Sedari kecil hanya di urus oleh neneknya membuat Elsa sangat mencintai neneknya, hingga dia rela melakukan apa saja demi kebahagiaan neneknya. Hingga dia tidak berani menolak untuk menikah dengan pilihan neneknya.
Namun setelah menikah dia baru tahu, kalau Fattah menikahinya hanya karena malas berantem dengan kakanya Indra. Indra memaksa Fattah menikahi Elsa karena mengira Elsa kekasih Fattah. padahal Elsa dan Fattah tidak kenal satu sama lainnya.
Bagaimana nasib Elsa?
******
ini pengalaman Author nulis ya..
mohon bimbingan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 15 Cek Up
Pagi pagi Nazwa sudah cantik, dia sudah di mandikan Elsa. Kini Nazwa tengah bermain di depan tv. Elsa mebantu Maya menyiapkan sarapan. Dzikri dan Wijaya juga sudah siap dengan seragam mereka.
Karena semua sudah berkumpul. Mereka mulai sarapan bersama. Sejak makan siang kemaren Nazwa tidak mau lagi di suapi. Dia suap sendiri makanan nya. Selesai sarapan Wijaya pamit dan berangkat kerja.
"Amank Dzikri mau kemana bunda?" Tanya Nazwa
"Amank Dzikri mau sekolah sayang ..." jawab Elsa.
"Omah ... ikut ..." rengek Nazwa.
"Sa gimana? Bibi ngga berani bawa anak kecil," lirih Maya.
"Bentar ... aku izin sama ayahnya dulu," seru Elsa.
Elsa mengambil ponsel nya dan langsung menelpon Fattah. Sedang Nazwa terus menangis.
Setelah mengucap salam, Fattah menyahut salam nya.
"Ada apa pagi pagi nelpon ...? Hei itu tangisan Nazwa ...? Kenapa?" Tanya Fattah.
"Mas ... Nazwa pengen naik motor bib ... apa boleh?" Tanya Elsa.
"Nazwa nggak pernah naik motor sayang," jawab Fattah.
"Itu dia ... maka nya aku izin ke kamu," lirih Elsa.
Tangisan Nazwa semakin keras. Maya berusaha menenangkan nya. Namun Nazwa masih menangis.
"Kalau itu membuat nya berhenti menangis bawa saja ... tapi hati-hati ya sayang," lirih Fattah.
"Iya mas ... makasih," jawab Elsa.
Telepon ber akhir.
"Iya ... boleh sayang, Nazwa boleh ngantar amank Dzikri, tapi sama bunda," seru Elsa.
"Kak Elsa sama Nazwa yang antar aku sekolah?
Hore ...!!!" Teriak Dzikri.
Nazwa langsung berhenti menangis dan ikutan berteriak "hore"
Elsa memakaikan jaket Dzikri yang kecil buat Nazwa. Setelah siap Elsa pamit pada bibi dan nenek.
"Yakin kamu bawa Nazwa? Nenek khawatir," lirih Marni.
"Nenek mau mendengar tangisan Nazwa seharian?" Tanya Elsa.
Dengan berat hati Marni mengizinkan Elsa membawa Nazwa mengantar Dzikri kesekolah. Tidak henti-hentinya Nazwa bernyanyi karena kegirangan, pengalaman pertamanya naik motor.
Sesampai di sekolahan Dzikri Nazwa pindah kedepan, karena tidak ada lagi yang memegang nya di belakang.
"Dah Nazwa, dah kak Elsa ..." seru Dzikri
"Dah amank ... belajar yang pintar ya mank !!" seru Nazwa.
Dzikri mengangguk. Segera Dzikri masuk ke sekolahan nya. Nazwa sudah berdiri di depan, Elsa mulai melajukan motornya pelan. Baru beberapa meter dari sekolahan Dzikri tiba-tiba turun hujan.
Segera Elsa mencari tempat berteduh, tanpa ia sadari ia berteduh di bengkel Alvin, mantan kekasih nya. Namun Elsa belum menyadari tempat siapa itu. Nazwa malah kegirangan karena kena hujan sedikit tadi.
"Bunda ... kok berhenti disini?" Tanya Nazwa.
"Hujan sayang ... kita berteduh dulu," jawab Elsa.
"Kita main hujan nggak apa apa kok bunda," lirih Nazwa.
"Nggak boleh sayang ... nanti sakit ..." lirih Elsa.
Orang lain yang juga sedang berteduh memandangi Elsa yang selalu dipanggil anak kecil itu "bunda"
Setelah Nazwa tenang, Elsa baru menyadari di mana ia berdiri.
