Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.
.
.
Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.
"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.
.
.
"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.
.
.
"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosis
Selesai sholat Jum'at, pemuda banyak datang kerumah ingin bertemu dengan Adam. Lama juga mereka mengobrol dan sorenya mereka mengajak Adam main sepak bola di lapangan.
Setelah Adam pergi, tinggalah aku berdua dengan Oma di rumah. Sambil menemankan Oma memberi makan ayam, ponselku berdering, nama Juliana terpampang di layar.
"Hai, Ana?" sapaku setelah menggesek layar.
"Hai juga. Eh, kamu lagi di mana sih? Lagi liburan ya?" balas Ana.
Sekilas aku melihat Oma sebelum masuk kedalam rumah, tidak ingin obrolanku didengar Oma.
"Aku lagi pulang kampung, kangen sama Omaku. Kamu sendiri, liburan kemana? Paris lagi?" tanyaku setelah melabuhkan duduk di kursi meja makan. Oma di belakang masih sibuk dengan ayam-ayamnya.
"Aku dirumah aja. Eh, hari itu kamu cuti kan? Pergi kemana? Ngedate sama Rio ya?"
"Aku gak sehat, Ana. Anywey, ada kabar apa?" Moodku hilang mendengar Ana menyebut nama Rio.
"Gak sehat apa gak sehat? Ngaku aja deh. Hehe... Sorry sorry becanda. Jadi gini, tadi aku buka portal kampus. So, aku lihat ada pengumuman pertandingan yang menarik perhatian. Tempatnya di fakultas tata boga, aku rasa kamu tahu pertandingan apa."
"Masak-masak," balasku. Namanya juga fakultas tata boga, susah pasti tentang makanan.
"Betul sekali! Tapi ini bukan hanya sekedar memasak. Ada yang lebih menarik! Setiap peserta wajib memiliki 3 anggota. 2 diantara mahasiswa dan satunya Lecturer. Oh my God! Ini kayak kesempatan emas buat kita, Win." Suara Ana terdengar histeris.
"Kesempatan emas apaan?" tanya, tidak mengerti apa yang dia maksud.
"Kadang-kadang kamu itu telmi juga ya? Ya jelas ini kesempatan emas kita. Kamu dengan aku akan ikut acara itu.".
"Eh, kapan aku bilang mau ikut? Lagian aku gak suka memasak."
"Santai aja, keles! Kamu gak usah melakukan apa-apa. Tuhagsmu sebagai pelengkap aja. Tukang nyicip aja nanti. Aku yang masak semua. Aku juga ingin minta Adam jadi wakil pembimbing untuk tim kita. Jadi, nanti aku bisa masak berdua dengannya. Bayangin deh Win, nanti aku pakai apron caple dengan dia. Oh, so sweetnya!" Ana menjelaskan rencananya itu histeris.
"Jadi, maksudmu. Adam juga ikut? Dan kalian satu tim?" tanyaku memastikan. "Tapi kenapa kamu ajak aku juga? Apa karna kamu merasa aku ini bukan sainganmu untuk dapatkan Adam?"
Tak dapat kubayangkan, andai Juliana tau kalau aku lah saingan utamanya.
"Of course. Karna itulah aku ajak kamu. Gak mungkin aku ajak Alya, kan? Gimana? Kamu mau kan? Please, Winda. Kan kamu sendiri yang bilang cara nightclab gak akan bisa menaklukan Adam. Jadi mungkin dengan cara ini, bisa membuatnya berkesan." Juliana membujukku.
Kuhela nafas dalam-dalam. Sungguh, menyesal aku memberikannya ide itu dulu. Sekarang dia malah serius ingin menarik perhatian Adam dengan cara halus begini.
"Hm...tapi aku rasa Asam gak berminat memasak. Apalagi sampai ikutan," ucapku berdalih.
"Eh, mana ada! Hari Jumat lalu, waktu di ruang dosen, aku sempat ngobrol dengannya. Aku nanya dia biasa makan direstoran mana. Di jawab kalau dia lebih suka masak sendiri di rumah. Artinya, pasti dia suka memasak kan?" balas Ana dengan yakin.
Aku saja yang istrinya gak tau kalau dia suka memasak.
"Tapi masakannya belum tentu enak, kan? Udahlah, aku pun gak berminat dengan rencanamu ini. Yang ada kita akan kalah," ucapku memberi alasan lagi.
