Aku tidak suka jalan cerita cintaku di samakan oleh fiksi-fiksi romantis atau film-film yang berujung bahagia. Nyatanya dalam kehidupan nyata tidak semua kisah cinta akan berujung bahagia. Kehidupan cintaku tidak seseru yang kalian bayangkan. Benci menjadi Cinta adalah hal lazim yang biasanya mencumbui hati manusia. Tapi bagaimana denganku? Aku juga tidak tahu. Karena aku masih dalam proses menuju ujung dari sebuah cerita. Sedih senangnya akhir dari sebuah cerita adalah hal yang selalu di nantikan, aku pun juga sedang menantikan bagaimana akhir ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon srizqya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Pulang dari Bali, seminggu kemudian di adakan acara graduation angkatanku. Disana sekalian pengumuman hasil nilai-nilai yang di dapat oleh kami agar bersamaan dilihat dengan wali murid masing-masing.
“Ribet banget dah ini kebaya!” Dumelku.
“Bener banget! Gatel nih ada manik-maniknya segala,” aku dan Kika sepertinya memang bukanlah wanita sejati.
Semua murid wanita serentak memakai kebaya berwarna merah marun hasil desain dari mama nya Rafa. Kuakui memang kebaya ini sangat bagus tapi hanya untuk di lihat bukan untuk di kenakan. Daridulu aku tidak suka memakai pakaian seperti ini. Jika boleh, aku lebih memilih memakai kemeja putih dan jas seperti laki-laki.
“Tungguin gue Kik, ini high heels gak ada apa yang lebih pendekan dikit apa!” Aku menatap kebawah melihat high heels yang ku kenakan.
“Tiga senti aja lo bilang tinggi! Liat gue nih liat astaga 7 senti, kaki gue serasa pen patah.”
“Eh kita lebay banget ga sih? Liat deh yang lain perasaan biasa aja deh, Cuma kita yang ribet.”
“Abnormal kali ya kita.”
“Iya kali ya.”
Satu persatu nama-nama di panggil, Rafa di panggil nomer 9 karena namanya yang dari huruf A. Ia sama seperti yang lain, memakai kemeja putih di padukan dengan jas hitam serta pantofel berwarna hitam. Penampilannya terlihat elegan, rapih.
Giliranku-pun tiba dengan senyum canggung akibat risih dengan high heels dan kebayaku. Aku naik ke atas panggung dan sehati-hati mungkin dalam menaiki tangga. Aku menerima sebuah medali yang di kalungkan oleh Pak Darmawan setelah itu aku salim lalu turun. Saat berada di tangga terakhir fotografer sewaan telah siap dengan kameranya dan membidik siluet tubuhku.
“Puji syukur terhadap Tuhan yang maha esa, berkat rahmatnya siswa-siswa kami telah lulus dengan hasil yang memuaskan—“ Pak Darmawan mulai berpidato.
“Tak ingin panjang lebar karena tahu siswa-siswa kami tidak suka pidato yang panjang lebar.” Kalimat Pak Darmawan menimbulkan suara-suara tertawa kecil.
“Tau aja sih, Pak.” kata Kika.
“Sehubungan dengan hasil yang telah di terima oleh pihak sekolah, bahwa yang mana akan ada peserta terbaik diantara yang terbaik. Dengan itu, selaku kepala sekolah dengan bangga akan mengumumkan kepada siswa yang meraih NEM tertinggi tahun ini—“
“Caramel Aura! Selamat pada murid cemerlang kami satu ini! Dengan NEM 59,25—kepadanya saya persilahkan untuk maju.”
Perasaanku campur aduk saat ini, ada senang, sedih, terharu, dan sebagainya. Kika yang pertama memelukku dan memberi ucapan selamat kepadaku. Teman-teman yang lain menyusul untuk memberi selamat padaku. Kemudian, aku maju kembali ke panggung dan di beri penghargaan sebuah trophy dan sertifikat dari sekolah.
“Silahkan untuk Nak Caramel sepatah dua patah kata nya.” Pak Darmawan tersenyum menyejukkan.
Aku berjalan kearah mic dengan canggung. Tidak tahu harus berkata apa.
“Selamat malam semuanya..” Aku membuka pidato, kulihat kedua orangtuaku berada di antara lautan manusia yang sedang duduk menatap ku semua. Mereka berdua tersenyum bangga ke arahku. Aku balas tersenyum kepada mereka.