"Astaga ... ini? Ini bengkel Alvin ..." lirih hati Elsa, sambil melihat keadaan sekitar.
"Hai Sa ... apa kabar ...? lama kamu ngga kelihatan mengantar Dzikri," sapa Alvin tiba-tiba membuat Elsa terkrjut.
Elsa mencoba senyum menutupi kegugupan nya bertemu Alvin, bukan salah Alvin, yang salah diri nya, dia sungguh tidak menyadari, asal berteduh saja.
"Hee ... Aku baik," jawab Elsa.
"Siapa itu Sa?" Tanya Alvin menunjuk Nazwa.
"Aku ingin sekali bilang dia adik ku ... tapi anak kecil terlalu jujur," seru Elsa mencoba bercanda.
"Bunda ... orang-orang udah jalan bunda ..." seru Nazwa.
"Bund, bunda ... ?" Ucap Alvin penuh tanya .
"Makasih ya ... kami numpang berteduh ..." kata Elsa. Dia memutar Arah motor nya. Nazwa sudah berdiri dibagian depan Elsa.
"Sudah sayang ...?" Tanya Elsa.
"Sudah bunda ..." jawab Nazwa.
Elsa menghidupkan mesin motor matic nya.
"Dia anak suami ku ..." jawab Elsa menatap Alvin yang terus memandang nya.
Elsa melajukan motornya meninggalkan bengkel Alvin. Alvin memaku mendengar pengakuan Elsa barusan. Hatinya hancur mengetahui Elsa sudah menikah.
***
Elsa dan Nazwa sampai rumah Bibi.
"Bunda ... lagi ..." rengek Nazwa minta lagi di bawa naik motor
"Nanti ya ... nanti kita jalan jalan naik motor lagi," seru Elsa.
Nazwa mengangguk.
"Akhirnya kamu pulang, kamu tahu nenek cemas banget," lirih Marni.
"Kami baik-baik aja nek, lihat Nazwa ketagihan minta lagi," seru Elsa.
"Elsa ... kamu pakai baju itu apa ganti?" Tanya Maya
"Baju ini aja, Nazwa juga baju itu aja, tapi kita mampir dulu ke warung beli jajanan buat Nazwa," seru Elsa.
"Nazwa ... mau naik motor lagi?" Tanya Maya.
"Mau omah, mau ..." rengek Nazwa.
"Mak ... Maya mau bawa Elsa ke klinik dulu, Elsa nggak sakit ... cuma periksa aja," lirih Maya.
Marni melepas Elsa, Nazwa dan Maya pergi.
Setelah singgah di warung buat jajanan Nazwa, Elsa dan Maya kembali melanjutkan perjalanan mereka ke Klinik Cahaya Bunda. Setelah mengambil nomer Antrian, mereka duduk di kursi tunggu,memunggu giliran mereka.
"Ibu Elsa" seru perawat.
Elsa, Maya dan Nazwa segera menuju ruangan dokter.
"Pagi ..." sapa Dokter.
"Pagi dok ..." jawab Elsa dan Maya.
"Siapa yang di periksa neh?" Tanya Dokter.
"Saya Dok," jawab Elsa.
Elsa mulai menceritakan keluhan nya.
"Oh ... sejak menikah belum pernah datang bulan lagi dan tidak ada keluhan mual dan lainnya?" kata Dokter mengulangi kata kata Elsa.
"Bagaimana kalau kita USG saja untuk jelas nya," Kata Dokter.
Elsa dan Maya setuju.
Nazwa di pangku Maya, mereka diam menyaksikan Dokter yang tengah melakukan USG pada perut Elsa.
"Berapa usia anda?" Tanya Dokter.
"18 tahun Dok," jawab Elsa.
"Hem masih sangat muda ..." Dokter mengurungkan memberitahukan Semua nya.
"Sudah berapa lama menikah?" Tanya Dokter.
"Hampir 3 bulan Dok," jawab Elsa.
Senyum Dokter mengembang sejak tadi dia tahan
"Selamat ... Anda hamil, sepertinya usia janin anda kisaran 5 minggu," Kata Dokter.
"Hamil?" Kenapa saya tidak pernah mual atau ngidam dok?" Tanya Elsa.
"Tidak semua ibu hamil mengalami gejala dan masalah yang sama bu Elsa," jawab Dokter.
Nazwa tidak mengerti apa yang Dokter katakan, namun dia merekam semua kata kata Dokter itu dalam memori nya.
Maya sangat gembira mendengar kabar itu, dia menurunkan Nazwa dan memeluk Elsa yang sudan duduk disisi brankar.
Elsa dan Maya kembali duduk di depan meja Dokter.