"Winda. Ada kamu dengar aku bilang kita harus meneng? Gak ada kan? Tujuanku hanya untuk mengisi kegiatan saja dengan Adam. Itu aja. Dari pada aku ajak dia ke Clab, kan?"
"Tapi-"
"Sebenarnya kamu mau bantu aku gak sih? Atau jangan-jangan kamu ada hati juga dengan Adam? Makanya kamu cari-cari alasan agar gak ikut," potong Ana.
"Bukan gitu Ana."
"Jadi, kalau gak ada perasaan pada Adam, kenapa kamu menolak. Please, Win! Aku gak tau harus minta tolong siapa lagi. Cuma kamu satu satunya yang bisa kupercaya. Mau ya?" Ana masih bersikeras membujukku.
"Terserahmu aja deh. Emang kamu udah ajak Adam? Apa dia mau?"
"Kalau dia mau, kamu juga mau kan?" Ana begitu yakin Adam setuju dengan rencananya ini.
"Hm... Cobalah ajak dia. Kalau dia mau, aku oke aja," balasku. Sebenarnya aku bisa saja meminta Adam tidak ikutan pertandingan memasak itu. Tapi aku mau dengar dulu jawaban Adam setelah Ana mengajak nangi.
"Oke lah. Nanti aku tanya pada dia. Tapi saat ini aku gak punya nomor ponselnya. Nanti kalau sudah berhasil menghubunginya aku kasih kabar kamu. Oke?"
Lama juga aku duduk melamun di kursi meja makan, walau sambungan telepon dengan Ana sudah berakhir sejak tadi.
Jujur, aku tidak mau Adam meluangkan waktu untuk Ana, tapi egoku juga menghalangi agar tidak mempengaruhinya.
Mungkinkah Adam akan menceritakan padaku jika nanti Ana menghubunginya? Atau mungkin akan merahasiakan dariku?
Baiklah, sepertinya ini bisa kujadiakan ujian kejujuran untuk Adam.
Baru saja meletakkan ponsel diatas meja makan, Oma dan Sarah datang dari arah belakang. Mereka menoleh kearahku, kemudian Oma memandang Sarah, sebelum pergi ke depan.
Sarah yang tampak kebingungan berjalan kearahku.
"Winda, boleh Sarah ngomong sebenatar?" ucapnya setelah duduk.
"Hmm.... Kaki udah sembuh? Kayak gak sakit lagi?" tanyaku tanpa menjawab tanyanya.
Sarah tersenyum tipis dan mengangguk kecil.
"Sudah mendingan. Gak sakit kayak tadi malam. Hmm...sebenarnya Sarah mau minta maaf pada Winda, Sarah sudah menyinggung perasaan Winda kemarin."
"Minta maaf buat apa? Semua sudah terjadi kan? Ya udah, jalani aja."
"Sarah tahu, Winda marah. Tapi sumpah, Sarah gak ada niat apapun. Waktu Sarah sadar, Sarah malu berhadapan dengan Winda. Itu sebabnya Sarah gak ada bicara apa-apa dengan Winda," uajranya dengan membuat raut wajah penyesalan.
Aku pandang dia dengan wajah tak bersahabat. "Udah, gak usah di bahas. Seperti yang gue katakan tadi, semua sudah terjadi kan? Lo mau gue gimana lagi?" sinisku. Tapi tiba-tiba sebuah ide terlintas di otakku.
"Jujur, gue memang sedikit tersinggung dengan Lo, tapi gue diamkan aja, coba bersikap tenang. Untungnya suami gue hanya menekan dada Lo saja tanpa memberikan bantuan pernapasan dari mulut ke mulut," selorohku enteng.
"Eh, bukannya Abang Adam ada memberikan bantuan pernapasan ke mulut Sarah? Karna itu Winda marah kan?"
Jawaban Sarah seolah sengaja membidasku.
"Siapa yang ngasih tau Lo, Adam ngasih bantuan pernapasan?" tanyaku lagi.
"Nggak ada yang ngasih tau, Sarah sendiri yang tau waktu pingsan, Abang Adam ada..." Kata-kata Sarah terhenti. Matanya membulat saat menyadari terjerat dalam perangkap kata-kataku. "Hmm...kan waktu itu Abang Adam--"
"Hebat Lo, ya? Waktu pingsan pun Lo tau apa yang orang lain lakukan?" potongku enteng dan wajah Sarah berubah seketika.
