.
Setelah Siska melangkah cukup jauh, Satya berteriak “Jangan marah lagi. Aku sudah simpan nomormu, Sis.”
Siska tak perduli. Ia sudah terlanjur kesal. Kekesalannya makin bertambah karena mendengar Satya menertawakan kekalahannya.
wawasann kerennnn, mantapp
sayangg yg bacaa nya msih sdkittt..
smangat kaa..