"Untuk saat ini tak ada masalah, istirahat yang cukup dan jangan stres, ini saya kasih resep, nanti bisa di tebus di apotek," seru Dokter menyerahkan kertas Resep dan buku catatan kesehatan ibu dan anak kepada Elsa.
Selesai di ruangan Dokter, Elsa dan Maya undur diri.
Elsa menyelesaikan pembayaran pemeriksaannya di kasir klinik itu. Mereka segera pulang, namun sebelum nya mampir di Apotek menebus Resep Elsa.
Mereka kini sampai rumah. Setelah turun dari motor Nazwa langsung lari masuk kedalam Rumah, dia kembali lagi dengan semua mainan nya dan bermain sendirian.
"Elsa kenapa Maya?" Tanya Marni menyambut Elsa dan Maya yang baru masuk dengan pertanyaan.
"Elsa nggak kenapa napa mak, mak ... mesin produksi anak Elsa mantep!!!" Seru Maya.
"Elsa hamil?" Tanya Marni
Maya mengangguk sambil tersenyum
sedang Elsa menunduk.
"Masya Allah ... Alhamdulillah ...." lirih Marni memeluk Elsa.
"Suami kamu sudah di kabari Sa ...?" Tanya Marni.
"Nanti aja nek ... biar kejutan," jawab Elsa.
Padahal dia bingung bagaimana memberitahu kalau dia hamil, Elsa bertekad untuk memyembunyikan kehamilannya selama dia bisa.
Marni kembali duduk di kursi kesayangan nya.
Sedang Elsa ke dapur membawa kantong yang dia tebus di apotek tadi. Maya mendekati Elsa.
"Sa ... ternyata bibi salah ... bibi kira kamu masih ting ting. Eh tau nya sedang tekdong," lirih Maya.
Elsa diam tidak menanggapi bibi nya.
"Sa ... sejak kapan?" Tanya Maya.
"Sejak kapan apa sih bi?" Rengek Elsa.
"Sejak kapan Fattah masuk gudang kamu," seru Maya.
"Bibi ...." rengek Elsa.
Maya semakin semangat menggoda Elsa.
"Sa ...bsakit nggak?, sakit ngga di bobol Fattah?"
"Aaa huuu bibi...!!!!!" Rengek Elsa
"Maya ... menapa sih suka banget gangguin Elsa ..." bentak Marni.
"Maaf mak ..." jawab Maya.
melihat Marni sudah keluar Maya kembali lagi menggoda Elsa.
"Sa ... tokcer banget ya bibit Fattah ... emang berapa kali dalam semalam kamu di gempur Fattah?" Bisik Maya.
"Bibi!!!!" Teriak Elsa.
"Maya....!!!!" Teriak Marni dari luar.
Maya tertawa puas.
Setelah mengetahui Elsa hamil, Maya tidak mengizinkan Elsa membantu nya lagi. Bahkan Maya yang aktif menjaga Nazwa.
9 hari sudah Elsa dan Nazwa di rumah bibi. Patas saja selama ini dia sangat merindukan Fattah.
dia baru sadar, karena efek hamil kerinduannya pada Fattah begitu besar.
Sore hari banyak anak tetangga Maya bermain di halaman rumah Maya. Nazwa juga sedang bermain dengan Maya dan anak tetangga lain di teras, sedang Elsa tengah malas malasan di kamar nya.
Ia menelpon Fattah, sungguh hati nya sangat merindukan sosok Fattah. Setelah memberi salam dan menjawab Salam Elsa terus bicara.
"Mas ... kapan pulang kangen ..." lirih Elsa.
"Sabar ya ... mas pasti jemput kamu sama Nazwa kalau mas selesai," lirih Fattah.
Ternyata mobil Fattah sudah memasuki halaman rumah Wijaya. Maya tersenyum melihat Fattah datang.
"Di kamar," ucap Maya tanpa suara.
Karena melihat Fattah sedang menelpon.
Fattah mengerti dan mengangguk. Nazwa juga tidak menyadari kedatangan nya.
Fattah terus masuk kerumah Maya dan terus bicara ditelepon dengan Elsa.
"Sayang sepertinya mas diluar kota selama satu bulan, maaf sayang, mas nggak bisa pulang," lirih Fattah. Padahal Fattah sudah di depan kamar Elsa.
Elsa sesak mendengar kalau Fattah tidak akan pulang cepat, dia sangat merindukan suami nya. Elsa mematikan ponsel nya karena tidak mau Fattah menyadari dia menangis. Elsa duduk di sisi tempat tidurnya menangis sambil memeluk guling.
Fattah perlahan membuka pintu kamar Elsa.dan masuk kamar itu.