"Eh, bu-bukan. Ngak..gak....maksud Sarah bukan begitu....err--"
"So maksud Lo apa?" Aku kembali memotong seraya berdiri, hendak kedepan. Tapi Sarah juga ikut bangun dan menahan tanganku.
"Winda tunggu! Ya, Sarah akui, Sarah memang sengaja melakukan itu. Sarah rasa Winda tau penyebabnya? Jadi, sekarang semua impas. Dan Sarah gak mau lagi kita ribut seperti ini. Sarah ingin kita berteman baik lagi seperti dulu," ucapnya dengan suara pelan.
Aku menarik tanganku dan raut wajah Sarah berubah dingin. "Masalah kita udah gue jelasin sebelumnya, tapi Lo yang memilih gak percaya. Gue gak ada salah atas kegagalan pertunangan Lo dulu. Gue udah bilang sama Lo kan, hati gue masih milik Virgo meski waktu itu dia sudah gak ada, tapi Lo tetap gak percaya!"
"Ya, jelas gue gak terima! Lo kehilangan Virgo, jadi Lo gak mau melihat gue bahagia dengan Iksan, kan?" Suara Sarah semakin menunggi sama denganku. Hilang tutur bahasa lembutnya yang selalu membahasakan diri dengan nama, mengikuti bahasaku yang ber-Lo-gue padanyanya.
"Gak ada untungnya buat gue merukkan hubungan kalian!" bantahku.
"Oh ya? Lo tau gak Win? Lo itu satu-satunya orang paling menyedihkan yang pernah gue temui. Tau kenapa? Dari kecil, Lo hidup sendiri tanpa ada saudara, sampai Lo harus mencari perhatian pada sepupu Lo ini untuk di jadikan teman bermain!" Sarah menunjuk-munjuk ujung jari telunjuk ke dadanya sendiri, memakasudakan sepupu yang dia maksud adalah dia. Hatiku yang tadi di landa marah di ganti kesedihan.
"Setelah itu orang tua Lo bercerai, berebut harta gono gini. Dan Lo terabaikan. Sebentar lu di titip kesana, sebenatar Lo di tarik kambali. Lo tau, Lo kayak anak kucing terbuang." Sarah melanjutkan penghinaanya ketika mulutku tiba-tiba terkunci.
"Jadi, hati Lo itu sudah di penuhi rasa iri dengki. Lo lihat gue ada Iksan, jadinlo menginginkan dia juga? Sama seperti lu menginginkan boneka gue waktu kita kecil."
Cerita boneka itu di ungkit lagi. Dulu, aku memang begitu menginginkan boneka Berbie rockstar limited edition sejak melihat iklan di tv, tapi tidak pernah ku ungkapkan pada mama dan papa karna aku bukan tipe yang suka meminta-minta. Jadi saat papa mengajakku ke kampung dan melihat boneka itu ada di rumah Sarah, keinginan di hati semakin kuat memiliki boneka itu.
Tapi aku menginginkan boneka itu bukan karna dengki, karna keinginan saja.
"Jujur aja, Lo memang iri dengan rencana pertunangan gue kan? Karna Lo baru kehilangan kekasih alam maya Lo itu!"
"Dia bukan kekasih alam maya! Dia nyata! Aku sayang dia dan dia sayang aku!" Air mataku mengalir ketika tuduhan Sarah melibatkan cinta pertamaku yang telah di jemput Illahi.
"Winda Winda! Segitunya Lo menginginkan kasih sayang sampai-sampai orang yang kau kenal di alam maya pun Lo anggap kekasih. Belum lagi termasuk foto-foto seksi yang Lo kirim ke dia!" Sarah semakin mengungkit semua cerita yang semakin memojokkanku, termasuk rahasia yang dulu aku ceritakan padanya karna yakin dia tidak akan menceritakan pada siapun.
"Lo gak ada hak men-judge gue atas apa yang gue lakukan dulu!"
"Ya, Lo benar, gue memang gak ada hak. Tapi itu semua membuktikan betapa Lo haus perhatian lelaki. Jadi gak mustahil kalau Lo memang menginginkan Iksan juga!" Mata Sarah juga sudah berkaca. Belum sempat air matanya menetes, dia lebih dulu berbalik dan melangkah ke arah dapur.