“Seperti yang Pak Darmawan bilang, saya akan memberikan satu patah dua patah kata, karena saya sejujurnya paling tidak suka berpidato, saya tidak akan berpidato disini. Melainkan saya akan merangkai kata menjadi sebuah bait--“
Aku berdehem sebentar dan menatap sekali lagi pada orang-orang di depanku ini. Ku hembuskan nafas panjang lalu membuangnya.
“Merah, bukan karena ia pemberani melainkan ia yang tersakiti
Putih, bukan berarti ia suci melainkan ia yang mempunyai hati nurani
Hitam, bukan karena ia gelap melainkan ia yang suka menyindiri
Abu-abu, bukan karena ia penuh liku melainkan ia yang penuh misteri
Dan yang terakhir,
Caramel, walau bukan termasuk dalam sebuah warna pasti melainkan ia yang berdiri disini untuk mengucapkan sebuah kata-kata tak di nanti dari hati”
“Sekiranya itu saja dari saya, mohon maaf pada Bu Irma selaku guru Bahasa Indonesia karena saya membuat berantakan Bahasa Indonesia.” Diujung sana Bu Irma tertawa geli mendengar kalimatku. “Terimakasih pada orang-orang yang mendukung saya di kala susah dan senang. Terimakasih.” Aku turun dari panggung diiringi tepukan meriah.
“Selamat ya,” sebuah suara membuatku menolehkan kepala ke arah sumber suara. Baru saja aku dan angkatanku melakukan acara sesi foto.
Rafa berdiri di sampingku, jas nya kini sudah di lepas dan hanya menampilkan kemeja putihnya yang bahkan dua kancing dari atas nya telah terbuka serta kedua lengannya yang di gulung sampai sikut.
“Makasih, selamat juga ya buat kelulusannya. Ganyangka lo bakal lulus.”
“Haha gue juga ga nyangka—bait-bait katanya tadi lumayan.”
“Iya makasih,”
Kukira ia bakal membicarakan perkataannya yang di Bali. Tapi ternyata tidak, ia bahkan berjalan meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Yah, kurasa memang tidak penting.
Tepat saat dua hari sebelum keberangkatanku ke Jerman, aku baru mengatakan pada Kika bahwa aku akan kuliah disana selama 6 tahun. Dan reaksinya melibih ekspetasiku.
“SUMPAH YA LO KENAPA GA CERITA DARI AWAL SAMA GUE!”
“Biar surprise aja hehe.”
“Seris 6 tahun, Mel?! Tapi lo bakal pulang kan ke indo kalo liburan?!”
“Kayanya ngga deh Kik, gue mau total fokus kuliah. Biar gue jadi dokter yang bener dan ga malpraktik.”
“Terus kalo gue kangen sama lo gimana hah??”
“Duuhh hari ini teknologi udah maju kali, kita bisa kan skype-an tiap hari?”
“Ngga! Ngga cukup!”
“Cukupin udah cukupin.”
“Yaudah oke ntar sekali-kali gue yang kesana sekalian liburan!”
Seperti itulah kira-kira percakapannya, aku senang sekali mendengar Kika sampai rela-rela ingin kesana hanya demi bertemu denganku. Padahal aku saja belum berada disana.
Setelah graduation aku benar-benar sama sekali tidak tahu kabar apa-apa tentang Rafa. Bahkan aku juga tidak tahu ia ingin kuliah jurusan apa. Ya semoga saja ia benar-benar akan kuliah. Belakangan ini semakin dekat dengan keberangkatanku ke Jerman, aku semakin memikirkannya. Entah alasan macam apa aku memikirkannya, yang jelas ada suatu yang menggebu-gebu karenanya tapi aku tidak tahu apa masalahnya.
Sampai detik ini pun menjelang keberangkatanku pun aku masih memikirkannya. Aku menggeret koperku keluar kamar dan pergi turun untuk masuk ke dalam mobil menuju bandara Soekarno-Hatta. Arga dan Kika mengikuti mobilku sampai ke dalam bandara.
“Jaga diri baik-baik ya, Mel.” nasihat Papa, aku mengangguk patuh.
“Inget ya pesen Mama, jangan percaya sama orang yang baru dikenal, cari temen yang baik-baik, jangan—“
“Iya Ma, tenang aja. Caramel bukan anak kecil lagi kok.”
Aku berpelukan lama dengan Kika, “Aldo mana?” tanyaku disela-sela pelukannya.
“Ahelah gue lagi sedih gara gara lo malah nanyain Aldo!”
“Hehe maap maap.”
“Ati-ati ya disana! Gue pasti bakal kesana kok jenguk lo!” kata Kika sambil mengusap air matanya.