"Ngapain meluk guling? mending meluk aku," seru Fattah. Elsa menegak kan Wajah nya.
"Mas ..." lirih Elsa.
Elsa semakin menangis melihat Fattah tepat di depan mata nya. Segera Fattah memeluk istri nya yang terus menangis itu.
"Hei ... sudah ... sudah nagis nya. Mas senang ternyata bukan cuma mas yang rindu," seru Fattah sambil mengusap air mata Elsa dan memeluknya lagi.
Elsa diam, dia melepaskan rindu dengan rasa pelukan ini. Perlahan Elsa melepaskan pelukan nya.
"Mas mau minum atau mau apa?" Tanya Elsa.
"Mas mau kamu ..." jawab Fattah
dia langsung menyerbu Elsa, hingga Elsa terbaring di tempat tidur. Fattah berada di atas tubuh Elsa. Dia hanya memandangi wajah istri nya itu.
"Kamu makin cantik ..." lirih Fattah.
Fattah ingin membungkam bibir istri nya dengan bibir nya. Tapi Fattah lupa mengunci pintu.
"Sa ... bibi ba ...." ucapan maya terhenti karena merasa mengganggu suami istri yang tengah berada di tempat tidur itu terganggu karena kedatangannya. Maya dan Nazwa tidak sengaja melihat kejadian dalam kamar itu.
Fattah refleks menarik diri nya dari atas tubuh Elsa.
Sedang Elsa langsung duduk di tepi ranjang.
"Bunda ... aku mau jalan sama oma sama amank kelapangan.." lirih Nazwa.
"Ayah nggak di sapa nih ..." lirih Fattah karena Nazwa cuek dengan nya.
"Ayah jahat …." rengek Nazwa.
Maya segera keluar dari kamar Elsa.
"Ayah jahat apa?" Tanya Fattah.
"Ayah jahat ... Ayah mau ambil bunda dari aku!" Rengek Nazwa.
"Enggak ... Ayah nggak ambil bunda, sumpah..." lirih Fattah.
Nazwa tersenyum dan segera memeluk Ayah nya.
"Udah ayah ... aku mau jalan jalan sama omah ..." lirih Nazwa.
Nazwa keluar dari kamar dan berlari menuju Maya dan Dzikri. Mereka jalan jalan sore.
"Aku mau mandi sayang ..." lirih Fattah.
"Em aku siapin air nya sebentar ya ..." lirih Elsa padahal Elsa kedapur untuk menyembunyikan kotak susu kehamilan yang mulai dia minum.
"Nggak perlu ... buatkan aku teh hangat saja," seru Fattah.
Elsa mengangguk dan segera berjalan cepat ke dapur. Sesampai dapur segera dia sembunyikan kotak susu kehamilannya. Lalu membuatkan minuman buat semuanya. Karena sebentar lagi paman nya juga pulang kerja.
Fattah melewati Elsa yang tengah menyeduh teh.
karena kamar mandi melewati ruang makan.
Selesai membuat teh, Elsa duduk di luar sambil menunggu Fattah.
"Sa ... kenapa tadi Nazwa merengek?" Tanya Marni yang baru keluar dari kamar nya.
"Em ... dia senang lihat ayah nya datang nek," jawab Elsa.
"Oh Fattah sudah datang ... mana dia?" Tanya Marni mencari cari sosok Fattah.
"Mandi nek, kalau Nazwa sama bi Maya dan Dzikri sedang jalan jalan," jawab Elsa.
Marni duduk di samping Elsa.
Fattah yang baru selesai mandi mencari sosok Elsa,
di dapur tidak terlihat, akhir nya Fattah masuk ke kamar, namun Elsa juga tidak ada, Fattah meletakkan handuk nya di jemuran kecil dalam kamar Elsa. Lalu dia keluar, beberapa langkah berjalan, ternyata Elsa sedang duduk berdampingan dengan nenek nya. Elsa menyandarkan wajah nya di pundak nenek nya.
Fattah mendekat dan bersimpuh di hadapan Marni.
"Nek ... Maaf ya aku baru bisa jenguk nenek sekarang," lirih Fattah.
"Iya ... nggak apa apa ... tapi nenek bahagia Elsa lama nginep di sini, kamu bangun, jangan duduk di bawah ... kotor!! Sini duduk di samping nenek " lirih Marni.
"Nek, tapi Maaf... besok aku mau bawa kembali cucu nenek balik ke rumah ku nek ..." lirih Fattah.
"Iya nggak apa apa. Nenek sudah senang kalian datang dan bermalam disini ..." jawab Marni.
Fattah duduk disamping Marni.