Hatiku di penuhi dengan berbagai perasaan. Marah, sedih, kecewa bercampur jadi satu. Aku sadar situasi ini memang menempatkan aku sebagai penyebab pertunangan Sarah dan Iksan di batalkan. Tapi sedikitpun aku tidak ada niat untuk merebut Iksan seperti yang Sarah tuduhkan.
Sejauh ini aku masih yakin, jiwa dan kasih Virfi masih ada dalam hatiku. Tapi mau bagaimana lagi, jasadnyasusah di telah tanah, sedang aku masih menapak di bumi.
***
Sabtu pagi, aku dan Adam kembali ke Jakarta. Sepanjang perjalanan aku tidak banyak bersuara.
Menjelang Maghrib kami berhenti dekat mesjid, karna Adam mau sholat dulu. Aku sendiri gentayangan mencari jajanan dan buah tangan sambil menunggu Adam selesai.
Aku berhenti di lapak pedagang kaki lima. Sambil aku lihat-lihat baju kaos yang tergantung, entah kenapa hati ini tiba-tiba merasa tidak enak. Aku merasa seperti ada orang yang memperhatikan. Kuedarkan pandangan kesekeliling, banyak orang berlalu lalang. Tapi tidak ketemukan yang mencurigakan.
Ku lanjutkan melihat-lihat lagi, dari satu lapak ke lapak lainnya. Sambil melihat-lihat baju kaos dengan sablon kata-kata daerah nyeleneh, ponsel di tanganku tiba-tiba bergetar. Mungkin Adam sudah selesai. Segara aku periksa pesan yang baru masuk itu.
Sendiri aja? Gak takut di culik jalan-jalan sendiri?
Pesan dari nomor yang tidak kukenal.
Seketika tanganku bergetar. Orang yang mengirim pesan ini pasti sedang memperhatikanku, sama seperti firasat yang kurasakan tadi.
Kuedarkan pandangan kesekeliling. Hati benar-benar di landa ketakutan. Takut orang itu tiba-tiba muncul. Sedang posisiku sekarang jauh dari mesjid tampat Adam memarkirkan mobil. Aku coba menghubungi nomor Adam beberapa kali, tapi tak di jawab.
Kupandang lagi sekeliling, mencari wajah-wajah yang bisa kujadikan teman, tapi tak kutemukan. Mungkin waktu Maghrib begini, para wanita banyak yang memilih ke mesjid.
"Itulah kamu. Tadi diajak Adam ke mesjid malah kelayapan. Sekarang tanggung sendiri resiko," gumamku pada diri sendiri.
"Ah, gak apa-apa. Sekarang lebih baik aku pergi ke mesjid aja. Nunggu Adam di mobil. Ya, itu lebih baik."
Kupandang trotoar di tepi jalan. Hafh, jauh juga ternyata mesjid tadi.
Ting!
Baru saja melangkah ponselku bergetar lagi
Buru-buru mau kemana, sayang? Gak apa-apa aku tunggu di sini.
Setelah membaca pesan itu, aku angkat kepala dan mataku lansung tertancap pada sosok lelaki berdiri tegap memandangku. Jaraknya kira-kira 20 meter di depan. Dia memakai kaca mata hitam dan bagian kepala di tutup dengan hoodie, hingga tak begitu jelas wajahnya.
Siapa dia?
Mau apa dia?
Aku melangkah setapak kebelakang dan dia juga menapak selangkah kedepan. Aku melangkah lagi beberapa tapak, tapi dia tetap mengikuti. Lantas aku berbalik dan berjalan menjauhi arah mesjid dengan jantung berdebar.
Ting!
Ponselku berbunyi lagi.
Oh, mau main kejar-kejaran? Oke, aku suka ini.
Sempat aku menoleh kebelakang setelah membaca pesan itu dan lelaki itu semakin dekat kearahku. Segera aku berlari, mengambil langkah seribu. Ingin minta tolong, tapi minta tolong pada siapa. aku terus berlari, sampai tiba di di toilet umum wanita.
Kurasa ini tempat yang aman, karna tidak mungkin lelaki itu mengikuti sampai kesini. Setelah masuk, aku menuju toilet yang kosong. Beberapa perempuan yang sedang merapikan make-up mereka melihatku keheranan.