“Pergi dulu ya Ga.” aku menghampri Arga.
“Jaga diri ya, Mel.”
“Pasti.” kemudian aku berpelukan juga dengan Arga.
Sekali lagi aku memeluk kedua orangtuaku lantas berjalan menuju ruang check-in. Pesawatku sudah siap untuk take off. Aku menoleh sekali lagi pada mereka semua dan melambaikan tangan. Aku mengharapkan kehadiran Rafa, kali ini aku mengharapkan sesuatu terjadi seperti di ftv-ftv atau sinetron. Yang mana saat si wanita atau laki-laki nya akan pergi salah satu dari keduanya akan berlari untuk mengejarnya dan agar tidak terlambat untuk mengatakan kata terakhir.
Atau bahkan ada yang sampai tidak jadi pergi saat melihat pasangannya rela datang sambil berpeluh keringat menghampirinya. Tapi untukku, jika Rafa datang pun aku tidak akan sampai tidak jadi pergi hanya karena itu. Sia-sia saja usahaku selama ini.
Tapi angan-angan hanyalah angan-angan.
Aku menoleh sekali lagi untuk memastikan. Namun tak ada tanda-tanda kehadirannya. Aku memalingkan muka dengan lesu. Hingga aku sampai pada kabin pesawat pun tidak ada tanda-tanda ada orang yang menerobos dan memaksa masuk hanya untuk bertemu dengan seseorang.
Tidak ada tanda-tanda kehadirannya bahkan sampai pesawat ku mengudara di langit.
Tidak ada tanda-tanda kehadirannya..
--
--
--
--
--
--
--
--
6 Tahun kemudian..
Gelar S2 telah kuraih saat ini, 6 tahun kuhabiskan kuliah di negri orang. 6 tahun juga aku merantau untuk menuntut ilmu. Jauh dari orangtua, keluarga, serta sahabat. Kika menepati janjinya untuk mengunjungiku pada tahun pertama aku berada di Jerman. Aku sangat senang sekali akan kehadirannya. Namun sayangnya hanya 5 hari ia disana karena kuliahnya yang padat.
Tahun ke-4, ia mengunjungiku kembali namun tidak seorang diri. Saat aku menjemputnya di bandara betapa terkejut nya aku melihat ia bersama Aldo datang bersama. Dan aku baru tahu kalau sebulan yang lalu ia baru menilah dengan Aldo dan akan menghabiskan bulan madu mereka di Jerman selama satu bulan penuh.
Saat itu aku benar-benar speechless dibuatnya. Ternyata Aldo benar-benar setia menunggu Kika sampai ia menyelesaikan S1 nya. Waktu itu aku sedikit kelepasan bertanya tentang Rafa pada Aldo, katanya Rafa mengambil kuliah jurusan management di sebuah unviersitas negri Jakarta. Aku bersyukur akan hal itu, ternyata Rafa kuliah. Dan itu adalah kabar yang menyenangkan untukku.
Aldo kini menjadi seorang pengacara, ia mengambil jurusan hukum di sebuah unviersitas negri di Jogja. Jarak diantara ia dan Kika tidak membuat hatinya goyah dari Kika. Dan aku harus berterima kasih pada Aldo akan hal itu.
Tepat pada hari ini aku baru akan melakukan praktek untuk resmi menjadi seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta. Aku berjalan santai menuju ruang yang di beritahu resepsionis di depan. Dan aku sangat bangga mengingat hari ini pula aku mengenakan jas putih yang biasa dokter-dokter pakai. Dulu, aku selalu mendambakannya dan sekarang dambaan itu telah kucapai.
“Selamat pagi bu Dokter..” sebuah suara berat lantas membuatku menghentikan langkahku dan menoleh untuk membalas sapaannya.
“Pag—Rafa?”
Betapa terkejutnya melihat siapa yang sekarang berada di depanku. Ia masih sama seperti dulu, namun bedanya kini ia tampak lebih tinggi tegap dan raut wajahnya menyiratkan kedewasaan yang ia punya. Ia memakai kemeja abu-abu yang lengannya di gulung sampai sikut, kedua kancing dari atasnya juga terlepas. Pemandangan itu sama seperti pemandangan 6 tahun yang lalu saat selesai graduation.
Mau tidak mau perasaan senang menyelimuti tubuhku. Aku tersenyum kepadanya, ia juga balas tersenyum padaku. Namun senyumku sirna seiring melihat wanita yang sama di belakangnya.
*