"Minum nya bawa kesini?" Tanya Elsa.
"Boleh ..." jawab Fattah.
"Nenek mau minum juga? Sekalian Elsa ambilin," seru Elsa.
"Enggak, nenek nggak haus sayang," jawab Marni.
Elsa pergi ke dapur dan kembali lagi membawa segelas teh dan kue kering dari dapur. Fattah segera meminum minuman yang disuguhkan istri nya itu.
"Assalamu alaikum," seru Wijaya yang baru pulang kerja.
"Wa alaikum salam," jawab semua nya
"Hei Fattah? Kapan datang?" Tanya wijaya segera menyalami Fattah, Fattah juga menyambut uluran tangan Wijaya.
"Nggak lama kok paman …" jawab Fattah.
"Hei si krucil kuncir mana ...?" Tanya Wijaya
"Nazwa di bawa bibi dan Dzikri jalan ke lapangan paman," jawab Elsa.
"Oh ... pantesan sepi. Makasih banget Fattah udah ngizinin si krucil kuncir nginep di sini, seru banget rumah nggak terasa sepi," seru Wijaya.
"Krucil kuncir..?" Tanya Fattah.
"Nazwa ..." sahut Elsa.
"Oh ... Nazwa ... maaf ya paman kalau kalau Nazwa merepotkan semua orang ... itu biangnya rusuh," seru Fattah.
***
Maya masak banyak setelah pulang jalan-jalan tadi, karena ada Fattah malam ini.
Setelah tugas magrib dan isya di tunaikan, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan.
Mereka menyantap makan malam mereka bersama.
hanya obrolan ringan Fattah dan Wijaya mengisi waktu makan mereka.
"Weih ... hebat banget putri ayah sudah pandai makan sendiri," Seru Fattah melihat Nazwa yang menyuap makanannya sendiri.
"Aku nggak mau tangan aku di ambil tikus, kata omah kalau ngga digunakan, bisa di ambil tikus lho ayah," seru Nazwa
Mereka tersenyum mendengar jawaban Nazwa. Selesai makan Dzikri pasti kabur kedepan televisi.
"Nazwa ... malam ini mau tidur bareng oma mau nggak?" Tanya Maya.
"Nggak usah bi ... kita bisa kok tidur bertiga" jawab Elsa.
"Ya ... kali aja mau lepas rindu, tadi sore kan nanggung ..." seru Maya.
"Nenek ..." rengek Elsa.
"Maya!!! Kamu itu berubah jadi kekanakan keseringan main sama Nazwa!!!" Bentak Marni.
Maya cengengesan ditegur ibu nya.
"Cengengesan ... ntar mewek tuh kalo di tinggal Elsa pulang ... besok Elsa pulang, jangan suka goda dia terus kasian ..." lirih Marni
"Lho? Kok besok ? Ngga bisa entaran?" Tanya Maya.
"Maaf bi ... nggak bisa, besok nya aku harus balik kerja lagi," jawab Fattah
"Eh ... selamat ya Fattah ku dengar kamu di angkat jadi kepala cabang, hebat kamu ..." seru Wijaya.
"Makasih Paman, sudah rezeki nya Elsa," jawab Fattah.
Maya hampir kecelposan ingin bilang Rezki si jabang bayi, melihat mata Elsa melotot pada nya Maya pun langsung Diam.
Elsa Fattah dan Nazwa tidur bertiga di kamar Elsa.
Nazwa kekeh minta tidur di tengah tengah. Fattah pun pasrah.
Nazwa sudah nyenyak tidur. Fattah mulai mendekati Elsa, lalu menciuminya dengan ganas.
"Aku kangen ... pengen ini ..." lirih Fattah menyentuh bagian tubuh Elsa.
"Nazwa ...?" Lirih Elsa.
"Bisa kok ... kita main nya di lantai saja ..." seru Fattah.
"Memang nggak malu pagi pagi mandi basah?" Tanya Elsa.
"Arrrggghhhhtttt," gerutu Fattah kesal.
Elsa tersenyum.
"Bereskan barang barang kamu nanti pagi ya, aku udah nggak sabar pengen makan kamu," lirih Fattah
Elsa tersenyum.
"Kamu tau … padahal ketika malam pertama kita aku pengen ... nyentuh kamu, tapi aku malu pagi-pagi dilihat semua anggota rumah ini," lirih Fattah.
"Udah ... tidur yukk aku ngantuk ..." lirih Elsa.
Fattah kembali ketempat bagian nya. Mereka pun tidur sama-sama memeluk Nazwa.
hmmm.... entahlah 🙃🙃🙃
Dasar Elsa Masih Bocil,