Kukunci pintu toilet dan duduk di closet. Tangisku pecah. Perasaan takut masih menghantui perasaan. Tangan, kaki dan seluruh tubuh masih bergerak. Sungguh, aku takut.
Di luar ada perempuan mengetuk pintu, dia menanyakan keadaanku. Aku diam, hanya menangis. Tak memperdulikan tempat. Akhirnya suara di luar pun tak lagi terdengar.
Polsel di tangan sudah bergetar beberapa kali, tapi karna takut aku tidak menyadari itu. Ketika kulihat nama suamiku yang tampil di layar, cepat-cepat ku geser tombol jawab.
"Adam!" Aku memanggilnya dalam tangisan.
"Winda, ada apa? Kamu dimana sekarang. Saya ada di mobil." Suara Adam terdangar panik di ujung sana.
"Adam.. saya takut!" Aku masih menagis.
"Winda, kamu dimana?"
"A-aku di toilet wanita dekat mini market," jawabku masih dalam isakan.
"Ok, kamu tunggu disana. Saya kesana sekarang. Jangan kemana-mana, jangan putuskan sambungan telpon ini," pesan Adam. Tidak obrolan yang di bicarakan walau sambungan masih terhubung dan ponsel masih aku dekatkan ketelinga. Hanya isakanku yang mesih keluar dan sesekali Adam akan menenangkanku.
Beberapa menit berselang, Adam memberitahu telah berada di luar. Aku lap wajah dengan punggung tangan sebelum keluar dari toilet tempat persembunyian.
Perlahan kubuka pintu, dan ketika melihat Adam, aku berlari kearahnya. Kupeluk dia menginginkan perlindungan. Adam juga membalas pelukanku. Mata orang sekeling tidak di pedulikan. Perasaan laga kini menyelubungi hatiku.
Adam masih menenangkanku sambil mengusap punggungku dan mengecup kepalaku. Kubenamkan wajah di dadanya menyembunyikan wajah dari lelaki yang mengejarku tadi. Entah dimana dia sekarang, aku tidak ingin melihat kesekitar.
"Sudah, saya disini sayang. Jangan takut lagi," bujuk Adam lagi, kalau merangkulku berjalan menuju mobilnya.
Tangisku sudah reda, tapi rasa cemas tadi masih ada. Aku menunduk saat berjalan di trotoar. Rangkulan tangan Adam sedikit membuang rasa cemas. Aku nyaman dan merasa aman bila di dekatnya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Adam belum menanyakan apa-apa. Dia membiarkan aku menambahkan diri sambil mengecup tanganku. Setelah rasa cemasku hilang, barulah Adam bertanya.
"Winda, apa yang terjadi? Kenapa tadi sembunyi di toilet? Jauh lagi?" tanya Adam dengan suara lembutnya.
Haruskah aku menceritakan tentang pesan nota yang dulu pernah kutemukan di kaca mobil dan pesan yang kuterima tadi?
"Tadi, ada orang.... Ada laki-laki perhatikan aku. Waktu aku pergi dia masih mengikuti aku. Aku takut dan lari, tapi dia terus mengejar. Makanya tadi aku masuk ke toilet cewek dan sembunyi di sana," terangku apa adanya. Biarlah nota dan pesan yang kuterima itu menjadi rahasia. Aku tidak mau Adam terlalu mengkhatirkan masalah ini.
"Mengikuti kamu? Kamu kenal?" tanya Adam lagi.
Aku menggeleng, karna memang tidak tahu siapa lelaki itu.
"Kita buat aduan ke polis."
Aku kembali menggelang, tidak mau masalah ini di perpanjang yang akhirnya Adam tahu tentang note yang kuterima beberapa hari lalu.
"Winda, tapi ini bahaya. Ada orang yang mengikuti kamu. Kalau tadi dia apa-apakan? Tidak mungkin saya akan diam," tegas Adam. Kuambil tangannya dan ku genggam erat, meminta dia mengerti.
"Adam. Kalau hal ini terjadi lagi. Kamu punya dua pilihan. Pergi mencari orang jahat itu, atau tetap bersamaku. Tapi sekarang, aku hanya butuh seseorang untuk berada di sisiku."
"Tapi--"
"Tolong, saya ingin pulang," potongku sebelum dia selesai.
Adam melepaskan keluhan berat dan perlahan menarik nafas panjang.
"Baiklah. Tapi kalau hal ini terjadi lagi, saya stidak akan melepaskan orang itu. Tahu karna apa?" Adam membungkukkan tubuhnya kedapanku, lalu ibu jarinya mengusap pipiku.
"Karna saya adalah phanraya Khun sway, Pom rag khun. Pom rag khun maak," sambungnya masih mengelus pipiku.
Ah, apa lagi maksudnya. Kalau dia bicara bahasa inggris aku paham. Ini bahasa Thailand yang tidak aku mengerti.
Aku masih menggunakan mengarikan kata-kata itu, Tapi dia seperti menyudahi kata-katanya. Kemudian dia mencium keningku sebelum kembali duduk seperti semula dan menghidupkan mesin mobil.
Aku diam. Tidak apa kalau dia tidak mau memberitahukan, nanti aku cari sendiri. Biar dia kaget dengan ilmu bahasa Thailandku.
Perjalanan pulang di lanjutkan. Sebalah tanganku erat di genggamnya, hanya di lepaskan ketika mengganti gear.
Sumpah, jantungku mau lepas dengan perhatiannya ini.
Sesampainya di rumah, Adam turun terlebih dulu, menutup pagar yang tadi dia buka. Sebelum aku menyusulnya keluar, sempat aku memeriksa ponselku. Ada beberapa missed calls dari Adam dan 1 pesan dari lelaki misterius.
Wow. Susah punya kekasih baru rupanya?
Tak mau ambil pusing, karna sudah merasa aman di rumah Adam, semua pesan itu kuhapus. Baru aku turun dari mobil, Adam sedang bicara dengan tetangganya.
"Lamamya kamu gak pulang. Kamis lalu aku baru saja merayakan ulang tahun. Rencana mau ngundang kamu sekali, tapi batang hidungmu saja gak kelihatan.
Suara Linda yang mendayu manja tertangkap jelas di telingaku. Rasanya ingin sekali kubuka sepatu yang kupakai ini dan melempar ke kepalanya, biar tidak kegatalan lagi.
"Ohya? Kalau begitu, happy birthday ya? Maaf, ucapannya terlambat," jawab Adam tak kalah mesra.
Baru sebentar tadi dia bermesra-mesra denganku, sekarang malah sibuk dengan bunga taik ayam ini.
Huh!
"Gak ada maaf maaf? Pokonya kamu harus traktir aku makan. Oh ya, btw kamu habis dari mana?"
Ish, apa sih yang dia mau? Malah makin sibuk mengobrol dengan suami aku. Adam pun juga, kanapa malah di layani orang seperti dia.
Huh!
Karna jengkel, aku pun menghempaskan kuat pintu mobil, lalu menghentakkan kaki masuk kedalam rumahnya, tanpa menoleh pada meraka. Biar aja koper-koper itu dia sendiri yang bawa.
Aku segera naik kelantai dua, ingin mendinginkan kepala yang panas dengan air.
Puas berandam, aku keluar dari kamar mandi, 2 koper milikku dan Adam sudah tersusun di samping lemari. Sedang Adam sendiri, batang hidungnya tidak kelihatan.
Kemana dia?
Setelah mengeringkan rambut, kupakai kaos longgar di padukan dengan celana pendek. Sangat pendek, bahkan celana itu tertutup oleh baju yang kupakai. Bodoh amat lah, tampak seksi di depan Adam. Bukan haram pun.
Setelahnya, aku turun kebawah dan aroma masakan lansung tercium di hidungku. Baru saja menuju dapur, oven mengeluarkan bunyi. Segara kupakai sarung tangan, lalu mengeluarkan lasagna instan di dalam tanpa menunggu Adam yang tidak terlihat.
"Malam ini kita makan lasagna instan aja ya? Atau kamu mau makan yang kain?"
Tiba-tiba suara Adam mengagetkanku. Segera kuletakkan wadah berisi makanan instan itu di meja, lalu menolah kebelakang. Adam terlihat gagah menggunakan baju koko biru lembut dan sarung yang di pakai rapi dipinggangnya. Wajahnya juga terlihat berseri, mungkin habis sholat. Di tambah bibir merahnya yang seksi, membuatku seakan berhenti bernafas. Beruntungnya aku dapat suami seganteng dia.
"Tapi aku rasa, malam ini pengen makan sosis," jawabku dengan senyum nakal.